KESAH.IDJarang atau bahkan tak pernah seorang pembalap yang cidera parah dan kemudian kembali ke lintasan lalu berhasil merajai. Marc mungkin satu-satunya pembalap yang berhasil mewujudkan hal itu setelah menunggu sekitar 5 tahunan. Menguasai Moto GP 2025, gelar juara memang sudah diklaim oleh Marc Marquez sejak menunggangi Ducati GP 2025. Hingga kemudian Marc memecahkan rekor karena gelar juara dunia sudah diamankan ketika Moto GP 2025 masih menyisakan 5 seri balapan. Sejauh ini hanya Marc Marquez yang bisa seperti itu.

Coba tulis status di medsos kamu yang intinya memuji Marc Marquez sebagai legenda hidup Moto GP. Pasti tak lama kemudian bakal muncul komentar yang nggak nyambung, nggak mau memvalidasi kemenangan gemilang Marc Marquez di Moto GP musim 2025 ini.

Komentar yang tak dundang yang paling mungkin adalah “Ah, Marc menang karena motornya doang,”

Puih, ya jelas lah Marc menang karena motor masak karena sepeda?.

Pastinya yang suka mengomentari seperti itu adalah jenis manusia yang mungkin tak nonton Moto GP lagi gegara Valentino Rossi urung jadi juara dunia di tahun 2015. Peristiwanya Rossi dikalahkan oleh Jorge Lorenzo tapi yang disalahkan adalah Marc Marquez.

Padahal tanpa insiden dengan Marc Marquez, tidak pula ada jaminan kalau Rossi bakal menang melawan Jorge Lorenzo.

Tapi namanya pemuja yang buta, ya hanya satu saja pilihannya yakni pasti menang.

Yang menyukai Rossi mungkin sudah lupa kalau semenjak bergabungnya Marc Marquez di kelas utama Moto GP, kedigdayaan Rossi mulai menurun. Marc Marquezlah yang berjaya.

Penonton Rossi sepertinya kurang suka menganalisa, nggak melihat setiap balapan dengan memakai data. Andai mereka ingat tahun 2019, komentar Marc menang karena motornya pasti bakal tak terlontar.

DI tahun 2019, Moto GP mempunyai 19 balapan. Marc Marquez menang 12 kali, dan Honda juga menang 12 kali artinya semua karena sumbangsih Marc Marquez.

Waktu itu penunggang Honda selain Marc Marquez ada Jorge Lorenzo, Taka Nakagami dan Carl Crutchlow. Ketiganya tak sekalipun menang walau menaiki Honda yang begitu mendominasi di tangan Marc Marquez.

Jadi mengomentari Marc Marquez menang hanya gara-gara motornya adalah ahistoris, karena Honda bukanlah motor terbaik di lintasan.

Menaiki Honda, Marc harus berjuang mati-matian, mengerahkan seluruh kemampuannya dan berani mengambil resiko agar bisa menang. Makanya selain tercatat sebagai pembalap dengan banyak kemenangan, Marc juga tercatat sebagai pembalap yang paling banyak terjatuh. Rekor jatuhnya tinggi karena Marc selalu memaksa motor melewati batas agar tetap kompetitif.

Gara-gara ingin kompetitif dengan motor yang sulit Marc Marquez terpelanting, terlempar dari motor seperti tengah rodeo menaiki sapi liar.

Marc cidera parah di bahu.

Saking ingin membalap, begitu selesai operasi langsung tancap gas. Kembali terjatuh dan cidera makin parah. Bukan hanya bahu tapi juga mata. Pandangan Marc Marquez ganda sehingga menimbang untuk pensiun.

Tapi perlahan Marc pulih dan membalap kembali namun Honda semakin tak kompetitif. Pembalap terhebat di lintasan itu mulai tak percaya pada kemampuan dirinya.

Marc mengatakan “Kalau tak lagi punya kemungkinan menang, lebih baik mundur dari balapan,”

Satu-satunya cara untuk menguji itu harus menaiki motor lain.

Marc akhirnya pindah ke Gresini yang memakai motor Ducati.

BACA JUGA : The Goat

Setiap orang pasti butuh uang, tapi Marc sudah cukup punya uang. Kontraknya dengan Honda menjadi salah satu kontrak terbesar di Moto GP. Belum lagi bonus dan bayaran iklan, pundi-pundinya sudah lumayan tebal.

Prestasi, itu yang paling penting. Sebab untuk Marc Marquez kegembiraan dari balapan bukan bayaran besar tapi kemenangan.

Di Gresini Marc Marquez kembali merasakan kemenangan, kembali naik podium yang bertahun-tahun tak pernah dirasakan lagi.

Kepercayaan dirinya tumbuh, apalagi di Gresini Marc Marquez membalap bersama sang adik. Tidak ada tekanan di garasi Gresini. Yang ada justru canda tawa, Gresini menjadi tim yang paling akrab dan penuh kekeluargaan.

Memperoleh kepercayaan diri kembali, Marc Marquez mencanangkan diri untuk bergabung dengan tim pabrikan. Marc mulai punya keinginan menjadi juara dunia kembali.

Dengan kondisinya yang babak belur setelah cidera panjang, Marc tak bisa lagi membalap dengan gaya lama. Tak boleh mengandalkan fisik dan agresifitas dalam balapan, karena jatuh atau crash sangat berisiko untuknya.

Pucuk dicinta ulam tiba, Ducati lebih memilih Marc Marquez ketimbang Jorge Martin yang meraih gelar juara Moto GP 2024. Ducati yang idealis tiba-tiba pragmatis. Bisa dipahami karena Ducati adalah perusahaan motor, tentu saja ingin jualannya juga laku. Dan Marc Marquez jelas lebih menjual.

Jorge Martin pasti geram tetapi pasti tahu diri. Buktinya ketika ada tanda-tanda Ducati lebih condong ke Marc Marquez, Jorge tak butuh waktu lama untuk mengiyakan tawaran dari Aprilia.

Pasar pembalap terguncang-guncang gara-gara Marc Marquez pindah ke Ducati. Bukan hanya pembalap yang di reset melainkan juga tim balap. Pramac meninggalkan Ducati menuju Yamaha.

Banyak yang meramalkan Ducati bakal kesulitan mengelola dua pembalap yang punya gelar juara dunia. Francesco Bagnaia pemegang gelar dunia dua kali dan Marc Marquez peraih gelar 6 kali. Para juara pasti punya ego masing-masing.

Tapi belajar dari pengalaman yang lalu, jaman Rossi dan Lorenzo, Ducati kemudian mentradisikan budaya keterbukaan data antar pembalapnya.

Dalam kasus antara Francesco Bagnaia dan Jorge Martin, Ducati juga terbukti fair, tidak berat sebelah dalam memberi dukungan. Jorge Martin pembalap tim satelit dibiarkan mengalahkan Pecco Bagnaia, pembalap utama pabrikan Ducati.

Dan terbukti hubungan antara Marc dan Pecco baik-baik saja walau Marc tampil lebih baik dari Pecco. Marc pun selalu menyemangati Pecco agar kembali tampil trenginas.

Yang justru tak disangka-sangka adalah penampilan Alex Marquez, sang adik. Alex sepertinya sangat cocok dengan GP 2024 hingga kemudian menjadi saingan paling kuat dari Marc Marquez dalam kejuaraan.

BACA JUGA : Subsistensi Energi dan Bencana Ekologi di Lanskap Mahakam

Membandingkan antara Marc Marquez dan Valentino Rossi dalam konteks Ducati tidaklah tepat. Rossi kesulitan ketika menunggangi Ducati padahal ekspektasi pabrikan Italia padanya begitu tinggi. Ducati ingin berjaya di balapan Moto GP dengan pembalap kebanggaan Italia, sayang itu tak terjadi.

Bersama Marc Marquez, Ducati langsung klop. Marc bisa mengembangkan gaya balap yang tepat dengan motornya. Hingga kemudian Marc jadi yang terdepan. Jelas Ducati motor terbaik di lintasan, tapi mengatakan Marc hanya menang karena motornya jelas tak tepat.

Di Ducati ada tiga pembalap memakai GP 2025, selain Marc motor terbaru ini dipakai oleh Francesco Bagnaia dan Fabio Digianntonio. Tapi Marc Marquez yang terbaik dalam mengkapitalisasi, Pecco dan Diggia kesulitan mengendarainya.

Beberapa balapan seri pembuka saja, publik Moto GP sudah tahu kalau Marc yang bakal meraih gelar juara. Jangankan mengalahkan Marc Marquez, berusaha melawan di lintasan saja sudah kepayahan.

Bersama Ducati GP 2025 Marc Marquez seperti bermain-main di lintasan. Ritme balapan dikuasai dan dikendalikan olehnya. Jadi balapan tetap seru walau sudah hampir pasti siapa pemenangnya.

Di Motegi, saat balapan Moto GP masih menyisakan 5 seri, Marc sudah mengunci gelar juara dunia. Sebuah rekor tersendiri.

Dan bersamaan dengan klaim kemenangan di Motegi, ada banyak rekor yang menyertai Marc Marquez hanya di seri Moto GP 2025 ini.

Marc Marquez meraih banyak capain sebagai yang terbanyak. Seperti yang terlihat dalam poinnya. Marc mencatatkan diri sebagai pembalap peraih poin terbesar dalam semusim sepanjang sejarah Moto GP.

Pendek kata yang terbanyak yang diraih oleh Marc Marquez bakal sulit disaingi oleh pembalap lainnya. Karena persaingan para pembalap juniornya Marc Marquez bakal lebih ketat. Paska Marc yang bersaing adalah Fabio Quartararo, Francesco Bagnaia, Enea Bastianini, Marco Bezzecchi, Jorge Martin, Alex Marquez dan Pedro Acosta.

Yang paling fenomenal, Marc mencatat comeback terhebat dalam sejarah Moto GP. Setelah cidera parah dan kembali membalap, Marc bisa meraih gelar juara dunia kembali setelah 6 tahun menjauh darinya.

Marc Marquez kemudian mencatatkan rekor sebagai pembalap tertua di Moto GP yang berhasil meraih gelar juara dunia. Rossi dan Agustini, meraih gelar juara terakhirnya saat berumur 30 tahun, Marc memenangkan gelar di Motegi saat umurnya sudah 32 tahun.

Tertua dan terkuat, jelas sebuah paradoks.

Marc benar-benar seorang alien.

Saat merayakan kemenangan, Marc mengabaikan soal angka. Sebab tak perlu bicara soal angka karena angka sudah bicara dengan sendirinya.

Marc Marquez telah melampaui capaian-capaian pembalap-pembalap terbaik lainnya yang melegenda. Angka-angkanya jelas lebih baik. Maka angka tak perlu dibicarakan lagi termasuk ketika Liberty tahun depan akan memaksa Marc Marquez memakai nomor 1 di motornya.

Akankah tahun depan Marc Marquez masih tetap dominan?. Tak ada yang tahu.

Yang jelas sebagai legenda hidup yang masih aktif membalap tentu aura Marc di lintasan berbeda dengan pembalap-pembalap lainnya.

Hanya Marc Marquez yang punya kemewahan itu.

note : sumber gambar – BOLA