KESAH.IDMasyarakat suka keramaian karena keramaian selalu menghibur. Dan dalam setiap tradisi atau adat budaya setiap masyarakat mengembangkan model keramaian sendiri dengan berbagai macam bungkus baik religi, tradisi maupun hal-hal profan dan populer lainnya. Meski demikian kesemuanya ada benang merahnya, hanya karnaval yang tingkat partisipasi masyarakatnya tinggi yang bisa bertahan.

Di dinding facebook saya selalu mampir feed yang berisi karnaval sound. Awalnya saya tak terlalu memperhatikan namun lama kelamaan menjadi tertarik juga. Memang betul, witing tresno iku jalaran saka kulino.

Setelah menonton beberapa videonya, kemudian muncul pertanyaan dari mana asal mula karnaval sound ini, dipicu oleh apa dan sejauh mana dia berkembang menjadi subkultur masyarakat terutama di Jawa Timur.

Saya tak akan masuk dalam penilaian apakah itu perkembangan baik atau perkembangan buruk, yang jelas dari tampilan video-video karnaval sound yang tersebar di berbagai platform media sosial, kegiatan ini sungguh serius. Ya serius karena sound-nya gede, dan group atau kelompok yang ikut karnaval dengan berjoget-joget paduan antara gaya joged tradisional dan gaya yang berkembang di platform media sosial terlihat juga mempersiapkan diri dengan serius. Mereka memakai outfit dan aksesories lain yang benar-benar disiapkan.

Perkembangan ini menarik karena pawai atau karnaval sound system ini berkembang cukup masif di daerah Jawa Timur mulai dari Kabupaten Malang dan kemudian menular ke daerah-daerah lain di sekitarnya. Di media sosial, karnaval ini telah memunculkan beberapa bintang. Penampilannya ditunggu dan setiap kali muncul akan banyak yang minta foto dengannya.

Belum banyak penelitian yang menelisik lebih dalam fenomena ini. Ada yang menganggap fenomena ini sebagai fenomena baru setelah pandemi Covid 19, masyarakat yang tadinya terkungkung dan tidak bebas karena PPKM kemudian menumpahkan euforianya dengan keramaian di jalanan.

Festival sound system dianggap sebagai sebuah acara dimana keramaian itu dilakukan dan dinikmati bersama-sama oleh masyarakat luas. Festival sound kemudian berkembang pesat karena warga antusias menyambutnya.

Muasal lain dari Festival Sound System dengan suara gede-gedean sehingga disebut sebagai Sound Horeg ini bermula dari kebiasaan anak-anak muda merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. 17-an ini biasanya memang menjadi salah satu pemicu Pemuda Karang Taruna aktif kembali.

Dan Karnaval Sound Horeg biasanya akan dipilih, karena acara ini biasanya amat meriah. Dan penyelenggaranya dengan mudah balik modal atau malah dapat lebih. Toh modal pertamanya biasanya diperoleh dari iuran warga. Nah jika ingin bergengsi maka anak-anak muda des aini mesti bekerja lebih karena sewa sound yang menggelegar bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Tapi ada perbedaan antara acara 17-an dulu dengan sekarang. Dulu yang lebih diutamakan adalah tari daerah dan musik tradisional, sementara sekarang hal itu hanya menjadi pelengkap. Yang utama adalah bunyi soundnya, yang sampai membuat lingkungan sekitarnya horeg-horeg, bergetar-getar.

Konon sound system yang mumpuni bunyinya bisa terdengar sampai 7 kilometer jauhnya. Dan selain menggelegar, kisah sukses Karnaval Sound Horeg juga ditentukan oleh pemandu lagu atau DJ-nya. DJ yang semriwing dan lighting yang keren akan membuat Karnaval Sound Horeg ditempat tertentu menjadi perbincangan. Ramai diperbincangkan membuat panitia penyelenggaranya bahagia.

Disadari atau tidak penyelenggara kemudian saling bersaing, penyedia sound pun kemudian juga beradu menyediakan sound system yang keras tapi enak didengar. Dari sini kemudian berkembang festival adu sound.

Bisa jadi saking seringnya penyelenggaraan Festival Sound Horeg ini kemudian mulai membuat sebagian masyarakat menjadi jengah. Pasalnya kegiatan ini mulai memakan korban, seperti rumah rusak akibat getaran suara yang berlebihan. Mereka yang pingin istirahat juga mulai terganggu dengan polusi suara.

Saking inginnya saling lebih dari yang lainnya, ada banyak sarana atau prasarana yang dirusak demi memasukkan perangkat sound system dan lain-lain.

BACA JUGA : Politik Itu Abu-Abu 

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, pawai, arak-arakan atau karnaval merupakan hal yang biasa. Kegiatan ini biasa dilakukan berkaitan dengan hari nasional, adat, maupun religi.

Yang terkenal tentu saja pawai Tujuh Belas Agustusan. Anak-anak sekolah mulai dari TK hingga SMA ikut serta. Selain memamerkan aneka kostum, yang diikutkan dalam pawai adalah kendaraan hias. Dulu di jaman saya sekolah yang dihias adalah sepeda, namun sekarang mobil.

Arak-arakan atau karnaval yang berkaitan dengan Hari Nasional biasanya juga diadakan menjelang peringatan Hari Pramuka atau Jambore Nasional. Tunas kelapa diarak dari satu kota ke kota lain. Dan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, biasanya juga ada arak-arakan obor atau taptu.

Di kampung saya juga ada arak-arakan atau pawai yang amat saya suka. Setiap kali ada anak-anak yang khatam Al Quran biasanya akan diarak. Acaranya malam hari, mereka diarak dengan Becak atau Dokar yang dihias. Rombongan akan berjalan kaki keliling kampung melewati jalan utama. Bagian menariknya adalah pertunjukan fire work. Kami menyebutnya obat-abit.

Beberapa orang akan memainkan tongkat yang kedua ujungnya dinyalakan. Diputar dengan kedua tangan sehingga membentuk lingkaran api, atau dimainkan dengan satu tangan membentuk spiral api seperti angka delapan.

Tapi ada lagi satu pertunjukkan yang membuat kami terkagum-kagum yakni menyemburkan api. Seseorang akan berkumur dengan minyak tanah dan kemudian menyemprotkan kuat-kuat dari mulutnya ke obor di tangan sehingga dari kejauhan seperti menyemburkan api.

Saya tak tahu persis sampai kapan tradisi itu berlanjut karena kemudian saya pergi merantau ke pulau seberang. Dan setelah beberapa tahun tak melihatnya, arak-arakan khataman Al Qur’an kemudian berubah, tidak lagi dilakukan oleh setiap Langgar, melainkan disatukan per kecamatan.

Dan pawai dilaksanakan siang hari, diikuti oleh banyak anak yang kemudian tidak lagi menaiki becak atau dokar melainkan kuda. Kuda khusus yang dilatih sehingga bisa beraksi mengangkat kedua kaki depannya. Dan anak-anak Laki-Laki yang khatam Al Qur’an memakai kostum seperti Pangeran Diponegoro, sedangkan yang Perempuan saya tak tahu persis tapi bisa jadi memakai kostum seperti Tjut Nyak Dien.

Karena dijadikan festival atau karnaval, arak-arakannya makin panjang sebab pesertanya bisa belasan. Dan karena dilakukan siang hari tak ada lagi pertunjukan fire work. Kini yang paling depan adalah grup drum band. Arak-arakan khatam Al Qur’an kemudian mirip pawai Tujuh Belas Agustusan.

Dulu arak-arakan anak khataman hanya perlu diurus oleh orang kampung, kini panitianya sudah mesti melibatkan polisi dan dinas perhubungan, karena separuh jalan mesti ditutup.

Oh, iya sampai dengan saya SMA, setiap malam natal kami juga mengarak pohon natal keliling kota memakai mobil bak terbuka. Tepat jam 12 malam kami akan start dari depan gereja keliling melewati jalan-jalan utama membawa pohon natal yang terbuat dari potongan pohon pinus atau cemara asli.

Ketika saya di Manado ada juga berbagai pawai atau arak-arakan yang bernuansa keagamaan. Menjelang hari natal ada pawai sinterklas, dan di hari raya paskah ada pawai jalan salib. Namun yang menarik adalah pawai untuk menutup perayaan tahun baru atau disebut dengan kunci tahun.

Pada akhir bulan Januari di tahun yang baru akan ada pawai keliling kampung yang disebut pigura. Yang laki-laki akan berpakaian wanita sementara yang wanita akan berpakaian laki-laki. Pada perayaan yang disebut kuncikan tahun ini semua persedian kue dan minuman akan dihabiskan. Maka tak heran peserta arak-arakan bisa mabuk di tengah jalan.

Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula pawai, arak-arakan atau karnavalnya.

BACA JUGA : Sungai Makin Lebar, Aliran Tambah Lancar Jadinya Cepat Dangkal

Selain berkaitan dengan religi atau tradisi, karnaval, pawai atau arak-arakan juga tumbuh dalam konteks budaya popular dan pariwisata. Di dunia ada banyak karnaval yang ternama, agenda tahunan yang kemudian menjadi agenda budaya dan wisata dunia.

Sebut saja salah satu yang ternama yakni Karnaval Rio De Janeiro di Brasil. Karnaval yang diselenggarakan menjelang perayaan Hari Paskah ini ikonik karena disemarakkan dengan tarian samba dan kostum yang warna-warni serta penampilan seksi gadis-gadis Brasil.

Kemeriahan karnaval ini telah dipersiapkan selama berbulan-bulan, komunitas dan kelompok tari akan bekerja keras agar dapat menampilkan pertunjukan yang mengesankan.

Festival ini akan dipuncaki dengan kompetisi tari samba di Sambadrome yang akan diikuti oleh ribuan penari samba dan peserta lainnya yang menampilkan kareografi nan mengagumkan.

Di Indonesia karnaval yang menampilkan aneka kostum memikat muncul di Jember. Diinisiasi oleh Dynand Fariz, Jember Fashion Carnaval kemudian menjadi event tahunan fashion jalanan yang bergengsi dan ditiru oleh berbagai daerah lainnya, termasuk Kutai Kartanegara.

Dalam Calendar of Event pariwisata Indonesia sebenarnya ada banyak karnaval, hanya saja tidak semuanya terkenal dan gagal tumbuh menjadi event yang organik karena kemauan partisipasi publik, komunitas atau kelompok yang besar.

Meski tumbuh sporadis, terpisah-pisah tanpa kelembagaan yang jelas, karnaval sound horeg menjadi fenomena menarik dimana masyarakat dengan inisiatif sendiri mengadakan pawai atau arak-arakan untuk merayakan kegembiraan bersama.

Jika diorganisasikan dengan baik, karnaval sound horeg bisa mempunyai faktor pembeda. Karnaval ini mengandung unsur kegemaran mendengarkan musik bersuara keras, menari atau bergoyang, bergaya dengan aneka pakai dan aksesories di depan orang banyak.

Memang tidak semua orang suka dengan bunyi musik yang terlalu keras atau memekakkan telinga, baik karena memang tak suka atau karena sedang berada dalam kondisi tertentu. Pun juga banyak orang tak terlalu nyaman melihat goyang pargoy di publik, memang karena tak suka atau munafik.

Keberatan soal polusi suara tentu bisa dipahami dan mesti diperhatikan. Lebih banyak orang yang suka bukan berarti keluhan atau persoalan diabaikan.

Sebagai sebuah tradisi yang tengah tumbuh, karnaval atau adu sound horeg ini terbukti mampu meningkatkan putara dan gairah ekonomi. Selain masyarakat senang karena mendapat hiburan, pengusaha juga riang karena kostum sewaannya laku, sound system juga laku, makeup artist laris manis, catering banjir orderan dan pedagang kaki lima dagangannya cepat tandas.

Yang juga senang adalah pemuda-pemuda desa, kotak uangnya cepat penuh karena lahan parkir seadanya menarik ongkos parkir yang lebih mahal dari tempat-tempat parkir biasanya.

Di tahun politik ini adu sound horeg jadi makin ramai karena yang sedang nyaleg punya kesempatan untuk kampanye halus. Para calon rajin membayari sewa sound system, dan dengan pasukan bisik-bisik bahwa yang menyewakan sound system adalah bapak atau ibu anu, para caleg kemudian mendapat perhatian.

Dan siapa tahu nanti di saat pencoblosan, warga yang bergembira karena mendapat hiburan gratis itu akan ingat siapa yang harus dicoblos walau tak memberikan amplop.

note : sumber gambar ilustrasi – MALANGCHANNEL.ID