Minggu keempat bulan Mei 2022, dua sosok yang berasal dari generasi dan latar belakang berbeda menjadi pebincangan lewat peristiwa yang bertolak belakang.

Sosok pertama yang membuat gempar netizen adalah Maudy Ayunda, gadis dengan nama lengkap Ayunda Faza Maudya ini menjadi bahan perbincangan karena menikah dengan kekasihnya orang Korea Selatan. Pernikahannya digelar di halaman rumah ibunda Maudy pada tanggal 25 Mei 2022.

Dan sosok kedua adalah Ahmad Syafii Maarif atau lebih dikenal sebagai Buya Maarif, ulama dan cendekiawan yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Buya Maarif meninggal pada tanggal 27 Mei 2022 dan ramai dikenang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai salah satu bapak bangsa semasa hidupnya.

Saya tak mengenal keduanya secara pribadi. Yang saya tahu Maudy Ayunda awalnya dikenal sebagai seorang artis lewat film berjudul Untuk Rena. Dalam Festival Film Jakarta, lewat film itu Maudy dianugerahi sebagai Pemeran Wanita Terbaik.

Bakatnya dalam dunia akting terus diasah lewat sejumlah film berikutnya seperti Sang Pemimpi, Rumah Tanpa Jendela, Tendangan Dari Langit, Malaikat Tanpa Sayap, Perahu Kertas 1 & 2, Refrain, 2014 : Siapa di Atas Presiden, Rudy Habibie dan Trinity, The Naked Traveler.

Selain piawai berakting, Maudy juga bersuara merdu dan pintar memainkan sejumlah alat musik seperti gitar serta piano. Lagu-lagu hitsnya antara lain : Tiba TIba Cinta Datang, Untuk Apa, Perahu Kertas, Cinta Datang Terlambat, Jakarta Ramai, Kutunggu Kabarmu, Aku Sedang Mencintaimu. Maudy juga pernah berduit dengan David Choi, penyanyi pop akustik terkenal asal Amerika Serikat membawakan lagu berjudul By My Side.

Selain menjadi bintang di dunia keartisan, Maudy Ayunda ternyata juga cemerlang dalam dunia pendidikan. Gemar membaca sejak kanak-kanak, Maudy menguasai tiga bahasa. Setelah tamat SMA dan mengikuti tes di berbagai perguruan tinggi ternama, Maudy diterima sebagai mahasiswa di Universitas Oxford dan Universitas Columbia.

Dunia keartisan yang membuatnya terkenal ditinggalkan. Maudy akhirnya memilih meneruskan pendidikan di Universitas Oxford, jurusan Philosophy, Politics, Economics {PPE}.  Maudy Ayunda menyelesaikan pendidikannya dengan predikat cum laude.

Lulus dari Oxford, Maudy kemudian melanjutkan studinya ke universitas ternama lainnya. Pendidikan pasca sarjana berhasil diselesaikan di Stanford University. Maudy meraih gelar ganda untuk jurusan bisnis dan pendidikan.

Maret 2022 lalu, Menteri Komunikasi dan Informasi, Johnny G Plate di Kantor Presiden mengumumkan bahwa Maudy Ayunda ditunjuk oleh pemerintah sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk Presidensi G20 Indonesia.

Sebagai Jubir, Maudy bertugas untuk menyampaikan informasi terkait pelaksanaan KTT G20 Indonesia. Maudy juga bertugas untuk menyampaikan perkembangan informasi terkait rangkaian pertemuan G20 mulai dari working group, engagement group dan side event lain secara rutin.

Penunjukan Maudy sendiri sempat menimbulkan polemik. Maudy dinilai tidak mempunyai pengalaman diplomatik. Dalam beberapa wawaancara dengan media Maudy dinilai tidak mampu menjawab dengan baik pertanyaan terkait dengan politik.

Penunjukan Maudy Ayunda juga dinilai sebagai bagian dari gimmick Presiden Joko Widodo yang gemar memasukkan anak-anak muda ke dalam lingkaran pemerintahannya. Namun bias atau condong pada anak-anak muda perkotaan.

Maudy memang mempunyai latar belakang terang dan cemerlang, namun masih perlu waktu untuk membuktikan dan membaktikan dirinya pada bangsa dan negara.

BACA JUGA : Contradictio In Actu 

Sama halnya dengan Maudy Ayunda, saya juga tak mengenal Ahmad Syafii Maarif atau Buya Maarif secara pribadi. Berada dalam ruang yang samapun rasanya belum pernah. Hanya saja saya mendapat banyak cerita tentang Buya Maarif, salah satunya dari cantrik-nya di Maarif Institute.

Akhir tahun 97-an, ketika saya mulai bersentuhan dengan kelompok interfaith group, tokoh-tokoh yang kerap saya temui adalah Th. Sumartana, Johan Effendi, Mansyur Faqih, Mochtar Mas’oed, Din Samsudin dan beberapa orang lainnya. Buya Maarif belum diperbincangkan, karena Gus Dur waktu itu masih menjadi bintang.

Namun sepeninggalan Gus Dur, kedudukan Buya Maarif menjadi teramat penting, sebagai guru bangsa, penjaga Pancasila, pengobar semangat toleransi, sejuk dan mengayomi.

Dibanding dengan banyak tokoh kemanusiaan lainnya, Buya Maarif menjadi istimewa dengan latar belakangnya yang berasal dari kalangan masyarakat biasa, yang kemudian menjadi akademisi lalu berkembang menjadi tokoh agama dan bangsa.

Sama-sama menjadi murid dari Fazlur Rahman, cendekiawan dari Pakistan di Universitas Chicago, Buya Maarif dan Nurcholis Majid menunjukkan eksistensi kecendekiawanan yang berbeda. Nurcholis dikenal sebagai pembaharu pemikiran, sementara Buya Maarif lebih memilih jalan pejuang untuk mewujudkan pemikiran dan gagasannya dalam berbagai gerakan.

Buya Maarif tidak hanya aktif mengajar melainkan juga terlibat dalam berbagai gerakan pembelaan, bukan hanya agama dan kebudayaan melainkan juga politik. Buya Maarif dikenal sangat aktif berada di barisan depan yang menentang pelemahan terhadap KPK.

Sama seperti Gus Dur, Buya Maarif adalah orang yang berani. Berani untuk berpikir, bersuara dan bertindak secara berbeda dari kebanyakan orang lainnya. Termasuk berani membela mereka yang lemah dan dilemahkan.

Tak heran sebagai tokoh yang berasal dari Minang, ada cukup banyak orang Minang yang tidak menganggap Buya Maarif sebagai tetua Minang yang patut dihormati. Buya Maarif oleh mereka dianggap tidak bertindak sebagaimana layaknya orang Minang dalam keyakinan mereka. Buya Maarif kerap menunjukkan sikap yang terlalu ramah dan membela umat beragama lain.

Kerisauan Buya Maarif memang telah melampaui sekat-sekat sempit SARA, suara moralnya adalah tentang bangsa dan negara yang Bhineka Tunggal Ika. Buya Maarif menyuarakan segala hal dengan kejujuran, tanpa tedeng aling-aling dan pamrih apapun dibelakangnya kecuali hanya demi tegaknya demokrasi, keadilan dan kesejateraan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi banyak orang yang mengenalnya secara dekat, mereka pasti bisa bersaksi atas integritas Buya Maarif, apa yang diomongkan selalu selaras dengan apa yang dilakukannya. Hidup Buya Maarif adalah monumen dari konsistensinya.

Dengan semua kedudukan dan pencapaiannya, Buya Maarif tetap hidup sederhana, tidak menumpuk harta, gemar berjalan kaki dan naik kendaraan umum untuk pergi menghadiri undangan dari Istana Negara.

Buya Maarif mengesampingkan semua privilege yang mestinya bisa didapat. Termasuk ketika harus rutin memeriksa kesehatan di PKU Muhammadiyah. Semua yang disana pasti mengenalnya, namun Buya Maarif tetap mengantri sebagaimana masyarakat lainnya.

27 Mei 2022 pukul 10.00 pagi Buya Maarif purna menunaikan perjuangannya dalam usia 87 tahun. Hampir setengah abad Buya Maarif menumpahkan energi besar hidupnya untuk berjuang menjaga Indonesia sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dan negara.

Buya Maarif terus menjaga kerisauannya atas semua perkembangan dan dinamikan bangsa serta negara, terus bersuara dan bergerak agar Indonesia nyaman serta aman untuk semua.

Terimakasih Buya Maarif, tetaplah tersenyum dalam keabadian.

BACA JUGA : The Thinker vs The Overthinker

Membaca kabar pernikahan Maudy Ayunda dan reaksi netizen Indonesia membuat saya teringat tentang Klenting Kuning, Bawang Merah dan Bawang Putih, sebuah cerita ‘Cinderella’ versi Melayu.

Sementara itu ketika menelusuri berbagai kenangan tentang Buya Maarif, pikiran saya kemudian mengarah pada Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.

Maudy tentu bukan Kelnting Kuning. Bawang Merah atau bahkan Cinderela yang mesti meninggalkan sepatu kacanya hingga bertemu dengan pangerannya. Kisah Maudy dari kecil mulai dari pendidikan, karir hingga percintaannya terasa mulus, semulus jalan tol.

Mulus seolah penuh privilege membuat netizen bertanya “Apa istimewanya Maudy?”

Pertanyaan yang mengelitik pasalnya bukankah biasa saja andai Maudy kemudian mencapai posisinya saat ini. Sebab dari kecil selalu bersekolah di sekolah terbaik, di sekolah-sekolah yang jejaring pertemanannya istimewa.

Banyak orang lain yang lebih seru perjuangannya ketimbang Maudy.

Sebenarnya tidak juga, banyak orang dengan privilege ternyata tidak bertumbuh menjadi pribadi yang menginspirasi. Larut dalam semua kelebihannya sehingga tak berkembang menjadi pribadi yang mempesona.

Tapi sudahlah, tak usah memuji terlalu tinggi toh tak ada yang sempurna di dunia. Dan Maudy tengah memulai perjalananan hidupnya yang tak akan semudah masa-masa sebelumnya.

Untuk para penerus perjuangan Buya Maarif tentu saja juga tidak mudah menjaga semangat dan keberanian untuk terus berjuang. Buya Maarif adalah seorang pejuang, ksatria yang tidak mengandalkan ototnya. Kearifan dan kealiman merupakan senjata utamanya.

Satria Pinandito, mungkin julukan ini cocok untuk Buya Maarif. Keberanian, keteguhan dan ketegasannya dibalut dengan dengan sikap kenegarawanan, kecintaan pada tanah air dan keberpihakannya pada rakyat kecil, mereka yang lemah maupun dilemahkan.

Akhir-akhir ini kita menyaksikan banyak orang yang berjuang untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan NKRI dan komitmen pada Pancasila namun dengan cara-cara yang tak terpuji. Ada banyak keriuhan bahkan saling cela karena nasionalisme, pluralisme, multikulturalisme dan lain sebagainya.

Perjalanan untuk mewujudkan kedamaian, kenyamanan dan keamanan untuk semua diperjuangkan dengan urat dan otot, seolah taka da lagi kearifan dan kebijaksanaan.

Semoga saja kita akan segera menyaksikan tumbuhnya sosok-sosok baru yang mewarisi keutamaan-keutamaan yang telah diteladankan oleh Buya Maarif.