KESAH.IDSejarah terkadang mencatat kisah-kisah ambigu. Mereka yang dituduh berbuat jahat lengkap dengan bukti-bukti kejahatannya ternyata masih diterima dan dikenang baik oleh masyarakat.

Dengan dukungan dari sekelompok partai politik berhaluan kiri, Salvador Alende berhasil menjadi Presiden Chili dari tahun 1970 hingga 1973.

Ditangan Alende, kondisi ekonomi Chili mulai menunjukkan arah perbaikan. Sayangnya Alende tak disukai oleh Amerika Serikat karena aliran politiknya. Embargo dilakukan oleh Amerika Serikat yang dipimpin oleh Richards Nixon.

Chili yang pendapatannya tergantung pada ekport tembaga menjadi kalangkabut. Situasi politik memanas.

11 September 1973, Alende jatuh oleh kudeta sekelompok militer yang dipimpin Agusto Pinochet. Amerika Serikat berada di belakang serangan ini sehingga Alende tak berdaya dan ditemukan tewas dengan posisi memegang senjata.

Memegang kuasa, Agusto Pinochet segera membersihkan para pengikut Alende, ribuan orang dikumpulkan di sebuah stadion, diinterogasi dan sebagian langsung ditembak mati.

Dalam rencana kudeta, kelompok militer bersepakat untuk memimpin secara bergiliran. Tapi Pinochet mengingkarinya dan melakukan konsolidasi sendiri hingga dia mengklaim sebagai pimpinan tertinggi dan presiden Chili pada tahun 1974.

Di masa susah karena embargo Amerika Serikat, Chili berkembang menjadi produsen dan pengekspor kokain. Laboratorium untuk mengolah kokain ada di gurun-gurun dan pesisir panjang yang terjaga menjadi jalan untuk menyelundupkannya keluar negeri.

Pinochet melakukan operasi besar-besaran, menghancurkan laboratorium produsen kokain dan menangkap ratusan orang pembuat dan pedagang kokain. Mereka semua dibunuh.

Watak militer dan tangan besinya membuat sarang narkoba di Chili berhasil dibersihkan. Mirip di Indonesia ketika jaman pemerintahan Presiden Suharto. Saat angka kriminalitas mengkhawatirkan, Suharto melakukan ‘pembersihan’ lewat operasi yang dikenal sebagai Petrus, Penembakan Misterius.

Operasi pembersihan yang dilakukan oleh Pinochet maupun Suharto dipandang positif oleh publik, sebuah kebijakan yang mesti melanggar hukum namun bisa membuat masyarakat tenang. Pembunuhan itu dikenang sebagai perbuatan baik.

Namun selama berkuasa, Pinochet ternyata bukan hanya ‘membersihkan’ penjahat, melainkan juga memberangus lawan-lawan politiknya untuk mempertahankan kekuasaan sekuat dan selama mungkin.

Akhirnya Pinochet jatuh, demikian juga Suharto. Keduanya jatuh oleh arus gerakan demokratisasi, meski jatuh dari tampuk kursi Presiden keduanya tetap punya pengaruh kuat, tidak ada langkah hukum di dalam negeri untuk mendudukkan sebagai pesakitan. Keduanya sama-sama bebas dari tuntutan hukum apapun.

Namun Pinochet sempat diadili karena kejahatannya. Saat berkunjung ke London, Pinochet kemudian ditangkap karena ada tekanan kuat dari masyarakat internasional. Pinochet menjadi orang pertama yang diadili dengan prinsip yurisdiksi universal. Pinochet dituduh melakukan genosida dan aksi teror yang disertai pembunuhan.

Ditetapkan bersalah, Pinochet dijatuhi hukuman tahanan rumah di Wentworth Club, Inggris. Spanyol meminta Pinochet diektradisi untuk diadili di Spanyol namun ditolak oleh Inggris. Dengan alasan kesehatan akhirnya Pinochet diterbangkan pulang ke Chili.

Pada ulang tahun ke 91, Pinochet membuat pernyataan yang dibacakan oleh istrinya. Dia menyatakan akan memikul semua tanggungjawab politik yang dilakukan semasa berkuasa.

Pinochet diadili dan kembali dijatuhi hukuman sebagai tahanan rumah. Tuduhannya adalah penculikan dan pembunuhan pada dua pengawal Alende pada saat hari kudeta. Pada tanggal 10 Desember 2006, Pinochet meninggal dunia.

BACA JUGA : Kos Berlabel LV

Perbuatan baik Pinochet di Chili ternyata melahirkan penderitaan di negeri lainnya, tepatnya di Kolombia.

Karena operasi pembersihan yang dilakukan oleh Pinochet, sebagian dari produsen kokain melarikan diri dan mengalihkan operasinya di Kolombia, tepatnya ke Medelin. Kebutuhan kokain yang besar di Amerika Serikat segera mendudukkan Kolombia sebagai produsen utama kokain dunia.

Medelin menjadi tempat yang sempurna karena sejak tahun 70-an kota ini telah berkembang menjadi pusat penyelundupan berbagai macam barang. Para penyelundup di Medelin telah mempunyai infrastruktur dan jalur yang mapan untuk membanjiri Amerika Serikat dengan kokain.

Lahirlah legenda di Kolombia, seorang pria yang wajahnya chubby. Dari tampilannya cenderung lucu, imut, kumisnya juga tak membuat wajahnya jadi sangar. Pria itu adalah Pablo Emilio Escobar Gaviria atau lebih populer dengan sebutan Pablo Escobar.

Memulai karir sebagai penjahat kecil-kecilan, Pablo Escobar perlahan menempa diri menjadi penjahat kelas kakap. Masuk dalam dunia perdagangan kokain dengan segera merubahnya menjadi orang yang sangat kaya dan berkuasa.

Pablo Escobar memimpin Kartel Medelin yang didirikan bersama dengan beberapa produsen kokain lainnya. Tujuannya adalah memonopoli produksi dan perdagangan kokain.

Menjadikan Amerika Serikat sebagai negara tujuan utama, Pablo Escobar bersama Kartel Medelin panen uang dollar. Uang panas itu tak bisa disimpan dalam bank, semua diterima dalam bentuk tunai dan dikirim dengan berbagai cara dari Amerika Serikat.

Sampai pada masanya, Pablo Escobar kesulitan untuk menyimpan uangnya, mencuci uang hingga menjadi legal juga tidak mudah. Konon setiap minggu, Pablo Escobar mesti membelanjakan kurang lebih 1000 USD untuk membeli karet gelang yang digunakan untuk mengikat gepokan uang.

Uangnya disimpan dimana-mana termasuk dikuburkan di berbagai tempat.

Dan sebagian lainnya tentu saja ‘dibelanjakan’ untuk menyuap petugas keamanan, aparat penegak hukum, politisi, militer, bahkan menteri hingga presiden.

Secara natural Pablo Escobar juga dikenal dekat dengan masyarakat miskin, membangun berbagai macam fasilitas olahraga, rumah untuk penduduk dan fasilitas-fasilitas lainnya. Gembong kokain yang tak segan menghabisi siapapun itu dikenal sebagai ‘orang baik’ di kalangan masyarakat bawah.

Untuk melindungi dirinya, Pablo Escobar membentuk komune. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda hingga orang tua di lingkungan tempat tinggalnya dijadikannya benteng, mereka akan ikut menjaga Pablo Escobar, menjadi mata-mata, mengamati apapun dan juga siapapun yang berniat mengganggu sang bos Kartel Medelin itu. Ibaratnya dinding sekalipun mempunyai mata dan telinga sehingga semua hal akan sampai kepada Pablo Escobar.

Dengan uang dan pengaruhnya, Pablo Escobar menjadi terlalu percaya diri, operasi kejahatannya dilakukan secara terbuka. Pablo Escobar memimpin Kartel Medelin dengan emosional, tersinggung sedikit langsung main bunuh. Siapapun akan dihajar jika mengusik kepentingannya.

Saking terkenalnya dan merasa kuat, Pablo Escobar pun sampai bermimpi menjadi Presiden Kolombia di suatu hari nanti. Meski politik Kolombia busuk namun karir politik Pablo Escobar tidak mulus, dia terganjal. Citranya sebagai penjahat kelas kakap yang ditakuti sulit untuk diterima dalam dunia politik formal. Pengaruh politik boleh kuat tapi tetap tak layak untuk menduduki jabatan politik apalagi jabatan tertinggi.

Kejahatan Pablo Escobar semakin menjadi-jadi ketika dia mulai memakai teror lewat bom, banyak orang tak bersalah menjadi korban. Berkali-kali Pablo Escobar berperang dengan pemerintah, berhadap-hadapan dengan tentara dan polisi, Kolombia porak poranda.

Amerika Serikat ikut campur dan berniat menangkap serta mengektradisi Pablo Escobar ke negeri Paman Sam untuk diadili disana. Tapi perjanjian ekstradisi dengan Kolombia tak kunjung terwujud.

Yang membuat banyak orang takut kepada Pablo Escobar adalah kelakuannya yang tak segan-segan untuk menghabisi orang yang tak disukainya hingga sampai ke anak, istri dan keluarga lainnya. Tak banyak orang yang mampu berbuat setega dan sekejam Pablo Escobar.

Takut ditangkap dan diekstradisi, Escobar membuat perjanjian dengan pemerintah Kolombia. Dia siap dipenjara namun membangun penjaranya sendiri, penjaga dan kepala penjaranya adalah orang-orangnya sendiri. Di dalam penjara yang lebih tepat disebut sebagai istana itu, Escobar justru menjadi leluasa memimpin operasi kejahatannya.

Penjara itu dikenal sebagai La Catedral, fasilitas dan lingkungannya jauh lebih mewah dari hotel bintang 5 sekalipun.

Kerajaan Escobar menjadi melemah ketika mulai terjadi perpecahan didalam Kartel Medelin. Selisih paham yang kemudian melahirkan intrik dan saling memerangi. Melemahnya Kartel Medelin menjadi kesempatan bagi Kartel Cali untuk menguat, kartel ini bekerja lebih teratur dibanding Medelin, mereka beroperasi lewat perusahaan-perusahaan yang sah layaknya pengusaha biasa.

Pablo Escobar semakin melemah ketika terpisah dari anak dan istrinya. Merasa keluarganya terancam, Pablo Escobar memerintahkan istrinya keluar negeri, hidup mengasingkan diri. Pilihannya adalah Jerman. Namun keinginan itu diganjal, istri dan anak serta ibunya dilarang masuk Jerman dan tak ada negara lain yang mau menerimanya.

Mereka pulang ke Kolombia dan ‘disandera’ oleh pemerintah. Pablo Escobar diserang pada titik paling lemah yakni keluarga terdekatnya.

Dalam posisi lemah kerajaannya diserang, Escobar berhasil meloloskan diri dan terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hingga kemudian berhasil dipergoki di tempat persembunyian terakhirnya. Raja Kokain terbesar itu tewas diatas atap.

Kematiannya masih ditangisi oleh warga miskin Kolombia, puluhan ribu orang mengantar ke pemakamannya. Istri dan anaknya mengenang Pablo Escobar sebagai suami dan ayah yang baik hati serta amat perhatian pada keluarga. Pun demikian dengan banyak warga miskin yang menjuluki Pablo Escobar sebagai Robin Hood dari Kolombia.

BACA JUGA : Bubble Burst, Tumbangnya Perusahaan Rintisan

Kabarnya dalam urusan narkoba, Kalimantan Timur menduduki peringkat 2 nasional untuk pemakaiannya. Bahkan untuk sabu-sabu menduduki peringkat pertama.

Meski ada banyak kabar burung soal perilaku petugas kepolisian dalam urusan narkoba namun terbukti ruang tahanan menjadi penuh oleh mereka yang tertangkap karena narkoba.

Soal apakah penjara membuat seseorang bertobat tidak lagi berdagang dan mengkonsumsi narkoba itu merupakan kisah lainnya. Yang pasti cerita tentang seseorang yang mengontrol perdagangan atau bahkan mengedarkan narkoba dalam penjara masih selalu ada.

Hanya saja kisah tentang orang super kaya, tajir melintir karena narkoba belum terdengar luas disini. Bisa jadi ada namun tak mungkin untuk terbuka atau tampil mencolok.

Orang-orang yang super kaya hingga namanya masuk dalam daftar umumnya adalah mereka yang berusaha di Kalimantan Timur, usaha yang legal utamanya dalam bidang perhutanan, pertambangan dan perkebunan.

Secara hukum positif tak ada ‘kejahatan’ dalam operasi usaha mereka selama usahanya sesuai dengan apa yang ada dalam dokumen perjanjian dan perijinan dari pemerintah. Tapi apakah yang legal tidak pernah melakukan operasi yang illegal, tentu saja tak ada jaminan.

Dalam banyak kasus, operasi perusahaan legal dalam bidang kehutanan, pertambangan dan perkebunan kerap berurusan dengan masyarakat. Ada banyak konflik lahan dengan warga, tidak sedikit masyarakat termasuk masyarakat adat merasa perusahaan yang memperoleh ijin dari negara menyerobot lahan mereka.

Dan cara menghadapi masyarakat yang merasa dirugikan juga tak selalu baik. Tak kurang jumlah warga yang ruang hidupnya hilang kemudian berurusan dengan polisi dan aparat penegak hukum lainnya. Ada di antara mereka yang sampai mencicipi hidup dibalik jeruji besi karena dikriminalisasi ketika memperjuangkan hak hidupnya.

Pun jika diperiksa dengan benar, perusahaan yang beroperasi dengan legal masih tetap melakukan pengeluaran-pengeluaran yang tidak legal dalam berbagai bentuk agar operasinya lancar jaya.

Seiring dengan semakin terasanya dampak tidak baik atas lingkungan hidup akibat operasi perusahaan perhutanan, pertambangan dan perkebunan baik di masa lalu maupun yang sekarang, semakin kuat pula harapan dari pemerintah dan masyarakat terhadap perbuatan baik perusahaan dan pemiliknya.

Perbuatan baik yang didamba itu sering disebut sebagai CSR atau tanggungjawab sosial dan lingkungan perusahaan.

Sayangnya sulit benar menghitung dengan benar apa dan bagaimana CSR yang dilakukan oleh perusahaan. Alhasil perusahaan sudah merasa memenuhinya namun dilain pihak pemerintah dan masyarakat merasa perusahaan belum cukup melakukannya.

Beberapa waktu lalu sempat ada ribut-ribut soal CSR. Pasalnya ada kabar tentang dana puluhan milyard yang disumbangkan oleh group perusahaan tambang kepada beberapa universitas besar di Jawa.

Kabar yang dihembuskan sebagai sesuatu yang ‘menyakiti’ warga Kalimantan Timur. Sebab perusahaan yang membuat pemiliknya menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia itu justru menyumbangkan uang keluar sana. Ibarat kata mereka yang menerima sumbangan hanya mengunyah nikmatnya nangka tanpa terkena getahnya.

Perusahaan itu membantah, menyebut bahwa yang disumbangkan adalah uang dari kantong pemilik perusahaan, jadi itu bukan bagian dari CSR melainkan kedermawanan. Soal kedermawanan tentu saja tak bisa diatur, suka-suka yang punya uang mau menyerahkan pada siapa.

Soal tuduhan ‘kacang lupa kulit’ tentu saja dengan mudah perusahaan bisa berkilah. Barangkali mereka punya daftar panjang berita dan album foto yang menunjukkan mereka telah menyumbangkan ini serta itu.

Pun sebagai perusahaan publik mereka punya kewajiban membuat laporan tahunan yang didalamnya bisa dibaca apa bentuk dan berapa banyak yang sudah mereka lakukan serta keluarkan untuk memenuhi tanggungjawab sosial dan lingkungan.

Pada akhirnya ketika bicara soal CSR atau tanggungjawab sosial dan lingkungan  dengan segala carut marutnya bisa mengantar pada kesimpulan bahwa terkadang orang jahat memang melakukan perbuatan baik.

note : sumber foto – Facebook