KESAH.ID – Sepuluh tahun terakhir ini Angkutan Kota semakin merana, makin menjadi pilihan terakhir untuk bepergian. Ruang jalan kini semakin sesak diisi oleh motor dan mobil-mobil pribadi, bukan hanya lalu lalangnya melainkan juga untuk parkiran.

Saya masih hafal lirik lagu Naik Delman yang dimulai dengan syair “Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota …” itu walau sudah puluhan tahun tak menyanyikannya.

Kini tak ada lagi anak-anak yang menyanyikannya. Selain tak lagi diajarkan, barangkali juga sudah tidak relate dengan moda transportasi terkini.

Delman sebutan lain dari Andong, Dokar atau Cikar memang sudah lama menghilang dari jalanan. Kalaupun masih ada yang tersisa, hal itu dipertahankan demi pariwisata.

Gerobak atau kereta yang ditarik oleh kuda, sapi atau kerbau memang merupakan moda angkutan perdana. Dan ketika mobilitas semakin meningkat serta kecepatan mulai jadi tuntutan, kendaraan yang ditarik oleh hewan atau digerakkan oleh tenaga manusia menjadi kurang memenuhi syarat.

Angkutan umum, untuk barang dan manusia kemudian digantikan dengan kendaraan bermesin.

Sejarah angkutan di Indonesia, mulanya menggunakan mobil-mobil bekas tinggalan kaum kolonial. Seperti Jeep Wylis dan lainnya yang di Philipina kemudian dikenal sebagai Jeepney.

Bukan hanya mobil melainkan juga motor seperti di Pematang Siantar. Motor BSA tinggalan tentara sekutu kemudian dijadikan becak bermotor {Bentor}.

Sejarah baru dimula ketika Presiden Sukarno mendatangkan 1500 Midget buatan Daihatsu untuk menyambut perhelatan olahraga internasional di Jakarta antara tahun 1960-1964.

Midget kemudian dikenal dengan nama Bemo atau Becak Motor.

Kendaraan roda tiga ini kemudian terkenal di mana-mana.

Pada awal tahun 90-an, ketika saya tinggal di Manado, Bemo sudah tidak ada di jalanan. Namun lagu tentang Bemo yang dibuka dengan syair “Oto becak, Oto Kacili” masih kerap terdengar didendangkan.

Popularitas Bemo sudah tergerus oleh kehadiran kendaraan roda empat yang diproduksi oleh Suzuki. Yang diimport dalam bentuk terurai dan kemudian dirakit di Indonesia menjadi mobil pick up.

Di Manado mobil itu dikenal sebagai ST 20. Dalam sebuah lagu yang dinyanyikan oleh kelompok penyanyi Pangkers disebut sebagai Oto Kaca Bok. Mobil dengan kaca melengkung.

Mobil yang juga dikenal dengan sebutan Suzuki Truntung ini bisa mengangkut 7 penumpang. 6 penumpang di belakang sopir dan 1 penumpang di samping sopir.

Namun memasuki tahun 90-an, kejayaan Suzuki Carry ST 20 mulai tergusur saat berkembang industri karoseri. Kendaraan pick up hasil rakitan pabrik oleh perusahaan karoseri dirubah menjadi mobil station.

Angkutan kota kemudian dibanjiri oleh mobil-mobil station yang punya sebutan angkot. Bukan merk Suzuki lagi yang berjaya melainkan Dhaihatsu dengan Zebranya.

Di Manado, Angkutan Kota ini dikenal dengan sebutan Oto Mikro.

Menaiki Oto Mikro terbilang asyik karena konfigurasi bangkunya berbeda dengan kebanyakan angkot di banyak kota lainnya. Bangkunya mirip dengan kendaraan pribadi, menghadap ke depan untuk mengangkut 8 penumpang, bisa juga 9 jika di samping sopir diisi dua orang.

Di kota lain angkot bersaing untuk mengangkut sebanyak mungkin penumpang, sedangkan di Manado, Oto Mikro bersaing mempersolek dirinya untuk menarik penumpang. Dihias dengan aneka lampu dan dipasang sound system yang mumpuni, Oto Mikro bisa diibaratkan sebagai diskotik berjalan.

BACA JUGA : Runtuhnya Trotoar Kami Di Simpang Jalan Estetika

Awal tahun 2000-an ketika saya mulai tinggal di Samarinda popularitas angkot masih cukup tinggi. Di Kota Samarinda angkot melayani trayek tetap, mulai dari trayek A hingga L kalau tidak salah. Setiap trayek mempunyai warna atau kombinasi warna mobil yang berbeda.

Angkot melewati jalan-jalan utama atau jalan besar. Padahal banyak permukiman di Kota Samarinda berada jauh di dalam gang. Maka untuk naik angkot sering harus jalan kaki cukup jauh.

Kesulitan seperti itu membuat warga Kota Samarinda umumnya membeli motor untuk mobilitas sehari-hari. Hampir dipastikan setiap rumah mempunyai motor.

Skema kredit yang menarik membuat motor lebih laris dari pisang goreng. Salah satu dealer motor yang paling ramai waktu itu adalah Honda Semoga Jaya.

Selain untuk keperluan sendiri, banyak juga yang membeli motor untuk dikaryakan. Pangkalan motor ojek ada di setiap ujung-ujung gang. Tak sedikit yang membuat pangkalannya permanen, lantai disemen, bangku panjang yang kokoh dan diberi atap.

Tanda-tanda angkot merana mulai terlihat. Angkot hanya penuh ketika anak-anak pergi dan pulang sekolah. Di luar jam itu jarang terlihat angkot penuh penumpangnya.

Berkali-kali ketika naik angkot dari Jalan Juanda ke Terminal Sungai Kunjang saya dioper, dipindahkan ke angkot lainnya entah di Cendana atau di tepian sana.

Nasib angkot semakin merana ketika kredit mobil menjadi semudah kredit motor. Banyak keluarga di Samarinda memilih membeli mobil walau sebagian besar tak punya garasi.

Senjakala angkot makin nyata. Terlebih ketika anak-anak SMP hingga SMA membawa motor sendiri untuk pulang pergi sekolah. Yang SMP akan memarkir motornya di luar lingkungan sekolah.

Kecepatan dan kenyamanan mulai menjadi tuntutan para penumpang. Dan angkot semakin lama semakin jauh untuk bisa memenuhinya. Pengusaha angkot dengan populasi penumpang yang ada tentu berpikir 2 kali untuk meremajakan unit angkutannya.

Ketika Jakarta mulai melakukan pembaharuan dengan meluncurkan jalur bus angkutan kota {Busway} bernama Transjakarta, kota-kota lain mengikutinya.

Tapi hampir tak ada yang seserius dan seberhasil Jakarta.

Rasanya yang ingin meniru adalah Balikpapan, bukan dengan bus besar melainkan minibus Transbalikpapan. Sedangkan Transsamarinda saya tidak pernah mendengar.

Namun Dinas Perhubungan Kota Samarinda pernah membangun halte-halte di beberapa ruas jalan. Tujuannya agar calon penumpang menjadi nyaman ketika menunggu angkot. Hanya saja mulai dari dibangun sampai sekarang nampaknya halte itu tidak mampu menolong untuk menarik penumpang agar kembali menggunakan angkot.

Untuk melayani penumpang dengan kebutuhan khusus, angkutan yang lebih punya privasi, beberapa kali ada rencana operasi taksi argo di Kota Samarinda. Namun rencananya selalu urung karena ada perlawanan dan keberatan dari sopir-sopir angkot.

Operasi taksi argo oleh mereka dianggap bakal semakin mengerus jumlah penumpangnya.

Jarak antara kebutuhan penumpang dan kemampuan penyedia jasa angkutan untuk memenuhinya menjadi semakin jauh.

Naik angkot menjadi pilihan terakhir untuk bepergian. Naik karena terpaksa.

BACA JUGA : Lagi, Mas Karebet Nggak Boleh Ngombe Dawet

Rasanya sebentar lagi kita akan mengucapkan selamat jalan untuk angkot.  Pengabdiannya bakal purna menyusul andong, becak, bemo dan bajaj.

Munculnya moda angkutan berbasis aplikasi membuat angkot semakin menepi.

Transportasi online yang berbasis motor terbukti sudah menguburkan ojek pangkalan. Dan perlahan namun pasti yang berbasis mobil juga akan menguburkan angkot.

Dengan etika layanan yang lebih baik, mempunyai mekanisme rewards dan punishment transportasi online menjadi lebih menarik untuk calon penumpang. Menaiki transportasi online, penumpang akan lebih merasa di-orangkan ketimbang menjadi penumpang angkot.

Dari aspek apapun angkot memang sulit untuk menyaingi layanan transportasi online. Terlebih soal kemudahan dan kepastian.

Naik transportasi online jauh lebih mudah, tidak perlu pergi ke pinggir jalan. Pemesanan bahkan bisa dilakukan sambil tiduran. Dan kapan yang dipesan akan tiba di depan rumah atau di tempat menunggu bisa dilihat dari aplikasi.

Meski ongkos yang harus dibayarkan lebih tinggi dari pada ongkos angkot namun dengan menimbang kenyamanan dan keamanan, naik angkutan online kata anak-anak sekarang bakal lebih worth it ketimbang naik angkot.

Para sopir angkot sekarang berjibaku untuk mengejar setoran namun tak punya daya untuk ‘membakar uang’ seperti yang dilakukan oleh layanan transportasi online yang sekarang berkembang menjadi superapps.

Berhadapan dengan moda transportasi online, angkot sudah kalah duluan sebelum maju perang.

Bayangkan tidak punya uang sekalipun para penumpang bisa tetap percaya diri memesan layanan transportasi online.

Dengan modal pinjaman dari pay later, mbak-mbak dan mas-mas go ride atau go car misalnya tak tahu kalau penumpangnya lagi bokek.

Sebab begitu sampai tujuan penumpangnya akan bilang “Saya sudah bayar pakai go pay ya,”.

Dan bayaran yang berasal dari utangan itu akan dicatat di aplikasi drivernya sebagai dibayarkan melalui deposit go pay.

Dan jika penumpangnya puas dengan layanan, dengan uang utangan itu juga bisa memberikan tips untuk drivernya. Semua akan dipotong dari deposit go pay-nya yang diisi dengan dana talangan dari pemilik layanan transportasi online.

Ada banyak kelompok yang berjuang untuk pentingnya mempertahankan hutan, memelihara kearifan tradisional, merevitalisasi budaya dan tradisi, namun tak ada yang bersuara untuk menjaga dan mempertahankan layanan transportasi umum lewat angkot.

Sayapun tak berani menyuarakannya karena saya termasuk dalam kelompok yang ikut mematikan angkot karena kemana-mana lebih suka naik motor ketimbang angkutan umum perkotaan.

Semoga saja angkot yang hidup segan mati tak mau menjadi pertanda bahwa warga Kota Samarinda semakin makmur karena mempunyai motor dan mobil sendiri, bukan karena semakin mudah dan banyak hutang.

note : sumber gambar – KALTIM.ANTARANEWS.COM