Segala sesuatu di bumi ini pada dasarnya tak pernah bisa benar-benar lenyap. Yang ada hanyalah menyusut atau berubah fungsi dan bentuknya. Perubahan fungsi dan bentuk kemudian menghasilkan sampah.

Sampah selalu masih bisa digunakan kembali dengan cara didaur ulang. Namun dari sisi ekonomi daur ulang tidak selalu menguntungkan apalagi jika daur ulang itu dilakukan oleh industri atau sektor swasta.

Negara-negara maju sekalipun masih kesulitan mendaur ulang semua sampahnya. Maka salah satu pilihan yang lebih murah adalah mengirim sampah ke luar negeri, ke negara-negara yang membutuhkan sampah baik untuk keperluan daur ulang maupun keperluan lainnya seperti sebagai energi.

Indonesia adalah salah satu importir sampah meskipun sampah berlimpah di negeri ini. Sampah-sampah itu didatangkan dari berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Perancis, Jerman dan Hongkong. Sampah yang biasa diimport adalah sampah untuk bahan industri berupa remah atau scrap, sisa kertas dengan syarat bukan sampah B3 (bahan berbahaya beracun).

Namun dalam banyak kasus, sampah yang biasanya dipakai sebagai bahan kertas itu tercampur dengan sampah plastik. Sehingga oleh pabrik sampah plastiknya kemudian dibuang. Atau dimanfaatkan oleh usaha lain seperti yang terjadi di Jawa Timur, dimana sampah plastik ikutan kemudian dipakai sebagai bahan bakar untuk tungku pembuat tempe dan tahu.

Ecoton mencatat ada 12 pabrik kertas di Jawa Timur yang memakai sampah import sebagai bahan pembuat kertas. Namun ternyata sampah kertas yang diimport disusupi oleh sampah domestik yaitu plastik, besarnya kurang lebih 35%.

Tentu saja sampah plastik ini kemudian menjadi buangan. Kalau tidak dimanfaatkan oleh kelompok lain maka akan dibakar begitu saja atau kemudian dibuang di tempat lain.

Membuang atau membakar sampah plastik menjadi cara termurah untuk melenyapkan sampah meskipun menimbulkan pencemaran baik kepada udara, tanah maupun air.

Tidak mudah memang mendaur sampah campuran. Semua proses daur ulang perlu kegiatan pra pengolahan. Yang paling pertama adalah memilah dan kemudian membersihkan bahan yang telah dipilah dari residu lain. Plastik yang tercampur kertas atau hal lainnya akan sulit untuk dihancurkan, pun sebaliknya. Juga kaca masih ada kertas, label atau lem yang menempel akan sulit untuk dilelehkan.

Teknologi daur ulang selalu meminta material yang hendak didaur ulang terbebas dari bahan lain. Kaca, plastik, besi dan kertas harus terpisah atau bersih dari bahan lainnya agar bisa didaur ulang.

Oleh karena itu sampah campuran menjadi bernilai rendah karena untuk mengolahnya dibutuhkan banyak tenaga dan biaya. Proses pra pengolahan itulah yang kemudian akan mengurangi keuntungan dari industri daur ulang. Maka untuk negara maju mengirim sampah ke negara lain yang mau menerimanya akan lebih menguntungkan ketimbang mengolah sampahnya sendiri.

Bayangkan negara maju saja tidak selalu siap untuk mengolah sampahnya apalagi negara kita yang hampir tak punya kebiasaan untuk memilah sampah. Meski di sekolah murid-murid diajarkan untuk memilah sampah dan disediakan 3 jenis tempat sampah, namun petugas kebersihan hanya mempunyai satu truk yang bak-nya tidak terpilah. Sampah yang telah dipilah akan tercampur di mobil pengangkut sampah hingga dibuang ke TPA sebagai sampah campuran.

“Masyarakat memilah, petugas mencampur,” itu adalah realitas sampah kita.

Dan sialnya, sampah kita sendiri tidak didaur ulang, namun kita malah menambah sampah dengan mendatangkan sampah bahan daur ulang dari negeri seberang.