KESAH.IDSusur gang bermula dari kegelisahan bapak-bapak yang perutnya membuncit, doyan nongkrong tapi jarang kaki. On-on itu sebutan pertama di WA Grup OLIMPA’DE yang dibuat pada bulan Agustus 2021. Waktu itu jalan-jalan masih memakai masker. Pasang surut selama hampir 4 tahun, Susur Gang Samarinda kini dibincang di WA Group Sarekat Bakar Kalori dan diposting di IG Susur Gang Samarinda. Semoga kita semakin rajin jalan kaki sambil mengenal dan mendalami kota kita.

Menjelang akhir tahun 2024, jalan-jalan susur gang Samarinda mulai bertambah pesertanya. Jalan-jalan sore menyusuri gang-gang di wilayah sekitar Samarinda Ulu dan Samarinda Kota, serta sesekali bisa melipir ke Samarinda Ilir ini kadang-kadang bisa diikuti oleh sepuluhan orang, cukup ramai.

Jalan ramai-ramai memang lebih enak, walau sering kali bisa mengejutkan orang-orang yang tinggal di permukiman yang padat. Mungkin dikira rombongan tim sukses yang melakukan canvassing menjelang Pemilu Kepala Daerah waktu itu.

Rombongan besar terkadang juga menyulitkan ketika harus menyeberang jalan protokol yang lalu lintasnya cukup ramai. Kebanyakan pengendara di Kota Samarinda memang tak ramah pada pejalan kaki. Etika jalan raya untuk mengutamakan pejalan kaki sepertinya belum menjadi materi pembekalan untuk memperoleh Surat Ijin Mengemudi.

Tapi tetap ada satu dua orang yang mungkin punya DNA bawaan untuk menghormati pejalan kaki.

Oh, iya peserta susur gang Samarinda bertambah karena beberapa waktu terakhir ini setiap hari Senin dan Kamis mulai diposting flyer pemberitahuan agenda susur gang.  Hari pelaksanaannya Selasa dan Jum’at dengan jam yang tetap yakni jam 5 sore pas. Yang telat akan ditinggal.

Sementara tempat berkumpul atau titik startnya adalah Kedai Kopi Kuburan, atau tempat yang kami sebut Mexico atau Red Front.

Karena merayakan Natal, saya kemudian tak bisa ikut susur gang di Minggu Natal. Hari Selasa tidak bisa ikut karena bertepatan dengan jam misa pertama di gereja. Lalu hari Jum’at juga tak bisa ikut karena sedang dalam perjalanan pulang dari liburan natal di Balikpapan.

Jadi pada hari Sabtu, saya melakukan susur gang ekstra. Kami bertiga, saya bersama dengan Ra dan Umam. Ra, yang kuliah di UGM sedang libur semesteran dan Umam, jurnalis sebuah media online kalau sore jarang ada liputan.

Kami bertiga mengambil jalur ‘Karang Mumus’. Ini jalur nostalgia untuk Ra, karena sebelum berangkat ke Yogyakarta jalur ini belum dibongkar. Kami menyukai jalur ini karena akan melewati permukiman padat pinggir sungai yang sering menyajikan pemandangan yang mengejutkan.

Karena hanya bertiga, sepanjang jalan kami bisa mengobrol. Obrolan yang random saja, pindah-pindah tema perbincangan.

Di tengah perjalanan muncul pikiran untuk menutup agenda susur gang di tahun 2024 dengan agak istimewa, bikin edisi spesial akhir tahun.

Kebetulan tanggal terakhir tahun 2024 jatuh pada hari Selasa, persis sama dengan jadwal hari susur gang.

Kepada Ra dan Umam saya usulkan untuk menjadikan rumah saya sebagai titik kumpul. Susur gang dimulai dari rumah saya dan diakhiri di rumah saya dengan makan-makan. “Ketupat dengan opor ayam,” ujar saya waktu itu. Dan mereka menyambut usulan itu.

Esoknya, saya sampaikan usulan itu di WA Group Sarekat Bakar Kalori dan disambut meriah.

Postingan flyer di IG Susur Gang Samarinda ternyata bikin heboh. “Yang nge-vote sudah 200,” ujar Winda yang tanpa mendapat SK Gubernur atau Walikota bersedia menjadi admin dan mengelola konten.

“Aman kah mas makanan?” tanyanya.

Aman saja, menurut perkiraan saya yang bakal ikut nggak akan melewati angka 20. Dalam hitungan saya paling 15-an orang.

Jadi ketika Umam tanya berapa banyak ketupat, saya bilang 50-an.

Turunan tajam menuju Jalan Wiraswasta

BACA JUGA : Seribu Cara

Ada yang berkomentar dengan nada tanya “Kenapa ketupat?, kayak lebaran saja!”

Ketupat memang identik dengan lebaran karena dipopulerkan oleh Wali Songo. Ketupat ditafsir sebagai ngaku lepat, mengakui kesalahan.

Tapi buat saya, terutama dalam memori subyektif ketupat punya tempat tersendiri. Setiap makan ketupat saya selalu teringat masa kecil. Dulu di sekolah setiap hari kenaikan kelas selalu ditandai dengan kupatan.

Di hari pembagian raport itu setiap siswa akan membawa beberapa biji ketupat disertai lauk. Umumnya sambal goreng tempe atau kering tempe dan telur asin. Setiap siswa akan memberi guru satu dua biji ketupat.

Setelah raport dibagi kemudian semua akan makan ketupat bersama-sama. Karena selalu naik kelas, saya tak pernah tahu rasanya makan ketupat ramai-ramai dan gembira padahal nggak naik kelas.

Namun dari sisi alasan rasional, ketupat sebenarnya bukan makanan hanya pada hari lebaran. Ketupat adalah salah satu cara memasak nasi dari banyak cara lainnya, seperti nasi encer bubur, nasi tim, nasi liwet, lontong, arem-arem, nasi bakar, lemang atau nasi jaha dan lain-lain.

Jadi ini hanya soal masak dan menyajikan masakan dari beras.

Buktinya ada jenis kuliner yang selalu disajikan dengan ketupat, seperti Kupat Tahu. Atau Soto Banjar, jika memesan Soto Banjar tanpa ketupat, penjualnya akan menyebut sop ayam. Soto banjar akan disebut soto kalau disajikan dengan ketupat.

Kelebihan ketupat adalah nasi ketupat tidak mudah basi seperti kalau dimasak dengan cara ditanak, dikukus atau direbus dengan rice cooker.

Sebenarnya kebiasaan saya memasak ketupat setelah jaman Sekolah Dasar yang arkaik itu belumlah lama. Bermula dari tutorial yang ada di Youtube, ternyata ketupat bisa dimasak memakai magic jar atau rice cooker.

Untungnya di Samarinda ada Kampung Ketupat. Kampung yang warganya membuat selongsong ketupat itu kemudian menjualnya di pasar-pasar. Salah satunya di Pasar Segiri dimana satu ikat selonsong ketupat ukuran sedang dijual dengan harga antara 28 – 35 ribu, isinya seratus biji.

Tapi kalau kebanyakan bisa juga membeli separuh ikat, tapi tak semua penjual mau melayani karena repot. Yang mau biasanya akan menjual dengan harga 20 ribu.

Selongsong ketupat yang nampaknya dibuat dari daun nipah ini tersedia setiap hari. Baru pada hari-hari khusus seperti menjelang Idul Fitri, Lebaran Ketupat dan Lebaran Haji ada penjual ketupat yang terbuat dari janur atau daun kelapa muda.

Kelebihan selongsong ketupat dari Kampung Ketupat adalah awet. Bisa disimpan dan dipergunakan sewaktu-waktu diperlukan. Konon kabarnya selongsong ketupat yang terbuat dari daun nipah juga membuat nasi ketupatnya lebih awet serta padat.

Sepertinya memang iya, tapi saya tak bisa menerangkan lebih jauh. Semoga saja nanti ada mahasiswa atau calon doktor teknologi pengolahan makanan yang melakukan penelitian lebih dalam.

Berpose di gang berlantai ulin menuju salah satu jembatan di Sungai Karang Asam Kecil

BACA JUGA : Politik Pajak

Hati saya sebenarnya dag-dig-dug menunggu waktu susur gang tiba. Takut kalau yang akan ikut lebih banyak dari perkiraan.

Ternyata dari postingan IG terjaring 3 orang yang akan ikut serta dan benar datang. Ditambah dengan beberapa teman lain yang baru ikut, akhirnya susur gang edisi tutup tahun diikuti oleh 16 orang.

Cukup banyak dan mungkin akan mengejutkan orang-orang yang daerahnya bakal kami lewati. Kepikiran untuk membagi dua grup tapi Ra yang bisa menjadi kapten terlambat bergabung. Dia akan menyusul sehingga tak bisa memimpin rombongan jika dibagi.

Akhirnya susur gang diikuti oleh rombongan besar, cukup panjang jika berjalan dalam barisan.

Saya diminta untuk memimpin dan menentukan rute perjalanan. Kebetulan gang depan rumah adalah salah satu yang sering dilewati, jalan itu akhirnya saya pilih untuk melakukan pemanasan, naik cukup tinggi dan turun dengan sangat curam.

Rutenya sebenarnya pendek saja jika melewati Jalan Wiraguna, tapi perbukitan di komples jalan berawalan Wira tinggi-tinggi, melewati bukit-bukit yang penuh permukiman itu bakal menguji ketahanan kaki dan kekuatan pompa di dada.

Setelah melewati jalan datar, kembali saya uji kaki dan dada peserta susur gang menaiki tangga semen terjal yang menghubungkan daerah Wiraguna dengan Wiratama. Setelah melewati jalur ini beberapa teman mengingatkan “Lewat yang datar-datar saja mas!”

Jalan Aisyiah kemudian menjadi pilihan untuk berjalan beriringan dalam barisan karena jalan ini cukup ramai apalagi menjelang tahun baru. Dari Aisyiah kemudian ke Jalan Raudah dan masuk ke sebuah gang sebelum Kuburan Muslim Raudah menuju Sungai Karang Asam Kecil dekat Pasar Ijabah.

Perjalanan sudah hampir satu jam, pengeras suara masjid mulai terdengar bersuara untuk persiapan mengumandangkan Adzan Magrib.

Rute sebenarnya bisa diperpanjang. Namun ada beberapa orang yang ditunggu oleh rekan lainnya untuk beracara Tahun Baru, jadi rute kemudian mesti dipersingkat.

Akhirnya kami melewati rute terdekat menuju Siradj Salman, lalu masuk ke Jalan Wijaya Kusuma dan kemudian menaiki tanjangan Juanda 4 ke Wiraguna untuk finish di rumah saya.

Beberapa orang kelihatan kelelahan mengikuti rute yang diawali dan diakhir dengan tanjakan. Tapi racikan minuman Manggo Sagu cukup untuk membuat tenggorokan jadi lega dan terbuka untuk menyantap ketupat dan teman-temannya.

Semoga kupatan di akhir tahun yang sebenarnya melanggar mazhab Sarekat Bakar Kalori membuat akhir tahun 2024 mengesankan. Sampai jumpa pada Susur Gang Samarinda 2025.

note : sumber fotoSusur Gang Samarinda