KESAH.IDAngkringan umumnya memilih tempat di tepian jalan, bisa di tritisan atau emperan toko dengan bangku dan tikar seadanya. Namun kini muncul angkringan modern dengan tempat yang lebih luas dan leluasa serta interior yang menarik. Pilihan makanannya juga lebih beragam. Perkembangan yang membuat sebagian merasa angkringan telah kehilangan roh kesederhanaan dan egaliternya. 

Yogya berubah, terutama di sekitar wilayah Malioboro.

Perubahan pertama yang mencolok bermula dari sekitar Stasiun Tugu. Perubahan di sekitar stasiun kereta api ini merupakan dampak dari penataan PT KAI pada saat dipimpin oleh Ignasius Jonan.

Wajah kereta api waktu itu buruk, seburuk WC-nya. Dan yang pertama dibersihkan oleh Jonan adalah WC. Setelah WC-nya nyaman satu persatu keburukan layanan kereta api kemudian ditata.

Stasiun Tugu pun berbenah. Bagian antara palang pintu kereta yang memisahkan jalan Mangkubumi dan Malioboro hingga pintu masuk bagian selatan stasiun yang penuh dengan pedagang kemudian dibersihkan.

Dan di dekat palang pintu kereta api kemudian berdiri Loko Coffee Shop. Tempat ngopi yang mempunyai area outdoor dan indoor yang juga dilengkapi dengan kitchen bar.

Sekilas tampilannya industrial. Namun jika diperhatikan lebih lanjut, atmosfer yang berusaha dihadirkan oleh Loko Coffee adalah nostalgia Indonesia menjelang tahun 40-an.

Agar terasa akrab, tagline yang diambil oleh Loko Coffee adalah medang, madhang dan jagongan.

Kata yang berasal dari bahasa Jawa ngoko ini berarti minum, makan dan nongkrong.

Minum, makan dan nongkrong memang akrab dengan kebiasaan masyarakat paska kemerdekaan. Warga yang berusia dewasa biasanya refreshing atau bersosialisasi dengan warga lainnya di warung.

Warung umumnya berdiri di dekat perempatan, di bawah pohon besar dengan tampilan yang sederhana.  Bagian depan kanan kirinya adalah pintu dan bagian tengah berupa jendela besar yang kalau ditutupi korden separo membuat mereka yang nongkrong di dalam tak kelihatan.

Istilah jagongan sendiri tak identik dengan warung. Saat hajatan, kelahiran atau kematian, warga juga sering jagongan. Duduk-duduk di rumah yang punya hajat, gembira karena ketambahan anak atau berduka untuk melek semalaman.

Jagongan identik dengan kopi dan rokok, kadang juga main kartu entah remi atau domino.

Sebelum kehadiran kafe-kafe modern, jagongan juga identik dengan warung medangan atau angkringan.

Warung sederhana yang buka sore hingga menjelang dini hari. Biasanya buka di emperan toko, lapaknya berupa angkring, gerobak atau meja panjang dilengkapi dengan tikar.

Tampilannya memang seadanya. Tapi karena kesederhanaannya warung medangan atau angkringan menjadi egaliter, siapapun tak keder untuk datang.

Warung medangan sendiri merupakan tranformasi dari model jualan di masa sebelumnya. Di jaman kolonial pedagang umumnya berkeliling dari rumah ke rumah membawa dagangan dengan angkring. Ada juga yang digendong dan disunggi.

Yang dijual umumnya barang tunggal. Ada dawet, makanan sarapan seperti sego megono, grontol, gadung, tiwul atau cenil dan teman-temannya. Selain itu sate, gule, ayam goreng dan lainnya juga dijajakan secara keliling.

Lama kelamaan yang berjualan keliling kemudian mangkal, karena sudah mulai terkenal.

Dan setelah mangkal yang dijual mulai bertambah, dilengkapi dengan minuman seperti teh dan kopi.

Yang dijual juga bukan hanya makanan buatan sendiri, mulai ada yang nitip.

Seingat saya dulu di Purworejo ada yang disebut dengan Warung Tumper. Warung yang menyajikan nasi dengan sambel, oseng dan irisan telur dibungkus kecil-kecil. Tumper adalah singkatan dari Sak Tum Memper, atau satu bungkus sudah cukup.

Kelak nasi bungkusan kecil-kecil ini disebut nasi kucing yang menjadi ciri khas angkringan.

BACA JUGA : Pulang Bertani

Kebanyakan orang menyangka kalau angkringan itu khas Yogyakarta. Padahal nyatanya tidak demikian, model seperti angkringan itu tumbuh di hampir seluruh pelosok Jawa, bahkan juga pulau-pulau lainnya.

Di Solo, tetangga Yogyakarta ada tempat jagongan yang disebut warung HIK.

Warung ini bermula dari pedagang keliling yang menjajakan dagangannya dengan berteriak “Hiiyeekk,”, entah apa artinya.

Ketika mangkal, kemudian dikenal dengan sebutan HIK, yang diberi kepanjangan Hidangan Istimewa Kampung.

Di Yogya sendiri yang umumnya mengusahakan warung angkringan adalah orang Klaten. Mereka nglaju dari Klaten ke Yogya wira-wiri setiap hari. Sampai sekarang sebagian masih begitu.

Mungkin angkringan identik dengan Yogyakarta karena memori dari kota ini yang kemudian dibawa ke berbagai pelosok nusantara. Sebab Yogya selain merupakan kota pendidikan juga dikenal sebagai kota wisata.

Jadi Yogya lebih joss untuk dijadikan branding. Apalagi angkringan kemudian juga naik daun karena kehadiran kopi joss yang dimulai oleh Angkringan Lik Min di jalan Mangkubumi.

Aura Yogya makin kuat ketika almarhum  Joko Pinurbo dalam puisinya menuliskan “Jogya terbuat rindu, pulang, dan juga angkringan,”

Angkringan sendiri berasal dari kata angkring atau pikulan. Tetapi bisa juga berasal dari kata nangkring, yang artinya nongkrong atau meriung, duduk nyantai dengan mengangkat sebelah kaki di bangku atau methangkring.

Methangkring di rumah jelas dimarahi, karena dianggap tidak sopan.

Meski telah ada sejak tahun 40-an, angkringan mulai marak pada sekitar tahun 80-an, paska kejadian Penembakan Misterius atau Petrus.

Waktu itu tak ada warung berani buka sampai tengah malam, apalagi dini hari. Jam 9 malam warung sudah tutup karena suasana mencengkam.

Yang mulai berani buka sampai orang ngantuk hanya warung angkringan. Konsumennya tukang becak, orang-orang susah tidur waktu malam dan yang terbangun malam-malam lalu kelaparan. Atau mereka yang cari anget-anget, sebab salah satu ciri khas angkringan adalah menjual minuman jahe anget.

Di Yogya lama kelamaan bergabung juga mahasiswa yang kantongnya cekak. Warung angkringan menjadi penyelamat karena harganya murah meriah.

Pasar angkringan kemudian melebar karena wisatawan yang datang ke Yogya kemudian menjadikan nongkrong di angkringan sebagai salah satu hal wajib dalam agenda wisatanya.

BACA JUGA : Proyek Cita Cita

Sekitar awal-awal tahun 2000-an, angkringan ala Yogya mulai muncul di Samarinda.

Kalau tidak salah yang pertama ada di Ruko Juanda, di salah satu emperannya dengan tempat duduk lesehan dan juga bangku kayu panjang.

Tentu saja tidak murah meriah, kalau yang dibawa adalah teman yang suka madhang akhirnya harga yang dibayarkan tak jauh-jauh dari rumah makan Padang.

Seiring dengan tren ngopi, warung angkringan pun makin banyak. Tampilannya bergeser menjadi ala Café. Yang disajikan juga bertambah banyak, bukan lagi sate-satean tetapi juga tempura dan sosis-sosisan.

Minumannya juga kebanyakan sudah sachetan.

Angkringan bukan lagi tempat nangkring, tetapi juga tempat mabar atau main bareng game online. Bahkan tak sedikit yang membawa laptop untuk mengerjakan tugas dan lainnya. Angkringan menjadi semacam co working place.

Yang datang ke angkringan bukan lagi mahasiswa dengan kantong cekak, tetapi berdompet tebal entah dengan cara ‘memeras’ orang tua atau karena dapat proyekan dari para kakandanya.

Di Yogya sendiri arus perubahan angkringan juga terjadi. Gairah enterpreuneurship di kelompok anak muda yang mengusung ekonomi kreatif sangat marak. Angkringan seperti halnya kopi menjadi angkringan kekinian.

Yang disajikan bukan lagi Hidangan Istimewa Kampung, tetapi juga makanan ala-ala Korea, Jepang, Italia juga Amerika.

Angkringan sudah pakai daftar menu, mesin hitung dan pembayaran cashless.

Gerak perubahan yang cepat ini sampai-sampai membuat mereka yang gagal move on menyebutnya sebagai angkringan palsu.

Kemampuan menerima perubahan setiap orang berbeda-beda. Ada yang rindu tetap tinggal dalam memori nostalgianya. Mereka ini cenderung tak suka sesuatu berubah dan kemudian mem-fatwa yang berubah sebagai palsu, sesat atau tak bisa memelihara sejarah.

Padahal dunia selalu berubah, bisa cepat bisa pelan.

Saya yang suka njagong dan medang serta kadang-kadang madhang berupaya menata emosi agar tak mudah larut dalam nostalgia serta memori masa lalu. Saya bahkan tak peduli soal warung, resto, bar, kitchen, omah atau house, shop, kedai dan lainnya yang sudah tak tahu lagi apa bedanya.

Biarlah yang ribut definisi Rocky Gerung saja.

Buat saya yang penting bisa medang dan njagong nyaman, soal nama lapaknya sesuai kaidah atau nggak saya nggak peduli. Toh belum ada UU yang mengatur soal penamaan harus ini atau itu.

Namanya juga nama, ya suka-suka aja yang menamainya.

note : sumber gambar – KOMPAS