koKESAH.ID – Pencitraan dalam politik bukanlah hal yang tabu, bahkan merupakan sebuah keharusan karena kontestasi dalam pemilu makin terbuka dan beragam. Citra akan menentukan seseorang berhasil menarik simpati pemilih atau tidak. Dengan demikian seorang politisi mesti siap memainkan peran yang mungkin tidak mencerminkan karakter asli dirinya untuk mencapai kemenangan.
Kebanyakan magician tidak memakai nama aslinya sebagai nama panggung.
Master mentalis Deddy Corbuzier mempunyai nama asli Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo.
Rommy Tunggul Widiodo setelah belajar hipnosis di Amerika Serikat, muncul dengan nama Rommy Rafael.
Mengawali kiprah sebagai pembawa acara di ANTV, Aditya Prambudi kemudian lebih dikenal dengan nama Demian.
Dari ajang populary contest the master, Risky Siti Fatimah, memplesetkan namanya menjadi Rizuki untuk mengikuti cara pengucapan orang Jepang. Jadilah nama Rizuki Amane.
Namun yang paling fenomenal adalah Limbad yang aslinya bernama Salim Baabad.
Namanya kemudian disingkat menjadi Limbad, terdengar seperti Sinbad, pahlawan fiksi yang adalah pelaut dari Baghdad.
Nama Limbad kemudian ikonik karena yang dirubah bukan hanya nama namun juga citranya.
Atraksi sulap Limbad yang agak-agak misterius dan berbau klenik semakin menyakinkan karena penampilan Limbad yang tak kalah misterius.
Limbad yang bicaranya ‘lucu’ karena tidak lancar dan medok ngapaknya kemudian dibranding sebagai sosok yang tak banyak bicara. Bicara tanpa suara, hanya memakai isyarat.
Kesan misterius kemudian semakin bertambah dengan kehadiran Burhan, Burung Hantu yang selalu menemani penampilannya di panggung.
Limbad kemudian menjadi satu-satunya publik figur yang tidak mempelajari Public Speaking.
Dicitrakan sebagai pria yang misterius, Limbad konsisten dengan penampilannya. Sosok misterius tidak hanya ditampilkan di atas panggung melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari.
Awalnya pasti melelahkan. Namun lama kelamaan Limbad berhasil menghayati citra dirinya, pria yang irit bicara seperti orang bisu saja.
Dunia pencitraan tidak hanya erat dengan dunia panggung. Semenjak reformasi ketika pemilu memakai sistem proposional terbuka dan bupati/walikota, gubernur serta presiden dipilih secara langsung, pencitraan kemudian juga erat dengan kehidupan politik.
Awalnya banyak yang menolak atau malu-malu mengakuinya. Politisi selalu mengatakan dirinya tampil otentik. Kepeduliannya pada rakyat adalah altuisme sejati bukan transaksional.
Susilo Bambang Yudhoyono menjadi contoh yang paling meyakinkan soal pencintraan politik. Bicara dan gerakan tangannya diatur, sehingga terkadang tidak alamiah.
SBY juga berupaya keras menghapus latar belakangnya sebagai seorang militer, agar tampil seutuhnya sebagai orang sipil.
Tampil cool dan smart, SBY harus menahan diri untuk tidak baperan atas kritikan yang disampaikan padanya.
Termasuk ketika dirinya disamakan dengan kerbau. SBY dengan tenang menghadapinya, tidak mengambil langkah hukum dan menuduh pelakunya sebagai menghina presiden.
BACA JUGA : Langitpun Digarong
Joko Widodo, presiden yang mengawali karir politiknya bermula dari walikota, adalah jenis pemimpin bermazhab populer.
Identik dengan blusukan, Jokowi rajin menemui dan berdialog dengan warga untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Sebagai pemimpin yang seratus persen sipil, tidak berasal dari trah politik, Jokowi berhasil menciptakan diri sebagai pemimpin yang merakyat. Gaya bicaranya sederhana dan apa adanya.
Citra ini berhasil membuatnya populer dan menarik simpati rakyat.
Setelah dua kali memimpin Kota Solo, Jokowipun berhasil menaklukkan Jakarta dan terpilih menjadi gubernur.
Dalam waktu tak lama popularitas Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta melejit. Jokowi dianggap sebagai ‘Gubernur Indonesia” sehingga ketika dicalonkan oleh PDIP menjadi capres, popularitasnya tidak tersaingi.
Keberhasilan Joko Widodo dalam melakukan pencitraan tak lepas dari kemampuannya melakukan kapitalisasi atas citra asalnya.
Sebagai rakyat kebanyakan, Joko Widodo menjadikan kesederhanaan sebagai senjata utamanya. Bertindak dan berpikir sederhana membuat Joko Widodo dekat dengan rakyat banyak.
Joko Widodo jarang memakai jas. Pakaian yang dipilih biasanya hem putih dan sepatu kasual buatan lokal. Pun demikian dengan makanan, Joko Widodo selalu memilih makanan Nusantara, makanan rakyat kebanyakan.
Tapi Joko Widodo juga piawai menunggang gelombang agar tetap up to date dan dekat dengan generasi kekinian.
Joko Widodo tak segan menaiki motor, ngevlog, selfie dan lain-lain, termasuk memilih staf khusus yang berasal dari kaum millenial.
Faktor pembeda lain dari pencitraan Joko Widodo juga muncul dari kelompok yang disebut relawan.
Joko Widodo mengawali tradisi baru dalam kontestasi pemilu lewat dukungan yang kuat dari kelompok non partai.
Kelompok yang berbeda dengan tim sukses yang umumnya bubar setelah pemilu. Sementara relawan terus bertahan dan menjadi kelompok pendukung yang solid.
Maka meski PDIP selalu mencitrakan Joko Widodo sebagai petugas partai, cap itu tidak terlalu kuat karena Jokowi punya basis dukungan yang lain.
Hingga kemudian PDIP melalui ketua umumnya sering mengingatkan Joko Widodo perihal kedudukannya sebagai petugas partai.
Sebutan sebagai petugas partai tidak menyandera Joko Widodo. Dia tetap piawai memainkan orkestrasi pengaruh politiknya tanpa bergantung pada PDIP.
Menjelang akhir jabatan periode keduanya, posisinya tetap kuat. Maka berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya, Joko Widodo dengan sangat kentara ikut cawe-cawe menentukan siapa presiden berikutnya.
Dan elemen politik seperti tak keberatan. Bahkan partai-partai yang ada di parlemen sebagian mengakui dan menerima endorsan dari Jokowi.
Mereka bahkan secara terbuka mengakui sebagai tim Jokowi. Pesona dari persona Joko Widodo memang kuat. Pilihan pencitraannya akurat.
BACA JUGA : Lugu, Lucu Dungu Warga Net Negeri Wakanda
Rasanya ketiga calon presiden terkuat yang kemungkinan besar akan bersaing di pemilu 2024 nanti tak lagi jeri dengan kata pencitraan.
Makin kesini para politikus tak baper lagi dituduh sedang melakukan pencitraan.
Pencitraan bukan hanya dimahfuni, bahkan diterima sebagai keharusan. Karena politik memang citra.
Karena citra akan menjadi daya tarik, faktor pembeda antara satu calon dengan calon lainnya.
Dan yang disebut sebagai pencitraan meliputi dua aspek, yakni memperkuat citra asal dan membangun citra baru.
Melihat perkembangan air wy terbaru, nampak jelas bahwa yang berhasil melakukan pencitraan adalah Prabowo.
Satu kekhawatiran yang paling besar dari masyarakat Indonesia adalah perpecahan. Dan Prabowo berhasil memanfaatkan isu ini sehingga masyarakat memandang Prabowo yang paling kompeten untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Citra ini dibangun semenjak Prabowo bersedia bergabung dalam pemerintahan Joko Widodo. Sebagai lawan terkuat Jokowi, Prabowo dianggap mau berbesar hati menerima tawaran Jokowi untuk melakukan rekonsiliasi.
Dan selama menjadi menteri Joko Widodo, Prabowo menunjukkan hormat dan ketaatan pada Joko Widodo, bahkan terkesan menjadi salah satu menteri yang paling loyal.
Dalam artian tertentu, Prabowo juga menjadi sosok yang mengakui kekuatan politik Joko Widodo dan keluarganya. Manuver Prabowo dengan Joko Widodo dan Gibran, mampu mendekonstruksi status Joko Widodo sebagai petugas partai. Jokowi dan Gibran tampil sebagai dirinya sendiri, bukan petugas partai.
Posisi Prabowo makin menguat karena ganjalan isi soal HAM di masa menjelang reformasi mulai surut. Tokoh-tokoh reformasi yang dulu amat keras menentang Prabowo mulai melunak bahkan mulai menyampaikan narasi baru perihal masa-masa reformasi.
Citra nasionalis sekaligus pejuang kini melekat pada Prabowo.
Posisi Ganjar Pranowo merosot ketika menyampaikan penolakan keikutsertaan Israel dalam Piala Dunia U 20 di Indonesia. Penolakan yang kemudian membuat FIFA membatalkan perhelatan akbar Timnas Junior itu diselenggarakan di Indonesia.
Pengumuman pencapresan Ganjar menjelang Idul Fitri, ternyata tidak membuat popularitas Ganjar Pranowo, rebound.
Otentisitas Ganjar yang menarik simpati publik sewaktu memimpin Jawa Tengah melewati pandemi seolah luntur karena pada saat pencapresan oleh PDIP Ganjar lagi-lagi dibaptis sebagai petugas partai.
PDIP boleh saja menjelaskan dengan panjang lebar soal apa itu petugas partai, bahkan mengatakan Megawati sekalipun juga petugas partai.
Namun di mata publik, istilah petugas partai sungguh menganggu. Ganjar Pranowo dipandang lebih loyal ke partai ketimbang rakyat.
Di akhir pekan, Ganjar Pranowo rajin melakukan safari politik. Namun citra baru apa yang hendak dibangun olehnya belum kelihatan benar.
Meski digambarkan sebagai penerus Jokowi, namun kelompok relawan Joko Widodo nampaknya juga belum begitu yakin.
Anies Baswedan mengambil jalan pencitraan yang sulit. Sebagai calon yang buka merupakan anak kandung partai politik, Anies Baswedan mesti tampil beda.
Jalan pencitraan Anies Baswedan adalah memelihara konflik. Menjadi antitesis dari incumbent atau regim sebelumnya.
Maka koalisi yang mengusungnya dinamakan Koalisi Perubahan.
Sebagai politisi migran Anies Baswedan harus siap memainkan peran, termasuk peran antagonis, citra yang berlawanan dengan karakter dirinya.
Masalahnya Joko Widodo yang harus dilawan oleh Anies Baswedan agar mendapat citra sebagai pembaharu, menjelang lengser posisinya tetap kuat. Tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja Joko Widodo tetap tinggi meski jabatannya hendak berakhir.
Mengkritisi kebijakan dan capaian kinerja Joko Widodo kemudian justru memancing keriuhan. Akibatnya gagasan pembaharuan apanyang ditawarkan oleh Anies menjadi tidak muncul.
Anies seperti sibuk menyerang dan giat bersilat lidah karena serbuan balik dari pendukung Jokowi.
Pilihan sulit ini membuat Anies Baswedan menjadi capres yang paling rawan terkena serangan kampanye negatif.
note : sumber gambar – PUBLIKA.RMOL.ID








