KESAH.ID – Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto berkali-kali mengatakan PDIP tidak akan mencalonkan kadernya untuk menjadi capres hanya berdasarkan elektabilitas dan pencitraan. Ucapan ini tidak terbukti ketika Megawati kemudian menugaskan Ganjar Pranowo untuk menjadi capres dari PDIP pada pemilu 2024. Sejak dua tahun lalu Ganjar selalu menduduki posisi atas dalam berbagai survey, suka tidak suka ganjar dibesarkan oleh media sosial, sesuatu yang dikritik oleh beberapa petinggi PDIP sendiri.
Belum lama setelah Joko Widodo dilantik menjadi presiden untuk periode kedua, lembaga-lembaga survey sudah ngebut melakukan survey capres untuk pemilu 2024.
Survey yang dilakukan saat Indonesia tengah dilanda pandemi Covid 19 itu umumnya menempatkan Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Ridwan Kamil dalam posisi lima besar.
Namun seiring dengan waktu kemudian tiga nama pertama yang tetap bertengger di posisi atas. Yang lainnya kemudian ditempatkan sebagai calon wakil presiden potensial. Hasil survey yang kurang lebih ajeg selama hampir tiga tahun membuat masyarakat yakin pada pemilu 2024 nanti yang akan bertarung adalah Prabowo, Ganjar dan Anies.
Dari ketiga nama itu, posisi Anies Baswedan yang paling diragukan karena Anies tidak mempunyai partai. Sedangkan Prabowo dan Ganjar dianggap lebih mungkin untuk maju karena Prabowo adalah ketua partai dan Ganjar adalah kader senior PDIP.
Posisi Ganjar kemudian juga diragukan karena PDIP sebagai satu-satunya partai yang bisa mencalonkan capresnya cenderung akan mencalonkan Puan Maharani untuk lakukan transisi pucuk pimpinan tertinggi partai dari Megawati ke Puan Maharani.
Tanda-tanda Ganjar tidak direstui oleh Megawati mulai terlihat ketika Mega menyentil kadernya itu agar tidak terlalu aktif menjajakan diri. Kader-kader PDIP yang kesusu menyatakan dukungan pada Ganjar juga disemprit.
Oleh para pendukung Joko Widodo, Ganjar dianggap sebagai sosok yang paling cocok meneruskan kepemimpinan Joko Widodo. Merekapun mulai mengekplisitkan dukungan pada Ganjar. Namun dukungan itu tidak punya kepastian, karena Megawati yang ditunggu-tunggu untuk memberikan restu tak menunjukkan tanda-tanda akan menunjuk Ganjar Pranowo sebagai capres dari PDIP.
Seolah tak mau menunggu tanpa kepastian, kelompok relawan pendukung Joko Widodo kemudian ada yang mulai mengalihkan dukungannya pada Prabowo.
Anies yang semula dianggap underdog ternyata justru yang pertama dideklarasikan menjadi calon presiden oleh Partai Nasional Demokrat pada Oktober 2022. Deklarasi ini kemudian didukung oleh Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. Anies bisa dipastikan maju sebagai peserta pemilu presiden 2024.
Peringatan Hari Ulang Tahun PDIP ke 50 pada awal tahun 2023 menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu. Banyak yang berharap dalam peringatan itu Megawati akan memberikan tanda-tanda, siapa yang akan ditunjuk menjadi capres PDIP untuk pemilu 2024.
Tapi sia-sia saja, Megawati masih bungkam soal capres. Isi pidato pada peringatan HUT PDIP justru lebih mengarah ke Joko Widodo. Ada banyak pihak yang jengkel pada Megawati karena dianggap tidak menghormati lembaga kepresidenan. Megawati juga dianggap lebih banyak memuji dirinya sendiri.
Sikap Megawati ini sesungguhnya bukan hal yang baru. Sejak semula Megawati memang selalu mengatakan bahwa Joko Widodo adalah ‘petugas partai’. Jadi wajar jika dihadapan para kadernya, Megawati selalu mengingatkan siapa boss-nya partai.
Soal kepemimpinan dalam partai, Megawati memang kukuh. Dia menunjukkan sikap tegas bahkan cenderung keras kepala bahwa tak ada orang lain yang bisa mempengaruhi. Megawati tak bisa dibujuk-bujuk.
Mega berbeda dengan Sukarno, bapaknya yang gemar berdebat di depan publik untuk memperdalam diskursus-diskursus politik kemasyarakatan. Di depan publik Megawati cenderung bicara pendek-pendek, lebih banyak seperti gerundelan dalam hati yang kerap kali membuat masyarakat jengkel. Megawati cenderung ngeselin ketika mengomentari berbagai fenomena dalam masyarakat.
Soal popularitas nampaknya Megawati sepertinya tak peduli. Namun dalam politik Indonesia tetap diperhitungkan sebagai politisi paling kuat. Megawati adalah pemimpin yang kharismatik dan organisatoris yang baik.
Dan terbukti, Megawati yang tidak populis itu ternyata berhasil membawa PDIP menjadi partai terkuat di Indonesia, dua pemilu terakhir selalu menjadi pemenang.
BACA JUGA : Dunia Nggak Seru Tanpa Misteri, Tahyul Dan Hal Hal Gaib
Kenapa Megawati doyan berlaku atau mengeluarkan pernyataan kontroversial yang kerap menuai kritik?.
Jennifer Saul, seorang profesor filsafat di Universitas Sheffield menyebut istilah dog whistle atau peniup anjing. Dog whistle adalah penggunaan bahasa kode untuk berkomunikasi dengan kelompok tertentu tanpa secara gamblang menyatakan pesan yang ingin disampaikan.
Ini merupakan model komunikasi manipulatif dimana politisi dapat menciptakan kesan palsu tentang hal yang mereka perjuangkan. Kunci dari dog whistle adalah bahasa ambigu, mengambang sehingga membuka banyak ruang intepresasi dari pernyataannya.
Melihat perjalanan politiknya, Megawati dulu dikenal sebagai seorang pendiam, sampai ada yang menjuluki diam itu emas. Karena sifatnya diamnya itu, Suharto sekalipun terperdaya hingga membiarkan Megawati aktif dalam politik, masuk ke PDI.
Suharto dan para kroninya meremehkan Megawati, menganggapnya hanya sebagai ibu rumah tangga yang kebetulan adalah anak Sukarno.
Namun Suharto lupa bahwa PDI yang merupakan fusi dari partai nasionalis, sosialis dan religius non Islam ini sebagian merupakan pengikut setia Sukarno, pengagum pemikir-pemikirannya. Mereka inilah yang kemudian berupaya menempatkan Megawati menjadi pucuk pimpinan partai.
Pengaruh Megawati dalam PDI yang terlanjur membesar kemudian dibendung dengan ‘kasar’ oleh Suharto. Proses suksesi kepemimpinan di PDI selalu diganggu, Megawati tidak diakui oleh Suharto. Namun Megawati yang dianggap sebagai ibu rumah tangga yang gemar tidur siang ternyata berkeras hingga kemudian melahirkan PDIP yang dibangun dari puing-puing akibat penyerbuan militer Orba yang dikenal sebagai peristiwa Kudatuli.
Tanggal 27 juli 1996, militer menyerang Kantor Pusat PDI, merebut dari tangan Megawati untuk diserahkan kembali ke Suryadi, ketua PDI yang direstui Suharto. Karena penyerbuan dan perebutan ini, Megawati dan para pengikutnya kemudian membangun gerakan oposisi hingga di tingkat basis. Dalam konteks ini Megawati dan PDIP memiliki andil besar memicu jalan menuju kejatuhan Suharto.
Kembali ke kode-kode politik, akhir-akhir ini muncul anggapan bahwa Megawati dan Joko Widodo tidak akur, punya pikiran sendiri tentang siapa yang akan di-endorse dalam pemilu 2024.
Joko Widodo di mata publik seperti ikut cawe-cawe, ikut sibuk menyiapkan suksesi. Jokowi tidak seperti presiden-presiden sebelumnya. Megawati dan Joko Widodo kemudian digambarkan punya pilihan yang berbeda.
Puncaknya ketika beberapa ketua partai kemudian secara gamblang menyatakan diri sebagai ‘Orangnya Jokowi’. Muncul sebutan Koalisi Besar, yang berada dalam arahan Joko Widodo yang bukanlah ketua partai.
Joko Widodo oleh publik dianggap punya manuver sendiri, punya jagoan sendiri yang akan ditopang oleh partai-partai yang selama ini mendukung pemerintahannya minus PDIP.
Megawati dan Joko Widodo seperti pecah kongsi. Dan perbedaan pandangan soal penyelenggaraan Piala Dunia U 20 dianggap sebagai biang keladinya. Jokowi digambarkan kecewa dengan sikap PDIP yang memotong di garis finis.
Sampai pada titik ini, pemilu 2024 digambarkan akan diikuti oleh 3 pasangan calon, yang diajukan oleh Nasdem dkk, Koalisi Besar {Orang Jokowi} dan PDIP.
Calon dari Nasdem dan kawan-kawan sudah jelas yakni Anies Baswedan, sementara dari Koalisi Besar kemungkinan besar adalah Prabowo, sementara PDIP belum jelas, yang tahu hanya Megawati.
Sikap Megawati ditunggu, banyak yang menduga pada 1 Juni nanti pada hari Kelahiran Pancasila akan menjadi momentum bagi PDIP untuk mengumumkan calon presidennya.
BACA JUGA : Main Hati Karena Malas Belajar Biologi
Lagi-lagi Megawati gagal ditebak. Ternyata pada tanggal 21 April 2023, selepas Sholat Jum’at PDIP mengumumkan calon presidennya. Pengumuman dilakukan di Istana Batu Tulis, yang juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo yang datang dari Solo, karena berencana melakukan Sholat Ied di Surakarta.
Nama yang disebut oleh Megawati adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang elektabilitasnya menurun akibat penolakannya pada keikutsertaan Timnas Israel dalam Piala Dunia U 20 di Indonesia. Penolakan yang kemudian dituduh sebagai biang pembatalan pelaksanaan Piala Dunia U 20 di Indonesia oleh FIFA.
Megawati menciptakan momentumnya sendiri, melawan logika momentum publik yang menganggap ini bukan saat yang tepat karena Ganjar tengah menjadi sasaran serangan publik yang kecewa akibat tak bisa menyaksikan Timnas Indonesia berlaga dalam piala dunia, walau tingkat junior.
Ada beberapa kode atau tanda yang dipakai oleh Megawati menyampaikan pesan politiknya kepada publik.
Tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini. Megawati membawa nuansa baru dalam peringatan hari Kartini sebagai momentum politik. Dengan tegas Megawati menunjukkan pengaruh politik perempuan, memang atau tidak menang ternyata calon presiden yang akan berlaga di pemilu 2024 nanti ditentukan oleh dirinya.
Megawati juga memilih hari Jum’at yang oleh masyarakat Indonesia dianggap sebagai hari baik, hari yang penuh barokah untuk mengumumkan pencapresan Ganjar yang ditandai dengan pemakaian Peci Hitam. Ada pesan religius, sekaligus pesan ideologis disini. Peci oleh Sukarno dianggap sebagai penutup kepala rakyat, kaum Marhaenis.
Dan yang paling penting, tanggal 21 April adalah hari terakhir bulan puasa, hari menjelang masyarakat muslim Indonesia merayakan hari yang fitri. Idul Fitri 2024 menjadi Idul Fitri politik karena silaturahmi lebaran akan diwarnai dengan perbincangan tentang calon presiden yang ditetapkan oleh PDIP.
Dengan logika popularitas, sebenarnya banyak orang yang sejak semula sudah yakin bahwa Ganjar Pronowo yang akan dipilih oleh Megawati. Deklarasi hanya menunggu waktu saja, meski yang tahu kapan persisnya hanya Megawati.
Seolah Megawati hendak memberi pesan kepada Ganjar untuk menunggu dengan pasif. Ganjar kemudian lulus dari ujian itu, ujian untuk tidak terlalu kelihatan nafsunya menjadi presiden karena dalam PDIP menjadi anggota DPR, Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden adalah penugasan partai.
Mengabaikan popularitasnya, Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah menolak keikutsertaan Timnas Israel dalam Piala Dunia U 20 di Indonesia. Penolakan ini nampaknya menjadi kunci yang menyakinkan Megawati bahwa Ganjar bukan hanya loyal ke PDIP melainkan juga menunjukkan ikatan ideologis yang kuat dengan Sukarno.
Megawati akhirnya mengumumkan pilihannya di hari baik yang tak di duga-duga yakni Jum’at, peringatan hari Kartini dan hari terakhir puasa Ramadhan.
Di hari baik itu, Megawati kembali menunjukkan dirinya sebagai Ibu yang dipatuhi oleh anak-anaknya. Ibu yang keras dan kukuh hatinya serta tak mau ditekan-tekan atau diatur-atur oleh siapapun.
note : sumber gambar – LOMBOKINSIDER.COM








