KESAH.IDWacana libur atau tidak libur selama sebulan penuh di sekolah-sekolah negeri masih terus menjadi pro dan kontra. Kebiasaan libur penuh di bulan puasa sejak masa kolonial diakhiri oleh Menteri Pendidikan Daoed Joesoef di masa pemerintahan orde baru. Pernah dihidupkan kembali di masa Presiden Abdurahman Wahid, namun presiden-presiden sesudahnya tidak meneruskan kembali dengan alasan masing-masing.

Kenangan masa kecil mengingatkan saya pada kegembiraan setiap kali memasuki bulan Ramadhan. Setiap sore saya ikut teman-teman sepermainan pergi ngabuburit ke mbulak atau kawasan persawahan luas yang ada di sisi barat atau timur tempat tinggal kami.

Dataran luas yang terbuka memungkinkan kami untuk leluasa melihat pemandangan cakrawala langit. Menjelang waktu berbuka, kami akan menghadap ke arah barat dengan memasang telinga dan mata.

Di kejauhan sana, kurang lebih 2 atau 3 kilometer dari tempat kami berada, pada pelataran Masjid Agung Darul Mutaqqin, yang mempunyai bedug terbesar di dunia akan dinyalakan semacam ‘roket’ yang menjadi penanda waktu berbuka puasa.

Ketika dinyalakan dan kemudian meletus di udara di telinga saya tertangkap bunyi antara dung atau bleng. Bersamaan dengan bunyi itu akan nampak asap di atas langit. Saya dan teman-teman bersorak sambil menunjuk atap dan menebak citra apa yang terbentuk oleh asap itu.

Kadang menurut kami bentuknya seperti binatang, kambing, sapi, bebek dan lain-lain. Terkadang tak berujud.

Setelah itu kami pulang dan kadang saya mampir ke rumah seorang teman untuk ikut berbuka puasa. Kalaupun terus ikut pulang ke rumah, di rumah juga sering ada jajanan pembuka puasa antaran dari tetangga.

Saya tidak puasa tapi ikut nimbrung menikmati buka puasa. Kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang.

Waktu itu bulan puasa menyenangkan karena sekolah diliburkan, sebulan penuh.

Namun kegembiraan libur panjang itu berakhir ketika Menteri Pendidikan saat itu yakni Daoed Joesoef kemudian mengeluarkan kebijakan sekolah tidak lagi libur di bulan puasa.

Separuh masa terakhir saya duduk di bangku SD libur panjangnya kemudian ada diantara kenaikan kelas dan tahun ajaran baru.

Tahun 1978, Menteri Pendidikan mengakhiri tradisi panjang libur sekolah di bulan puasa dengan argumen tradisi libur itu adalah akal-akalan pemerintah kolonial untuk melakukan pembodohan bagi bangsa Indonesia.

Seperti tertuang dalam memoarnya yang berjudul  Dia dan Aku : Memoar Pencari Kebenaran, Daoed Joesoef berujar “ Kebijakan Belanda itu semata-mata untuk meninabobokan kita. Kalau karena libur sekolah selama sebulan penuh, anak-anak Muslim kita menjadi tertinggal keintelektualannya, yang rugi bukan Belanda tapi kita sendiri,”

Kebijakan Menteri Pendidikan ini didukung oleh Presiden Suharto . Pak Harto mengatakan kebijakan tidak meliburkan sekolah sebulan penuh bukannya tidak menghormati kehidupan beragama, melainkan untuk menyesuaikan dan menyusul ketertinggalan selama ini, dalam rangka nation building.

Kebijakan libur sebulan di Sekolah Negeri pada saat puasa memang dipraktekkan sejak jaman kolonial Belanda. Kaum kolonial menganggap Islam adalah agama masyarakat Indonesia sehingga perlu dihormati agar Belanda tak mendapat masalah di tanah koloninya.

Namun para alim ulama mempunyai pendapat lain. Libur sekolah di bulan puasa sesuai dengan tradisi Islam, karena bulan puasa masyarakat akan mengurangi kegiatannya. Dan libur sekolah adalah salah satu bentuknya.

Saya lupa persisnya, namun keberatan para alim ulama yang disalurkan lewat MUI dalam dialognya dengan pemerintah akhirnya memutuskan libur bulan puasa untuk sekolah negeri tidak lagi sebulan penuh.

Dan saya dan teman-teman sepermainan juga tak lagi menebak-nebak bentuk asap hasil ledakan ‘roket’ di udara, karena Masjid Agung Purworejo tak lagi menyulut roket untuk menandai waktu buka puasa. Bunyi ledakan di udara diganti dengan bunyi sirene.

BACA JUGA : Blusukan 

Ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI, kebijakan libur di bulan puasa kembali dipraktekkan. Presiden Abdurahman Wahid bermaksud untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama lewatnya.

Namun kebijakan itu tidak diteruskan oleh Megawati. Pada masa kepresidenannya, libur puasa untuk sekolah negeri hanya pada awal memasuki bulan Ramadhan. Dan kebijakan itu diteruskan hingga sekarang.

Pun ketika masa awal puasa ditetapkan sebagai hari libur, siswa-siswi muslim sebenarnya tidak sungguh-sungguh libur. Karena liburan biasanya dimanfaatkan oleh sekolah untuk menyelenggarakan Pesantren Kilat. Siswa-siswi muslim diwajibkan mengikuti kegiatan ini untuk meningkatkan iman dan ketakwaan.

Liburan awal puasa jadinya lebih menyenangkan untuk siswa-siswi non muslim. Mereka benar-benar libur.

Pasangan Capres Prabowo – Sandi dalam kampanyenya pernah menyampaikan jika mereka terpilih maka puasa akan dijadikan libur sekolah. Namun Prabowo – Sandi kalah.

Dan Presiden Jokowi nampaknya punya pendapat lain. Menurutnya bulan puasa tetaplah bulan yang harus dipenuhi dengan produktifitas sesuai dengan slogannya Kerja, Kerja, Kerja.

Hampir sama dengan argumen Daoed Joesoef, Jokowi berpendapat liburan puasa sebulan penuh akan menurunkan produktifitas. Pasalnya masih banyak anak-anak Indonesia tertinggal secara akademik. Libur sebulan penuh di bulan puasa dikhawatirkan akan membuat anak-anak semakin tertinggal.

Senin, 27 Maret 2023 nanti anak saya akan kembali masuk sekolah, setelah dua minggu berada di rumah. Kalau dihitung liburan awal puasanya hanya 3 hari. Hari-hari sebelumnya yang tidak masuk sekolah dikarenakan UTS atau Ujian Tengah Semester dilakukan secara daring. 7 hari, anak saya mengerjakan soal ujian sambil jungkir balik di kasur.

Ketika saya tanya apakah nanti sekolahnya akan penuh satu hari, dia menjawab “Enggak, paling jam 12 atau jam 1 sudah pulang,”

Saya tak ingin ikut-ikutan meramaikan perdebatan apakah benar libur penuh selama bulan puasa akan menurunkan produktifitas siswa atau sebaliknya.

Namun saya tahu soal mutu pendidikan, tingkat intelektual siswa dan pencapaian akademiknya bukanlah soal sebanyak atau sesedikit hari-hari sekolah yang diikutinya. Ada banyak hal lain yang menjadi faktor penentu.

Yang saya tahu makin kesini anak-anak makin punya persoalan untuk memfokuskan diri. Di jaman saya kecil atau masa sekolah dulu belum terlalu banyak hal yang mendistraksi perhatian. Tapi di jaman sekarang ini gangguan untuk memfokuskan diri semakin banyak.

Jadi jam belajar yang panjang, hari-hari sekolah yang banyak belum tentu efektif untuk meningkatkan kapasitas akademik siswa dan siswi. Jam pelajaran yang panjang bisa jadi tidak efektif lagi karena siswa-siswi sudah tak fokus lagi mendengar apa yang diterangkan oleh guru-gurunya.

Yang paling penting justru membuat sekolah atau belajar menjadi sesuatu yang menarik untuk siswa-siswinya.

Dan Finlandia adalah salah satu negara yang berhasil mewujudkan pendidikan menjadi sesuatu yang menarik dan asyik untuk diikuti.

Negeri yang mempunyai ranking tinggi dalam pendidikan ini menjadi negara dengan jam belajar terpendek sedunia. Siswa-siswinya berada dalam kelas secara efektif kurang lebih 3 jam 45 menit seharinya.

Dan kita tahu dengan empat musim di Eropa, hari-hari sekolahnya tidak banyak. Karena musim dingin dan musim panas, siswa-siswinya akan libur panjang.

Seperti halnya dengan Rusia yang menerapkan lima hari belajar dalam seminggu seperti halnya Indonesia. Namun soal liburan, siswa-siswi di Rusia mempunyai durasi liburan 4 bulan dalam setahun hingga Rusia tercatat sebagai salah satu negara dengan hari sekolah terpendek sedunia, selain Irlandia yang siswa-siswinya tercatat hanya sekolah selama 183 hari dari 365 hari dalam setahun.

BACA JUGA : Amuk Anak Belia Makin Ganas

Untuk saya, libur puasa jelas menyenangkan karena tidur pagi saya jadi lebih panjang. Karena anak saya tidak sekolah maka saya tak perlu cepat-cepat bangun untuk mengantarnya pergi belajar.

Tidur saya di bulan puasa bakal lebih pendek jika anak saya pergi ke sekolah. Pangkalnya saya termasuk golongan manusia telat tidur di malam hari. Dan ketika hendak terlelap setelah lewat jam 12 malam, sering kali saya gagal memejamkan mata karena suara anak-anak yang membunyikan musik tetabuhan untuk membangunkan sahur kelewat rajin memulainya. Baru jam dua lebih mereka sering kali sudah berkeliling jalanan dan gang.

Kadang-kadang mereka ini kelewatan, bukan hanya membunyikan nada yang enak di telinga. Sering kali mereka membawa petasan dan suara petasan yang diledakkan di dini hari amat mengagetkan, hingga membuat kantuk di ujung mata hilang.

Tapi itulah kehidupan, nikmati saja dan biarkan pro serta kontra menjadi milik mereka-mereka yang gemar berdebat berlarat-larat, kaum ahli silat, silat lidah maksudnya.

Seiring dengan waktu ada yang datang dan hilang dari romantika bulan puasa untuk menjadi bagian dari cerita hidup.

Ada yang membuat rindu tapi tak sampai membuat nestapa.

Seperti dua tahun terakhir ini, saya mulai kehilangan satu persatu teman yang mengajak ngopi di siang hari di tempat-tempat tersembunyi.

Sampai dengan beberapa tahun lalu saya tahu tempat ngopi yang nyaman dan aman dari tuduhan mengoda orang yang sedang berpuasa. Disana saya dan sebagian teman yang tidak berpuasa menunggu saat berbuka sambil mengepulkan asap.

Begitu menjelang saat berbuka, kami bubar. Pulangnya mampir ke kios-kios penjual makanan dan minuman buka puasa, untuk berbuka bersama keluarga.

Saya langsung pulang ke rumah dan nanti pergi ke pasar Ramadhan sesaat setelah jam buka lewat. Harganya sudah terdiskon banyak.

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk saudara-saudari, teman dan sahabat muslimin. Tentu saya masih bisa menjadi teman ngopi siang-siang bagi yang memerlukannya. Namun saya akan lebih senang jika ada yang mengajak saya untuk bukber walau saya tak berpuasa.

note : sumber gambar – KOROPAK.CO.ID