KESAH.ID – Setelah penetapan Ferdy Sambo sebagai tersangka, otak pembunuhan terhadap Brigadir J di media sosial banyak beredar meme yang membandingkan antara Rambo dan Sambo. Netizen Indonesia memang luar biasa, cepat sekali membuat story agar viral dan menjadi trending topic.

Sebuah film pasti mempunyai karakter utama yang akan menjadi tokoh untuk mewarnai keseluruhan ceritanya. Memilih aktor atau aktris sebagai pemeran utama menjadi salah satu faktor krusial yang menentukan berhasil tidaknya film itu nanti.

Sejarah film mencatatkan aktor dan aktris yang sukses memainkan peran dalam film. Beberapa diantaranya menjadi langganan peraih penghargaan.

Dari antara yang berhasil itu, beberapa pemeran kemudian identik dengan perannya di dalam film. Karakter dalam film kemudian melekat dengan pemerannya.

Keanu Reeves kemudian dikenal sebagai Neo setelah memerankan sosok Thomas Anderson dalam film Matrix. Uma Thurman yang membintangi film Kill Bill , salah satu karya ikonik sutradara Quentin Tarantino kemudian identik dengan Beatrix Kiddo.

Melihat foto Arnold Schwarzenegger ketika menjadi gubernur California, orang menyebutnya sebagai Terminator. Pun ketika ketemu Johnny Depp yang kemudian lebih dikenal sebagai Jack Sparrow, perannya dalam film Pirates Of The Caribbean.

Daniel Radcliffe mungkin namanya tak terlalu dikenal banyak orang. Namun begitu melihat wajahnya orang langsung akan tahu kalau dia adalah Harry Potter. Sosok dalam novel J.K Rowling yang kemudian juga sukses ketika difilmkan oleh Warner Bros.

Sama dengan pemeran Harry Potter, Hugh Jackman mungkin juga tidak terlalu terkenal. Namun ketika melihat wajahnya, orang segera mengenalinya sebagai Logan atau Wolverine yang tampil pada film X-Men.

Dan kini ada satu nama yang kembali menjadi perbincangan yakni Silvester Stallone. Bintang film yang juga sukses memerankan Rocky Balboa ini sepanjang karir dalam dunia perfilman diidentikkan dengan John Rambo.

Pengemar film pada tahun 90-an pasti mengenalnya, Rambo muncul pertama kali dalam film berjudul First Blood. Kisah tentang tentara veteran perang Amerika yang dikejar-kejar polisi karena melarikan diri dari penjara.

Sekuel film Rambo ini dibuat hingga 5 kali, film Rambo V {The Last Blood} diperankan oleh Silvester Stalone ketika berusia 70-an tahun.

Di kalangan pemirsanya Rambo dianggap sebagai hero. Banyak orang kemudian memakai nama itu atau menjuluki orang lain yang dipandang jagoan sebagai Rambo. Binatang peliharaan yang berbadan kekar, bertubuh besar atau galak juga banyak yang dinamai Rambo.

Yang meniru penampilannya juga tak sedikit. Bahkan ada pelaku kejahatan memakai kostum ala Rambo dan kemudian lakukan serangan bersenjata.

Presiden Suharto, pernah mempunyai kenangan manis karena berhasil mengalahkan Rambo. Ceritanya secara tak sengaja Presiden Suharto bertemu dengan Silvester Stallone di Lapangan Golf Rawamangun.

Suharto tengah bermain dengan Bob Hasan, sedangkan Silvester Stallone datang dengan rekan bisnisnya Sudwikatmono. Mereka berpartner dalam bisnis restoran Planet Hollywood.

Sudikatmono kemudian memperkenalkan Silvester Stallone pada Suharto, Pada perkenalan itu Suharto menantangnya untuk bermain 9 hole.

Pada akhir permainan Suharto menang. Entah karena jago atau karena Silvester Stallone dibisiki untuk mengalah.

Stallone memuji Suharto dengan mengatakan “Sungguh saya sudah bermain baik. Tapi dia {Suharto} bermain lebih baik. Dia terlalu tangguh untuk Rambo,”

Dan the smilling general pun tak mau sombong seperti biasa. Suharto mengatakan bahwa dia hanya beruntung bisa mengalahkan Rambo.

BACA JUGA : Baper Gegara Joko Tingkir Ngombe Dawet

Di media sosial rame beredar meme wajah Rambo yang mengatakan “Don’t call me Sambo. I’m Rambo not Sambo,”

Netizen memang usil semenjak kasus pembunuhan Brigadir J terkuak ke publik.

Kejadian sebut saja sebagai Peristiwa Duren Tiga hampir terkubur sempurna sering dikuburkan Brigadir J tanpa upacara di Jambi, tempat asalnya, dimana orangtuanya masih tinggal disana.

Namun peristiwa itu kemudian berkembang menjadi ‘fiksi’ setelah seorang wartawan media lokal yang jeli menangkap kejanggalan. Ada polisi dikebumikan karena meninggal akibat tembakan, tapi tidak ada berita secuilpun.

Wartawan itu kemudian berinisiatif mendatangi mendatangi Polda Jambi. Tidak mendapat jawaban dan diminta untuk menanyakan ke Propam Mabes Polri.

Sejak saat itu yang menutup-nutupi menjadi tahu bahwa peristiwa sudah terkuak dan tak mungkin bisa ditahan lagi. Harus dihadapi.

Keluarlah pers release dari Humas Mabes Polri. Intinya ada peristiwa tembak menembak di kediaman petinggi polri. Tembak-tembak bermula dari teriakan. Yang berteriak adalah istri petinggi Polri yang konon dilecehkan oleh ajudannya.

Dan yang dituduh melecehkan itu dan kemudian tertembak mati adalah Brigadir J, polisi yang dikebumikan di Jambi.

Pers release ini kemudian diberitakan oleh berbagai media, berkembang liar termasuk munculnya berbagai skenario versi netizen.

Kelak bahkan sekelas Menko Polhukam yakni Mahfud MD juga turut mengipas-ngipasi soal motif yang menurutnya hanya pantas dikonsumsi oleh mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas.

Mahfud MD mungkin turut mengomentari hal itu karena yang ditenggarai sebagai korban dan suaminya melaporkan kasus it uke polisi.

Fiksi makin berkembang ketika keluarga Brigadir J mulai menunjuk pengacara untuk melakukan pelaporan perihal pembunuhan berencana. Brigadir J bukan dibunuh karena peristiwa yang tidak diduga sebelumnya. Pembunuhan terhadapnya direncanakan.

Menjadi perbincangan publik, polisi kemudian menjadi hati-hati dalam mengusut peristiwa ini. Oleh masyarakat kemudian dinilai lamban. Muncul berbagai teori konspirasi.

Namun kemudian penembaknya atau yang disangka sebagai penembaknya dijadikan tersangka. Dan dalam perkembangannya kemudian memberi pengakuan yang amat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh pihak kepolisian lewat pers releasenya.

Makin seru lagi ketika pengacara tersangka dua kali diganti karena dipandang kelewat pintar bernyanyi, memberitahukan segala sesuatu yang dikatakan oleh penembak sebelum disampaikan oleh polisi.

Sang penembakpun merasa terancam, kemudian meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Untuk meyakinkan LPSK, dia bersedia menjadi justice collaborator, akan membongkar peristiwa apa adanya.

Lambat laun peristiwa yang sebenarnya mulai terbongkar. Skenario yang disusun untuk menutupi Peristiwa Duren 3 menjadi runtuh.

Petinggi yang sebelumnya hanya dinonaktifkan kemudian dijadikan tersangka. Bukan hanya soal pelanggaran etika melainkan sebagai otak pembunuhan berencana, apapun motifnya.

Mungkin kelak sangkaannya bisa ditambahkan, selain soal pembunuhan juga soal laporan palsu untuk mengulur atau mengalihkan penyelidikan.

Netizen sudah lebih dulu memastikan bahwa sang petinggi polri itu akan dihukum berat, kariernya tamat. Sehingga netizen jadi makin berani, termasuk mengolok-olok lewat meme yang membanding-bandingkan antara John Rambo dan Ferdy Sambo.

Membandingkan antara Rambo dan Sambo kelihatannya masuk akal. Untuk yang gemar mengamati seluk beluk polisi, barangkali Sambo termasuk polisi yang istimewa, pintar dan kuat. Selain itu juga dikenal baik dan beristri cantik.

Dengan ilmu gothak gathuk, tidaklah sulit untuk menyimpulkan bahwa Sambo adalah salah satu ‘Rambo’ dalam tubuh Polri.

BACA JUGA : Media Sosial Menghubungkan Dunia Tapi Memisahkan Kita

Tidak ada kejahatan yang sempurna. Mungkin larik ini yang paling tepat untuk mengambarkan kejadian Peristiwa Duren 3 yang ditutup-tutupi namun akhirnya terbongkar juga.

Dan Sambo memang bukan Rambo, begitu pula sebaliknya. Keduanya dibandingkan karena namanya mirip-mirip kalau diucapkan.

Tapi namanya mulut netizen memang tak bisa dibungkam. Lain cerita kalau nanti ada yang melaporkan, barangkali bisa terkencing-kencing di celana.

Jadi membandingkan antara Sambo dan Rambo terus dilakukan. Rambo sikat penjahat, Sambo sikat anak buah, begitu kata netizen.

Yang lain menambahkan Rambo prajurit yang ahli menembak lawan di medan perang, Sambo prajurit yang ahli menembak ajudan.

Tapi komentar seperti diatas belum seberapa. Di media sosial banyak komentar lainnya yang lebih sangar.

Tentu saja banyak orang menjadi jengah karena hampir sebulan yang trending di media sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Peristiwa Duren 3.

Betapa tidak, seorang Dahlan Iskan sekalipun telah menulis banyak artikel di catatan hariannya. Sama atau bahkan lebih banyak dari ketika dia menulis soal ‘prank’ sumbangan trilyunan dari keluarga Akidi Tio untuk penanggulangan Covid 19.

Salah satu yang jengah adalah teman saya hingga mengirimi pesan mempertanyakan soal betapa banyak orang yang tiba-tiba menjadi ahli soal tembak-tembakan. Banyak detektif dadakan.

Saya hanya menjawab bahwa sebagian besar netizen memang berbakat besar menjadi intel. Dengan teori konspirasi mereka bahkan terlihat lebih hebat dari FBI, CIA dan Mossad.

Prestasi netizen dalam bongkar membongkar memang dahsyat. Seperti misalnya membongkar berita Ratna Sarumpaet yang wajahnya babak belur karena dipukuli.

Usut punya usut ternyata karena operasi. Netizen berjasa besar dalam membongkar kejanggalan kesaksian Ratna Sarumpaet yang mengaku dipukuli itu.

Dan masih banyak contoh lainnya.

Netizen Indonesia memang luar biasanya, Namun maafkan saya karena lebih memilih untuk menyukai cerita Rambo ketimbang Sambo.

note : sumber gambar – TIRTO.ID