KESAH.IDSetiap komunitas lokal selalu mempunyai subsistensi energi atau pengetahuan dan praktek penggunaan energi yang berbasis pada sumberdaya lokal. Tapi unifikasi energi lewat elektrifikasi membuat praktek dan kekayaan energi lokal menghilang karena semua peralatan atau teknologi mulai dari teknologi rumah tangga berkiblat pada standarisasi global. Transisi energi sebagai kesempatan untuk melakukan transformasi energi, kembali kepada kemandirian energi lokal tetap tak mudah untuk dilakukan, selama energi kemudian tetap dikuasai oleh industriawan yang menjualnya sebagai komoditas.Lanskap Mahakam bukan hanya saksi sejarah megadiversivitas Kalimantan Timur melainkan juga pustaka keanekaragaman hayati dan kekayaan lain bumi yang amat panjang sepanjang pengabdian dan jasanya menumbuhkan peradaban di Kalimantan Timur.

Roedy Haryo AMZ, intelektual organik membagi bentang sungai sepanjang 920 km itu dalam konteks hubungan antara ekologi dan budaya menjadi bagian Hulu yang berada mulai dari Hulu Riam, Mahakam Hulu hingga Kutai Barat, Mahakam Tengah yang berada di Kutai Barat hingga Kutai Kartanegara dan Mahakam Hilir yang berada di Samarinda hingga Delta Mahakam Kutai Kartanegara.

Kini lanskap Mahakam mulai dari hulu hingga hilir mengalami persoalan yang sama yakni banjir. Banjir di aliran Sungai Mahakam terjadi mulai dari hulu hingga hilir.

Seandainya Mahakam bisa bicara maka dengan lantang akan meneriakkan linimasa penghancuran sumberdaya alam dan sumberdaya lokal sepanjang alirannya dari masa ke masa.

Untuk waktu yang lama, Sungai Mahakam menjadi tempat lalu lalang kapal dan perahu yang datang dari negeri jauh termasuk dari China untuk berdagang. Mulanya yang sangat terkenal adalah hasil hutan non kayu, berbagai macam getah-getahan, kulit pohon, rotan, madu, bulu burung, sarang walet dan lain-lainnya.

Hanya saja komoditas itu berubah tatkala kolonial tiba. Kaum kolonial mulai mengekstraksi hutan, menebang kayu untuk bantalan rel dan lain sebagainya. Setelah itu kaum kolonial mulai mengektraksi sumberdaya alam lainnya, migas dan batubara.

Tekanan pada alam Kalimantan Timur pada masa itu bukan hanya karena buminya diekploitasi, tetapi industri ekstraksi juga membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Setiap kali dibangun industri ekstraksi, Kalimantan Timur mengalami ledakan jumlah penduduk.

Muncul kota-kota baru karena industri migas, seperti Balikpapan dan Sanga Sanga.

Di masa kolonial industri batubara dimulai di sekitar wilayah Samarinda, juga di dekat Tenggarong. Selain itu ada juga di Berau.

Industri batubara di masa kolonial tidak terlalu menguntungkan, tantangannya terlalu berat.

Linimasa eksploitasi sumberdaya alam terus berlanjut hingga ke jaman kemerdekaan. Menjelang tahun 70-an dikenal istilah Banjir Kap. Sungai Mahakam menjadi sungai kayu karena dipenuhi dengan rakit atau rangkaian log kayu yang panjang.

“Jaman itu jaman pesta uang,” ujar Roedy Haryo.

“Setiap orang pada waktu itu bisa mendapat uang dari kayu log atau kayu gelondongan. Ijin untuk menebang kayu di hutan, kayu alam diberikan kepada siapa saja. Muncul raja-raja kayu, yang terkenal antara lain Jos Sutomi, pemilik jaringan Hotel Senyiur, Haji Rusli pemilik Hotel Mesra Internasional Group dan Luther Kombong yang kemudian dikenal sebagai politisi,” lanjut Rudi.

Pembalakan manual yang memporakporandakan hutan di sepanjang DAS Mahakam dan Berau {Sungai Segah dan Sungai Kelay} tidak berhenti. Karena hutan alam yang tadinya bisa diakses oleh rakyat kemudian diserahkan kepada para investor.

Demi melayani investor, masyarakat adat disingkirkan dari hutan lewat Program Resetlement dan Regrouping. Masyarakat dipindah dari lingkungan hutan untuk dimukimkan dalam desa-desa baru {resetlement} , dan permukiman-permukiman yang kecil kemudian disatukan agar memenuhi syarat adminstratif {regrouping}.

“Lanskap ekologi dan kultural Mahakam, berubah drastis sejak saat itu,” ujar Roedy Haryo.

BACA JUGA : Tambang Tumbang

Penghancuran sumberdaya lokal terus berlanjut. Setelah era kayu surut, muncul sawit dan batubara. Konversi hutan, bahkan lahan gambut berlanjut untuk perkebunan sawit.

Tambang batubara kemudian juga makin marak setelah reformasi. Pada masa orde baru hanya tambang besar yang beroperasi lewat ijin yang diberikan pemerintah nasional, PKP2B atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Barubara.

Selain itu pada masa orde baru, di lanskap Mahakam juga beroperasi penambangan emas oleh PT. Kelian Equator Mining.

Era sawit dan batubara makin marak setelah otonomi daerah. Pemerintah daerah diberi kewenangan memberikan ijin. Ijin pertambangan dikenal dengan nama KP atau Kuasa Pertambangan. Kelak kewenangan itu dicabut, hingga kemudian Ijin Usaha Pertambangan diberikan oleh pemerintah nasional.

Setelah hutan ditebang untuk diambil kayu alamnya, untuk menanam kelapa sawit dan juga untuk ditambang, DAS Mahakam mengalami krisis. Sungai Mahakam menderita oleh sedimentasi yang luar biasa, banjir bahkan mulai terjadi di Hulu Mahakam.

Kerusakan ekologi ini juga mengancam kebudayaan di sepanjang Sungai Mahakam. Perubahan ekosistem dan lanskap kehidupan karena ekonomi baru yang tumbuh melalui industri ekstraksi dan perkebunan, membuat masyarakat Mahakam kehilangan pengetahuan dan praktek dalam pemanfaatan energi subsisten.

“Sebelum istilah transisi energi menjadi mainstreams, pemerintah Provinsi Kalimantan Timur lebih dahulu menyuarakan ekonomi hijau,” terang Roedy Haryo.

Rudi mengingatkan jargon yang dulu selalu diucapkan oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang setiap kali mengawali pidato selalu meneriakkan “One man five tree,”

Almarhum Awang Faroek Ishak atau dikenal dengan panggilan AFI, adalah Gubernur yang mendeklarasikan Kalimantan Timur sebagai provinsi hijau.

Deklarasi yang paradoks karena pada saat yang bersamaan Kalimantan Timur juga dianggap sebagai lumbung energi, yakni migas dan batubara.

Kelimpahan energi batubara yang membuat Kalimantan Timur melupakan sumber energi lain untuk mengatasi kesenjangan energi antara masyarakat perkotaan dan perdesaan.

Sampai sekarang masyarakat perkotaan di Kalimantan Timur berlimpah listrik, namun masih banyak desa yang listriknya byar pet atau hanya menyala setengah hari karena dibangkitkan dengan BBM yang harganya kian mahal.

Roedy menerangkan di masa orde baru, daerah-daerah yang tidak teraliri listrik mengupayakan kemandirian energi lewat mikro hidro. Namun program ini tidak berlanjut karena masyarakat dan pemerintah desa lebih memilih memakai diesel yang perawatannya lebih mudah walau operasinya lebih mahal.

“Penetrasi mikrohidro menurun dan kemudian diganti dengan proyek panel surya housing,” lanjut Roedy.

Tapi proyek ini tak berkelanjutan, kapasitasnya juga terbatas dan masyarakat tidak punya kemampuan memelihara atau memperbaiki jika rusak. Selain itu kalau harus melakukan pengantian, harganya amat mahal.

BACA JUGA : The Goat

“Transisi energi pertama di Kalimantan Timur adalah peralihan dari energi lokal ke energi global. Dari kayu, damar dan minyak-minyak nabati ke listrik, bbm dan gas,” terang Roedy.

Energi global atau modern membuat masyarakat Kalimantan Timur tak lagi menggunakan energi biomasa, seperti kayu, serbuk gergajian dan arang, juga getah-getahan seperti damar. Selain itu juga mulai lupa dengan minyak tengkawang, minyak kemiri dan lain-lain.

Elektrifikasi membuat konsumsi batubara dan bahan bakar minyak makin meningkat. Emisi atau pencemaran yang disebabkan mulai dari ekploitasi hingga konsumsi membuat efek pemanasan rumah kaca, iklim dunia berubah, bumi mengalami peningkatan pemanasan.

Terma ekonomi berkelanjutan, ekonomi hijau atau ekonomi rendah karbon menjadi mainstreams. Para pelaku kapitalisme global yang perilakunya benar-benar ekstraktif ikut-ikutan memakai alam untuk menjual produknya.

“Kampanye ekonomi berkelanjutan, diikuti oleh greenwashing. Mencitrakan dirinya hijau dengan melakukan daur ulang, atau mengganti energinya menjadi energi terbarukan dan lain-lain,” ungkap Roedy Haryo.

Bumi ternyata terus makin memanas. Upaya-upaya hijau belum cukup untuk menurunkan laju pemanasan global.

Pemimpin dunia, baik pemimpin politik maupun ekonomi kemudian menyepakai langkah bersama yang disebut Transisi Energi Berkeadilan.

“Istilah ini sekarang berkelindan tapi seperti apa wujudnya kita belum bisa melihat dengan terang. Bahkan di Kalimantan Timur, ektraksi sumberdaya alam masih teramat giat. Tambang batubara malah ingin dibagi ke rakyat, begitu juga dengan tambang lain seperti pasir silika yang sedang menunggu giliran,” lanjut Roedy.

Menurut Roedy Haryo AMZ, dalam proses transisi energi diperlukan energi transisi. Dan sampai sekarang belum jelas.

“Menilik berbagai inisiatif sebelumnya, nampaknya tetap batubara namun diolah entah menjadi gas atau bahan cair, tetapi tetap batubara,” terang Roedy.

Maka menurutnya transisi energi belum tentu membawa pemulihan alam, karena masih didasari oleh industri ekstraksi yang dilanjutkan dengan pengolahan atau hilirisasi.

Walau era transisi energi bisa menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan transformasi energi, kembali menerapkan pengetahuan dan praktek energi lokal.

Tapi revitalisasi atau menghidupkan kembali praktek yang telah lampau bahkan arkaik sungguh tak gampang.

“Pengetahuannya sudah tidak diwariskan, prakteknya sudah tipis dan bisa jadi sumberdayanya sudah langka,” pungkas Roedy Haryo AMZ.

Penulis : Jamiah

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Sumber Gambar : KJW Kaltim