Pengajaran tentang perbedaan laki-laki dan perempuan terkadang menyebalkan. Perbedaan itu biasanya didasarkan pada pembagian tugas warisan pandangan tradisional namun kemudian dianggap sebagai kodrat atau bawaan. Seperti misalnya ciri-ciri rambut. Secara tradisional kepada anak-anak kita ajarkan bahwa laki-laki itu rambutnya pendek dan perempuan rambutnya panjang.
Hasilnya sungguh ampuh. Anak saya yang masih duduk di bangku SD tak sudi dijemput oleh saya, karena sebagai bapak, laki-laki, rambut saya panjang. Mungkin anak saya tak mau diolok-olok sama temannya, kalau bapaknya perempuan karena punya rambut panjang.
Entah apa cerita sejarah dibalik pembagian ciri rambut antara laki-laki dan perempuan. Kapan masyarakat mulai menentukan hal itu. Kalau melihat gambar atau foto di Eropa belum seratus tahun lalu, banyak laki-laki rambutnya panjang. Bahkan Yesus yang kelahirannya dipakai sebagai penanda tahun masehi, selalu digambarkan sebagai laki-laki yang berambut panjang.
Tugas lain yang digambarkan sebagai kondrat perempuan yaitu sebagai penjaga rumah, mengasuh anak dan mengurusi dapur. Untuk yang satu ini saya menemukan akar sejarahnya.
Di masa lalu ketika belum ada bidan dan dokter, melahirkan selalu merupakan tugas yang berisiko. Tingkat kematian ibu saat itu begitu tinggi. Kematian bayi juga tak kalah tingginya. Ibu-ibu atau perempuan yang melahirkan tak bisa segera sehat. Mesti memulihkan diri dalam waktu yang cukup lama. Sehingga harus tinggal di rumah.
Sementara bayi manusia adalah salah satu mahkluk yang paling lemah. Tidak seperti bayi sapi atau bayi kambing yang setelah dilahirkan bisa segera berdiri dan lari-lari. Bayi manusia setelah dilahirkan belum bisa apa-apa untuk waktu yang cukup panjang.
Karena itu bapak-bapak harus bekerja memenuhi kebutuhan hidup, karena ibu yang baru melahirkan harus memulihkan diri dan merawat bayinya yang belum bisa apa-apa. Saat itu belum ada babby sister, belum ada tempat penitipan bayi, sehingga harus dilakukan oleh ibu-ibu sendiri.
Pekerjaan ibu merawat anak akan lebih panjang jika kemudian hamil lagi. Anak yang dilahirkan belum besar, sudah disusul adiknya dalam kandungan. Otomatis ibu-ibu akan terus berada di rumah. Mereka yang menikah dan kemudian hamil susul menyusul tak mungkin membangun karier di luar rumah, karena saat itu belum lazim work from home.
Dari pembagian tugas itu maka kemudian laki-laki menjadi pencari nafkah dan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Urusan perempuan adalah dapur, sumur dan kasur, urusan laki-laki adalah beras, waras dan keras.
Tapi jaman kemudian berkembang dan terbukti pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan bukanlah kodrat. Dengan semakin berkembangnya jaman, munculnya berbagai profesi untuk menjaga dan merawat anak. Ibu-ibu kini bisa bekerja tanpa terganggu urusan rumah.
Kelahiranpun semakin jarang, dulu banyak anak banyak rejeki, sekarang banyak anak sama dengan bunuh diri. Dulu kalau anaknya perempuan terus, suami akan terus menghamili istrinya agar bisa memperoleh anak laki-laki atau bahkan kawin lagi agar bisa memperoleh anak laki-laki. Tapi sekarang laki-laki atau perempuan sama saja.
Maka sekarang kalau masih ada laki-laki atau perempuan yang memandang memasak adalah kodrat perempuan perlu diperiksa kesehatan otaknya. Jangan-jangan orang itu merasa masih hidup di jaman batu, bertetangga dengan homo erectus, homo soloensis atau homo wajakensis. Atau manusia gua di kawasan karst Sangkulirang – Mangkalihat atau di gua Leang-Leang sana.








