KESAH.ID – Kombinasi dari pamitnya Rossi dari lintasan balap, absennya Marc Marquez karena cidera dan kemajuan aerodinamika yang dicapai Ducati, keseruan balap Moto GP menjadi berkurang. Motor yang cepat, bisa direm dekat dengan tikungan membuat saling overtake menjadi pemandangan langka. Sprint Race menjadi formula baru untuk kembali mengairahkan balapan Moto GP sebagai tontonan yang mendebarkan.

Lepas dari kemenangan pembalap yang dijagokan, keseruan menonton balapan terletak pada banyaknya peristiwa overtake, pembalap saling salip di tikungan. Persaingan terasa jadi semakin adil.

Saling salip sampai dengan tikungan terakhir membuat pemenang serasa seperti juara sejati, bukan pemenang yang ngacir duluan sejak awal hingga akhir balapan dan tak terkejar pembalap lainnya.

Di balapan jet darat Formula One, keseruan semacam itu sudah lama hilang. Rasanya setelah era mundurnya Pablo Montoya, pertunjukan melewati mobil lawan di tikungan sempit sulit untuk disaksikan. Pemenang Formula One lebih ditentukan oleh starting grid, yang start duluan asal tak kena sial biasanya akan menang.

Soal kecepatan, semua mobil yang bertarung di formula one sudah sama-sama cepat. Pertarungan ada pada bagian bagaimana mobil yang secepat kilat itu mudah dikendarai sewaktu melewati tikungan, bisa melakukan late brake tanpa membuat mobil oleng dan segera melacu sesaat setelah melewati tikungan.

Tim atau konstruktor kemudian saling bersaing dalam kecanggihan aerodinamika. Mobil dengan aerodinamika terbaik yang punya kemungkinan menjadi pemenang, akan punya peluang lebih besar apabila mobil terbaik dikendalikan oleh pembalap terbaik.

Dengan semua investasi dan capaian teknologinya, Formula One pantas disebut sebagai balapan mobil paling bergengsi. Karena mobilnya hebat, pembalapnya keren dan brand-brand yang menjejali bodi mobilnya jelas bukan brand kaleng-kaleng.

Tapi yang bergengsi tak berarti menarik untuk ditonton. Makin hari balapan Formula One terasa seperti karnaval. Pamer mobil dengan livery-nya yang indah, seperti ketularan gejala flexing anak-anak motor.

Mobil yang pasti laju digeber, bisa direm mendekati tikungan dan membelok dengan mulus lalu melaju kembali dengan cepat membuat pergantian posisi pembalap menjadi minim. Yang terdepan akan semakin terdepan. Dan pemenangnya sudah bisa ditebak sejak balapan baru berjalan beberapa putaran.

Tidak akan ada drama overtake, dimana dua pembalap saling menyemburkan sumpah serapah untuk menyatakan ketidaksenangannya. Tak ada lagi pembalap yang menutup racing line pembalap lainnya atau tak ada yang menguntit di belakang untuk mendapat slipstream.

Memang ada baiknya karena kemudian pembalap menjadi akrab satu sama lain, semangat kekeluargaannya jadi tinggi karena guyub rukun.

Tapi balapan kan tontonan dan tontonan nggak akan seru serta jadi perbincangan berhari-hari kalau tak ada drama.

Coba bandingkan antara Formula One dengan Formula E {Formula One dengan bahan bakar baterei listrik}. Pada balapan Formula E di Sirkuit Monaco yang terkenal sulit untuk melakukan overtake bisa terjadi pergantian posisi sebanyak 150 kali, dan pemimpin balapan berganti sebanyak 28 kali. Seru sekali.

Sayangnya Formula E belum jadi tontonan yang menyenangkan karena balapannya seperti balapan mobil-mobilan. Nonton Formula E seperti menonton bocah-bocah dan bapak-bapak yang kebocah-bocahan main Tamiya.

BACA JUGA : Puasa Tak Lagi Libur Sebulan

Gejala yang terjadi di Formula One kemudian menular ke Moto GP. Dalam tiga tahun terakhir seiring dengan pencapaian Ducati sudah sulit disaksikan pepet-pepetan ala Marc Marquez dan Rossi, atau saling dan saling salip hingga tikungan akhir seperti yang sering ditunjukkan oleh Dovisioso dan Marc Marquez.

Menjadi motor yang tercepat bukan lagi obsesi tim-tim balap karena kecepatan yang dicapai sudah maksimal. Yang sekarang dikejar adalah motor yang stabil, down force-nya baik menapak kencang di aspal, nggak njamping atau wheely ketika digas. Dan yang paling penting bisa direm pakem tanpa high side atau low side ketika sudah mendekati tikungan. Late break bukan lagi ketrampilan atau kenekatan pembalap tapi sudah dijadikan fitur wajib dalam motornya.

Honda yang terlena dengan prestasi Marc Marquez semenjak 2012 lalu kini menjadi yang paling menderita karena paling lambat dalam mengembangkan sistem aerodinamikanya. Sudah lama muncul suara yang mengatakan Honda motor cepat namun sulit dikendalikan, kencang tapi tak bisa berbelok.

Tanda-tandanya jelas, Marc Marquez meski terus juara namun tercatat sebagai pembalap yang kenyang mengalami crash, jatuh karena memacu motornya melampaui batasan. Semua ditujukan agar menang.

Tanda-tanda motor Honda tidak berkembang terlihat dari tandem Marc Marquez yang prestasinya jauh dibawahnya. Sama-sama satu tim tapi tidak berprestasi padahal motornya sama. Pedrosa, Jorge Lorenzo, Alex Marquez, Pol Espagaro menyerah ketika menaiki Honda.

Ditinggal Valention Rossi dan pada saat yang bersamaan Marc Marquez istirahat panjang karena cidera, Moto GP mulai ditinggalkan penonton. Balapannya nggak seru lagi, hampir-hampir tak ada race yang jadi omongan begitu selesai balapan.

Yang seru hanya reviewnya, bukan soal gaya balap karena pembalapnya rata-rata sama hebat. Jadi yang menarik diomongkan hanya motornya. Motor yang sering gonta-ganti winglet – nya dan tambahan perangkat aerodinamika lainnya.

Saking canggih sistem elektronik motornya, pembalap bisa gagal perfom karena lupa memencet tombol atau salah pencet tombol.

Dan tiga tahun terakhir ini Moto GP berjalan no drama. Lintasan balap tak diisi oleh konflik dan intrik dari pembalap. Tidak ada perang urat saraf antar pembalap, yang bersaing memperebutkan gelarpun malah saling puji.

Marc Marquez yang kemudian come back tak mampu memanaskan suasana. Motornya tak bisa konsisten dipakai untuk mengacaukan balapan.

Ducati yang menurunkan 8 motor dan pembalap sulit untuk disaingi. Omongan gak lagi cukup untuk memanaskan suasana menjelang, selama dan sesudah balapan. Ducati begitu dominan.

Masih untung ada Fabio Quartararo yang sebelas dua belas dengan Marc Marquez kalau bicara tandemnya. Prestasi Fabio dibandingkan dengan team mate-nya Franco Morbidelli seperti bumi langit, padahal motornya sama.

Motor harus terus di-develop, karenanya butuh dana yang besar untuk sebuah tim agar kompetitif. Tuntutan itu yang membuat Suzuki sebagai tim pabrikan kemudian menyerah. Tak sanggup mengeluarkan biaya besar terus menerus membuat Suzuki pamit dari lintasan Moto GP.

Untung saja dua pembalapnya tak kehilangan tunggangan. Honda menampung keduanya. Johan Mir mejadi team mate Marc Marquez di tim pabrikan dan Alex Rins berlabuh di tim satelit Honda menemani Taka Nakagami.

Yang nampaknya beruntung adalah Alex Marquez, adik kandung Marc Marquez yang menderita selama menjadi pembalap Honda kemudian berlabuh ke tim salelit Ducati. Dari berbagai ujicoba Alex nampaknya kencang dan bisa berada di muka kakaknya.

Menunggangi Ducati, Alex Marquez berhasil memimpin Free Practise pertama pada seri pembuka Moto GP tahun 2023. Di Algarve Intenartional Sirkuit Portugal, Alex Marquez berhasil mengasapi kakaknya.

BACA JUGA : Blusukan

Untuk menyajikan tontonan yang menarik, Dorna sebagai pelaksana balapan kemudian merubah format Moto GP dengan meluncurkan Sprint Race mulai tahun 2023.

Sirkuit Algarve akan menjadi saksi perhelatan Moto GP dengan dua balapan dimana pembalap yang ikut serta akan mendulang poin. Andai memenangkan semua balapan maka pembalap bisa mencatatkan poin sebanyak 777 point.

Sajian baru yang bernama Sprint Race akan dilaksanakan pada hari Sabtu setelah babak kualifikasi pertama dan kedua. Pembalap yang menempati starting grid dari 1 sampai 10 yang akan mendapat kesempatan untuk mengikuti Sprint Race.

Balapan ini berjarak pendek karena putaran yang harus dilalui separuh dari putaran dari balapan utama. Pointnya juga separuh. Jika pembalap pemenang pada balapan utama mendapat point 25, maka pemenang Sprint Race akan mendapat point 12.

Lepas dari pro kontra, formula Sprint Race dipandang akan menguntungkan beberapa pembalap cepat namun kurang mampu mengelola ban dalam balapan panjang. Mereka adalah Jorge Martin, Johan Zarco dan Marco Bezzecchi.

Jorge Martin akhirnya menaiki podium Sprint Race pertama dalam sejarah moto GP, setelah menjadi pemimpin balapan sebelum di lap terakhir disalip oleh Franco Bagnaia.

Kejutan justru datang dari Marc Marquez yang berhasil memenangi pole position. Meski terlihat honda tidak digdaya namun di tangan Marquez yang nampaknya dipayungi keberuntungan, Marc yang start pertama namun kemudian tercecer hingga posisi lima berhasil memanfaatkan celah dengan menunjukkan agresifitasnya untuk menduduki posisi ketiga, melewati Jack Miller dan Miguel Olivera yang melebar di tikungan.

Nampaknya Dorna dan FIM berhasil menyajikan keseruan lewat Sprint Race, balapannya enak ditonton. Hanya berlangsung dalam 12 putaran pembalap tak khawatir bannya akan aus dan kehabisan bahan bakar.

Gas pol terus balapan berlangsung agresif hingga terjadi banyak senggolan dan tabrakan. Ada 5 pembalap yang tak bisa meneruskan balapan karena jatuh dan tabrakan.

Race utama akan berjalan berbeda. Marc Marquez tidak akan mampu tampil mengejutkan karena habis-habisan di Sprint Race telah menguras tenaganya. Penampilan hebat Marc Marquez di Sprint Race diperoleh dengan cara melakukan pengereman yang sangat dalam mendekati tikungan, tenaga besar harus dikerahkan untuk mengendalikan motor yang traksinya kurang baik.

Analisis hasil Sprint Race menunjukkan Marc Marquez kalah segala-gala, top speed honda paling rendah dibanding dengan motor lainnya. Di lintasan lurus, Ducati dengan sangat mudah menyalip Honda. Namun kepiawaian Marc Marquez membuatnya bisa naik ke podium dengan konpensasi kehabisan tenaga.

Dan benar begitu tiba pada race utama, Marc Marquez yang berusaha terus mempertahankan posisi terdepannya, pada lap ke dua bersenggolan dengan Jorge Martin hingga menyebabkan oleng lalu bertabrakan dengan Miguel Olivera.

Perjalanan Marc Marquez di race utama seri pembuka Moto GP 2023 pun pupus di lap awal. Martin dan Olivera juga tak bisa menyelesaikan balapan.

Semua ini memberi keuntungan kepada Pecco Bagnaia Sang juara bertahan. Hingga akhir lap, 5 besar seri pembuka di Sirkuit Algarve dikuasai oleh Ducati. Empat pembalap Ducati mencatatkan diri sebagai yang terdepan, termasuk Alex Marquez adik Marc Marquez yang terus mencatatkan poin begitu menunggangi Ducati.

note : sumber gambar – OKEZONE.COM