Dinar Candy, seorang DJ yang kemudian dikenal karena aksinya yang nyeleneh menjual celana dalam bekas dan laku jutaan kembali menjadi perbincangan.

Terbiasa tampil seksi, Dinar yang mengaku stress karena PPKM yang berlarut-larut kemudian melakukan aksi. Dia melakukan solo aksi, memakai pakaian seksi berdiri di pinggir jalan sambil memegang papan bertulis “Saya stress karena PPKM diperpanjang”.

Apa yang disuarakan oleh Dinar jelas merupakan suara publik kebanyakan lepas dari benar atau salah.

Dan saat melakukan aksi itu, Dinar melakukannya sendiri. Ada banyak yang ingin mengikuti namun dia melarang. Dia ingin melakukan aksi sendiri dan tak ingin aksinya ditiru oleh orang lain.

Foto aksi itu di posting di media sosial. Postingannya tidak juga viral. Soal gambar atau aksi yang lebih seksi di media sosial dan berbagai aplikasi live straming, apa yang dipakai oleh Dinar Candy belum ada apa-apanya.

Postingan Dinar disoal oleh polisi. Rabu {5/8/2021} sekitar jam 9 malam Dinar diperiksa oleh polisi. Cukup lama diperiksa oleh polisi, Jum’at dinihari Dinar diperbolehkan pulang oleh polisi dengan kewajiban wajib lapor seminggu sekali.

Dinar diperiksa sebagai tersangka atas pelanggaran terhadap pasal 36 UU Pornografi.

Jeratan Otak Porno

Apa yang dilakukan oleh Dinar kemudian disoal oleh polisi telah berkali-kali terjadi. Maret 2020, Tara Basro pernah mengalami hal serupa.

Postingan Tara Basro yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan citra tubuh yang positif disoal oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tara dikritik karena apa yang dilakukannya berpotensi melanggar UU ITE terkait konten asusila.

Jauh sebelum itu, kemunculan Inul Daratista menjadi polemik besar. Goyang ‘ngebor’ nya dianggap terlalu erotis dan berbau pornografi. Norma kesopanan dan kesusilaan kemudian menjadi alasan dari Komisi Penyiaran Indonesia untuk melarang penampilan Girlband Blackpink dalam iklan Shopee untuk ditayangkan di banyak stasiun TV.

Sensor dilakukan atas tubuh perempuan di televisi misalnya lewat pengaburan. Saking rajinnya bahkan perempuan yang memakai kebaya dikaburkan. Sensor bukan hanya merambah tampilan riil, bahkan film kartun sekalipun tak lepas dari rezim ‘blur’.

Di masyarakat yang doyan mengintip dan sembunyi-sembunyi berbuat tak senonoh, di ruang publik tubuh perempuan selalu dianggap sebagai sumber masalah moral.

Sadar atau tidak, pemerintah adalah salah satu organ yang paling getol mengatur tubuh perempuan. Ada banyak regulasi pemerintah yang secara konsisten menunjukkan cara pandang bahwa tubuh perempuan adalah masalah.

Regulasi yang gagal membedakan tangkapan atas obyek tubuh perempuan sebagai tubuh pasif atau aktif. Apapun yang secara ekplisit menunjukkan ketelanjangan dan seolah-olah telanjang atau dipikir telanjang selalu dianggap pornografi.

Kecenderungan ini jelas bias gender karena secara ekplisit ‘pornografi’ lebih dititik beratkan pada tubuh perempuan ketimbang laki-laki. Tumbuh perempuan selalu menjadi obyek kesalahan, salah mengambil angle foto atas tubuh perempuan saja sudah melahirkan masalah.

Sehingga di tingkat regulasi sekalipun seolah mengamini bahwa perempuan adalah obyek seks yang inheren. Video tutorial tentang cara memberi ASI dengan benar bahkan bisa dianggap sebagai pornoaksi.

Jadi moralitas maupun regulasi soal tubuh perempuan yang bias gender ini memang sejak semula berangkat dari otak porno.

{ baca juga : Keluhan Tentang Menyalin Buku Pelajaran }

Dinar Yang Sadar Diri

Secara sosial, kultural bahkan politik, tubuh perempuan kerap dipandang sebagai alat untuk memuaskan hasrat dan imajinasi lelaki. Yang disebut sebagai perempuan ideal dirumuskan oleh regim patriarki.

Perempuan dinilai dari apa yang dilihat oleh orang lain, menjadi saleh, soleh dan salah hanya karena penampilan semata.

Sadar dengan dominasi pikiran patriarkal ini kemudian banyak perempuan menjadikan tubuhnya sebagai alat tukar, alat untuk menahklukkan dengan aneka rupa tampilan.

Dinar memilih untuk tampil sexy untuk membranding dirinya.

Dan dengan branding itu pula dia melakukan protes, menyampaikan keluhan dan keberatan atas kebijakan pemerintah.

Pilihan untuk menggunakan daya tarik tubuh untuk melakukan aksi adalah pilihan biasa dan banyak dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Di berbagai tempat banyak ibu-ibu membuka dada untuk menghadang aparat yang hendak menggusur atau mengeksekusi sebuah tempat. Berkali-kali ibu-ibu setengah telanjang menghadang gerak maju traktor yang ingin menghancurkan lahan permukiman dan garapan mereka.

Namun alih-alih mendengar atau memperhatikan apa yang mereka sampaikan negara malah lebih tertarik untuk menyoal penampilan perempuan.

Penampilan yang dianggap menggoda dan dikhawatirkan akan merusak moral bangsa.

Negara yang gagal melindungi kepentingan, menjamin kehidupan kemudian justru menyalahkan yang menjadi korban.

Dinar tidak berbikini begitu saja namun ada landas masalah di belakangnya. Ada yang ingin disuarakan olehnya. Itu adalah sebuah aksi bukan ekploitasi untuk monetisasi.

Dia melakukan aksi tunggal tidak mengajak atau mengijinkan orang lain ikut serta. Aksi tunggal dan diam yang tidak menimbulkan kegaduhan di jalanan. Tidak seperti demo-demo lainnya yang kemudian menutup jalan, mengokupasi kawasan berjam-jam, membakar ban, berteriak kasar dengan kata-kata yang tidak terfilter, tidak menginjak-nginjak dan merusak taman dan lain sebagainya.

Dan karena melakukannya sendiri posisinya menjadi lemah meski yang disuarakan adalah suara banyak orang.

Aksinya dengan mudah dikooptasi menjadi perdebatan moralitas. Padahal urusan polisi adalah penegak hukum. Membawa tafsir moral dengan kacamata patriarkis dan kaku akan membuat pasal-pasal terkait pornografi menjadi pasal karet, yang melenting kesana kemari tak terkendali.

Polisi menyebut bahwa penetapan Dinar sebagai tersangka telah meminta nasehat para ahli. Entah siapa dan ahli apa.

Pandangan seorang ahli sekalipun jika tidak dilakukan dengan cara pikir yang seimbang pasti akan melahirkan bias.

Terlebih soal moral karena banyak ahli bertindak seperti seorang bapak yang anak gadisnya mulai pacaran dan menjadi khawatir kalau-kalau anaknya bakal hamil duluan.

Kekhawatiran itu muncul dari pengalaman karena ketika masih muda dulu, sang ahli ketika pacaran selalu cari modus dan kesempatan untuk mengerayangi dan mencicipi tubuh pacar-pacarnya.

Maka jadilah aneh ketika yang bermasalah adalah otak dan pikirannya namun kemudian yang disalahkan adalah Dinar Candy.

{ baca juga : 2,4 Trilyun untuk Belanja Chromebook }

note : sumber gambar – wow keren