KESAH.ID – Setiap tahun, jutaan ijazah SMA/SMK dicetak, melepas angkatan muda ke dalam arena pacuan kerja formal yang kian sesak dan mencemaskan. Di saat bersamaan, sektor ekonomi hijau terus digadang-gadang sebagai sekoci penyelamat yang mampu membuka jutaan peluang baru. Sayangnya, bagi sebagian besar anak muda, sektor ini masih dipandang sebelah mata—dianggap kotor, menguras fisik, dan tidak seksi. Lewat potret dari tanah Kalimantan, ada jurang pemisah antara romantisme ekologi anak muda dan keengganan mereka memeluk bumi, serta bagaimana peluang itu justru berhasil ditangkap oleh mereka yang berani melangkah di atas jalur sunyi.
Kemeriahan dan gemerlap lampu panggung perpisahan sekolah belum sepenuhnya redup, namun kabut kecemasan telah lebih dulu hinggap di kepala para lulusan baru. Di sudut sebuah ruang kelas di Kota Samarinda, beberapa siswa berseragam putih-abu-abu yang penuh coretan tanda tangan saling melempar pandang. Di tangan mereka, selembar tanda kelulusan terasa amat ringan, namun beban yang mengikutinya terasa begitu menghimpit.
Setiap tahun, lanskap ketenagakerjaan Indonesia menghadapi gelombang pasang yang ajek. Negeri ini meluluskan sekitar 3,28 juta siswa jenjang SMA/SMK, ditambah limpahan 1,3 hingga 1,5 juta lulusan perguruan tinggi (Diploma dan S-1). Mereka semua bermuara pada satu titik: perburuan ruang hidup di sektor formal.
Namun, ruang itu kian menyempit. Catatan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan potret yang getir: ada sekitar 10,7 juta pencari kerja yang mengantre setiap tahunnya. Angka ini merupakan akumulasi dari lulusan baru, angkatan kerja lama yang belum terserap, serta para korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kembali mengetuk pintu pasar kerja. Ketika lowongan kerja sektor formal resmi yang tersedia bergerak jauh di bawah angka kebutuhan, fenomena “berebut ruang yang sempit” berubah menjadi sebuah kepanikan massal.
Di tengah situasi krusial ini, diskursus mengenai ekonomi hijau (green economy) kerap digaungkan di mimbar-mimbar seminar dan media sosial sebagai juru selamat. Narasi bahwa transisi energi ramah lingkungan mampu membangkitkan ekonomi sekaligus membuka jutaan lapangan kerja baru yang berkelanjutan bukanlah isapan jempol. Istilah ini begitu akrab di telinga gen-Z. Mereka tahu, paham, dan sepakat bahwa bumi sedang sakit dan harus disembuhkan.
Bagi mayoritas anak muda, ekonomi hijau kerap kali langsung diasosiasikan dengan sektor agraris tradisional. Sektor yang dalam kepala mereka terlanjur dicitrakan tidak seksi, melelahkan secara fisik, dekat dengan lumpur, dan lekat dengan stereotipe pekerjaan kelas bawah. Ada paradoks yang nyata; mereka mendambakan bumi yang lestari, tetapi enggan menyentuh tanah yang menopangnya.

BACA JUGA : Tertua Terbaik
Saat kecemasan kolektif itu melanda, di sebuah sudut kebun di pinggiran kota, Malik (26) justru tampak kontras. Ia berdiri tenang di antara rimbunnya dedaunan hijau. Mengenakan pakaian kerja sederhana, ia menyapa dengan sopan, memamerkan deretan pohon jambu air miliknya yang sedang ranum.
Malik bukanlah pemuda yang sejak awal bercita-cita menjadi petani. Ia adalah bagian dari angka statistik korporasi—seorang pekerja yang terhempas badai PHK massal saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu.
“Saat pertama kali surat (PHK) itu keluar, rasanya dunia runtuh. Sedih, kecewa, dan takut menyatu karena tidak tahu harus menghidupi diri dengan cara apa lagi,” kenang Malik sembari memeriksa salah satu dompolan jambu siap petik.
Namun, alih-alih terjebak dalam antrean panjang pencari kerja kantoran yang kian spekulatif, Malik mengambil langkah berani yang saat itu dianggap miring oleh teman-sebayanya. Ia melirik tanah. Ia memilih serius bertani, mengkhususkan diri pada budidaya jambu air memanfaatkan sejengkal lahan yang tersisa.
Malik telah membuktikan bahwa ekonomi hijau bukan pekerjaan rendahan. Dari kebunnya, ia tidak hanya memetik kemandirian finansial yang kokoh, tetapi juga menyumbang suplai oksigen bersih untuk paru-paru kota. Ia adalah purwarupa pelaku ekonomi hijau yang mandiri: tenang, produktif, dan merdeka di atas kaki sendiri.
Optimisme serupa dipelihara oleh Abdul Qawiy, seorang anak muda lulusan SMK Kehutanan. Jika Malik masuk ke sektor ini karena benturan keadaan, Abdul justru sejak awal memilih untuk mengikat janji dengan kelestarian alam Kalimantan.
Bagi Abdul, bekerja di bawah sengatan matahari, memegang tanah liat yang basah, dan pulang dengan baju yang bermandikan keringat adalah sebuah kehormatan. Ia sadar betul, kerusakan ekosistem di sekitarnya sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan dan tidak bisa disembuhkan hanya dengan petisi daring.
“Alam kita semakin rusak, semua harus dibenahi sedikit demi sedikit. Peluang usaha untuk menghitari dan menghijaukan kembali bumi ini sebenarnya terbuka sangat lebar,” kata Abdul mantap.
Saat ini, Abdul bersama beberapa rekannya sedang fokus menyelesaikan proyek pemesanan 10.000 bibit pohon Sungkai dari sebuah perusahaan swasta yang diwajibkan melakukan rehabilitasi lahan. Pohon Sungkai, yang dikenal sebagai salah satu spesies lokal berdaya tahan kuat, menjadi komoditas hijau yang bernilai ekonomi tinggi di tengah ketatnya regulasi lingkungan saat ini.
Paradoks ketenagakerjaan ini kian terasa ironis jika melihat bentang alam pulau ini. Tanah di Kalimantan masih membentang sangat luas. Bahkan, dalam banyak kasus, lahan-lahan tidur milik masyarakat maupun wilayah adat boleh dipergunakan secara gratis oleh anak muda, asal digunakan untuk berkebun dan merawat lingkungan. Faktor modal lahan yang kerap menjadi momok di Pulau Jawa, nyaris tidak berlaku di sini.

BACA JUGA : Ketika Pendapatan Besar Tak Cukup Lagi Untuk Menutup Luka : Kesaksian Dari Banua Seribu Lubang Maut
Persoalan ekonomi hijau di kalangan lulusan SMA/SMK dan perguruan tinggi kita hari ini bukanlah perkara minimnya lapangan kerja atau ketiadaan potensi alam. Ini adalah perkara persepsi dan tata nilai yang diadopsi oleh generasi muda. Selama pekerjaan “keren” masih didefinisikan dengan duduk di balik meja dalam ruangan berpenyejuk udara, selama itu pula jutaan peluang di sektor sirkular dan agraria akan terus ditinggalkan.
Langkah kaki Malik di kebun jambunya dan peluh Abdul Qawiy di antara pembibitan pohon Sungkai adalah sebuah otokritik tajam bagi jutaan lulusan baru di Indonesia. Mereka membuktikan bahwa ekonomi hijau bukan tentang merendahkan martabat atau membuang ijazah formal.
Transisi energi dan ekonomi yang adil tidak akan pernah tercapai jika generasi mudanya hanya bertindak sebagai komentator perubahan iklim di layar gawai. Masa depan bumi—dan jaminan ketersediaan lapangan kerja bagi jutaan pasang mata yang cemas itu—justru tertanam jauh di dalam tanah yang selama ini mereka hindari.
Penulis : Herliyana
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Gambar : Herliyana









