KESAH.ID – Budaya hidup di Indonesia umumnya menempatkan orang yang telah berumur 50 tahun sebagai sudah mapan, sudah tidak neko-neko. Ibarat mentari, umur 50 tahun sudah condong ke barat, mendekati saat terbenam. Dalam dunia pekerjaan sudah memasuki masa-masa persiapan untuk pensiun. Secara epistemologis umur tua memang kerap dikaitkan dengan kematangan, kebijaksanaan dan tahu menempatkan prioritas. Namun faktanya ternyata banyak yang memasuki usia lewat 50 tahun justru ditenggarai melakukan hal-hal yang tercela, perilaku yang tidak bisa dijadikan anutan dan panutan untuk yang muda-muda.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Peribahasa ini mengajarkan kalau manusia mati akan meninggalkan nama, makna dan arti yang dikenang oleh orang lainnya.
Yang disebut hidup pasti akan berujung kematian, resiko terbesar dari hidup adalah mati. Namun mati juga penyelesaian, begitu mati semua masalah hidup selesai. Walau ada juga masalah yang diwariskan pada yang hidup.
Guru saya pernah menerangkan yang disebut dengan hidup abadi. Artinya bukan tak mati-mati seperti keinginan banyak orang, termasuk Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi.
Menurut guru saya, hidup disebut abadi karena seseorang akan dikenang oleh orang lain, makin kuat dan besar kenangan dari yang masih hidup, makin abadilah nama orang itu.
Ingin dikenang sebagai orang baik, kemudian menjadi cita-cita banyak orang. Bahkan sejak kecil seorang bocah sudah bercita-cita, berbakti pada nusa dan bangsa. Mereka yang punya bakti besar akan dikenang oleh negara dan bangsa sebagai pahlawan. Dan pahlawan akan selalu dikenang, namanya harum, hidupnya abadi termasuk ketika diabadikan menjadi nama jalan, gedung, bandara, pelabuhan dan lain-lain.
Orang berbahasa Inggris punya peribahasa life began at forty, usia 40 tahun dimaknai sebagai fase hidup yang penuh makna, kestabilan, dan kebahagian, awal dari kehidupan, bukan fase akhir. Pada usia 40-an seseorang dianggap matang, sudah mengenal dirinya sendiri, punya prioritas yang jelas, lebih bijaksana sehingga siap untuk memasuki fase hidup yang lebih berkualitas, lebih menekankan mutu hidup baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat disekitarnya.
Di usia ini seseorang cocok untuk menjadi pemimpin, wakil rakyat dan elit-elit masyarakat. Mereka dianggap sudah tidak memikirkan dirinya sendiri, karena yang dibutuhkan untuk dirinya sudah cukup.
Berbeda dengan di negeri berbahasa Inggris, Indonesia tidak mengenal life began at forty. Usia kritis di Indonesia adalah 50 tahun, mungkin sekarang sudah dikoreksi menjadi 60 tahun. Usia pensiun.
Dalam usia seperti ini seseorang diharapkan sudah lebih memikirkan hidup yang akan datang, hidup sesudah kematian. Istilahnya sudah tidak berpikir dunia lagi, tetapi akhirat.
Maka di Indonesia dalam usia seperti itu seseorang dibayangkan tak lagi mengejar kesenangan, cara hidup dan perilakunya lebih ditujukan untuk orang lain agar dirinya beroleh berkah.
Di Indonesia seseorang yang telah berumur 50 – 60 tahun bukan hanya dianggap bijaksana, tapi juga saleh. Hidupnya bukan lagi diabdikan untuk keluarga, masyarakat, negara tetapi juga agama dan Tuhan.
Maka kalau ada orang yang umurnya sudah 50 an tahun tapi masih pecicilan orang-orang yang melihat bakal mengatakan “Tua-tua ndak tahu diri,”
Selain bersifat biologis, ungkapan tahu diri ini juga bersifat psikologis. Orang-orang tua yang berlaku seperti haus pujian, pasti juga akan dibilang tak tahu diri, lantas dibilang “Masa kecil kurang bahagia,”
Menjadi orang tua di Indonesia kemudian sungguh berat. Tanggungjawabnya dunia akhirat.
Makanya banyak yang gagal, meski ketika meninggal nanti, di pemakaman akan ada pidato atau sambutan dari seseorang yang kemudian mengatakan “Kita kehilangan salah satu putra terbaik,”
Kata-kata ini sudah menjadi template, meski dari sekian banyak yang hadir dalam hati mengatakan “Terbaik, ndasmu,”
BACA JUGA : Samarinda – Gemerlap Kota Tepian Yang Menyimpan Luka Tersembunyi Di Balik Seragam Sekolah
Secara kebudayaan, masyarakat kerap membagi dunia dalam makro dan mikro kosmos, yang lebih religius akan membagi menjadi dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah.
Kebudayaan dan peradaban tak pernah memandang dunia hanya secara ontologis, melainkan juga secara epistemologis. Ada banyak keharusan-keharusan yang dirumuskan oleh kebudayaan dan peradaban sebagaimana tertuang dalam nilai-nilai kehidupan.
Menjadi tua, matang dan bijaksana secara epistemologis dimaknai tidak boleh larut dalam hiruk pikuk dunia yang fana. Hidup begitu ramai, tapi mereka yang bijaksana selalu diharapkan untuk mampu mendengar bisikan suara hatinya sendiri.
Kehidupan memang semakin ramai, semua bergerak tanpa istirahat. Berbagai tempat berlomba-lomba untuk selalu hidup, lewat operasi 24 jam.
Dalam 24 jam orang selalu sibuk, sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sibuk berdebat, sibuk bertengkar, sibuk mencari musuh , sibuk mencari pengikut, sibuk mengejar FYP.
Dalam lanskap media sosial, hidup menjadi semakin sulit dan rumit. Komentar saling bertabrakan, kebenaran menjadi kabur, banyak orang jadi ragu, empati menurun, sarkasme meningkat.
Menjadi tak mudah lagi untuk punya anggapan kalau hidup itu sederhana saja. Sebaliknya tak sedikit juga yang kemudian menyederhanakan hidup atau kebahagiaan seperti memposting foto saat makan bakso dengan caption “Bahagia itu sederhana saja,”
Padahal mungkin saja itu palsu karena bakso dibeli dengan uang hasil pinjaman online. Jadi setelah makan bakso jelas tak bahagia. Bahagianya hanya saat difoto. Artinya bahkan kebahagiaanpun dipalsukan.
Di negeri yang kebahagiaannya dipalsukan ini, mungkin menjarah rumah orang termasuk dalam bagian mencari kebahagiaan.
Benar yang dikatakan oleh Dokter Ryu Hasan kalau kebanyakan dari masyarakat Indonesia tidak secara tegas membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan.
Makanya terjadi paradoks, di media sosial bertabur caption “Bahagia itu sederhana,” tapi dalam survey indeks kebahagiaan ternyata rangking Indonesia rendah, masyarakatnya nggak bahagia.
Padahal pertanyaan survey indeks kebahagiaan itu sederhana saja, misalnya “Kalau hp anda tertinggal di rumah, anda akan segera balik atau tidak?”
Score kebahagiaan akan rendah jika dengan segera dijawab “Saya segera balik,”
Kenapa segera balik?. Karena khawatir kalau hp yang tergeletak itu akan dibuka-buka dan terbongkarlah semua rahasia yang disembunyikan.
Pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan adalah “Anda yakin kalau dompet yang tercecer di jalan bisa ditemukan atau tidak?”
Mungkin ada yang menjawab “Yakin ditemukan,” tapi dengan tambahan “Isinya sudah kosong,”
Dua jawaban diatas itu membuat score kebahagiaan kita rendah karena masyarakat kita khawatir, merasa tak aman dan tak ada jaminan. Dompet yang jatuh bukan hanya dikuras uang tunai yang ada di dalamnya, tetapi juga ATM-nya yang dicoba-coba berdasarkan data yang ada di SIM atau KTP.
Mendapati dompet di jalan yang berisi banyak uang, lalu mengambil uangnya dianggap bukan mencuri, melainkan mendapat rejeki, rejeki anak sholeh.
BACA JUGA : Sungai Banjar Kaya Paparan Sinar Mentari Tapi PLTS-nya Ambyar
Kebahagiaan itu tak bisa dibeli, begitu keyakinan kita. Benar karena sebagian besar dari kita memang tak punya uang, uang yang banyak sekali.
Faktanya jika negeri, pemerintah dan warga sama-sama punya banyak uang, indeks kebahagiaan sebuah negeri biasanya tinggi.
Kalimantan Timur paska reformasi mestinya jadi daerah yang punya indeks kebahagiaan tinggi. Ketika diterapkan kebijakan otonomi daerah, APBD Provinsi Kaltim dan Kabupaten/Kotanya melonjak tinggi. Bahkan ada satu kabupaten yang kemudian termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Tapi kenapa warga Kalimantan Timur, Kota dan Kabupaten dalam wilayahnya tak bahagia?.
“Banyu di ganggaman tangan kada manitis,”
Anggaran besar itu dicekik, digenggam di tangan-tangan tertentu. Ada ketidakadilan distributif. Masyarakat bukan dijanjikan potensi untuk berkembang tetapi hanya diberi sedikit hiburan lewat bantuan-bantuan sosial dengan label serba gratis, atau gratis poll.
Ironis.
Dan secara sosio politik bahkan lebih miris.
Sepanjang perjalanan demokrasi paska reformasi, masyarakat Kalimantan Timur hatinya teriris-iris. Berkali-kali dan masih terus terjadi sosok-sosok yang dianggap panutan, senior citizen bahkan juga mungkin setara dengan Bapak Pembangunan di masa-masa tuanya, masa istirahat dan menikmati segala capaian serta pengabdiannya justru dicokok oleh aparat penegak hukum.
Tak perlu menunjuk siapa, tapi kita semua tahu bahwa mereka yang harum namanya ketika memerintah dan punya kedudukan, kemudian terbukti ‘culas’ saat memegang amanah pengabdian pada masyarakat.
Memang dalam daftar ada beberapa orang muda yang kurang ajar, namun mayoritas yang kemudian dicokok dan dijadikan tersangka oleh aparat penegak hukum justru mereka yang hendak atau sudah pensiun.
Mereka yang seharusnya sudah mempersiapkan hidup bahagia di akhirat, justru menjalani akhir hidupnya di dunia dengan sengsara, penuh rasa malu dan dipermalukan.
Jelas ini bukan kondisi sosio politik yang sehat untuk masyarakat Kalimantan Timur kalau warganya peduli pada kehidupan bersama.
Semoga drama sosial politik yang terus terjadi di Kalimantan Timur ini menjadi pengingat untuk kita-kita yang umurnya sudah lewat 50 tahun, agar selain rajin olahraga juga rajin mengingatkan pada diri sendiri untuk bisa mengatakan tidak pada ini dan itu yang bisa menghantar kita menghabiskan waktu di balik jeruji penjara di sisa usia.
note : sumber gambar – KOMPAS








