KESAH.ID – Pernah mempunyai sumber minyak yang berlimpah, Indonesia kemudian sulit keluar dari jebakan Bahan Bakar Minyak yang murah, ramah di kantong masyarakat. Mempertahankan subsidi untuk semua jenis BBM menjadi tak mungkin lagi. Berbagai upaya dilakukan untuk mengefektifkan subsidi namun kebocoran masih terjadi disana-sini. Mensubsidi dengan tepat sasaran selalu menjadi persoalan.
Joko Widodo memang pantas dipuji atas keberaniannya.
Bukan karena begitu percaya diri mengunjungi Rusia dan Ukraina sekaligus, padahal kedua negara itu masih dalam keadaan perang.
Tapi soal ‘berani’ menyisihkan anggaran ratusan trilyun dari APBN untuk mensubsidi BBM.
Ya, Jokowi tidak membiarkan harga BBM melejit mengikuti harga pasar, harga yang membuat dunia berada dalam krisis energi, krisis yang merembet dan menyeret inflasi melambung tinggi.
Amerika Serikat, negeri yang konon kaya raya saja tak berani melakukannya. Harga BBM disana dibiarkan melambung tinggi, naiknya sudah kelewat-lewat.
Jepang pun juga sudah kerepotan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Setelah kurang lebih 11 tahun mengistirahatkan semua pembangkit listrik nuklirnya, mulai berpikir untuk mengaktifkannya kembali.
Rakyat Jepang yang konon dipaksa irit listrik yang dipasok oleh energi terbarukan ternyata tak lagi bisa lebih irit lagi. Jumlah pasokan energi dari panas matahari dan angin yang angin-anginan ternyata tak mencukupi.
Pilihan untuk menambah pasokan lewat energi listrik dengan BBM dan Batubara jelas mencekik leher saat ini, maka tidak ada pilihan lain bagi Jepang kecuali kembali mengaktifkan PLTN-nya sebagai pilihan termurah, tercepat dan paling menjamin kebutuhan energinya terpenuhi.
Amerika Serikat memang tak takut inflasi karena disana gudangnya ahli ekonomi yang pintar matematika ekonomi.
Sedangkan Jepang tak takut bahaya kecelakaan nuklir, sebab kecelakaan terakhir di Fukushima karena Tsunami ternyata tak sungguh mengerikan seperti bayangan banyak orang. Memang ada kebocoran tapi tak sampai menimbulkan radiasi yang memakan korban.
Tapi di Indonesia, inflasi dan bencana nuklir dianggap hantu yang menakutkan.
Kecelakaan nuklir di Indonesia mungkin masih bayangan karena sampai sekarang belum berhasil membangun PLTN. Belum berhasil karena sebagian masyarakat menganggap nuklir lebih menakutkan daripada hantu dan komunisme.
Sedangkan inflasi selalu sebisa mungkin dihindari, ditekan serendah-rendahnya. Sebab inflasi di Indonesia secara otomatis akan meningkatkan jumlah orang miskin. Sebagian besar rakyat Indonesia akan kehilangan daya beli jika inflasi meninggi.
Inflasi yang meninggi juga akan membuat Indonesia turun peringkatnya sebagai surga investor, padahal tanpa investor maka roda ekonomi akan melesu. Inflasi yang tak terkendali akan membawa ke jurang resesi bahkan depresi ekonomi.
Tak ada pilihan bagi Jokowi yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden RI. Jokowi harus mengakhiri dengan manis. Capaiannya mewujudkan cita-cita Sukarno dan presiden berikutnya untuk memindahkan Ibu Kota Negara bisa tercemar kalau di akhir masa jabatannya rakyat yang miskin jumlahnya tumpah ruah.
Harga BBM tak bisa dibiarkan melonjak-lonjak, mengkuti harga pasar yang mirip akrobat. Kalaupun ada yang mesti dibiarkan mungkin hanya harga BBM untuk pesawat. Sehingga harga tiket yang selalu nangkring bak pertama di puncak gunung terus bertahan tinggi.
BACA JUGA : Banteng Murka
Masa Indonesia menjadi negara pemberi subsidi murni sudah lewat, subsidi bukan lagi langkah politik melainkan lebih kepada upaya untuk menyelamatkan ekonomi.
Kenapa bukan subsidi murni?. Karena keuangan negara terbatas dan sumber keuangan negara sebagian besar berasal dari pajak, artinya dari rakyat.
Bisa disebut sebagai subsidi murni dari negara seandainya sumber uang negara tidak berasal dari rakyat, melainkan dari pendapatan lain misalnya komoditas atau kekayaan sumber daya alam, pendapatan yang jumlahnya melewati kebutuhan rutin pengelolaan pemerintah sehingga sisanya digunakan untuk dibelanjakan langsung atau menanggung belanja masyarakat.
Karena bukan subsidi murni maka mekanisme subsidinya menjadi terbatas, subsidinya pilih-pilih. Seperti BBM misalnya, yang disubsidi adalah pertalite, solar dan LPG 3 Kg.
Subsidi kemudian bersifat eklusif.
Hanya saja BBM yang disubsidi kemudian bisa dibeli oleh mereka yang tidak termasuk dalam golongan yang disubsidi, bukan hanya dibeli melainkan diperdagangkan kembali bukan dengan harga subsidi. Banyak orang kemudian mengambil untung dari BBM bersubsidi.
BBM bersubsidi kemudian tidak tepat sasaran, tidak tepat penggunaan dan negara kemudian dirugikan secara politik serta ekonomi.
Pertamina sebagai penyalur BBM bersubsidi kemudian mengusulkan penggunaan aplikasi MyPertamina sebagai syarat untuk pembelian BBM bersubsidi. MyPertamina sendiri merupakan aplikasi pembayaran digital untuk produk-produk pertamina guna memasuki ekosistem ekonomi digital.
Layanan ini sebenarnya sudah diluncurkan sejak tahun 2016 lewat kerjasama dengan Bank Mandiri. Bentuknya adalah Kartu Kredit Pertamina Mantercard. Kemudian pada tahun 2017 menjadi program My Pertamina Loyalty dalam bentuk kartu elektronik. Kartu ini bisa dipakai sebagai alat pembayaran non tunai di SPBU lewat mesin EDC.
Dan pada tahun 2019, MyPertamina kemudian menjadi aplikasi mobile yang diintegrasikan dengan dompet digital LinkAja. LinkAja sendiri merupakan aplikasi dompet digital dari BUMN untuk melakukan sinergi transaksi dalam lingkungan BUMN.
Kebijakan yang mewajibkan kepada pembeli pertalite dan solar di beberapa daerah untuk memakai MyPertamina membuat jumlah pengunduhnya meningkat. Konon setelah 1 Juli 2022, pengunduhnya mencapai angka 4 juta lebih.
Pertanyaannya bagaimana MyPertamina akan memvalidasi apakah seorang layak membeli BBM bersubsidi atau tidak?.
Dan pada sisi lain mempromosikan MyPertamina lebih berat sebelah untuk pembelian BBM bersubsidi bakal membuat ‘citra’ MyPertamina sebagai sarana untuk memasuki ekosistem ekonomi digital bakal tercemar. Value-nya, lebih untuk mengakses subsidi ketimbang kemudahan transaksi dan hal-hal lainnya.
Persoalan penyaluran subsidi secara tepat nampaknya masih akan menjadi persoalan bagai Pertamina dan Pemerintah.
BACA JUGA : Para Capres High Level Di Antara Tiga Poros
Bukan masyarakat Indonesia namanya kalau tidak memanfaatkan carut marut dan kebingungan pemerintah untuk melakukan gurauan.
MyPertamina pun dibanjiri dengan review bintang 5, tapi komentarnya lucu-lucu. Salah satunya ada yang mengaku telah memakainya mulai dari tahun 2005, saat MyPertamina bahkan belum dipikirkan.
Apa boleh mungkin ngakak sambil guling-guling memang merupakan cara terakhir bagi masyarakat Indonesia kebanyakan agar tidak stress dan kemudian punya niat bunuh diri.
Tertawa dan tesenyum memang merupakan obat mujarab untuk menghadapi kisruhnya kebijakan pemerintah dalam menolong warganya agar tidak semakin menderita.
Presiden berjanji tetap mempertahankan subsidi dan tentu saja pasti diamini oleh anggota DPR RI. Sebab subsidi itu isu yang seksi, bisa diklaim sebagai hasil perjuangan keras mereka saat reses nanti.
Tapi janji Presiden tetaplah janji manis di bibir namun kerap bikin sakit di hati.
Terbukti akhir-akhir kebanyakan SPBU akan memasang tulisan di depan “Pertalite Sedang Dalam Pengiriman’.
Dan solar sudah lama langka, lihat saja di beberapa SPBU yang agak jauh dari pusat kota, antrian truk peminum solar mengular, sepertinya sudah permanen hingga membuat pemilik outlet di sepanjang jalan menjadi murung setiap hari. Dagangan barang dan jasanya tertutup antrian truk.
Wajar jika kemudian banyak yang beranggapan bahwa tengah ada akal-akalan. Akses kepada subsidi yang diperumit adalah cara dari Pertamina untuk memaksa masyarakat beralih dari BBM bersubsidi ke BBM non subsidi.
Sulitnya mencari pertalite di SPBU ternyata justru membuat pertamini menjamur. Dan deretan pertamini itu berada tak jauh dari SPBU, meski aktivitas itu sebenarnya illegal.
Berdasarkan fakta ini, kelak memakai MyPertamina untuk mengakses BBM bersubsidi pun bisa sia-sia, apabila banyak SPBU rajin memasang pemberitahuan “pertalite dan solar sedang dalam pengiriman’.
Jadi alih-alih memakai MyPertamina, akan lebih gampang untuk mereka yang membeli BBM bersubsidi untuk mengisi tanki motornya singgah ke pertamini saja.
Apalagi outlet pertamini umumnya berada di warung kelontong yang buka 24 jam. Meski harganya lebih mahal dari harga subsidi namun terasa akan lebih murah dihati karena pertamini jarang membuat sakit hati.
note : sumber gambar – TRIBUNNEWS.COM








