KESAH.ID – Pertumbuhan gerai kopi lokal dari tahun ke tahun terus meningkat. Kedai kopi kini bukan lagi sekedar tempat untuk menikmati kopi atau melepas dahaga, melainkan sudah berkembang menjadi ruang publik untuk keluar sejenak dari rutinitas harian. Ngopi bahkan menjadi rutinitas baru.

Seperti kota-kota lainnya, Samarinda tidak membiarkan setiap jengkal lahan di sudut-sudut kotanya bebas dari kehadiran kedai kopi.

Pemainnya beragam mulai dari kedai kopi independent hingga jaringan/waralaba baik lokal, nasional maupun internasional.

Dari tataran lokal ada Kopiria, Kopi Papa Muda dan Klinik Kopi, dari tingkatan nasional ada Excelso, Kopi Kenangan, Kopi Janji Jiwa, Kopi Yor, Kopi Ruang Hati,Kopi  Janji Hati, Kopi Lain Hati, Kopi Kulo, Toffee Coffee, Coger, Fore Cof, Point Coffee, Foresthree Coffee, sedangkan dari luar negeri dikenal Illy Coffee dan tentu saja Starbuck.

Sebelumnya di Samarinda pernah hadir kedai waralaba asal Los Angeles, The Coffee Bean & Leaf Tea, namun tak bertahan lama.

Nasibnya berbeda dengan Starbucks yang sama-sama berasal dari Amerika Serikat. Kedai yang berdiri pertama kali di Kota Seatle ini baru-baru ini hadir kedeai keempatnya di Kota Samarinda. Setelah di Samarinda Central Plaza, Bigg Mall dan Jalan S. Parman, kedai keempat Starbucks ada di Jalan Siradj Salman.

Di Indonesia sendiri, kedai Starbucks jumlahnya sudah 300-an lebih. Maka pantas jika kemudian Starbucks dianggap sebagai salah satu pemengaruh munculnya gelombang kopi baru di Indonesia.

Menyajikan berbagai jenis minuman kopi dengan basis mesin espresso, hasil ektraksi dari biji-biji kopi terpilih baik single origin maupun blend, kedai yang ketika dimasuki akan tercium aroma wangi kopi ini merubah anggapan bahwa kopi hanyalah minuman orang tua.

Di kedai Starbucks kerap dijumpai anak-anak remaja, sibuk memotret-motret minuman dan dirinya, ketimbang menikmati minuman mahal yang dipesannya.

Walau kedai Starbuck tidak didesain untuk instagramable, namun selfi di Starbucks memang punya gengsi tersendiri. Ngopi atau minum di Starbucks memang punya kelas tersendiri.

Hanya saja untuk para pengopi aktif, Starbucks jelas bukan merupakan pilihan. Memaksakan diri untuk menengak kopi dan nongkrong di Starbucks setiap hari bakal banyak cicilan tak terbayarkan.

Peminum atau penyuka kopi jelas akan memilih kedai-kedai kopi lokal sebagai tempat melepas penat, menikmati kopi dan bersosialisasi dengan rekan atau teman sebayanya.

Seiring dengan populernya buku kumpulan cerita yang ditulis oleh Dee Lestari berjudul Filosofi Kopi, yang kemudian juga difilmkan dengan judul yang sama. Muncul kembali gelombang kopi baru yang disebut manual brewing.

Banyak yang menjuluki era manual brewing sebagai kopi ribet. Peracik kopi atau barista, terikat pada aturan soal gramasi, grind size, suhu air panas, waktu ekstraksi dan seterusnya. Sedangkan yang beli juga cerewet minta kopi dengan aroma dan karakter ini itu.

Kedai kopi manual brewing memang lekat dengan coffee talk, obrolan tentang kopi, pemilik dan juga baristanya melakukan edukasi kopi.

Kehadiran kedai manual brewing di Kota Samarinda antara lain diawali oleh Kopi Nusantara, Semenjana dan kedai modern lainnya kemudian juga menambah menu kopi manual seperti Republic Coffee, Anima, Black Birds, Kopikumana, Second Floor, Kopi Orange, Why Not, Kahawa dan lain-lain.

Publik kemudian mulai akrab dengan istilah-istilah yang berhubungan dengan kopi, seperti species arabica, liberika, robusta; juga single origin seperti Kopi Mandailing, Kopi Sidikalang, Kopi Aceh Gayo, Kopi Kalosi Toraja, Kopi Bali Kintamani, Kopi Ijen Jawa, Kopi Wamena Papua, Kopi Flores Manggarai dan lainnya.

Pembelipun fasih menyebut metode seduh mulai dari V60, Aeropress, Rockpresso, Frenchpress, Sifon dan Vietnam Drip. Dan dalam obrolan setelah segelas kopi disajikan akan terdengar istilah krema, floral, fruity, acidity, aftertaste, body, fermented dan lain-lain.

Lama kelamaan ketika memilih biji kopi juga tak hanya menunjuk lama melainkan juga mengisyaratkan pengolahannya, apakah natural, fullwash atau semi. Mencari yang honey atau wine, atau terkadang biji mutasi yang disebut peaberry.

Para penikmat kopi juga sensitif pada tingkat kematangan ‘gorengan kopi’, umumnya yang disukai adalah medium roast atau city roast. Dark roast dianggap mematikan karakter rasa dan aroma kopi.

Pendek kata pembuat dan peminum kopi kerap bertemu dalam ruang idealisme kopi.

Ruang yang terkadang membuat para pengopi tradisional yang terikat dengan konvensi tubruk, seduh kopi dengan air mendidih yang baru diangkat dari kompor, untuk menghasilkan kopi ireng, mateng dan nendang ini tersinggung. Sebab cara minum dan menikmati kopi semacam ini dianggap asal-asalan.

Terlebih lagi jemaah kopi manual brewing kerap menganggap kopi terbaik atau kasta tertinggi adalah arabika dan haram hukumnya kopi ditambah gula, sementara pengemar kopi nasgitel atau kopi joss sudah hidup mati dengan robusta.

Tapi pengemar kopi fanatik kopi ireng juga tak hilang akal. Mereka mencela penikmat manual brewing sebagai peminum kopi banci. “Kopi kok bening dan encer,” begitu kata mereka.

Saya sendiri tumbuh dari kovensi seduh kopi tubruk yang kemudian berusaha untuk move on terbuka pada semua model cara seduh dan penyajian kopi termasuk inovasi-inovasi menunya.

Jika ada kesempatan untuk memilih maka saya akan pilih-pilih, tapi jika tidak maka apa yang tersaji akan saya sikat. Walau jujur saja, saya tak suka kopi yang lebih banyak susunya.

BACA JUGA : Saya Lebih Suka Kisah Rambo Dari Cerita Sambo

Menyusuri jejak kopi di negeri yang sampai sekarang masih terkenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar memang banyak ironi.

Budidaya dan budaya kopinya diperkenalkan oleh orang luar, kolonial dan pendatang.

Di masa sebelum penjajahan dan tanam paksa Belanda, masyarakat Nusantara mengenal kopi karena dibawa oleh pedagang dari India dan Arab. Kopi pada masa itu merupakan minuman para pembesar.

Lalu kolonial Belanda membawa bibit kopi untuk dibudidayakan. Untuk pertama kali kopi dibudidayakan di wilayah Batavia. Dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru Hindia Belanda. Budidaya dengan model tanam paksa itu berbuah manis untuk Belanda, kopi dari Jawa pernah berjaya di pasar Eropa. Java Coffee mengalahkan Mocha Coffee dari Yaman.

Memberi banyak penghasilan untuk maskapai dagang Belanda, para penanamnya menderita. Petani kopi dilarang mengkonsumsi kopi yang ditanam dan dijaganya dengan segenap jiwaraga. Ketahuan ikut menikmati kopi yang dipanennya bakal berbuah celaka. Kopi oleh kolonial Belanda waktu itu diperlakukan layaknya emas, emas hijau.

Ketika politik etis atau politik balas budi diberlakukan, petani kopi baru bisa merasakan buah keringatnya. Selain dinikmati sebagai minuman pembuka hari, diminum kala pagi. Kopi secara tradisional kemudian berkembang menjadi minuman perekat sosial, minuman paguyuban.

Kopi menjadi minuman wajib dalam kumpulan, terutama yang dihadiri bapak-bapak. Kopi identik dengan lek-lek-an, menemani warga yang bersolidaritas, saat menunggu kelahiran bayi, saat ada yang berduka dan lainnya.

Berbagai ritual atau upacara-upacara adat juga selalu dilengkapi dengan kopi.

Di masa revolusi, para pejuang, kaum nasionalis sering berkumpul dan berdiskusi. Terkadang hingga dini hari. Kopi menjadi teman setia untuk terus terjaga, Sukarnopun dikenal sebagai penyuka kopi.

Diawal tahun 1900, baru kemudian dikenal warung kopi, minuman yang diperdagangkan. Pergi ke warung baik untuk sekedar minum dan sarapan atau kemudian ngobrol kanan-kiri, dimulai dengan munculnya kedai kopi yang diusahakan oleh kaum migran dari China.

Saat kaum kolonial membuka kawasan industri di berbagai wilayah yang kini menjadi wilayah Singapura, Malaysia dan Indonesia, masyarakat dari China berdatangan baik untuk bekerja maupun berdagang.

Yang berdagang membuka warung sarapan, yang kemudian dikenal sebagai kopitiam. Gabungan bahasa melayu dan hokkian untuk menyebut warung/rumah/toko kopi.

Warung ini membeli kopi lokal yang kemudian disangrai dan digiling sendiri lalu diseduh dengan teko tinggi dengan saringan kopi. Selain menjual kopi dan minuman lainnya, kopitiam juga menjual makanan untuk sarapan, salah satunya adalah roti.

Di Samarinda, warung kopi yang diusahakan oleh keturunan imigran dari China ini umumnya berada di dekat pelabuhan. Ada Kopi Ko Abun, Kopi Ko Lim, Kopi Timur Subur, Kopi Hainan dan lainnya. Warung ini sudah diusahakan bergenerasi, moyangnya ada yang memulai dari Sanga Sanga, Kota Minyak di masa Belanda.

Generasi penerusnya juga sudah lahir, ada Kopi Papa Lim di Jalan Camar dan Kopi Starbud di Citra Niaga.

Kedai kopi lokal yang menyeduh ala kopitiam juga banyak, ada Klinik Kopi, Kopi Kuburan, Makan John, Kopi Borneo dan lain-lain.

Pengemarnya juga masih banyak hingga sekarang, bukan hanya orang-orang dewasa dan tua. Terbukti Klinik Kopi terus membuka gerainya di berbagai penjuru kota Samarinda. Yang di Siradj Salman bahkan buka 24 jam.

Seiring dengan berkembangnya budaya pop baru, K-Pop, kopi kemudian juga menjadi budaya populer dengan kehadiran Kopi Kekinian. Hanya mengemas ulang, sajian kopi modern yang diperkenalkan oleh kedai-kedai berbasis mesin espresso. Es kopi susu yang dikemas dalam gelas plastik dengan harga yang bersahabat untuk kantong anak muda kemudian meraja lela.

Momentum pandemi Covid 19 dan model belanja online, grab and go, membuat perkembangan kopi kekinian tak berbendung.

Persaingan yang ketat, karena dimana-mana ada kedai kopi. Membuat pebisnis kopi baru ini amat memperhatikan desain kedainya. Yang diutamakan bukan hanya racikannya melainkan juga atmosfer kedainya yang instagramable. Mereka juga rajin berpromosi melalui sosial media.

Untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama, kedai kopi kekinian juga terus melakukan inovasi pada menunya. Yang membeli tak lagi peduli kopinya arabica, robusta atau liberika, single origin atau tidak, diroasting oleh siapa, berasal dari mana. Jemaah kopi kekinian lebih mengenal nama menunya ketimbang cerita kopinya. Yang nggak bisa move on akan memilih kopi kenangan mantan.  Atau kalau sudah punya pacar baru bisa memesan kopi lupakan mantan.

BACA JUGA : Baper Gegara Joko Tingkir Ngombe Dawet

Diantara geliat bisnis kopi yang masih pesat, kadang terselip pertanyaan apa sumbangsih kopi untuk Samarinda dan apakah perlu Samarinda melahirkan kopinya sendiri?.

Soal sumbangsih sebenarnya tak perlu ditanya, sebab jelas ada, bahkan besar.

Setelah era distro dan clothing line lainnya, bisnis kopi terbukti telah melahirkan usahawan-usahawan muda. Ada banyak anak muda berhasil memulai bisnis dari kopi.

Maraknya usaha kopi juga membuka kesempatan kerja, mulai dari pekerja terampil seperti barista maupun pekerja paruh waktu lainnya. Ada banyak anak muda yang masih kuliah, bisa menambah uang kiriman orang tua atau bahkan belajar mandiri dengan bekerja di kedai-kedai kopi.

Maraknya kedai kopi juga menumbuhkan bisnis lain, seperti coffee roastery dan pemasok kebutuhan lainnya.

Bisnis kopi juga terbukti mampu menghidupkan kawasan-kawasan komersial yang redup atau lesu. Seperti di kawasan Citra Niaga yang sayang tidak bertahan lama. Namun di kawasan Jalan Siradj Salman, terbukti kedai-kedai kopi mampu menjadi salah satu pendorong ramainya kawasan itu.

Persaingan antar kedai kopi juga memberi kesegaran tersendiri. Masing-masing kedai berusaha tampil menarik dan nyaman untuk dikunjungi. Kesegaran desain dan arsitektur dengan gaya industrial serta unfinished design memberi warna tersendiri untuk lanskap Kota Samarinda. Ada banyak kedai semacam ini yang kemudian berhasil menjadi ruang publik alternatif ditengah tersusurnya ruang-ruang publik lainnya.

Bukan tidak mungkin jika para pengunjung kedai kopi terkonsolidasi dengan baik, maka kopi dan kedai kopi akan menjadi kekuatan untuk mengerakkan literasi di Kota Samarinda. Literasi dalam artian mengkonsumsi dan memproduksi budaya, layaknya kedai-kedai kopi di Eropa pada tahun 1800-an yang melahirkan Respublica Literaria.

Soal Samarinda mempunyai kopi sendiri tentu saja merupakan keinginan mulia. Namun jelas butuh waktu. Namun untuk menjadi kota terkemuka soal kopi, tidak tentu harus menghasilkan kopi sendiri. Ada banyak kota di dunia yang menjadi parameter kopi, ternyata bukan kota penghasil kopi.

Seperti kota Roma di Italia, Taipe di Taiwan, Melbourne di Australia dan Seatle di Amerika Serikat. Kota-kota tersebut terkenal karena kopinya tanpa mempunyai tanaman dan kebunnya sendiri.

Maka sebagai kota penghubung di Kalimantan Timur, Samarinda berpotensi untuk menjadi Kota Kopi andai mampu mengumpulkan kopi-kopi dari daerah lainnya di Kalimantan Timur, melakukan pengolahan paska panen dengan baik, mempunyai penilai kopi yang handal dan juga roaster bercita rasa tinggi.

Seiring dengan visi Walikota Samarinda untuk mewujudkan Kota Samarinda sebagai pusat peradaban, bukan tidak mungkin kopi akan memberi kontribusi besar untuk mencapainya.