KESAH.IDDalam dokumen rencana pembangunan strategis Kota Samarinda sudah sejak Walikota yang lalu punya rencana pembangunan jalur kereta api dalam kota. Rencana terus disempurnakan dan berharap di tahun 2031, tut tut tut kereta api akan terdengar di seantero kota.

Numpang lahir di Kutoarjo memaksa saya untuk dekat dengan kereta api. Interaksi dengan sepur, itu terjadi karena selain kakek saya kerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api {PJKA}, tempat tinggalnya juga tak jauh dari rel kereta api. Senepo Kidul Sepur, begitu kami menyebutnya untuk membuat batas dengan mereka yang ada di Lor Sepur.

Saya yang kemudian tinggal di ibukota Kecamatan Purworejo terbilang jauh dari lalu lalang dan gemeruduk suara kereta api. Tapi kalau liburan ke rumah kakek, hari-hari saya adalah kereta api. Bermain di rel kereta api untuk membuat pisau kecil dari paku yang dilindaskan ke roda kereta lewat. Sesekali iseng juga kalau kereta lewat dengan cepat karena tak ditahan signal, kami akan melemparkan dengan batu kerikil.

Sesekali saya juga bermain ke stasiun dengan teman-teman atau om. Om saya suka berlatih tenis meja di depo stasiun.

Tapi pemandangan dramatis yang paling saya ingat adalah ketika kereta api melintas di jembatan panjang yang ada di atas Kali Jali. Sore-sore saya memang suka mandi di sungai, mengikuti kakek yang punya kebiasaan mandi di kali.

Namun yang paling mengembirakan adalah tatkala kakek off lalu mengajak numpak sepur. Bukan perjalanan ke Bandung atau Surabaya seperti lagu naik kereta api, tapi dari Kutoarjo ke Banyumas, Sentolo atau Yogyakarta pulang pergi.

Perjalanan jauh pertama dengan kereta api saya lakukan ketika SMP. Saya mengikuti piknik ke Jakarta. Dengan membayar 30 ribu, ongkos pulang pergi ke Jakarta, menginap beberapa di gedung kwartir nasional pramuka, makan minum, perjalanan dan tiket masuk ke TMII, Ancol, Museum dan lain-lain sudah tercover.

Kereta api Sawunggaling, andalan stasiun Kutoarjo memang murah meriah. Nanti setamat SMA perjalanan saya ke Jakarta sebelum naik kapal dari Tanjung Priok ke Bitung, tiket KA Sawunggaling dari Kutoarjo ke Stasiun Senen hanya 6000 rupiah.

Begitu menaiki KMP Kambuna dari pelabuhan Tanjung Priok, saya mengucapkan vaya condios pada kereta api. Para senior yang pernah studi di Sulawesi Utara saat memberi pembekalan sebelum berangkat sama sekali tak menyebutkan adanya kereta api. Mereka lebih banyak cerita soal tinutuan atau bubur manado dan cap tikus.

Waktu itu belum ada kisah tentang 3 B, bubur, bibir dan boulevard Manado karena pantai teluk Manado belum direklamasi.

Entah tahun berapa, mulai ada bincang-bincang soal rencana membangun jaringan kereta api di Sulawesi Utara. Sebagai seseorang yang dekat dengan kereta api, saya tak percaya. Saya merasa membangun jalur kereta api di Manado adalah hal yang mustahil.

Bukan apa-apa, kontur Kota Manado itu bergunung-gunung, jadi jika dibangun jalur kereta api maka jalurnya akan mirip rool coaster. Atau kalau mau rata tanpa tanjakan dan turunan tajam mesti banyak rel yang melayang dan banyak terowongan. Biayanya pasti mahal sekali.

Sampai saat saya meninggalkan Manado ke Samarinda, mimpi tentang kereta api di Sulawesi Utara tak tercium lagi baunya.

Ketika PJKA kemudian berubah menjadi KAI, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan berencana membangun jalur kereta api Trans Sulawesi, menghubungkan antara Makassar hingga Manado. Jaraknya kurang lebih 2000 km dengan biaya pembangunan kurang lebih 40 trilyun.

Di jaman pra kemerdekaan, Sulawesi Selatan memang mempunyai jaringan kereta api. Jalur kereta api ini dibangun oleh Staatstramwegen op Celebes anak perusahaan Staatsspoorwegen. Jalurnya menghubungkan antara Makassar dengan Takalar.

Namun hanya beroperasi sekitar delapan tahun dan kemudian terhenti pengembangannya. Operasi kereta api terhenti karena tidak ada perkebunan besar dan belum berkembangnya pertambangan nikel pada waktu itu.

Kini di Sulawesi Selatan sudah beroperasi KA Lontara dan KA Andalan Celebes. Tapi untuk sampai Sulawesi Utara, Manado atau Bitung masih jauh. Sayapun masih tetap ragu, jalur kereta api trans Sulawesi akan terwujud ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan.

BACA JUGA : Epidemi Kesepian

Beberapa tahun setelah tinggal di Kalimantan Timur, saya kembali mendengar mimpi tentang membangun rel kereta api. Kereta api memang jauh lebih menarik perhatian pemerintah setelah PJKA berubah menjadi KAI.

Jaringan rel ganda yang berhasil dibangun di pulau Jawa membuat kereta api lancar jaya.

“..biasanya … kereta terlambat. Dua jam mungkin biasa. Dua jam cerita lama” penutup lagu Kereta Tiba Pukul Berapa yang dinyanyikan oleh Iwan Fals ini menjadi tidak relevan lagi.

Kereta kemudian identik dengan cepat, cepat berangkat dan cepat tiba terlebih dengan bertambahnya jaringan kereta cepat yang disebut LRT dan MRT.

Tapi nampaknya ide membangun jaringan kereta api di Kalimantan Timur lebih untuk angkutan barang, untuk mengangkut batubara dan sawit dalam jumlah yang besar agar lebih cepat sampai tujuan.

Mengangkat hasil tambal dan perkebunan dengan kereta api memang bakal lebih lancar, tak banyak hambatan di jalan, termasuk kemungkinan ‘dicuri’ atau ‘diperas’ oleh mereka yang ingin uang gampang.

Namun membangun jaringan rel kereta baru jelas butuh dana yang sangat besar. Tapi itu tak masalah terutama untuk perusahaan tambang batubara yang menikmati untung beliung. Mereka bisa membiayai sendiri.

Hanya saja pemerintah provinsi Kalimantan Timur punya pikiran tersendiri. Rencana dari perusahaan tambang itu diambil alih.

Bayang-bayang kereta api sudah di depan mata, karena pemerintah provinsi memberikan bea siswa kepada anak-anak muda Kalimantan Timur untuk belajar tentang perkereta apian di Rusia.

Ke Rusia karena perusahaan atau investor dari sana yang tertarik untuk menanamkan modal dan mengerjakan pembangunannya.

Namun sampai dengan yang mendapat beasiswa pulang dari menimba ilmu, ternyata lagu Iwan Fals yang berjudul Kereta Tiba Pukul Berapa telah berganti judul menjadi Kereta Ada Tahun Berapa.

Dan Kota Samarinda yang punya bandara baru dengan lokasi yang agak jauh dari pusat kota kemudian juga punya rencana untuk membangun jaringan kereta api perkotaan. Kali ini jelas untuk layanan penumpang karena rutenya dimulai dari bandara, masuk kota hingga ke terminal bus.

Laporan akhir penyusunan dokumen pra studi kelayakan jaringan rel kereta api dalam kota Samarinda sudah dipresentasikan pada akhir tahun 2023 lalu.

Dan jika banyak tahapan sesudahnya bisa dilalui dengan lancar, kabarnya tahun 2031 akan ada kereta api monorel menyusuri wilayah Kota Samarinda.

BACA JUGA : Putih Mulus

Karena usia saya makin tua, saya tak mau ikut-ikutan himung dengan mimpi tentang kereta api di Kota Samarinda khususnya dan Kalimantan Timur serta IKN pada umumnya. Bahkan rencana Brunei Darussalam yang hendak berinvestasi membangun jaringan kereta api trans borneo tak cukup membuat saya ikut-ikutan berharap.

Terkhusus untuk Kota Samarinda, walau baru-baru ini Walikotanya mendapat penghargaan sebagai daerah yang paling rajin membangun, tetap saja membangun jaringan kereta api dalam kota dengan biaya sendiri jelas diluar jangkauan.

Selain tantangan soal keuangan, tantangan berat lainnya berkaitan dengan kondisi geografis dan tata kotanya.

Samarinda banyak mempunyai bukit-bukit, daerah yang datar atau landai juga berawa-rawa. Dan tata kotanya ruwet dimana banyak permukiman padat yang sambung menyambung. Bisa dibayangkan berapa ongkos ganti rugi yang harus dibayarkan kepada warga.

Tapi itu bayangan saya yang sering lebih dahulu bersikap skeptis terhadap rencana-rencana besar yang memang kerap mirip seperti impian di siang bolong.

Tentu saja bayangan saya akan berbeda dengan visi para pemimpin yang memang visioner. Pemimpin dan para pembantunya yang merupakan kaum cerdik pandai tentu memilih untuk optimis karena mega proyek secara template dipandang berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Jaringan transportasi umum yang baik pasti meningkatkan mobilitas warganya, ekonomi pasti terdampak positif.

Masalahnya apakah kereta api yang paling cocok untuk itu. Di Jawa terutama di Jakarta, Bogor, Bandung dan kota besar lainnya mungkin kereta api memang cocok karena jumlah penduduknya yang besar. Antara rumah tinggal dan tempat kerja atau ruang aktivitas kesehariannya sering berjauhan.

Jadi jangankan kereta, peningkatan jumlah sepeda motor per kapita dan kemunculan ride hailing saja sudah membuat transportasi umum di Samarinda mati. Angkot semakin merana, kosong kesana-sini.

Dengan modal motor saja warga Kota Samarinda bisa beraktivitas lancar jaya.

Tapi kehadiran transportasi umum massal yang cepat dan nyaman seperti halnya di Jakarta tetap saja perlu untuk Kota Samarinda di masa depan. Samarinda dipastikan akan tumbuh karena merupakan Kota Mitra IKN.

Pembangunan sarana dan moda transportasi umum harus jadi prioritas. Soal apa yang cocok dan bagaimana mengatasi segala persoalan yang melingkupinya tentu saja itu tugas pemerintah dan para wakil rakyat.

Sebagai rakyat saya tak mau rangkap jabatan dengan ikut memikirkan solusinya. Saya hanya bertugas untuk berharap tak ketinggian. Tak begitu saja percaya pada semua rencana, sambil sesekali nyinyir agar hidup tak berlalu begitu-begitu saja.

note : sumber gambar NIAGA ASIA