KESAH.ID – Tidak ada banyak kejutan dalam pemilu 2024 nanti. PDIP, Golkar dan Gerindra akan menjadi trio pengumpul suara terbesar. Posisi PDIP yang akan mencetak hattrick sebagai pemenang pemilu tiga kali berturut-turut hampir bisa dipastikan. Yang patut ditunggu, akankan pencalonan dini Anies Baswedan sebagai calon presiden oleh Nasdem, akan mendongkrak posisi Partai Nasdem sehingga akan mengakhiri pemilu 2024 dalam posisi sebagai partai besar.
“Nyalon kah Mas?”
“Nggak ah, perawatan sendiri aja di rumah,”
“Maksud saya caleg Mas,”
“Nggak ah, ndak ada yang milih nanti,”
Dan kamipun tertawa lalu kembali menyeruput kopi.
Untuk saya pemilu memang masih jauh, tapi untuk para pengurus partai terasa sudah dekat. Terlebih bagi mereka yang dalam kepengurusan duduk di badan pemenangan pemilu. Daftar calon anggota leslatif sudah harus disusun karena tidak lama lagi akan diserahkan ke KPU.
Waktu satu tahun untuk pemilu bukanlah waktu yang lama.
Bersiap dari jauh hari menjadi penting, jangankan partai baru, partai-partai lama sekalipun tidak mudah untuk memenuhi daftar calon anggota legislatif. Makin kesini hanya mereka yang punya nyali dan uang yang berani mencalonkan diri.
Sebab peluang menang para caleg sebenarnya kecil, jumlah kursi dan jumlah calon yang bersaing beda jauh, kursinya puluhan, calonnya ratusan.
Kalaupun nanti setelah pemilu ada banyak wajah baru di kursi wakil rakyat, tetap saja umumnya mereka berasal dari partai-partai besar dan sebagian lainnya dari partai menengah dan kecil. Partai-partai baru jarang berhasil mengirim anggotanya menjadi wakil rakyat.
Maka dalam pemilu partai yang bertarung biasanya akan dikategorikan sebagai partai besar, partai menengah, partai kecil dan partai gurem atau nol koma.
Siapa yang akan menduduki tahta sebagai partai besar dalam pemilu 2024 nanti sudah bisa diprediksi dari sekarang.
Berdasarkan Survey Nasional dan Riset Kualitatif yang dilakukan oleh LSI Denny JA pada Januari 2023 yang lalu, PDIP menduduki tempat teratas dalam perolehan dukungan yakni 22,7 persen, disusul oleh Golkar dengan dukungan 13,8 persen dan Gerindra dengan dukungan 11,2 persen.
Pada pemilu 2024 nanti PDIP, Golkar dan Gerindra akan berpeluang menjadi pemenang pemilu dan ketiganya akan masuk kategori partai besar karena memperoleh dukungan lebih dari sepuluh persen.
Dibawah PDIP, Golkar dan Gerindra ada PKB yang memperoleh dukungan 8 persen, Demokrat memperoleh dukungan 5 persen, PKS mendapat dukungan 4,9 persen dan Nasdem dengan dukungan sebesar 4,4 persen.
PKB, Demokrat, PKS dan Nasdem akan menjadi partai menengah dan lolos dari jebakan parlementiary threshold karena mendapat dukungan diatas 4 persen.
Di rentang dukungan antara 1 sampai 4 persen ada Perindo yang mendapat dukungan 2,8 persen, PPP dengan dukungan 2,1 persen dan PAN yang mendapat dukungan 1,9 persen. Perindo, PPP dan PAN masuk dalam golongan partai kecil, partai yang berjuang untuk lolos parlementiary threshold agar bisa mendudukkan kadernya di DPR RI.
Peserta pemilu lainnya yakni PSI, Hanura, PBB, Gelora, Garuda, PKN, PU dan PB mendapat dukungan dibawah satu persen. Kedelapan partai ini masuk dalam kategori partai nol koma atau partai gurem.
BACA JUGA : Anak Singkong, Yang Kaya Makin Kaya Yang Miskin Makin Merana
PPP, Golkar dan PDIP merupakan partai senior, partai yang didirikan sebelum reformasi. Hanya PPP yang gagal mendayagunakan senioritasnya sehingga terlempar dari kedudukan sebagai partai besar, PPP bahkan terus merosot hingga menduduki kategori partai kecil yang berjuang untuk lolos parlementiary threshold pada pemilu 2024 nanti.
Sedangkan Gerindra menjadi partai yang paling berprestasi diantara partai-partai lain yang didirikan setelah reformasi. Gerindra mampu bersanding dengan partai lama yakni Golkar dan PDIP menjadi partai besar di Indonesia.
Nampaknya perolehan suara dalam pemilu legislatif akan mendapat efek dari pemilu presiden. Partai akan mendapat dukungan besar jika mempunyai calon presiden yang kuat. PDIP dan Gerindra membuktikan hal itu.
Gerindra mempunyai Prabowo Subianto, PDIP mempunyai Joko Widodo dan kini Ganjar Pranowo.
Pengaruh calon presiden yang kuat terhadap perolehan suara pemilu legislatif pernah dirasakan oleh Demokrat tatkala calon presiden mereka adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu perolehan Demokrat menurun, Agus Harimukti Yudhoyono yang digadang-gadang sebagai capres tidak cukup mempunyai magnet untuk menarik dukungan suara.
PKB menjadi salah satu partai yang mungkin meyakini mempunyai calon presiden sendiri akan berpengaruh pada perolehan suara pemilu legislatif. Muhaimin Iskandar sejak jauh-jauh hari selalu disuarakan sebagai calon presiden oleh PKB.
Hanya saja Cak Imin tidak masuk dalam radar pemilih di Indonesia sebagai calon kuat. Meski cukup berprestasi namun PKB selalu menjadi partai menengah.
Partai-partai yang lahir setelah reformasi kecuali Gerindra nampaknya mesti berjuang lebih keras untuk melahirkan calon-calon presiden yang kuat sehingga bisa membawa partainya menduduki orbit teratas dalam politik Indonesia.
Sejarah pernah menunjukkan bahwa Demokrat, sebagai partai baru mampu meraup dukungan cukup banyak pada pemilu pertamanya. Dan pada pemilu kedua yang diikuti bahkan menjelma menjadi partai besar. Pada pemilu 2009, Demokrat memperoleh dukungan 20,4 persen suara.
Perolehan itu membuat Demokrat percaya diri untuk mendukung presidential threshold sebesar 20 persen. Namun pada pemilu 2014 perolehan suara Demokrat merosot hingga menjadi partai menengah sampai saat ini.
Sebagai partai baru Hanura pernah menunjukkan trend positif dalam pemilu pertama dan keduanya. Pada pemilu 2009 Hanura berhasil mendudukkan wakilnya di kursi DPR RI walau dalam ketegori partai kecil. Dan pada pemilu 2014 Hanura mampu memompa suara, dukungannya naik menjadi 5,9 persen, masuk dalam golongan partai menengah. Namun setelah itu Hanura selalu gagal melewati ambang batas parlementiary threshold.
PBB yang digawangi oleh Yusril Isra Mahendra yang juga kerap disebut sebagai Calon Presiden, dalam dua kali pemilu awal mampu mendudukkan wakil di kursi DPR RI, namun dalam 3 kali pemilu terakhir, PBB gagal lolos dari jebakan parlementiary threshold.
Perindo dan PSI sejak pemilu pertamanya tidak berhasil lolos dalam parlementiary threshold. Meski cukup dikenal, Perindo dalam pemilu 2024 nanti masih harus berjuang keras untuk bisa mengirim wakilnya di kursi DPR RI. Sementara PSI walau berjuang amat keras, target utamanya adalah keluar dari golongan partai nol koma.
Sepertinya pemilu 2024 nanti masih akan menjadi pemilu yang tidak ramah terhadap partai baru. Partai Gelora dan Partai Ummat, sebagai partai hasil ‘pecahan’ partai reformasi prestasi terbesarnya mungkin hanya mengerogoti suara partai induknya semula. Namun untuk lolos parlementiary threshold masih jadi tanda tanya besar.
Gelora dan Ummat bisa membuktikan diri sebagai bukan partai nol koma saja sudah bagus.
BACA JUGA : Internet, Dunia Yang Tunggang Langgang
Tidak akan ada kejutan dalam pemilu legislatif pada tahun 2024 nanti. PDIP, Golkar dan Gerindra akan menempati peringkat atas sebagai partai yang akan meraup dukungan suara lebih dari 10 persen. Yang patut ditunggu adalah apakah PDIP akan mencetak hattrick karena memenangkan pemilu 3 kali berturut-turut.
Hanya Gerindra yang mampu menjegal PDIP untuk menjadi pemenang pemilu ketiga kalinya dengan syarat calon presiden dari Gerindra menjadi calon yang paling populer dalam pemilu 2024 nanti.
Selain ketiga partai diatas, partai lain yang punya peluang untuk lolos atau melewati ambang batas parlementiary threshold adalah PKB, Demokrat, PKS dan Nasdem.
Akankah Nasdem mampu mendudukkan diri sebagai partai besar dalam pemilu 2024 nanti mengingat calon presiden yang dideklarasikan secara dini oleh Nasdem termasuk salah satu capres yang paling populer saat ini.
Hipotesis capres populer akan mengangkat suara partai dalam pemilu akan diuji melalui Nasdem, terbukti atau tidak.
Diluar ketujuh partai diatas, semua mesti berjuang keras untuk lolos parlementiary threshold, PPP dan PAN punya peluang besar kehilangan kursi di DPR RI.
Bagaimana partai kecil dan partai nol koma bisa meraup dukungan suara untuk mendongkrak peluang tampil di Senayan, semua akan sangat tergantung pada personal branding para calon legislatifnya.
Dalam daftar calon legislatif yang nanti akan bertarung di pemilu 2024, partai kecil dan partai gurem mesti menampilkan daftar calon yang kuat, orang-orang yang secara individu punya persona dan pesona yang kuat.
Suara bisa didongkrak dengan cara mengerogoti suara dari partai menengah dan partai besar. Yang bisa digoda untuk mendukung adalah pemilih-pemilih yang kecewa, kecewa terhadap partai yang didukung pada pemilu lalu dan kecewa pada pemerintahan hasil pemilu terakhir.
Tantangan besar justru berada pada partai-partai baru dan partai yang pernah ikut pemilu tapi belum berhasil lolos ambang batas parlemen. Survey menunjukkan dukungan terhadap mereka sangat rendah. Dan nampaknya tidak banyak pemilih di Indonesia punya empati yang tinggi untuk memberikan suaranya kepada mereka yang lemah.
Pada akhirnya, walau mempunyai semua syarat yang diperlukan untuk menang, PDIP berada dalam situasi yang genting. Dari semua partai, PDIP menjadi satu-satunya partai yang surplus capres dari kadernya sendiri.
Pada satu sisi situasi ini membanggakan namun pada satu sisi bisa menjadi duri untuk pemilu 2024. Andai salah membaca dan memutuskan, bisa jadi kelebihan PDIP akan membuatnya terpeleset. PDIP bisa saja menguasai parlemen namun akan kehilangan pengaruh besarnya dalam pemerintahan.
PDIP mesti mempertimbangkan sebuah arus baru partisipasi politik yang muncul semenjak pencalonan Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakata. Kekuatan itu bernama relawan politik yang bukan merupakan underbouw atau organisasi sayap partai.
Dan salah satu capres terpopuler dari PDIP mempunyai kelompok relawan yang daftarnya bisa sama panjang dengan daftar caleg dari satu daerah pemilihan. Kekuatan kelompok relawan ini tak bisa diabaikan, membuat mereka baper bisa-bisa akan merubah kucing menjadi harimau yang bisa mengerogoti suara pada pemilu 2024 nanti.
note : sumber gambar – MERDEKA.COM








