KESAH.ID – Di Samarinda, kedai kopi tumbuh seperti jamur di musim hujan. Antrean panjang jadi pemandangan biasa—kadang bikin hype, kadang bikin BT. Dari kejengkelan di depan kasir, saya bertemu menu asing bernama Mount Blanc… dan perjalanan rasa pun dimulai.
Kalau mengikuti keinginan, rasanya tak cukup waktu untuk mendatangi semua kedai kopi baru yang terus saja bermunculan di seluruh penjuru Kota Samarinda. Seakan setiap minggu ada papan nama baru dipasang, menandakan beroperasinya kedai dengan konsep beraneka rupa.
Instagram dan thread menjadi panggung riuh untuk mewartakan kehadiran mereka, baik lewat hard selling maupun soft selling. Bertaburan pula review dan cerita pengalaman dari akun-akun yang membranding diri sebagai coffee lovers, coffee hunters, bahkan mungkin coffee warriors.
Demam ngopi seolah tak kunjung reda. Kedai kopi menjelma ladang bagi mereka yang kelebihan modal untuk berinvestasi, atau yang sedang ingin membangun nama dalam dunia entrepreneurship. Era kopi terbukti lebih tahan lama dibanding tren preloved atau thrifting.
Sebagai bagian dari warga penikmat kopi, saya pun kerap tergoda untuk ikut meramaikan, segera mendatangi kedai baru. Ikut berjejal, masuk dalam rantai antrean yang mengular—yang mungkin sengaja dibiarkan oleh pemiliknya agar terlihat hype di postingan.
Umumnya, SOP kedai baru dalam melayani pelanggan yang membludak belum teruji. Bisa jadi sebagian pegawainya masih belajar, bahkan manajernya pun baru mencoba peran.
Biasanya saya menahan diri, membiarkan beberapa hari berlalu, kadang sampai seminggu. Saya memang punya persoalan dengan kesabaran di ruang antrean. Terutama ketika melihat orang berdiri lama, lalu saat tiba di depan kasir masih bingung dengan pilihannya. Hal semacam itu selalu bikin emosi—buat saya tak masuk akal berdiri lama tanpa memikirkan pesanan terlebih dahulu.
Dan di sebuah kedai kopi baru yang sudah sebulan beroperasi, antrean di depan kasir masih saja mengular. Saya terjebak dalam giliran yang membuat kesal. Sepasang kekasih sudah lama memilih, namun ketika hendak membayar secara cashless, ternyata HP mereka tertinggal di meja.
“Bangsat,” gumam saya dalam hati, mood langsung memburuk. Antrean pun terasa seperti pendakian, bukan lagi jalanan padat merayap.
Tiba di depan kasir, pilihan saya jelas: V60 dingin atau Japanese style. Namun beberapa langkah sebelum kasir, mata saya menangkap sebuah menu dengan nama yang mengingatkan pada gunung. Saat kasir bertanya “Apa lagi?”, saya menambahkan pesanan:
“Mount Blanc,” jawab saya dengan ejaan kurang tepat, lalu diluruskan oleh kasir.
“Itu saja,” ucap saya cepat agar kasir tak lagi bertanya. Transaksi berjalan singkat, saya tak ingin yang mengular di belakang ikut emosi. Nomor meja pun diserahkan, karena kedai ini menerapkan sistem antaran, bukan memanggil pembeli.
BACA JUGA : Pintar Jago
Seperti biasa, saya memilih duduk di area smoking. Ada dua: indoor dan outdoor. Merokok di dalam ruangan jelas bukan pilihan. Meski kawakan dalam urusan rokok, merokok indoor tak lebih dari menyiksa diri. Asap dan aroma harus dibuang ke angkasa, bukan diputar dalam ruangan lalu kembali dihirup. Jika tak terpaksa, outdoor selalu jadi pilihan terbaik.
Belum habis dua batang rokok, pesanan datang. Pilihan yang lahir dari luapan emosi tanpa ekspektasi itu ternyata berhasil meredakan kesal dan mengembalikan mood.
Segelas kopi berlapis krim, di atasnya taburan jeruk—entah kulit, entah isi. Komposisi sederhana, hanya dua lapis, tapi tampil elegan dan menyejukkan. Saya menatapnya khidmat, tak segera menyesap. Lalu bertanya pada Gemini AI bagaimana cara menikmatinya.
Ternyata Mount Blanc harus dinikmati tanpa diaduk. Krim di atas, kopi di bawah, diseruput langsung dari pinggiran gelas agar tercampur alami di mulut. Lidah pun merasakan kontras: manis lembut krim berpadu dengan segarnya kopi bercitarasa jeruk. Rasa itu menjalar memenuhi rongga mulut.
Kadang disajikan dengan sedotan. Cara menikmatinya: letakkan ujung sedotan di batas krim dan kopi, lalu sedot perlahan. Sensasi manis, lembut, segar menyentuh lidah dengan indah.
Tegukan pertama seperti membuka jalur pendakian. Lidah menjejak salju di puncak gunung tinggi: krim putih halus, dingin, menenangkan, layaknya kabut tipis pagi hari. Lalu desakan lapisan kedua: pahit kopi menyeruak tajam, seperti tebing curam yang menantang. Diakhiri hentakan segar lemon, baik dari taburan maupun campuran. Sentakan itu menandakan perjalanan Mount Blanc bukan sekadar santai, melainkan jalur menantang untuk ditaklukkan.
Konon, ramuan aslinya ditaburi cokelat tipis. Di kedai ini, cokelat absen. Andai ada, mungkin tegukannya makin lengkap. Ada dingin, pahit, manis—berlapis seperti lanskap pegunungan di setiap ketinggian.
Di tengah riuh anak muda, segelas Mount Blanc menjelma ruang kontemplasi. Ia bukan sekadar racikan kopi, melainkan karya hybrid yang menantang definisi: setengah minuman, setengah dessert, sepenuhnya pengalaman.
Di Kopi Laris, saya sadar: rasa terbaik kadang lahir dari pilihan tak direncanakan. Keputusan kecil yang muncul dari kejengkelan bisa menghadirkan pesona. Segelas kopi diam-diam mengajarkan bahwa perjalanan rasa bisa sama berharganya dengan perjalanan hidup.
BACA JUGA : Rindu Gusdur
Seteguk demi seteguk, Mount Blanc menimbulkan tanya: dari mana asalnya? Mount berarti gunung, Blanc berarti putih—merujuk krim putih di atas minuman, menyerupai puncak bersalju.
Sebagai menu kopi, nama dan konsepnya diambil dari dessert Mont Blanc asal Eropa, terkenal dengan krim kastanye berbentuk gunung bersalju. Menu ini pertama kali disajikan di Melbourne, Australia, tahun 2022, di kafe Good Measure.
Barista di sana berinovasi: menggabungkan cold brew dengan krim lembut, menambahkan kulit jeruk segar dan pala parut. Melbourne memang dikenal sebagai ibu kota kopi dunia, tempat lahirnya kreasi seperti flat white. Tampilan estetik Mount Blanc membuatnya cepat populer di Instagram dan TikTok.
Dari Australia, menu ini menyebar ke penjuru dunia, termasuk Amerika Serikat, lalu mewabah ke berbagai kota. Popularitasnya sampai juga ke Samarinda, ke kedai-kedai baru di mana tren kopi estetik sedang menjamur.
Nama Mount Blanc terasa megah, sangat Eropa. Namun di balik kemegahannya, minuman ini bisa menjadi simbol lintas budaya. Dalam segelas Mount Blanc ada pertemuan global dan lokal, dialog rasa yang melampaui batas geografis. Segelas Mount Blanc yang saya nikmati hampir pasti memakai biji kopi tanah lokal Indonesia.
Saya tak sibuk memotret segelas Mount Blanc untuk diunggah. Saya memilih menikmati perlahan, meletakkan gawai, meresapi setiap lapisan. Buat saya, Mount Blanc bukan sekadar tren visual, melainkan literasi rasa yang membuka jalan diskusi lebih dalam tentang kopi, budaya, dan identitas.
Terima kasih Kopi Laris, sudah memperkenalkan Mount Blanc meski tak sengaja. Gelas ini bukan semata kopi, krim, dan jeruk, melainkan perjalanan rasa kecil yang mengajarkan bahwa rasa bisa menjadi jembatan antara kebosanan, kejengkelan, dan kejutan. Penghubung antara global dan lokal, tren dan refleksi.
Dan setelah segelas Mount Blanc pertama di Jalan Ahmad Yani itu, saya pun memulai petualangan rasa untuk mendaki “Gunung Rasa” di kedai-kedai kopi lain yang menunggu untuk ditaklukkan.
note : sumber gambar – DELOCIOUS








