Sebaran sebuah penyakit mempunyai beberapa tingkatan. Sebuah penyakit yang muncul dan menyebar hanya di daerah tertentu  serta menjadi karateristik sebuah wilayah maka akan disebut sebagai endemi.

Jika sebuah penyakit muncul dan kemudian menyebar dengan cepat dalam sebuah wilayah dan mempengaruhi populasi yang tinggal atau berada di wilayah tersebut maka akan disebut sebagai epidemi.

Dan jika epidemi itu meluas mengenai hampir seluruh wilayah geografis negara, benua atau bahkan seluruh dunia maka akan disebut sebagai pandemi.

Covid 19 menjadi pandemi terbaru yang menyerang dunia setelah sebelumnya diserang oleh pandemi HIV/AIDS serta beberapa epidemi seperti ebola, flu burung dan SARS.

Kenapa sebuah penyakit tidak selalu bisa menyerang atau menginfeksi populasi manusia secara global?.

Itulah keistimewaan bumi yang bulat bundar ini. Meski terhubung satu sama lain setiap wilayah geografis mempunyai pengaruh yang khas pada mahkluk hidup yang mendiaminya.

Pun ketika sebuah penyakit menyerang seluruh populasi di muka bumi ternyata dampak lokalitasnya juga tidaklah sama.

Apa yang kemudian dirumuskan oleh otoritas kesehatan dunia lewat prosedur atau panduan umum unguk menangani serangan pandemi tidak akan sama efektifitasnya ketika diimplementasikan dalam penanggulangan wabah oleh masing-masing negara.

Efektifitas sebuah pendekatan keberhasilannya memang tidak melulu hanya pada tahapan atau prosedur yang telah dirumuskan melainkan juga terpengaruh oleh faktor lain mulai dari politik, ekonomi, pengetahuan masyarakat, perilaku terkait kebijakan dan lain-lain.

Paduan antara berbagai hal itu membuat kecepatan sebuah negara untuk mengatasi atau mengendalikan wabah penyakit menjadi berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat dan ada pula yang naik turun terus bergejolak namun tak jelas benar kapan akan berakhir.

Melihat perjalanan pandemi Covid 19 sejak semula, mungkin akan membuat kita senyum-senyum kesal.

Tatkala Covid 19 mulai melintasi batas Wuhan, China, kita masih tersenyum lebar. Ketika ada banyak negara mulai melakukan pembatasan sosial, kita malah curi-curi kesempatan, mengkorting harga perjalanan wisata ke 9 destinasi unggulan.

Mungkin memang pantas untuk percaya diri, sebab negeri kita sepanjang hari selalu disinari mentari. Dan dari berbagai bukti berpanas-panas ria akan membuat yang tertular tidak terinfeksi.

Namun ternyata virus corona merupakan virus yang mengusung bendera anti diskriminasi. Hingga akhirnya terjadi ledakan jumlah orang yang terpapar di negeri ini. Dan karena kebanyakan yang terpapar adalah orang perkotaan, kita masih merasa bahwa virus ini hanya menyasar orang kaya, bukan orang miskin dan sederhana di desa-desa.

Dan sekali lagi kemudian terbukti sifat anti diskriminasi virus ini, semua kena, orang desa-orang kota, orang kaya dan orang miskin sedehana. Bahkan kemudian virus ini tak peduli lagi soal umur.

Mengulur langkah antisipasi tanpa kebijakan terukur membuat pemerintah terdesak. Mesti bergerak serba cepat dengan pengetahuan dan kemampuan yang ternyata amat terbatas.

Standar pandemi adalah isolasi dan karantina, sesuatu yang tidak bisa kita penuhi. Kosa kata lockdown menjadi populer namun tak pernah menjadi sebuah pilihan. Yang kemudian kita kenal adalah PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang kemudian berkembang menjadi PPKM, PPKM Mikro, PPKM Darurat dan PPKM level 1 sampai 4.

Juli dan Agustus 2021, PPKM kemudian menjadi singkatan paling terkenal di Indonesia. Karena setiap dua minggu sekali selalu diperbaharui levelnya.

{ baca juga : Yang Diharapkan Warga Katika Presiden Datang Ke Samarinda

Messi Membuat Kita Merana

Untung disaat pemberlakuan PPKM yang bertingkat-tingkat itu, lewat saluran televisi atau saluran online lainnya kita bisa menyaksikan berbagai perhelatan yang diselenggarakan di negara dan benua lainnya.

Di Eropa sedang berlangsung Piala Eropa, Di Amerika Latin sedang berlangsung Piala Amerika dan di Jepang digelar Olimpiade.

Meski senang karena ada tontonan untuk menghilangkan kegabutan, namun di dalam hati muncul pula rasa iri. Terutama terhadap yang terjadi di Eropa sana. Betapa mereka sudah bersuka, memenuhi stadion, beramai-ramai, ketawa-ketiwi tanpa lagi ditutupi masker.

Dan setelah Piala Eropa usai, kompetisi liga masing-masing negera Eropa juga akan segera digulirkan. Saat di negeri kita banyak orang rebutan untuk divaksin, di Eropa sana banyak klub bola berebutan untuk merekrut pemain-pemain bola incarannya.

Dan Messi kemudian menjadi gong pamungkas dari desas-desus, gossip dan drama perpindahan satu pemain dari sebuah klub ke klub lainnya.

Tidak jelas benar apakah dia terpaksa atau dipaksa meninggalkan Barcelona. Namun yang pasti kedatangannya ke Paris, Perancis lagi-lagi membuat kita terpana betapa disana seolah telah kembali ke keadaan semula.

Ramai orang menyambutnya dan ramai pula orang mengantri untuk membeli jersey yang bertuliskan namanya.

Para pengemar bola di negeri kita pasti geram melihat itu semua. Setelah muncul harapan tentang sepakbola dengan masuknya para selebritas dan youtuber ternama membeli klub-klub bola, namun harapan untuk menyaksikan kiprah klub liga Indonesia tak jelas rimbanya.

Apakah ketidakjelasan ini karena pertandingan olahraga belum diperbolehkan?.

Dalam berbagai instruksi yang dikeluarkan oleh pemerintah nasional yang kemudian disalin oleh pemerintah daerah, pertandingan olahraga dalam status PPKM level 4 sekalipun sebenarnya sudah diperbolehkan.

Hanya saja ada catatan yaitu tanpa penonton.

Nah, sanggupkah penyelenggara kompetisi di Indonesia memutar roda kompetisi tanpa penonton?.

Ini bukan semata soal pemain yang tidak bersemangat karena tidak ada yang bersorak sorai, melainkan penyelenggara yang gontai karena tak tahu harus mendapatkan uang darimana untuk menyelenggarakan pertandingan.

Pun demikian dengan klub-klub peserta, perpindahan dari satu kota ke kota lain baik melalui darat, laut maupun udara mempunyai berbagai syarat yang membuat pengeluaran bertambah. Dan kompetisi yang tidak disaksikan penonton secara langsung membuat sponsor tak mau mengeluarkan dana dukungan yang besar.

Apa boleh buat, inilah nasib yang harus diterima para penggila bola yang setia pada sepakbola nasional. Nampaknya Messi selalu membuat kita merana dengan semua prestasinya. Messi yang didatangkan gratis oleh Paris Sant Germain dan belum dimainkan hingga hari ini ternyata sudah mendatangkan keuntungan buat klub dan kota yang didatanginya.

( baca juga : Yang Luput Diucapkan Dalam Pidato Kenegaraan

Rebutan Kuasa

Dibanding dengan putra-putri presiden yang lainnya, Kaesang dengan cepat menarik perhatian netizen Indonesia. Wajar saja, karena Kaesang yang sekolah di Singapura itu memang aktif bermedia sosial.

Lama tak menghadirkan kejutan setelah diterpa isu ghosting, Kaesang dengan jeli memanfaatkan kesempatan di tengah pandemi untuk mempopulerkan usahanya.

Seiring dengan perjuangan mengatasi pandemi, ternyata aktor-aktor politik di Indonesia juga tak luput menunggangi untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas untuk kontestasi pada tahun 2024 nanti.

Di tepian jalan pada berbagai kota di seluruh penjuru negeri muncul baliho-baliho bergambar tokoh politik tertentu yang naga-naganya hendak bersaing untuk menjadi calon presiden pada pemilu mendatang.

Wajar saja seorang aktor politik mencuri start, karena kalau mencuri uang bisa ditangkap oleh KPK.

Dan buat seorang politisi waktu tiga sampai 4 tahun bukanlah waktu yang lama. Jadi sedia payung sebelum hujan memang mesti dilakukan.

Hanya saja dalam situasi sekarang ini banjir baliho itu membuat masyarakat geram. Ada yang bertindak langsung dengan merusak baliho namun sebagian besar lainnya hanya mengumpat, berkeluh kesah serta menjadikan gurauan di media sosial.

Dan Kaesang jeli memanfaatkan kesempatan ini. Turut memasang baliho di media sosialnya, Kaesang mengebrak dengan postingan foto dengan tulisan “Saya siap untuk RI 1”.

Dan kemudian menyusul postingan berikutnya dengan sentilan politik antara si merah dan si kuning.

Mengedit foto dari baliho sungguhan di pinggir jalan, Kaesang memposting dengan tulisan “Si merah (@letstoast.id) vs. Si kuning (@sangpisang2017),”

Kelakuan Kaesang ini biasa saja, sebab dia memang kerap kali mempromosikan bisnisnya dengan menumpang isu yang sedang viral.

Dan asal tahu saja yang dimaksudkan oleh Kaesang soal RI 1 adalah perusahaannya yang bernama Roti Indonesia Satu.

Tapi apapun yang dimaksudkan oleh Kaesang, kelakuannya menunggang angin ini tetap saja merupakan sentilan.

Betapa di tengah bangsa yang sedang berjuang membebaskan diri dari pandemi ternyata politik tetap berjalan sebagaimana biasanya.

Alih-alih berlomba untuk melayani rakyatnya, argo nafsu untuk merebut kuasa dari para politisi ternyata masih jalan terus, kencang seperti argo kuda.

Maka tak salah jika kemudian ada yang dengan jeli bertanya soal apa peran politisi, aktor politik dan wakil rakyat dalam mengatasi pandemi Covid 19 ini.

Yang perlu jawaban, silahkan bertanya kepada mereka. Dan dengan fasih pasti mereka akan memberikan jawaban panjang, sebab politisi adalah homo sapiens yang mempunyai ketrampilan tinggi dalam bersilat lidah.

note : sumber foto – Media Magelang