Memiliki sebuah bisnis bagi sebagian orang mungkin menjadi hal yang menyenangkan, karena bisa mendapatkan penghasilan dari lumbung usaha miliknya sendiri. Memiliki bisnis sendiri berarti kita bisa menentukan kebijakan, memiliki karyawan, membuat alur kerja sendiri sesuai yang kita inginkan. Pendek kata berbisnis itu akan memberikan banyak kesenangan untuk dilalui.
Tapi jangan disangka bisnis itu sesederhana itu. Bisnis juga tak selalu menyenangkan seperti yang dilihat atau dibayangkan oleh banyak orang. Bisnis selain menyenangkan amat dekat dengan kesulitan dan aneka tantangan yang harus dilalui. Jika tak percaya, coba saja tanya pada mereka yang memulai usaha dari nol. Mereka yang tidak memulai dengan guyuran fasilitas, dimasa awal menjalankan dan membangun bisnisnya akan penuh dengan penderitan dan kesulitan.
Bayangan penderitaan dan kesulitan kerap kali menghantui bagi orang yang ingin membangun bisnis mulai dari nol. Mereka jadi ketakutan untuk memulai bisnisnya. Padahal bagi seorang pebisnis, kesulitan dan penderitaan adalah bagian dari seni untuk dihadapi dan dipelajari.
Jangan takut memulai bisnis, penderitaan dan kesulitan akan bisa dimimalisir andai kita memperhatikan 7 hal berikut ini dalam membangun usaha.
- Mulailah dari Apa yang Kamu Sukai
Jangan memulai sebuah usaha hanya karena iming-iming peluang dan keuntungan yang besar. Atau hanya karena ikut-ikutan trend semata, berusaha pada bisnis yang sedang ramai. Cara berbisnis seperti ini sungguh bahaya, karena berharap peluang akan terus besar dan demikian juga dengan penghasilan yang berlimpah tidak selalu bisa segera dipenuhi oleh sebuah usaha. Demikian juga dengan bisnis karena trend, kita tak pernah tahu apakah trend akan bertahan atau hanya berlalu sekilas saja.
Untuk membangun sebuah bisnis yang bertahan dan berkembang, seseorang bisa memulai usaha dari apa yang disukai. Banyak pengusaha yang kemudian berkembang menjadi besar karena berusaha sesuai dengan hobbynya. Usaha semacam ini akan jauh lebih berhasil karena apa yang diusahakan adalah sesuatu yang dikenal atau dikuasai. Dengan demikian secara pengetahuan tidak dimulai dari nol.
Memulai usaha yang sesuai dengan passion kita akan meminimalisir kegagalan.
- Tentukan Segmen Pasar.
Pada umumnya orang memulai usaha dengan melihat peluangnya dari produk. Seperti harga yang murah, sedikit banyaknya di pasar, mudah atau sulit didapat dan sebagainya. Akibatnya orang kemudian sering menjual barang yang sama, barang yang lagi ramai.
Padahal untuk memulai usaha yang akan bertahan dan berkembang yang mesti dilihat adalah pasarnya. Ada pasar apa, seberapa besar dan membutuhkan barang atau jasa apa saja. Dengan menghitung peluang dan besarnya pasar maka akan terlihat berapa yang dibutuhkan oleh pasar.
Kenapa pasar?. Karena pasar akan terkait dengan kebutuhan. Jika kebutuhan besar maka secara otomatis produk yang kita sediakan akan diserap oleh pasar atau sangat laku. Namun jika bertumpu pada produk namun pasarnya sempit atau banyak saingan maka sulit bagi kita untuk memasarkan produk atau perlu menggunakan berbagai stategi dan metode pemasaran yang berbeda dengan lainnya.
Namun membaca atau menelisik pasar yang sesuai dengan bidang yang kita sukai akan membutuhkan energi ekstra.
- Differensiasi/Pembeda
Amat jarang kita bisa membangun usaha yang bebas dari pesaing. Seorang pioneer yang memulai usaha sebelum ada yang lainnya sekalipun bisa jadi tak lama memimpin sendirian.
Lalu bagaimana kita bisa berusaha meskipun ada pemain lain dalam bidang usaha kita. Berada atau bersaing dengan usaha sejenis maka yang terpenting adalah faktor pembeda atau differensiasi.
Pembeda tidak sekedar lebih murah atau banting harga. Melainkan pada aspek lain meliputi pelayanan, interaksi dengan pelanggan atau tambahan layanan misalnya pengantaran, gratis ongkos kirim dan lain-lain yang kerap disebut sebagai value added. Value added bahkan kerap dikaitkan dengan aspek kepedulian baik pada lingkungan maupun sesama. Seperti menyisihkan sebagian keuntungan untuk program lingkungan hidup, sosial kemanusiaan dan lain sebagainya.
- Modal
Setiap usaha pasti membutuhkan modal. Namun yang disebut dengan modal tidak selalu berupa uang. Usaha bisa dibangun dengan modal gagasan, ide, fikiran dan tenaga. Kita misalnya bisa membuka usaha pemasaran tanpa modal uang. Namun tentu saja diperlukan kemampuan komunikasi yang baik dan juga tenaga yang kuat agar bisa meyakinkan orang untuk membeli apa yang kita pasarkan tersebut.
Namun pada saatnya modal uang tetap menjadi penting karena untuk berkembang maka diperlukan berbagai sarana dan prasarana termasuk program promosi yang pasti akan membutuhkan uang. Belum lagi jika dalam usaha tersebut kita harus mempekerjakan orang baik secara permanen maupun insidentil.
- Mental
Orang sering mengatakan keberhasilan adalah dereran dari kegagalan. Orang yang berhasil adalah orang yang tidak takut gagal. Inilah yang kemudian disebut sebagai kekuatan mental, yang meliputi kerja keras, berani ambil resiko, berani menderita dan seterusnya.
Orang yang belum-belum sudah takut dan tak berani memulai sesuatu sulit untuk menjadi pengusaha. Mereka yang punya mental kerupuk atau hangat-hangat tahi ayam tak cocok untuk menjadi pengusaha.
Seorang pengusaha harus punya mental yang kuat karena tidak ada satu usaha yang dibangun dan langsung sukses tanpa kesulitan. Namun dengan kepercayaan diri, cerdas secara emosional, mampu menjadi pemimpin, tidak mudah panik dan luwes bergaul atau berjejaring adalah mental positif yang mesti dipunyai oleh calon pengusaha agar tetap bisa bangkit meskipun menemui kegagalan.
- Tempat dan Jalur
Sebelum membangun usaha yang diperlukan adalah tempat. Pilihan tempat bisa disesuaikan dengan usaha. Nilai strategis tempat usaha akan tergantung dengan jenis usahanya. Maka tempat usaha yang strategis adalah pinggir jalan besar,pusat kota, pusat perbelanjaan, pasar, permukiman dan lain sebagainya.
Selain tempat yang perlu dipikirkan adalah jalur usaha. Yang disebut jalur adalah model usaha berupa online atau offline. Usaha yang sifatnya offline tentu perlu mempertimbangkan lokasi, strategis atau tidak. Namun jika usaha kita adalah usaha online maka yang disebut dengan lokasi strategis tidak terlalu penting. Yang justru diperlukan adalah infrastruktur lain untuk menjangkau customer dan melayani dengan cepat serta akurat. Namun kita juga bisa memadukan antara usaha online dan offline, seperti pada masa pandemic covid 19 ini dimana banyak resto kemudian melayani pembelian via online.
- Kerja Keras dan Kreatif
Ini adalah nasehat lama jika ingin berhasil yaitu kerja keras. Kerja keras tidak sekedar mengandalkan otot melainkan juga memberi waktu lebih banyak, mencurahkan pikiran lebih besar dan menyediakan tenaga lebih banyak. Kerja keras tidak hanya pada masa awal membangun usaha. Sebuah usaha yang berhasil justru akan semakin menuntut kerja keras karena mempertahankan hasil kerap kali lebih sulit dan lebih berat daripada mencapainya.
Namun ditengah iklim persaingan seperti saat ini kerja keras tidak cukup, inovasi dan kreatifitas diperlukan agar terus bisa bersaing. Inovasi dan kreasi diperlukan agar kerja keras bisa berdaya guna karena akan menghasilkan sesuatu yang bukan hanya sekedar bermutu melainkan juga menarik.
Kerja keras dan kerja cerdas juga akan mampu menghasilkan sesuatu yang baru, yang belum dipikirkan oleh orang lain sehingga usaha kita menjadi berbeda dengan orang lain. Ada nilai lebih yang bisa ditawarkan kepada para pelanggan atau konsumen.
Jika ketujuh hal diatas ada dalam diri maka jangan ragu untuk memulai usaha. Mulai membangun kemandirian dan keberhasilan sehingga bukan hanya menolong serta menghidupkan diri juga keluarga melainkan juga dapat membantu sesama dan lingkungan dimana kita berada.
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
pict : freepik.com








