KESAH.IDBulan Desember adalah bulan istimewa, umat Kristiani merayakan Hari Natal dan umat muslim terutama warga NU merayakan haul Gus Dur. Sebenarnya bukan warga NU saja yang mengenang Gus Dur melainkan juga warga lainnya, umat beragama yang lain. Gus Dur memang sosok yang luar biasa, dikenang sebagai Bapak yang mengayomi semua warga negara Indonesia tanpa membeda-bedakan latar belakangnya.

Saya menghabiskan masa kecil di Purworejo, Kota Kecil dibagian selatan provinsi Jawa Tengah. Konon di masa kolonial Belanda pernah dipertimbangkan sebagai Ibukota VOC setelah Ambon karena salah satu wilayahnya yang beririsan dengan DIY menjadi benteng pertahanan Pangeran Diponegoro.

Diluar itu Purworejo kemudian juga dikenal sebagai tanah kelahiran Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi. Dan kembali disebut-sebut ketika Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden RI karena Jendral Sarwo Edi Wibowo, bapak dari Ibu Ani Yudhoyono adalah orang Purworejo.

Tahun lalu dalam atmosfir politik, Purworejo sempat diperbincangkan karena Albertus Sumbogo, Wakil Ketua DPC PDIP Purworejo meluncurkan Seknas Ganjar. Keberanian Ketua Bapilu PDIP Purworejo untuk mbalelo ini membuat dirinya dijuluki ‘Celeng’ oleh Ketua PDIP Jawa Tengah, Bambang Pacul.

Hidup di kota kecil dengan dinamika yang lambat sesuai julukannya sebagai ‘Kota Pensiunan’ saya beruntung bertetangga dengan Mbah Haji {Kaji} Suparlan.

Di rumah pasangan suami-istri yang sudah tua itu saya menghabiskan banyak waktu membaca berbagai macam buku yang ada di ruang tamunya. Mulai dari buku sastra sampai dengan revolusi dan perjuangan.

Di rumah Mbah Kaji inilah saya membaca buku berjudul Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib. Buku inilah yang kemudian mengantar saya untuk mendalami pemikiran tentang agama, kemanusiaan dan kebangsaan.

Ahmad Wahih sendiri meninggal di tahun 1973, pemikirannya terhenti dalam catatan yang diterbitkan oleh LP3ES. Nurcholis Madjid atau biasa dipanggil Cak Nur yang kemudian dikenal sebagai pemikir pembaharu Islam. Cak Nur sendiri merupakan salah satu sahabat Ahmad Wahib. Kelak ketika Cak Nur mendirikan Yayasan Paramadina, nama Ahmad Wahib digunakan sebagai Sayembara untuk mendorong anak-anak muda menuangkan gagasan kritis perihal agama, kemanusiaan dan kebangsaan.

Bersamaan dengan dikenalnya Nurcholis Madjid sebagai pemikir teologi inklusif sebagai keniscayaan untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama dalam konteks Indonesia yang plural, dikenal pula nama Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Harun Nasution, Jalaluddin Rahmat dan lainnya.

Pada perpustakaan yang berada di kaki Gunung Bantik, Pineleng, Minahasa, saya kemudian mengenal pemikiran-pemikiran Gus Dur yang dipublikasikan lewat Majalah Prisma, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh LP3ES Jakarta.

Prisma pada sekitar tahun 70 – 80 an dikenal sebagai jurnal ilmu sosial yang berpengaruh, berisi gagasan cendekia dan calon-calon cendekia terkemuka pada waktu itu.

Ketika saya mulai membaca pemikiran-pemikirannya, Gus Dur sudah dikenal sebagai politisi kawakan. Gagasannya lebih disuarakan lewat media massa dan kerap menguncangkan bukan hanya publik melainkan juga pemerintah.

Gus Dur ketika terpilih sebagai ketua PBNU pada kali pertamanya disambut hangat oleh Suharto. Suharto beranggapan Gus Dur merupakan sosok yang moderat sehingga terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah. Gus Dur kemudian akrab dengan regim.

Namun ketika kembali terpilih sebagai ketua PBNU untuk kedua kalinya, Gus Dur kemudian berbalik arah. Sikap kritis Gus Dur muncul ketika Suharto mendirikan ICMI. Gus Dur menolak untuk bergabung di dalamnya. Gus Dur menangkap signal bahwa Suharto akan memperalat Islam untuk melanggengkan kekuasaannya.

Gus Dur yang dikenal mempunyai pergaulan luas kemudian mengajak tokoh-tokoh yang kritis pada Suharto mendirikan Forum Demokrasi dan juga mulai menggunakan massa NU untuk menekan Suharto. Suharto menjadi gerah dan lewat menantunya yakni Prabowo Subianto mengingatkan Gus Dur untuk tidak berpolitik praktis.

Suharto semakin gerah ketika Gus Dur secara terbuka menentang pembangunan yang dibiayai oleh Bank Dunia, salah satunya pembangunan waduk Kedung Ombo yang membuat warga puluhan desa dari beberapa kecamatan di Wonogiri harus bedol desa. Bersama dengan Romo Mangunwijaya, Gus Dur melawan Suharto.

BACA JUGA : Perancis Titik Balik Yang Terhenti 

Sekitar tahun 1995, saya mulai ikut ngumpul-ngumpul dengan kelompok masyarakat sipil baik untuk mendiskusikan kondisi sosial politik terkini dan mulai terlibat dalam program-program komunikasi pendidikan dan penyadaran masyarakat.

Salah satu yang menjadi keprihatinan pada masa itu adalah semakin menguatnya sektarianisme, isu SARA yang ditekan dengan kekuatan kekuasaan mulai meledak. Muncul banyak kelompok sipil yang menunjukkan dirinya siap perang.

Saya waktu itu tinggal di Manado, kota yang dikenal sebagai ikon persaudaraan dengan slogannya Torang Samua Basudara. Menjadi bagian dari daerah yang mengedepankan semangat persaudaraan sebangsa, sayapun tergerak untuk berperan aktif dalam mengkampanyekan pluralime, perdamaian dan multikulturalisme.

Untuk memulainya saya mesti mempunyai patron. Mengikuti cara yang ditempuh oleh Nurcholis Madjid jelas sulit untuk saya karena coraknya sangat akademis, njelimet dan penuh disiplin kesarjanaan. Maka apa yang dilakukan oleh Gus Dur menjadi pilihan.

Dengan ilmu gothak gathuk, saya merasa lebih cocok menjadikan Gus Dur sebagai panutan. Sebab saat kecil saya beribadah dan bersekolah di Jalan Wahid Hasyim, dan kelak ketika bergabung dalam sebuah tarekat, Rumah Besarnya ada di Jalan Hasyim Assyarie.

Gus Dur adalah putra dari Wahid Hasyim dan cucu dari Hasyim Assyarie.

Jalan saya tidak sulit karena dalam beberapa aktivitas program pada organisasi masyarakat sipil, saya telah berhubungan dengan teman-teman dari Fatayat NU dan LKKNU. Bersama mereka saya banyak mendengar dan membicarakan Gus Dur serta kemudian terhubung dengan PMII dan lainnya.

Lingkaran pergaulan ini kemudian membawa saya kenal dan menjadi dekat dengan KH. Arifin Assegaf, seorang tokoh Islam yang menjadi pioner berdirinya Badan Kerjasama Antar Umat Beragama {BKSAUA}. Sebuah inisiatif yang kelak dilembagakan oleh pemerintah menjadi FKUB.

Bersama beliau kemudian saya berjejaring dengan Interfide, organisasi antar iman dari Yogyakarta. Dalam berbagai pertemuan dan kegiatan bersama interfide, saya menjadi lebih sering mendengar sekaligus mempelajari apa yang dilakukan oleh Gus Dur dari mulut pertama, orang-orang yang mengenalnya.

Di interfide ada Th. Sumartana, Johan Effendi dan lain-lain yang mengenal, bersahabat dan kerap berkegiatan bersama Gus Dur.

Ketika pindah di Samarinda, tempat dimana saya tidak mempunyai banyak teman. Akhirnya saya bertemu dengan teman-teman Naladwipa yang dalam kegiatannya mengambil inspirasi dan menghidupi semangat Gus Dur lewat Forum Pelanggi dan kemudian setelah Gus Dur wafat diteruskan lewat Gusdurian.

Walau tak seintensif lagi seperti tahun 2000-an, saya yang kerap berpindah-pindah ekosistem gerakan tetap masih menjaga benang merah untuk berada di jalan menjadikan iman dan agama sebagai energi untuk menjaga semangat kebhinekaan, kemanusiaan dan kebangsaan.

Siapapun yang memelihara, menjaga dan menghidupi semangat serta cita-cita Gus Dur selalu menjadi kawan, sahabat dan saudara bagi saya.

BACA JUGA : Lain Ladang Lain Belalang, Lain Kota Lain Rokoknya

Sebagai orang Katolik saya mempunyai tujuan hidup untuk 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia. Bagi saya agama seharusnya menjadi energi dan jalan hidup untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan. Mempersatukan yang berbeda-beda untuk hidup bersama, mencapai perdamaian dan kesejahteraan bersama.

Pada diri Gus Dur saya menemukan sosok yang bisa beragama/beriman sekaligus berbangsa dan bernegara tanpa ketegangan. Gus Dur bisa menunjukkan keislaman, muslim yang sesungguhnya dalam kerangka kebhinekaan, bahkan membelanya mati-matian.

Sebagai sosok orang beriman, Gus Dur memelihara dengan sangat disiplin ruang Tuhan/Allah dan ruang manusia. Gus Dur sebagai tokoh agama, orang yang mandatnya diakui tidak mengambil ruang Tuhan.

Dengan demikian meski dikenal sebagai tokoh yang gemar humor, Gus Dur adalah sosok yang sangat berani. Berani karena prinsip-prinsipnya yang membuat dirinya sering sendiri, dimusuhi oleh banyak orang. Tapi Gus Dur tak bergeming.

Sebagai orang beriman, orang yang mencintai Tuhan Allah, Gus Dur mencintai ciptaan-NYA tanpa membeda-bedakan. Urusan penghakiman atas iman atau kepercayaan diserahkan Gus Dur pada Tuhan, tapi siapapun yang ber-Tuhan bahkan mengatakan mencintai Allah namun bersikap tidak adil, tamak, menindas dan lainnya akan dilawan mati-matian oleh Gus Dur.

Sikap dan perilaku inilah yang kemudian membuat Gus Dur menjadi orang besar atau bahkan membuatnya disebut sebagai wali.

Suatu ketika KH Mustofa Bisri bertanya “Kenapa Nabi Muhammad dan Yesus diperingati pada hari kelahirannya. Maulud dan Natal? Sementara Gus Dur pada hari wafatnya {Haul}”

Muhammad dan Yesus dikenang lewat hari kelahirannya karena keduanya sejak semula sudah merupakan kekasih Allah, tidak perlu diuji kemuliaan dan kesuciaannya.

Sementara kita manusia tidak, maka sepanjang hidup adalah ujian dan lulus tidaknya akan ditentukan setelah paripurna menjalani kehidupan di dunia.

Gus Dur, lulus karena sepanjang hidupnya membuktikan cintanya kepada Tuhan dengan cara mencintai segenap ciptaannya, membela yang lemah, memberi tempat kepada yang tersingkir.

Dengan ketokohannya, Gus Dur telah membuktikan dirinya tidak silau dengan godaan-godaan untuk mempertahankan kekuasaan, memupuk kekayaan, menikmati kedudukan yang tinggi dan seterusnya.

Apa yang ditunjukkan sepanjang hidupnya membuat Gus Dur mampu mempertahankan martabat dan hakekatnya sebagai manusia mulia sampai akhir hayatnya.

Itulah yang saya kira membuat kita terus mengenangnya, memelihara keutamaannya dan ingin terus meneladaninya hingga saat ini.

Perbandingan antara Lionel Messi dan Christiano Ronaldo dalam Piala Dunia Di Qatar mungkin bisa menjadi pembanding yang baik bagaimana Messi mengakhiri era kejayaannya dengan sempurna dalam sepakbola.

Messi menutup episode ‘kenabian’ nya dengan mengangkat trofi piala dunia, menjadi pemain terbaik. Semua itu dicapai bukan disaat Messi sedang hebat-hebatnya. Namun justru disaat dia mampu menjadi rekan yang baik bagi bocah-bocah yang dulu mengaguminya dan kini menjadi rekan bermainnya. Sebagai ‘dewa’ Messi tak segan melayani dan memanjakan para juniornya dengan umpan-umpan cantik yang berbuah gol.

Sementara Ronaldo justru menutup karirnya dengan buruk, terus merasa sebagai pemain besar dan tidak ngemong rekan-rekannya yang jauh lebih muda. Ronaldo ingin terus dilayani, didengar dan diperhatikan.

Seperti Messi, Gus Dur menutup perjalanan hidupnya dengan sempurna sebagai orang yang tetap ingin mencintai ketimbang dicintai, melayani ketimbang dilayani dan menghormati ketimbang dihormati.

Untuk menutup testimoni ini perkenankan saya mengutip salah satu ucapan Gus Dur yang paling menyentuh. Beliau mengatakan “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan terbuai dengan pujian manusia, dia masih merupakan hamba yang amatiran,”