KESAH.IDDunia tengah menyaksikan babak baru kepemimpinan Donald Trump yang penuh kejutan dan tekanan. Di tengah ambisi Make America Great Again (MAGA) yang agresif, Indonesia mencoba mengambil celah diplomasi melalui pertemuan strategis Presiden Prabowo. Namun, di balik kabar baik mengenai tarif nol persen dan kesepakatan ekonomi, muncul tantangan hukum dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri yang bisa mengubah segalanya dalam semalam.

Membuat Amerika Besar Kembali, MAGA, itu visi Presiden Donald Trump yang diamini oleh masyarakat Amerika Serikat pada umumnya. Warga negeri Paman Sam sebagaimana Trump mungkin memang mengidap megalomania; wajar saja karena Amerika Serikat sering dipandang sebagai sumbu dunia, patron segala perkembangan.

Sebagai negeri biang demokrasi dan kapitalisme, Amerika Serikat memang sering merasa memimpin di depan, garda semua bangsa. Lembaga-lembaga dunia dikuasai oleh mereka, pembentukan dan keputusan berbagai kesepakatan dunia juga banyak diintrodusir oleh Amerika Serikat untuk menegaskan kepemimpinannya.

Amerika Serikat kemudian menanggung banyak beban biaya, termasuk berbagai macam inisiatif bantuan ke segala penjuru dunia. Dengan seluruh beban yang ditanggung oleh Amerika Serikat, Donald Trump merasa imbal baliknya tak besar. Penilaian ini didukung oleh Elon Musk yang bersahabat dengan Trump menjelang pemilihan presiden. Ketika Trump menang, Elon didapuk memimpin departemen untuk melakukan efisiensi.

Elon Musk bergerak cepat, nasihatnya didengarkan oleh Trump. Salah satu yang paling mengguncangkan adalah pembekuan USAID, lembaga bantuan internasional Amerika Serikat. Elon juga menyarankan evaluasi keterlibatan AS di badan-badan dunia, termasuk salah satunya WHO.

Namun langkah Trump terkait dengan hubungan luar negeri kemudian membuat hubungannya dengan Elon Musk retak. Trump mengambil kebijakan perang dagang, mengoreksi tarif masuk barang dari semua negara ke Amerika Serikat; semua dinaikkan. Langkah Trump ini dianggap Elon Musk bisa merugikan produsen Amerika Serikat sendiri.

Ya, banyak produk Amerika Serikat yang ternama sebenarnya fabrikasinya ada di luar negeri, di China, Vietnam, India, Brasil, dan lain-lain. Barang Amerika Serikat jika diproduksi di Amerika Serikat akan jadi overprice karena biaya produksinya sangat tinggi. Jika tarif masuk dari negara-negara itu dinaikkan secara gila-gilaan, otomatis produk Amerika Serikat yang diproduksi di negara-negara itu akan dikenakan tarif tinggi begitu memasuki Amerika Serikat, harganya makin tak terjangkau.

Produsen Amerika Serikat pun ikut pusing, apalagi produk-produk unggulan mereka sudah mulai disaingi oleh China. Bagaimanapun juga China kini menjadi pesaing terberat Amerika Serikat lewat produk-produk teknologi. Keputusan sepihak Donald Trump soal tarif dagang sejatinya bukan semata urusan ekonomi. Trump ingin ada negosiasi baru antara Amerika Serikat dengan negara-negara lain. Negosiasinya satu-satu.

Donald Trump menikmati hal ini karena negara-negara yang “kebakaran jenggot” akibat pengenaan tarif baru itu kemudian ingin bertemu tatap muka dengan Donald Trump. Ini yang ditunggu oleh Trump. Dan dalam berbagai kesempatan pertemuan, Trump punya akal jitu. Pertemuan disiarkan langsung dan di situ Trump kerap mem-bully tamunya untuk menunjukkan dia lebih dominan, layaknya pemimpin dunia.

Tidak semua pemimpin negara takut. Salah satu yang berani melawan adalah Kanada. Perdana Menteri Kanada kemudian membuat kesepakatan dengan negara lain dalam perdagangan, salah satunya dengan China. Trump mulai menunjukkan gaya premannya, mencoba menekan. Salah satunya dengan menangkap Presiden Venezuela sebagai peringatan; Trump juga mengancam akan menyerang Iran. Agresi Trump ini sempat membuat dunia cemas, memancing isu kekhawatiran Perang Dunia III karena Trump mulai menyerang proxy Rusia dan China.

BACA JUGA : Jali Jali

Main gertak Trump memang berisiko, tapi semua dilakukan agar mendapat good deal. Pertama, Trump ingin ada asas timbal balik. Trump merasa Amerika Serikat sudah banyak berbuat baik tapi hasilnya tak sepadan. Yang dibantu malah ikut melawan Amerika Serikat, juga tak memberikan keuntungan ekonomi.

Kedua, Trump ingin daya saing produk Amerika Serikat meningkat. Perbandingan harga antara barang sejenis produk Amerika Serikat dan negara lain sudah jauh; Amerika menanggung nilai tukar dolar yang tinggi dan upah pekerja yang juga tinggi.

Ketiga, Trump ingin menata ulang rantai pasok global. Menurut Trump, dunia mulai dikuasai oleh produk dari China, disusul oleh Vietnam yang sedikit banyak merupakan pengembangan dari China. Trump ingin memaksa agar terjadi relokasi pabrik dari China dan Vietnam ke negara lain.

Keempat, Trump menjadikan perang dagang sebagai alat untuk melakukan diplomasi dan kontrol geopolitik. Dalam perundingan dagangnya, Trump akan menyisipkan kepentingan pertahanan dan ketahanan Amerika Serikat dalam kesepakatan.

Terkait pertahanan dan keamanan, terutama geopolitik, Donald Trump kemudian menawarkan inisiatif yang dipimpin olehnya sendiri dengan nama Board of Peace (BoP). Ini adalah inisiatif pengembangan kawasan ekonomi yang diharapkan akan menghadirkan perdamaian di Palestina. BoP layaknya PBB, tapi dipimpin oleh Donald Trump dan dibiayai dengan iuran anggotanya. Keanggotaan dalam BoP ini kemudian dijadikan “kartu” oleh Trump dalam melakukan perundingan dagang dengan negara-negara lain.

Ada 21 negara yang kemudian menjadi anggota BoP, umumnya negara-negara kecil di Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan, dan Afrika serta sedikit di Eropa. Beberapa adalah sekutu dekat Amerika Serikat di Asia dan Timur Tengah. Namun sekutu tradisional Amerika Serikat di Eropa tak ada yang ikut bergabung; tidak ada nama Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan lainnya di sana.

Sebagai kelanjutan dari bergabungnya Indonesia ke BoP, maka akan dikirim delegasi tentara penjaga perdamaian ke Palestina. Indonesia secara bertahap akan mengirim 8.000 tentara. Selain iuran, pemerintah akan menanggung beban biaya untuk pasukan perdamaian itu. Setelah bergabung dengan BoP, Presiden Prabowo kembali melakukan pertemuan dengan Donald Trump untuk melakukan perundingan dagang. Hasilnya good deal untuk Indonesia.

Di media mainstream maupun media sosial muncul banyak pujian. Prabowo dipuji sebagai jagoan diplomasi karena berhasil membuat Trump setuju mengenakan tarif 0 persen atas seribu lebih barang dari Indonesia. Kabar itu membawa optimisme hingga mulai ada yang membayangkan, sedikit lagi akan ada arus relokasi pabrik dari China dan Vietnam ke Indonesia; berusaha di Indonesia akan lebih menguntungkan, terutama untuk produk yang berorientasi ekspor ke Amerika Serikat. Di YouTube, seorang yang mulai terkenal sebagai YouTuber ekonomi investasi bahkan berapi-api memastikan Malaysia akan berdarah-darah, nasibnya akan terpuruk jatuh karena good deal yang dihasilkan oleh Presiden Prabowo.

BACA JUGA : Putih Mematikan

Ojo kesusu, ojo gumunan, itu nasihat bijaksana tetua-tetua Jawa yang mulai dilupakan di zaman jagad maya sulit dibedakan dengan jagad nyata. Kita juga lupa kalau isuk tempe sore dele. Apa yang terlihat bagus bisa saja dengan cepat berubah. Artinya, kabar besar jangan cepat ditelan mentah-mentah, mesti dibiarkan dulu karena sesuatu yang besar akan memengaruhi hal lainnya. Yang akan ikut campur juga tidak sedikit.

Dan benar, hari Jumat, 20 Februari 2026, Mahkamah Agung membuat keputusan membatalkan sebagian besar penentuan tarif yang dilakukan oleh Donald Trump. Trump dianggap telah melampaui kewenangannya saat memberlakukan tarif besar-besaran dengan menggunakan undang-undang yang diperuntukkan bagi keadaan darurat nasional.

Dengan keputusan ini, tarif yang dibatalkan meliputi: Tarif Global 10% Berbasis Darurat Nasional yang dikenakan terhadap hampir seluruh negara mitra dagang AS yang dinyatakan tidak sah apabila diberlakukan berdasarkan IEEPA. Tarif “Resiprokal” terhadap sejumlah negara, yang menaikkan bea masuk dengan alasan ketidakseimbangan perdagangan, juga gugur. Tarif Terkait Isu Keamanan dan Narkotika turut terdampak dan dibatalkan.

Trump mengkritik dan melawan keputusan tersebut. Ia menyebut putusan itu sebagai aib bagi bangsa dan menilai hakim mayoritas sebagai tidak patriotik. Trump pun menyatakan akan tetap menggunakan dasar hukum lain untuk menerapkan bea masuk baru secara global. Di media sosial, Trump mengumumkan telah menandatangani kebijakan tarif global sebesar 10%. Gedung Putih menjelaskan bahwa tarif sementara tersebut diberlakukan berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974 dan dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa pukul 00.01 waktu Timur (ET).

Potensi gugat-menggugat masih akan berlangsung di dalam negeri Amerika Serikat. Good deal belum tentu good news, dan bad deal belum tentu bad news. Yang jelas, model kepemimpinan Trump yang membabi buta mulai mendapat perlawanan di dalam negerinya sendiri. Teman dan sekutunya mulai berbalik arah. Semoga saja Trump tidak buntu otak menghadapi kenyataan ini hingga kemudian memerintahkan tentaranya menyerang Iran.

note : sumber gambar – LIPUTAN6