KESAH.IDRamadhan bukan sekadar soal menahan lapar, sebagaimana masa Prapaskah bukan cuma soal pantang makan daging. Di balik perbedaan dogma dan durasi, agama-agama Abrahamik sebenarnya sedang “satu frekuensi” dalam misi yang sama: mengosongkan perut untuk memberi makan jiwa.Namun, di Indonesia, urusan rohani yang khusyuk ini sering kali beradu mesra dengan fenomena sosiologis yang seru—mulai dari sejarah urbanisasi di balik munculnya pasar takjil, hingga kegilaan “War Takjil” di Manado yang brutal namun penuh toleransi.  Di depan meja takjil, kita semua adalah hamba yang sama-sama lapar akan kebersamaan.

Rabu, 18 Februari 2026 ini, dalam kalender liturgi Gereja Katolik dirayakan Hari Rabu Abu. Ash Wednesday ini menjadi permulaan atau pertanda bahwa umat Katolik akan memasuki masa Prapaskah. Gereja Katolik dan beberapa denominasi gereja lainnya seperti Ortodoks, Anglikan, dan Lutheran akan menjalani pantang dan puasa.

Di Indonesia, masa puasa umat Katolik kali ini bersamaan dengan puasa umat Muslim Muhammadiyah.

Puasa sebagai laku jasmani-rohani memang dikenal dalam semua agama Abrahamik. Umat Yahudi, Kristen/Katolik, dan Muslim semua mempunyai tradisi melaksanakan puasa yang secara tujuan sama, namun dengan cara berbeda-beda.

Ada beberapa poin fundamental yang membuat ketiga agama ini “satu frekuensi” dalam soal puasa, yakni: puasa merupakan sarana pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa dengan cara mengendalikan nafsu badani sebagai bentuk pertobatan; puasa juga bentuk memupuk rasa empati untuk merasakan penderitaan orang lain yang kurang beruntung guna memicu rasa syukur serta kedermawanan; dan puasa selalu sepaket dengan peningkatan intensitas ibadah serta doa.

Dalam tradisi agama Yahudi, puasa dikenal dengan nama Tsom. Puasa dikaitkan dengan hari-hari berkabung atau penebusan dosa nasional. Puasa paling utama dilaksanakan pada Hari Yom Kippur. Puasa dilakukan dalam durasi 25 jam penuh. Puasa dijalankan dengan tidak makan-minum, tidak memakai sepatu kulit, tidak mandi, tidak menggunakan parfum, dan tidak melakukan hubungan suami istri. Puasa Yahudi singkat, namun terasa totalitasnya.

Sementara dalam tradisi Kristen, puasanya beragam, tergantung pada denominasinya. Puasa dilaksanakan selama 40 hari menjelang hari Paskah. Dalam tradisi Katolik, puasa dilakukan dengan menahan lapar. Puasa wajib dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, yakni dengan makan kenyang satu kali dalam sehari. Dan pada setiap hari Jumat dalam masa Prapaskah, umat Katolik dewasa wajib melakukan pantang. Pantang adalah menghindari hal tertentu seperti makan daging, merokok, dan hal-hal lain yang dianggap sebagai kesenangannya.

Walau panjang seperti maraton, puasa dan pantang dalam tradisi Katolik tidak terasa berat jika dibandingkan dengan puasa dalam tradisi agama umat Muslim.

Puasa dalam tradisi agama Islam disebut Saum dan dilaksanakan selama sebulan penuh. Bulan puasa disebut sebagai bulan Ramadhan. Puasa dilakukan dari fajar atau Subuh hingga matahari terbenam atau Maghrib. Selama berpuasa, umat Muslim benar-benar berhenti makan-minum, berhubungan suami istri, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa atau pahala selama rentang waktu dari Subuh hingga Maghrib itu. Puasa dalam tradisi umat Muslim diatur dengan sangat presisi.

Dengan demikian, terlihat puasa pada tradisi agama-agama Abrahamik bisa diibaratkan dengan melihat tiga cabang yang tumbuh dari batang pohon atau akar yang sama. Yahudi, Kristen, dan Islam sepakat bahwa menahan nafsu dalam bentuk menahan lapar dan haus serta menghindari laku tertentu adalah cara terbaik untuk memberi makan jiwa, sehingga iman kepada Yang Maha Kuasa makin dalam dan hubungan dengan sesama manusia makin baik.

Puasa adalah latihan rohani untuk menyucikan jiwa dari anasir-anasir badani yang buruk agar tubuh dan jiwa semakin dimurnikan hingga semakin layak disebut sebagai insan ciptaan yang beriman pada Yang Maha Kuasa.

BACA JUGA : Padi Ladang

Lahir dan dibesarkan dalam tradisi Katolik karena dibaptis beberapa saat setelah brojol dari kandungan ibu, saya sesungguhnya dekat dengan tradisi puasa umat Muslim. Ingatan saya tentang puasa Ramadhan sangat banyak. Saya selalu beranggapan bulan Ramadhan menjadi bulan yang istimewa.

Sewaktu kecil saya suka ikut-ikutan puasa, mengikuti teman-teman sepermainan juga om yang tinggal di rumah. Tujuannya agar ikut bergembira saat berbuka puasa. Namun lama-kelamaan yang menjadi kebiasaan adalah ikut berbuka puasa bersama.

Kelak ketika saya tinggal di Manado dan Samarinda, ada kesibukan lain di bulan Ramadhan selain berbuka puasa. Kesibukannya adalah menjadi teman nongkrong bagi teman-teman yang tidak berpuasa. Jadi saya hafal di mana tempat nongkrong yang leluasa di bulan Ramadhan itu.

Di bulan Ramadhan, ajakan nongkrong lebih sering saya terima di siang atau sore hari. Dan nongkrongnya bisa berlanjut karena menjelang buka puasa, kaum yang tidak berpuasa ini rajin juga mencari makanan buka puasa. Bahkan kelewat rajin, karena buka puasa belum tiba, yang dibeli sudah disantap duluan.

Saya lupa kapan persisnya tren Pasar Ramadhan mulai booming di mana-mana. Di masa kecil saya, dunia perkulineran pada bulan Ramadhan belum semeriah zaman akhir-akhir ini. Ada beberapa keluarga di sekitar rumah yang berjualan, namun hanya di depan rumah dan tidak lama. Kalau dihitung-hitung juga tak terlalu untung, karena yang sisa biasanya dibagikan ke tetangga.

Nampaknya Pasar Ramadhan secara sosiologis tidak lepas dari urbanisasi. Semenjak tahun 70-80-an, makin banyak orang merantau dan bekerja di luar rumah sehingga tak bisa mempersiapkan takjil atau makanan dan minuman untuk berbuka puasa sendiri.

Peluang ini yang kemudian dilihat oleh para pedagang, yang sebagian merupakan pedagang musiman, untuk membantu menyediakan takjil sekaligus mencari untung sebagai bekal untuk merayakan Lebaran. Dengan semakin banyaknya orang yang berjualan takjil, kemudian penjual diorganisir untuk berjualan di titik-titik tertentu seperti lapangan atau halaman masjid. Pasar Ramadhan kemudian makin populer dan menjadi agenda tahunan rutin sehingga lebih mirip festival kuliner.

Masing-masing kota memang mempunyai catatan sendiri tentang Pasar Ramadhan ini. Di Yogyakarta, Pasar Ramadhan tak bisa dilepaskan dari Pasar Takjil di Kampung Kauman. Berkembang sejak tahun 70-an yang dimulai dari beberapa warga berjualan lauk dan kudapan khas, yakni Kicak. Pasar Takjil yang berlokasi dekat Masjid Gedhe Kauman ini kemudian bertransformasi menjadi pusat kuliner Ramadhan yang paling diburu di Yogyakarta.

Lain pula ceritanya di Banjarmasin. Pasar Ramadhan berkembang dari Pasar Wadai Banjarmasin. Sejak tahun 80-an, diorganisir oleh Pemerintah Daerah di mana Pasar Ramadhan dijadikan sarana untuk melestarikan kurang lebih 41 jenis wadai atau kue-kue tradisional Banjar yang sulit ditemui di luar bulan Ramadhan.

Kini di setiap kota selalu ada Pasar Ramadhan legendaris yang akan menyajikan berbagai macam kudapan atau makanan khas. Pasar Ramadhan ini bahkan sudah ramai dikunjungi warga mulai tengah hari. Di Kota Samarinda pernah ada fenomena menarik; Ayam Bakar Kai yang berjualan di Pasar Ramadhan GOR Segiri, jam 4 sore sudah sold out.

BACA JUGA : Anti Bengong

Yang lebih aneh tentang Pasar Ramadhan justru terjadi di Manado, kota yang di setiap pengkolannya ada menara gereja. Dikenal sebagai masyarakat yang suka “makang-makang”, Pasar Ramadhan pun jadi ajang kulineran. Perbedaan dogma melebur dalam nampan kue-kuean. Kalau tidak percaya silakan pergi ke Manado, pergilah ke Pasar Ramadhan yang ada di Kampung Arab atau Kampung Ketang Baru. Di antara ramainya pembeli, banyak yang memakai kalung salib besar-besar.

Chaos yang menyenangkan ini sering kali bikin yang berpuasa malah jadi getir karena kehabisan takjil. Yang berpuasa orang Islam, tapi yang berpesta takjil justru orang Kristen. Di sebuah postingan media sosial, seorang teman Muslim sampai-sampai menuliskan status agar warga Kristiani Kota Manado jangan terlalu semangat berburu takjil. Dia meminta agar yang berpuasa diberi kesempatan terlebih dahulu, setelah itu sisanya bisa disikat tuntas.

Pasar Ramadhan di Manado memang berwarna, tak bertumpu pada gorengan standar dengan tepung lebih tebal dari isinya. Yang disajikan di lapak memang menggoda. Ada Balapis Manado yang teksturnya kenyal-kenyal gemoy dengan rasa santan yang kuat serta rasa cokelat yang elegan. Kuenya jika dimakan selapis demi selapis akan terasa lebih eksotis.

Ada juga Lampu-Lampu, bukan kue terang-benderang melainkan terbuat dari adonan beras yang diletakkan dalam takir daun pandan. Di bagian bawahnya berupa gula aren cair. Kue ini jika disendok lalu dimasukkan ke mulut, lelehan gulanya seperti lumer menebar rasa manis penuh di rongga mulut. Paduan dengan aroma pandannya yang kuat membuat siapa pun yang menyantap tak bakal puas hanya menikmati sebiji.

Belum lagi Lalampanya yang beda dengan lemper Jawa. Di Jawa, lemper cenderung kalem karena berisi abon entah ayam atau sapi. Lalampa Manado lebih meledak karena berisi sambal ikan cakalang atau roa yang dibumbui pedas. Karakternya makin kuat karena Lalampa bukan hanya dikukus tetapi juga dibakar. Aromanya mirip feromon yang tercium oleh pejantan yang berada ratusan meter jauhnya. Kalau mulut mulai kepedasan, masih ada Cucur dengan manis yang legit dari gula aren.

Tak heran jika kemudian di bulan Ramadhan di Manado ada “War Takjil”; cepat-cepatan memburu takjil agar yang berpuasa tak kecele karena takjil favoritnya hanya menyisakan nampan kosong. Perang takjil terjadi karena di Pasar Ramadhan sering kedatangan orang kalap yang memborong ini-itu seolah-olah besok jualan takjil akan dilarang. Brutal tapi seru dan menyenangkan. Yang jualan juga tak bisa melarang, sebab membeli takjil tak perlu menunjukkan kartu anggota untuk membuktikan agamamu apa.

Pasar Ramadhan atau Pasar Takjil memang inklusif, tak ada larangan bagi siapa pun untuk datang membeli di sana. Yang tak berpuasa sekalipun boleh juga rajin mendatangi Pasar Ramadhan sebagai penghobi, hobi makan. Saking inklusifnya, di Pasar Ramadhan GOR Segiri Samarinda bahkan ada kios-kios yang menyajikan makanan siap santap di tempat. Di beberapa titik, dengan mudah akan disaksikan orang tengah bersantap meski waktu buka puasa masih jauh. Dan tak ada yang marah atau merasa terganggu dengan polah ini.

Selamat berpuasa untuk semua, selamat menikmati Pesta Kuliner di Festival Pasar Ramadhan.

note : sumber gambar – ANTARA FOTO