KESAH.IDVietnam dalam ingatan saya adalah sebuah perjalanan melintasi zaman, mulai dari fragmen berita perang di televisi hitam-putih tahun 70-an yang penuh doktrin Orde Baru, hingga mitos kepahlawanan John Rambo yang mewarnai imajinasi masa kecil generasi 80-an. Namun kini, bayangan tentang “Manusia Perahu” dan hutan yang mencekam itu telah bergeser menjadi kekaguman atas kebangkitan ekonominya yang luar biasa.

Vietnam, rasanya wajar jika kemudian tumbuh rasa kagum pada negara itu dalam sepuluh tahun terakhir. Negeri itu melesat pertumbuhannya dalam bidang teknologi dan fabrikasi. Ini kontras dengan ingatan yang tersimpan di memori saya sebagai anak generasi 70-an.

Waktu itu informasi tentang Vietnam di dekade 70-an hadir dalam narasi lewat siaran televisi yang masih hitam putih, dengan catu daya dari aki. Kisah lainnya juga bisa ditangkap lewat siaran radio yang gelombangnya masih AM dan SW atau dual band.

Di masa Orde Baru, ketika Soeharto tengah mengonsolidasi kekuatan, Vietnam muncul sebagai simbol ambigu. Pada satu sisi mengagumkan karena ketangguhannya dalam melawan Amerika Serikat. Tentara Vietkong sungguh hebat dalam menghadapi invasi Amerika Serikat.

Lewat berita bisa disaksikan dan didengar betapa tak berdayanya mesin perang modern Amerika Serikat menghadapi taktik gerilya di hutan-hutan tropis. Tak heran jika pejuang Vietnam Utara atau Viet Cong digambarkan sebagai sosok yang mistis sekaligus menakutkan—mampu menghilang di balik kerimbunan pohon dan menyerang dari perut bumi.

Walau dikagumi, pada sisi yang lainnya Vietnam juga dianggap ancaman, karena ideologi komunisnya. Sejarah G30S/PKI membuat komunis menjadi sesuatu yang sungguh menakutkan untuk anak-anak tahun 70-an.

Orde Baru mengajarkan bahwa kejatuhan Saigon ke tangan komunis pada tahun 1975 adalah ancaman bagi stabilitas kawasan, termasuk Indonesia. Kemenangan Vietnam adalah kemenangan “Merah”, warna yang harus diwaspadai di masa Orde Baru. Ini menjadi paradoks lain di mana Indonesia menghormati dan menghargai semangat kemerdekaan namun sekaligus ketakutan akan penyebaran ideologi yang dianggap berlawanan dengan Pancasila.

Soeharto dan Orde Baru kemudian cenderung dekat dengan Kamboja yang dipimpin oleh Norodom Sihanouk ketika berkonflik dengan Vietnam di perbatasan. Soeharto dan Sihanouk sama-sama suka menunjukkan wajah sumringah, penuh senyum.

Konflik di Vietnam membuat sebagian warganya eksodus, mengungsi. Mereka kemudian sering disebut “Manusia Perahu”. Gelombang pengungsi ini banyak yang terdampar di pantai-pantai Kepulauan Riau.

Mereka keluar dari Vietnam karena tak mau hidup di bawah rezim komunis. Akhirnya “Manusia Perahu” dari Vietnam ini ditempatkan di pulau tersendiri, Pulau Galang, nama yang kemudian identik dengan kemanusiaan.

Melarikan diri dari rezim dengan perahu seadanya dan bekal yang minim serta berhimpitan, menghadirkan visual yang memiriskan hati. Orde Baru memanfaatkan visual itu untuk memperkuat narasi betapa “mengerikannya” hidup di bawah rezim komunis. Fakta ribuan orang berjejal dalam perahu mempertaruhkan nyawa untuk mencari perlindungan di negeri lain sulit untuk dibantah guna menggambarkan betapa kejamnya rezim komunis.

Pulau Galang dioperasikan sebagai kamp penampungan pengungsi Vietnam oleh UNHCR sampai dengan tahun 1996. Lokasi ini ditutup setelah program pemulangan pengungsi berhasil diselesaikan. Pulau ini kemudian dioperasikan sebagai destinasi wisata oleh Otorita Batam.

Setelah tak disebut-sebut lagi, Pulau Galang kembali muncul dalam pemberitaan ketika pandemi Covid-19. Di pulau ini dibangun Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) yang dilengkapi dengan fasilitas isolasi dan observasi. Rumah sakit ini pernah merawat ribuan pasien positif Covid-19.

BACA JUGA : Angket Angkot

Jika anak-anak tahun 70-an mengenal Vietnam dari televisi yang jumlahnya belum banyak sehingga sering ditonton ramai-ramai, anak-anak yang tumbuh pada dekade 80 hingga 90-an mengenal Vietnam dengan cara yang lebih populer.

Generasi itu mengenal Vietnam lewat sosok John Rambo, melalui pita seluloid yang diproduksi oleh Hollywood. Diperankan oleh Sylvester Stallone, John Rambo beraksi sendirian membebaskan tentara Amerika Serikat yang ditawan di Vietnam.

Bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh pada dekade 80-an hingga 90-an, Vietnam bukan lagi dikenal melalui narasi berita formal atau doktrin politik Orde Baru yang kaku, melainkan melalui seluloid Hollywood. Sosok ikonik John Rambo adalah tokoh fiksi namun mampu menjadi katalisator utama yang membentuk persepsi visual dan emosional mereka terhadap negara tetangga yang dipimpin oleh rezim komunis yang kejam.

Narasi tentang Vietnam yang terbatas pada cerita perang itu disaksikan lewat bioskop yang pada masa itu punya kelas; kelas 1, 2, 3, dan balkon. Kursinya dari anyaman rotan sehingga sering dihuni oleh kutu busuk. Lewat kisah Rambo, Vietnam ditampilkan dalam rupa yang sederhana, seperti arena bermain yang berbahaya dan eksotis bagi John Rambo.

Film ini memang merupakan produk propaganda, Vietnam ditaklukkan oleh Amerika Serikat lewat sosok pahlawan tunggal. Lewat film ini Amerika Serikat mau meredefinisi kekalahannya menjadi kemenangan moral di layar lebar.

Vietnam digambarkan sebagai brutal dan udik, lewat gambaran tentang hutan yang mirip labirin hijau penuh jebakan, bukan ranjau yang siap meledak melainkan ranjau bambu yang akan mengoyak tubuh jika tertancap. Fiksi ini disimpan menjadi gambaran tentang Vietnam karena film ini kemudian bisa disaksikan di rumah lewat penyewaan kaset video.

Atmosfer komunisme masih kuat, tapi anak-anak 80 dan 90-an mengonsumsi propaganda antikomunisme dengan cara yang lebih santai lewat film. Memori ini dibentuk oleh budaya massa yang membongkar mitos ketangguhan Viet Cong, hutan yang tak tertembus, dan sisa-sisa perseteruan Perang Dingin yang dramatis. Melihat dari kacamata John Rambo, anak-anak Indonesia belajar tentang Vietnam bukan sebagai sebuah bangsa yang sedang membangun, melainkan sebagai sebuah monumen perang yang megah, kejam, sekaligus memikat dalam imajinasi masa kecil mereka.

Bayangan itu bertahan hingga beberapa generasi. Hingga kemudian memasuki tahun 2020-an, Vietnam kemudian mengejutkan.

Memori terkadang melenakan sehingga kita tak awas pada serpihan-serpihan kecil informasi. Tanda-tanda bahwa Vietnam akan maju dalam industri dan fabrikasi sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun 2000-an.

Ada banyak pabrik padat karya yang ditutup di Indonesia dan kemudian direlokasi ke Vietnam. Mirip Orde Baru yang meninggalkan sikap Orde Lama yang galak ke Eropa atau kapitalis, Vietnam juga punya strategi yang sama dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk FDI (Foreign Direct Investment).

Investor dari luar negeri diberi karpet merah dengan iming-iming kemudahan izin serta sumber daya manusia dengan upah rendah. Dengan model pemerintahan komunis, masyarakat sipilnya lebih mudah dikendalikan. Tidak seperti di Indonesia yang kesadaran demokrasinya meninggi sehingga kekuatan masyarakat sipil bisa mengganggu kenyamanan investor dalam berusaha.

Aksi-aksi masyarakat sipil terutama buruh yang getol memperjuangkan nasib dan hubungan kerja yang lebih adil, kerap menjadi alasan yang dipakai oleh para investor untuk hengkang dari Indonesia. Ditambah dengan perilaku birokrasi yang korup, kepastian dan ketenangan investasi menjadi makin bermasalah. Vietnam kemudian menjadi pilihan baru.

BACA JUGA : Blue Birds

Setelah era Tesla tak lagi menjadi alat flexing karena digeser oleh kehadiran mobil-mobil listrik dari Tiongkok yang diawali oleh Wuling EV dan kemudian disusul oleh Omoda dan lain-lain hingga dibanjiri oleh BYD, mobil listrik dari Vietnam hadir menyeruak.

Adalah VinFast yang datang menawarkan berbagai model EV dengan harga yang lebih kompetitif, teknologi pintar, dan garansi yang lebih panjang. Hadir dengan andalan Mini SUV untuk menyasar pembeli city car, desain stylish VinFast memang menarik hati.

Mobil Vietnam hadir dengan kecerdasan pemasaran tersendiri, tidak meniru model pemasaran mobil dari Jepang, Korea, atau Tiongkok. Produsen mobil listrik Vietnam mempromosikan mobilnya lewat taksi, taksi listrik. Green SM atau disingkat Green Smart Mobility adalah armada taksi pertama di Indonesia yang full listrik. Mobil yang dipakai adalah VinFast.

Hadir dengan warna biru kehijauan, Green SM terlihat mencolok di jalanan, menyaingi Blue Bird yang baru sebagian kecil armadanya berlambang mobil listrik. Logo atau lambang VinFast memang mencolok seolah menyatu dengan mobilnya.

Model iklan atau mengenalkan mobil listrik lewat taksi di masa lalu tidak berhasil. Mobil yang dipakai untuk taksi biasanya tidak laku. Tapi itu untuk mobil yang berbasis bahan bakar fosil, dan belum tentu untuk mobil yang berbasis listrik.

Yang namanya teknik marketing memang sulit untuk ditebak. Hal-hal yang negatif bahkan bisa jadi positif untuk memasarkan sesuatu. Seperti Warung Bakmi Babi di Sukoharjo yang ditolak warga. Berita tentang penolakan yang memakai jejeran spanduk malah membuat warung itu jadi semakin ramai.

Pun juga mobil listrik dari Vietnam yang kemudian terlibat kecelakaan dengan kereta api sehingga menyebabkan tabrakan kereta lainnya yang menelan banyak korban jiwa. Green SM taxi yang macet ketika melewati lintasan kereta dan tertabrak oleh Kereta Listrik Komuter membuat taksi mobil listrik dari Vietnam ini jadi perbincangan.

Dan yang dibincangkan kemudian viral akan membuat orang penasaran. Karena penasaran, orang kemudian ingin mencoba. Akhir tahun lalu ketika ke Bekasi saya sudah mengunduh aplikasi Green SM namun belum sempat mencoba menaikinya. Dan karena tak aktif memakainya, sudah muncul notifikasi kalau aplikasi Green SM akan dinonaktifkan pada bulan Mei ini.

Kalau saja di Samarinda sudah ada layanan Green SM, saya pasti akan menaikinya agar saya tak perlu lagi mengunduh kembali aplikasi Green SM yang bakal dinonaktifkan ini.

note : sumber gambar – CNN INDONESIA