KESAH.IDSamarinda hari ini terhimpit di antara bara cuaca dan panasnya intrik politik yang kian mendidih. Fenomena menjamurnya ruang-ruang ngadem bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup warga untuk mencari celah efisiensi dan ketenangan di tengah kepungan gerah yang kian mahal. Di balik peluh yang menetes, tersimpan ketabahan kolektif yang mengubah panas menjadi alasan untuk tetap bersua dan memutar roda ekonomi kota.

Beberapa hari lalu, dari tepi Karangmumus, saya melihat pesawat melintas pada jam yang tak biasa. Rasanya selepas jam 4 atau 5 sore tak ada lagi pesawat yang datang atau pergi ke atau dari Bandara APT Pranoto Samarinda. Kalaupun ada yang terbang, juga bukan model pesawat sejenis Cessna, atau pesawat ukuran kecil lainnya.

“Mungkin itu pesawat untuk merekayasa cuaca,” ujar seorang teman sambil memandang aliran Sungai Karangmumus yang mulai surut.

Bisa jadi memang demikian, sedang ada OMC atau Operasi Modifikasi Cuaca.

Kalimantan Timur memang sedang panas, bukan hanya panas politik tapi juga panas cuaca. Panas matahari terasa menyengat, seperti neraka tengah bocor.

Sesuai dengan prediksi dari BMKG yang menyebutkan mulai April hingga Oktober terdapat potensi El Nino yang akan berdampak pada wilayah Kalimantan Timur.

Dampaknya memang terasa. Panas bukan hanya di luar ruangan, di dalam ruangan juga membara jika AC atau kipas angin tak dihidupkan.

Memasuki tahun 2026, cuaca Kalimantan Timur memang cenderung panas. Januari yang biasa identik dengan hujan sehari-hari mulai pelit rintiknya. Padahal biasanya, dari bulan Desember hingga Januari adalah saat yang tepat untuk mengetes klaim program penanggulangan banjir.

Tapi tahun ini anggap saja sukses, Samarinda relatif bebas dari banjir. Tidak sia-sia uang miliaran, mungkin bahkan triliun kalau dana untuk proyek revitalisasi drainase dan normalisasi sungai digabungkan.

Saya jadi ingat sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh ahli air. Sang ahli ini mengatakan kalau kota yang sering banjir di musim hujan punya saudara kembar tidak identik di musim kemarau, yakni kekeringan.

Dan kemudian ada teman lain yang menambahkan dengan bencana yang dianggap saudara tiri banjir dan kekeringan, yakni kebakaran.

Maka meski Samarinda di tahun 2026 ini jarang banjir besar, mestinya jangan dulu sombong atau pongah, sebab saudara kembar tidak identik dari banjir mulai kelihatan: tanah Samarinda dan Kalimantan Timur pada umumnya mulai terasa kering.

Lihat saja Sungai Karangmumus, jika tak ada air pasang dari Sungai Mahakam, kelihatan sangat dangkal dan airnya menghitam. Itu berarti sumber utama air Sungai Karangmumus bukan lagi limpasan air dari Bendung Lempake, melainkan air limbah domestik yang masuk lewat got atau parit.

Memang sesekali masih turun hujan, terkadang deras tapi tak lama. Warga Samarinda juga makin akrab dengan hujan lokal, bahkan hiper-lokal. Hujan sering kali turun di titik tertentu yang luasannya tak lebih dari satu-dua RT.

Hujan seperti ini sering kali bikin masalah, sebab berpotensi menyebabkan konflik untuk orang yang janjian. Yang menunggu bertanya, “Sampai di mana?” lalu dijawab, “Masih di rumah, hujan deras.”

Yang menunggu langsung emosi, “Hujan apa? Di sini lho panas keras!”

BACA JUGA : Mas Bambang

Di Samarinda, panas cuaca makin bertambah panas dengan panas politik.

Perilaku politik Gubernur dan kroni-kroninya membuat sebagian warga resah. Keresahannya membuncah hingga kemudian berujung pada pengorganisasian aksi besar-besaran.

Gubernur memang sudah meminta maaf, tapi di balik permintaan maaf itu malah ada ucapan-ucapan yang menambah persoalan. Malah bertambah pihak yang resah.

Selain dengan masyarakat, hubungan antara Gubernur dan Walikota Samarinda nampaknya juga memanas. Banyak kebijakan Gubernur dikritisi secara terbuka oleh Walikota Samarinda, termasuk salah satu di antaranya adalah persoalan Bank Kaltimtara.

Suhu hubungan antara Gubernur Kaltim dan Walikota Samarinda kerap memanas karena ada kompornya. Yang mengompori adalah orang terdekat dari keduanya. Tenaga Ahli Gubernur yang kerap memposisikan sebagai kompor gas banyak sumbu, menyerang pernyataan Walikota Samarinda. Sementara Walikota juga punya kepanjangan lidah, tenaga ahli juga walau punya sebutan lain. Sebagai salah satu politisi dengan kiprah yang panjang, Walikota Samarinda nampaknya memang pintar menunggang gelombang panas.

Panas di Samarinda memang sudah membuat orang mandi keringat, tapi masih mendatangkan untung terutama untuk mereka yang jualan es teh dan es-es lain. Dagangan yang dingin-dingin memang jadi favorit untuk menurunkan tensi panas.

Kedai-kedai kopi juga bersuka. Selain menjadi tempat ngadem, Americano Iced-nya juga menyegarkan. Kesegarannya masih cukup untuk menahan kejengkelan karena kini banyak Americano Iced yang terasa watery, harganya sudah tembus di atas tiga puluh ribu karena ditambah pajak.

Harga-harga yang mulai perlahan naik memang menambah panas bukan hanya ubun-ubun tetapi juga dompet. Panasnya perang antara Amerika-Israel melawan Iran ternyata sampai di negeri kita dalam bentuk harga aneka barang dan jasa yang perlahan merangkak.

Kenaikannya jelas bukan karena inflasi, makanya mobil-mobil pengendali inflasi terparkir rapi.

Tapi tenang saja, meski membara secara politik dan cuaca, Samarinda sejatinya masih baik-baik saja. Lihat saja banyak kedai, kafe, atau resto baru yang buka dan dari tampilannya sungguh tak main-main.

“Proper,” kata teman saya sambil menunjukkan gambar di HP-nya kalau kursi kayu di sebelah kursi yang kami duduki harganya 600 ribu rupiah per biji.

Sehari sebelumnya seorang kawan yang mengunjungi sebuah kedai atau kafe baru juga berkirim kabar, “Wah, harga di sini terlalu-lalu.”

Dan hampir semua kedai, resto, atau kafe yang ‘proper’ dan baru itu selalu ramai, bahkan kelewat ramai. Artinya, meski cuaca dan politik membara hingga bikin tak nyaman, ternyata warga Samarinda masih asyik-asyik saja nongki, berlama-lama jajan di tempat yang tak murah.

BACA JUGA : Kereta Api

Dilihat dari semua indikator ekonomi, nampaknya saat ini bukan musim yang baik untuk investasi. Tapi entah kenapa, kedai, kafe, atau resto di Samarinda masih saja tumbuh seperti cendawan, seolah saat ini musim penghujan.

Jangan-jangan panas cuaca dan politik ini adalah blessing in disguise, berkah yang sedang menyamar.

Karena di rumah yang RSS (Rumah Sangat Sederhana), kos, atau bangsalan yang tak kurang RSS, pun juga rumah gedongan, terasa dikepung bara jika AC dan kipas tak nyala. Maka, santai dan ngadem di kedai, resto, atau kafe yang proper jauh lebih tentram.

Nongkrong di sana jauh lebih irit, karena kipas atau AC di rumah jadi bisa istirahat, wifi juga gratis. Toh, kini tak perlu menahan malu tanya apa password wifinya, sebab setelah membayar dan mendapat bill, di bagian bawah biasanya sudah tertera password wifi.

Belum lagi kalau buat es teh sendiri, atau minuman lain yang berbasis espreso atau sirup pasti lebih mahal atau lebih repot, maka membeli terasa lebih murah. Begitu juga dengan makanan, kalau masak sendiri malah terasa mahal, rasanya juga belum bisa dijamin.

Jadi, nongkrong lama-lama di resto, kedai, atau kafe mungkin bisa disebut sebagai efisiensi. Ketimbang gabut di rumah, guling-guling di kasur lalu pesan makanan dan minuman online yang lama-kelamaan bikin dompet ikut gerah.

Geliat usaha F&B yang kerap dimasukkan sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif ini bukan dipicu oleh ekosistem ekraf yang dibangun pemerintah lewat peta jalan, tapi justru oleh cuaca.

Maka sebagai warga Samarinda yang terbiasa fasih mengutuk banjir, jangan lagi mengutuk panas. Sebab panas ternyata merupakan berkah tersembunyi.

Untung saja, tanpa perlu diimbau atau dinasihati, ternyata hingga detik ini belum ada warga yang mengutuk-ngutuk panas. Kalau yang mengeluh sudah banyak, disertai dengan badan yang penuh peluh.

Memang ada pepatah, panas setahun diguyur hujan sehari. Jadi meski berpeluh-peluh dan gerah, segelas es teh atau Americano Iced bakal terasa lebih mak-nyus di badan.

Panas memang membakar tapi mudah ditebus di kedai, resto, kafe, atau bahkan warung gerobak pinggir jalan. Tabah-tabahlah mengelap keringat tanpa perlu menyumpahi panas mentari, walau begitu tetap harus waspada, terutama jangan coba-coba bermain api. Apapun yang menyebabkan api tak terkendali wajib diwaspadai, karena bermain api asmara sekalipun berpotensi menyebabkan bau hangit.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM