KESAH.ID – Tahun 2025 ini Kota Samarinda merayakan hari jadi yang ke 357. Boleh dibilang Samarinda sudah cukup umur walau masih kalah tua dengan banyak kota lainnya. Ada rangkaian acara untuk merayakannya yang dimulai sejak bulan Januari lalu dan akan dipuncaki pada bulan April nanti dengan lewat acara bertajuk Samarinda Festival.
Kota Samarinda berulang tahun yang ke 357 pada tahun 2025. Seperti biasa dirayakan dengan cukup ramai. Hanya saja saya tak melihat lagi spanduk ucapan di tiap RT, seperti sewaktu awal Program Probebaya dimulai.
Umur 357 tahun jelas terbilang tua, tak ada satu manusiapun yang bisa melewati umur sepanjang itu. Andaikan saja ada satu keluarga yang sejak semula tinggal di Samarinda, beranak pinak maka keluarga itu sudah melewati 7 turunan.
Namun untuk sebuah kota, umur 357 tahun masih terbilang muda. Kota tertua di Indonesia adalah Pelembang. Didirikan sejak jaman Kerajaan Sriwijaya, pada tahun 682 masehi. Artinya pada tahun ini Palembang berusia 1343 tahun.
Kota tua lainnya di Indonesia adalah Salatiga, Magelang dan Kediri yang umurnya sudah lebih dari satu abad. Kota Banda Aceh juga merupakan kota tua karena umurnya hampir tiga kali lipat dari Kota Samarinda.
Duapuluhan tahun sudah saya tinggal di Kota Samarinda, mohon maaf untuk waktu sepanjang itu belum sekalipun saya turut merayakan HUT Kota Samarinda.
Soal ulang tahun saya memang punya masalah. Tanggal ulang tahun yang saya ingat hanya sedikit. Saya hanya ingat ulang tahun saya sendiri, ulang tahun anak saya, ulang tahun Yesus dan ulang tahun kemerdekaan RI.
Makanya sebagai laki-laki yang beristri, saya pernah punya masalah besar gara-gara lupa ulang tahun istri saya.
Untung saja istri saya bukan termasuk wanita yang doyan mengomel berulang-ulang. Sadar karena saya pelupa menjelang ulang tahunnya selalu membeli sendiri kue ulang tahunnya.
Karena kami hanya bertiga maka ulang tahun memang selalu dirayakan, meski sederhana sekali.
Saya yakin kebanyakan suami-suami memang lupa ulang tahun istrinya dan lebih banyak lagi yang lupa ulang tahun pernikahannya.
Mungkin memang benar kalau merayakan ulang tahun bukan bagian dari kebudayaan kita, maksud daya merayakan ulang tahun dengan pesta-pesta yang berhambur hadiah.
Walau sebenarnya dalam kebudayaan kita soal umur selalu diingatkan. Ada banyak nasehat yang berkaitan dengan umur. Yang paling umum adalah ingat umur dan mengingatkan kalau umur itu tak akan panjang.
Ya hidup kita tak akan sepanjang hidup kota kita, tak ada seujung kukunya.
Orang Jawa sering bilang “Urip iku mung mampir ngombe”, hidup itu hanya sekedar singgah untuk minum. Yang lebih ekstrim lagi malah mengatakan “Urip mung mampir ngguyu” yang dijadikan judul buku berisi tulisan para maestro seni untuk memperingati ulang tahun Butet Kartarejasa.
Hidup itu memang teramat singkat, apalagi jika dibandingkan dengan umur bumi.
Makanya merayakan ulang tahun kadang terasa nggak relate karena bertambahnya umur di satu sisi berarti berkurangnya umur di sisi lain.
Simbah atau eyang saya dulu sewaktu hidup sering mengenang hari kelahiran anak cucunya secara diam-diam dengan membuat bubur di hari weton atau kelahiran. Bubur dua warna ditaruh di piring kecil dan kemudian diletakkan di meja makan, ditutupi dengan tudung saji. Tak ada bubur berlebih untuk dimakan bersama.
Entah siapa yang diberi sesaji bubur dua warna itu. Namun yang pasti di waktu itu Simbah berdoa untuk keselamatan dan kesehatan anak cucunya.
BACA JUGA : Juara Malas
Sekali lagi saya mesti mengingat yang dulu-dulu, maklum sudah tua. Di jaman saya kecil tak ada istilah ulang tahun, perayaan itu disebut bancakan atau slametan.
Anak -anak seumuran hanya diundang lewat mulut. Belum ada undangan kertas yang bertuliskan penegasan “Tak akan bermakna tanpa kehadiranmu kawan”.
Tentu saya senang bukan kepalang kalau diundang bancakan atau slametan, artinya makan enak. Pengertian enak bukan semata makanannya yang lebih istimewa dari hari biasa tetapi juga karena makan ramai-ramai.
Saya yakin jaman itu perayaan ulang tahun anak-anak tidak semeriah anak-anak jaman sekarang karena orang tua tak punya referensi soal party-party.
Sebab di jaman itu banyak orang tua mungkin tak pernah merayakan ulang tahun sepanjang hidupnya. Soalnya tanggal lahirnya nggak dicatat dengan benar.
Yang diingat soal tanggal lahirnya misalnya pada hari gunung api meletus, atau saat sungai besar banjir. Kapan persisnya jadi sulit untuk ditentukan. Maka ketika punya surat atau akta lahir, harinya bukan hari sebenarnya. Jadi nda afdol kalau dirayakan sebagai hari ulang tahun.
Referensi soal ulang tahun anak-anak mungkin mulai muncul di tahun 90-an. Ketika muncul resto ayam goreng tepung yang menawarkan paket ultah.
Model ulang tahun ala-ala resto yang dihiasi dengan balon-balon ini kemudian ditiru, terutama oleh lingkungan sekolah. Entah PAUD, TK atau SD, biar orang tua tak repot menata ruangan di rumah maka ulang tahun anaknya diselenggarakan di sekolah.
Anak-anak bersemangat untuk sekolah terlebih ketika diberi tahu besok ada temannya yang akan berulang tahun di sekolah.
Tentu tak semua orang tua mewajibkan dirinya untuk merayakan ulang tahun anaknya dengan pesta. Tak semua anak juga menuntut hal itu pada orang tuanya. Bahkan ada banyak anak yang malu kalau ulang tahunnya dirayakan. Dia lebih memilih meminta uang pada orang tuanya untuk merayakan sendiri dengan teman-teman terdekatnya.
Tapi pasti setiap orang merasa wajib merayakan ulang tahun anaknya sekurangnya satu kali secara istimewa. Misalnya pada ulang tahun ke 17, karena umur itu dianggap sebagai peralihan dari anak-anak ke pemuda. Atau ada juga yang merayakan pada ulang tahun ke 21, karena pada umur itu dianggap mulai dewasa.
Perayaan ulang tahun pada angka 17 dan/atau 21 jika dirunut secara tradisi termasuk dalam upacara daur hidup. Masyarakat tradisional mempunyai ritual atau upacara adat yang berkaitan dengan siklus atau daur hidup, mulai dari kehamilan, kelahiran, inisiasi ke usia muda atau dewasa, pernikahan dan kematian.
Agama-agama juga mempunyai ritual atau upacara yang berkaitan dengan daur hidup. Ada upacara akikah, tradisi bersyukur atas kelahiran anak di dalam masyarakat Islam yang ditandai dengan pemotongan rambut bayi. Atau upacara komuni pertama dan krisma dalam tradisi Katolik, sidhi dalam tradisi Kristen Protestan yang merupakan inisiasi seseorang masuk dalam tahap iman yang lebih dewasa.
BACA JUGA : Tujuh Jembatan
Makin makmur satu keluarga biasanya makin kuat tradisi untuk merayakan ulang tahun anggota keluarganya. Pada keluarga-keluarga terhormat dan hebat, ulang tahun bahkan ditandai dengan hadiah-hadiah yang dahsyat.
Tak apa-apa toh mereka mampu. Yang tidak boleh adalah merayakan ulang tahun tapi dengan cara mengedarkan proposal bantuan. Mirip kelakuan banyak organisasi yang kerap merayakan ulang tahunnya secara meriah dengan meminta sumbangan disana-sini. Permintaannya dilabeli “Sumbangan Sukarela” tapi kalau yang diminta tak menyumbang bakal diintimidasi.
Bahkan perayaaan ulang tahun orang-orang terhormat dan hebat menjadi lebih bermakna, karena dihari perayaan ulang tahunnya diluncurkan pula buku. Buku yang bisa dibaca oleh khalayak sehingga menyumbang untuk khazanah pustaka literasi.
Nah, bagaimana dengan ulang tahun kota?. Entahlah saya tak punya referensi tentang hal itu. Puluhan tahun tinggal di Kota Samarinda saya buta huruf perihal perayaan ulang tahun kota dan pemerintahannya yang saya yakin dirayakan setiap tahunnya.
Yang sering saya lihat di GOR Segiri menjelang perayaan ulang tahun Samarinda selalu ada tenda-tenda dan panggung istimewa. Yang pasti selalu ada upacara dan juga ziarah ke makam para pahlawan kota.
Mesti tak turut serta, sebagai warga tentu saya ikut bersyukur atas bertambahnya umur Kota dan Pemerintahannya. Samarinda juga terus berubah, berbenah walau soal baik buruknya belum bisa dinilai karena sejarah terkadang berjalan dengan acak. Apa yang dianggap baik dan berhasil sekarang belum tentu demikian di masa datang.
Bukankah kita mulai menemukan kenyataan apa yang dulu dipuji-puji sebagai kemajuan, prestasi pembangunan ternyata sekarang justru menjadi penyebab bencana ekologi. Jejak rekayasa yang kelewatan sehingga tak mudah diatasi.
Mereka yang dulu dipuja sebagai bapak pembangunan, pembaharu negeri kemudian justru dianggap sebagai penindas dan perusak demokrasi.
Merayakan ulang tahun meski tak harus tetaplah penting. Ulang tahun adalah kesempatan untuk berefleksi melihat kembali hari-hari yang lampau, akankah yang lampau telah menjadi pondasi yang benar untuk hari kemudian.
Bahwa di perayaan ulang tahun kota ada orang-orang atau sesuatu yang dipuji dengan ditandai oleh pemberian penghargaan, tak berarti kita tak bisa menilai. Tetap terbuka penilaian untuk semua capai-capaian. Sebab keberhasilan pada suatu saat tidak bersifat permanen.
Seorang yang dinobatkan sebagai penembak jitu hari ini besok bisa kehilangan kecermatannya. Pun juga seorang yang bisa berlari cepat hari ini, esok atau lusa bisa kehilangan kekuatan ototnya.
Semarak keberhasilan pembangunan kota yang ditandai dengan banyak peresmian barulah sebuah awal, akankah semua yang dibangun, dibuat dan diresmikan itu punya dampak baik untuk masyarakat harus ditunggu dengan sabar.
Kita tak bisa serta merta menilai akankah Patung Pesut yang dinarasikan dibuat dari plastik daur ulang akan mampu membuat warga Kota Samarinda sadar dan kemudian tergerak untuk turut menjaga dan melestarikan Pesut, mamalia air endemik ekosistem Sungai Mahakam.
Itu baru satu contoh saja, masih banyak contoh lainnya yang bisa dipakai untuk menilai.
Selamat Ulang Tahun Kota Samarinda, Majulah terus peradabannya.
note : sumber gambar – NUMESA








