“Dasar telo kowe kui,”
Umpatan dalam bahasa jawa itu biasa disemburkan kepada teman atau kawan yang kelakuannya dianggap ndeso, ketinggalan jaman, memalukan dan seterusnya. Telo itu sebutan lain dalam bahasa jawa untuk ketela pohon atau singkong.
Mereka yang disebut telo itu pasti menjengkelkan sehingga tak ada yang keberatan melihat dirinya ditempeleng, ditunjul kepalanya atau bahkan diludahi. Yang melihat dia dibully nggak ada yang kasihan, mereka malah ketawa-ketiwi.
Entah apa salahnya singkong sehingga identik dengan ketinggalan jaman, kurang pengetahuan.
Padahal di suatu masa, sekurang-kurangnya di Jawa, singkong pernah menyelamatkan bangsa. Masa itu susah beras sehingga singkong menjadi pilihan untuk makanan pokok. Ada yang diserut lalu ditanak baik singkong saja maupun dicampur beras. Ada yang dijemur hingga kering dan kemudian ditumbuk jadi tepung, namanya gaplek dan kalau ditanak disebut tiwul.
Mungkin bermula dari situ singkong kemudian dianaktirikan. Ketika jaman mulai enak, tapi masih ada yang belum move on dari kemiskinan dan masih mengkonsumsi tiwul, maka mulailah singkong distigma sebagai lambang keterbelakangan.
Ingat nggak dengan lagu anak singkong yang dinyanyikan oleh Ari Wibowo. Anak singkong dibandingkan dengan anak keju. Anak singkong artinya anak miskin, anak desa. Sementara anak keju adalah anak orang kaya, orang kota dan modern.
Untung saja ada anak singkong yang kemudian kaya raya dan terkenal namanya Chairul Tanjung pemilik CT Corp. Tapi saya yakin seumur hidupnya pasti tak pernah merasakan diumpat dengan kata “Dasar telo kamu Rul,”
Bangga memakai sebutan anak singkong karena sudah kaya tentu biasa saja, menjadi istimewa karena memang tak banyak anak singkong yang kemudian kaya raya. Jauh lebih banyak yang disebut anak singkong kemudian menjadi bapak singkong hingga sampai eyang singkong. Telo terus sepanjang hidupnya.
Lain telo lain pula dele (kedelai). Sukarno dulu kerap menyebut generasi yang loyo sebagai generasi dengan mental tempe. Entah lagi-lagi salah apa kedelai dan tempe sampai disebut sebagai penanda mental loyo. Padahal kedelai itu diimport, didatangkan dari Amerika. Henry Ford, industriawan mobil ternama awalnya adalah petani dan pengembang industri kedelai. Henry Ford bahkan pernah membuat prototype mobil ford berbahan plastik yang dikembangkan dari kedelai. Kini ada mobil ford yang joknya berbahan kedelai.
Dilihat dari kandungannya, tempe kedelai juga tidak membuat orang menjadi loyo. Kandungan gizinya terbilang cukup atau bahkan tinggi sehingga tempe kedelai adalah lauk yang sehat.
Entah harus disebut apa fenomena menyepelekan telo dan dele ini. Padahal jika singkong diganti sebutannya menjadi tela-tela ternyata banyak yang kemudian membuka gerainya. Pun ketika diberi nama singkong keju, yang membeli mengantri. Lalu ketika dibuat keripik dan dikemas dengan nama cassava, sama sekali tak ada yang menyepelekan telo itu.
Dua atau tiga tahun lalu banyak yang menanam singkong gajah, bahkan ada dana besar bansos yang dikucurkan untuk mengembangkan singkong itu. Konon hasil panenannya akan dibeli oleh pabrik tepung singkong dan sebagian lainnya akan dibeli oleh pembangkit listrik yang berbasis pada pemrosesan singkong atau bioethanol.
Tapi lagi-lagi nasib singkong seperti nasib jarak pagar. Isu pembangunan pabrik tepung dan bioenergy hanya permainan mulut dari penjual bibit. Maka begitu orang ramai-ramai menanam dan panen, hasilnya tak ada yang membeli. Dibanding dengan jarak, singkong masih lebih untung, karena bisa dimakan dan dijual di pinggir jalan.
Oh, iya jangan mengata-ngatai kelakuan mafia bibit itu sebagai telo. Terlalu terhormat sebutan itu, sebab otak busuk mereka tak layak dikatain apapun. Bahkan disebut bangsat, anjing atau babi sekalipun tetaplah tidak layak.








