KESAH.IDProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diniatkan mulia kini terjebak dalam sengkarut eksekusi, mulai dari anggaran yang “disunat” hingga munculnya logika aneh yang mengganti nilai gizi dengan keharusan untuk bersyukur. Di balik proyek bernilai triliunan ini, ada risiko besar yang mengintai: anak-anak sekolah hanya menjadi kelinci percobaan kebijakan yang terburu-buru, sementara para pemburu rente justru kenyang memakan nangka tanpa terkena getahnya.

MBG itu Indonesia banget; maksudnya, seperti banyak program lainnya, MBG adalah program dengan niat mulia, tapi eksekusinya—mohon maaf—bikin mengurut dada sambil berkata, “Aduh Gusti.”

Dan makin hari, bukannya makin bagus, program ini malah semakin terbuka bobrok dan keamburadulannya. Pendek kata, kalau dikompetisikan, MBG bakal jadi juara bertahan. Dan mungkin akan tetap begitu sampai Presiden Prabowo habis masa jabatan.

Padahal, yang gratis-gratis itu kesukaan orang Indonesia; apa pun yang gratis pasti disyukuri. Tapi MBG malah jadi anomali. Terbukti, banyak sekolah yang kemudian menolak jatah MBG karena murid-muridnya tak suka. Pun ada sebuah daerah yang warganya menolak jika ada Dapur MBG berdiri di wilayah permukiman mereka.

Mungkin kalau MBG dilakukan di zaman saya sekolah, pasti kebanyakan murid akan bersyukur. Saya diajari soal 4 Sehat 5 Sempurna, dan kenyataannya makanan di rumah hampir tak pernah sempurna. Sepiring nasi dengan ayam, telur, sayur, buah, dan susu jelas sebuah kesempurnaan. Sajian seperti itu adalah kemewahan yang nyata.

Tapi untuk anak-anak seumuran anak saya, sajian MBG jelas makanan biasa, bahkan terkesan makanan “paketan”. Paket artinya murah, yang penting cukup untuk mengganjal perut. Anak-anak bisa membelinya sendiri dengan uang jajan yang diberikan orang tua mereka.

Maka, klaim bergizi jelas meragukan. Apalagi konon harga makanan per paketnya hanya Rp10.000. Kalau di Samarinda, itu mirip paket ayam goreng tepung yang meniru-niru KFC.

Label bergizi dalam program MBG adalah janji politik yang memang sulit diukur dengan hitungan saintifik. Makanya, pernyataan para ahli atau penasihat MBG soal gizi pun jadi terdengar aneh.

Aneh ketika ada anak-anak yang mengunggah foto makanan kurang bermutu, malah ditanggapi dengan komentar bahwa anak-anak itu kurang bersyukur. Menurut penasihat ahli yang punya gelar dan label tertinggi dalam dunia akademis itu, syarat utama makanan menjadi bergizi atau tidak adalah “bersyukur”. Kalau makanan tidak diterima dengan rasa syukur, gizinya hilang. Aneh bin ajaib; padahal, bergizi atau tidaknya makanan tak ada hubungannya dengan moral dan mental.

Saya tidak tahu itu pendapat penasihat gizi atau penasihat spiritual. Sepertinya program yang ditujukan untuk anak sekolah ini dikelola oleh orang-orang yang tidak mengerti karakter anak sekolah zaman sekarang.

Sekali lagi, kalau program MBG ini dilakukan di zaman saya sekolah, penasihat MBG tak perlu mengingatkan soal rasa bersyukur. Dulu dan bertahan sampai sekarang, saya selalu menganggap nasi berkat itu enak, walau sebenarnya isinya template saja. Tapi saya memang selalu bersyukur kalau dapat nasi berkat dari kenduri; selalu saya makan dengan semangat.

Tapi tidak demikian dengan anak saya. Dia akan melihat dulu apa isinya, dan kadang membiarkannya begitu saja. Terus terang, zaman saya dulu memang zaman yang agak susah. Indonesia bisa dibilang masih negara miskin; makan telur saja tidak genap. Zaman saya kecil tidak ada telur mata sapi, yang ada telur dadar karena bisa dibagi-bagi.

BACA JUGA : Badai Ducati

Per definisi, yang disebut makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat-zat gizi esensial—karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat—dalam jumlah seimbang untuk memenuhi kebutuhan tubuh, menjaga fungsi organ, serta mendukung pertumbuhan.

Bergizi artinya fokus pada isi, bukan soal kuantitas atau harga yang mahal. Namun, rasanya agak sulit untuk mendapatkan paket makanan bergizi dengan harga Rp10.000. Apalagi kemudian “disunat” hingga ada yang nilainya hanya sekitar Rp6.000.

Di zaman saya kecil dulu, makanan semurah itu disebut nasi “Tumper” atau sak tum memper. Artinya, sebungkus cukup untuk mengganjal perut; soal rasa atau kandungan gizi itu urusan belakangan. Kelak, nasi tumper itu lebih dikenal dengan istilah sego kucing: nasi sekepal, orek tempe sedikit, irisan telur goreng seadanya, dan sambal.

Maka, ketika program Makanan Bergizi Gratis diluncurkan, di tingkat basis, definisi “bergizi” seolah mengalami krisis identitas. Di beberapa kejadian, bergizi sama artinya dengan hampir basi. Atau bergizi malah mirip dengan makanan kering. Buah pelengkap gizinya pun kelewat aneh: kelapa muda bijian.

Secara teknis, setiap dapur akan melayani 1.000 hingga 3.000 siswa dengan jarak antar terjauh sepanjang 6 km. Tujuannya agar distribusi tidak terlalu lama atau memakan waktu lebih dari 30 menit, yang berisiko merusak kualitas makanan karena dibawa dengan mobil boks.

Melayani kebutuhan 1.000 sampai 3.000 siswa setiap hari bukanlah perkara mudah; belum banyak yang punya pengalaman itu. Ada banyak perusahaan katering yang bisa melayani jumlah tersebut, namun tidak secara rutin setiap hari. Maka, manajemen penyimpanan bahan menjadi tantangan tersendiri. Dengan margin yang tipis untuk tiap porsinya, kontrol kualitas (quality control) akan menjadi pertaruhan.

Dengan model “bela diri”, beberapa kasus keracunan akibat menu MBG dianggap kecil secara persentase. Namun dalam soal makanan, mestinya risiko seperti itu tak bisa ditoleransi. Pertama, karena namanya “Makanan Bergizi Gratis”, maka mandatnya adalah gizi, bukan racun. Maka sekecil apa pun kasusnya, keracunan akibat menu MBG jelas pelanggaran, karena MBG adalah layanan gizi, bukan tiket ke Puskesmas atau rawat inap di rumah sakit.

Rantai pasok akan menjadi persoalan krusial dalam program MBG. Dengan porsi besar yang dimasak, manajemen pascaproduksi sebelum diantar ke siswa sangatlah vital. Dalam fase ini, kesalahan penanganan akan membuat yang seharusnya bergizi menjadi beracun saat diterima siswa.

Ambil contoh nasi; bisa jadi nasi yang sebenarnya pulen, karena penanganan yang tidak sempurna, akan menjadi keras saat sampai ke tangan siswa. Untuk mengunyahnya perlu usaha ekstra. Nasinya sekeras usaha para politisi yang ngotot ingin berkuasa. Sementara sayurnya, saat sampai ke siswa, tak lagi hijau; layu selayu-layunya, selayu harapan kita menunggu harga BBM dan tarif listrik turun.

Seingat saya, makan di sekolah—apalagi gratis—pasti menyenangkan. Entahlah di zaman sekarang, ketika anak-anak diberi makanan gratis lewat program MBG. Akankah menyantap paket itu terasa menyenangkan? Akankah siswa menunggu datangnya makan siang yang sempurna?

Sekali lagi, jika MBG dilakukan di masa saya mengikuti pendidikan dasar, jelas akan menyenangkan. Tapi untuk anak sekolahan zaman ini, saya yakin menu MBG bukanlah menu yang mereka rindukan.

BACA JUGA : Penjara Kosong

Kalau dihitung per unit, anggaran satu paket MBG memang tak besar. Tapi kalau ditotalkan, jumlah anggaran per hari se-Indonesia jelas uang raksasa. Sehari bisa menghabiskan dana satu triliunan rupiah. Jadi, pada dasarnya MBG adalah proyek besar.

Dan di mana ada cuan besar, di situ akan banyak kepentingan yang ingin “makan nangkanya”. Sayangnya, banyak yang suka makan nangka tapi tak mau terkena getahnya. Nah, di setiap anggaran besar selalu ada pemburu rente; yang tidak berkeringat tapi ikut mengeruk uangnya.

Dari uang yang besar itu, sebagian akan menguap, mirip air rebusan yang kompornya lupa dimatikan. Ada macam-macam jenis pungutan oleh “tuan” ini atau itu. Hingga lama-kelamaan, tempe untuk lauk siswa menjadi setipis keripik; andai ada angin besar, ia bisa terbang seperti layangan.

Oke, anggap saja memang ada makanan seharga Rp10.000 per porsi yang bisa memenuhi standar gizi—standar yang kita buat sendiri. Tapi benarkah angka Rp10.000 itu tercermin dalam menu yang disajikan, atau itu hanya angka imajinasi? Angka yang dihasilkan oleh para “pesulap” yang mengaku-ngaku lulusan fakultas ekonomi.

Coba tanya ke ibu-ibu pengelola kantin, apakah makanan seharga Rp10.000 (untuk biaya bahan saja) masuk akal jika dilabeli bergizi. Pasti mereka, walaupun tidak sekolah di Akademi Gizi, akan menyatakan sulit untuk dikatakan sehat, apalagi bergizi. Tentu saja ibu kantin menilai begitu bukan karena takut kehilangan omzet akibat MBG.

MBG memang menjadi masa transisi yang berat bagi kantin sekolah. Sebagian penjual harus banting setir karena menu makan siang di sekolah kini diantar gratis oleh Dapur MBG.

Saya masih meyakini kalau MBG ini sebenarnya ide yang mulia. Sangat mulia. Tapi kalau cara eksekusinya masih seperti simulasi kepanikan massal, ya wasalam. Kita semua tidak ingin melihat anak-anak sekolah jadi kelinci percobaan dari sebuah kebijakan yang dipaksakan buru-buru demi mengejar “janji terpenuhi”.

Ujung-ujungnya, kalau MBG ini penuh masalah, yang kenyang tetap saja para makelar proyek dan pemenang tender. Sedangkan rakyat? Ya tetap kenyang juga; kenyang makan janji dan kenyang menahan sabar melihat menu makan siang yang lebih mirip pajangan daripada asupan.

Saran saya, sebelum sibuk mengurusi kalori di tiap piring, mending urusi dulu integritas di tiap level birokrasi pelaksana MBG. Karena protein sebanyak apa pun tidak akan bisa memperbaiki otak bangsa kalau moral pengelolanya sudah kadung busuk dari sananya.

note : sumber gambar – KABARBAIK