Perjalanan selalu istimewa buat saya. Sebab selalu ada hal-hal baru, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari sebuah perjalanan. Oleh karenanya saya selalu menganggap sebuah perjalanan sebagai wisata. Karena wisata bagi saya adalah perjalanan ke tempat lain, untuk mengenal orang dan lingkungan lain seluas-luasnya.

Ketika saya mengatakan perjalanan saya berhasil, anda yang doyan berwisata tak usah iri. Sebab ukuran keberhasilan saya pasti berbeda dengan ukuran anda. Keberhasilan sebuah perjalanan untuk saya bukan seberapa banyak lokasi wisata yang saya kunjungi, bukan seberapa sering upload foto selfi di media sosial. Ukuran keberhasilan saya tidak sedahsyat itu.

***

Minggu yang lalu saya diajak jalan ke Kota Bontang, menginap dua malam di sebuah hotel yang terletak di Jalan Letjend. R. Suprapto, Api-Api, Bontang Utara. Selama tiga hari dua malam berada di Bontang , saya banyak melihat dan mendengar berbagai hal tentang Kota Bontang.

Dari semua hal itu, yang paling saya ingat justru bukan yang tercatat di buku catatan atau terekam dengan lensa kamera. Kisah yang paling lekat adalah yang saya tangkap dari perbincangan yang tak direncanakan dengan sosok yang saya kenal kala duduk-duduk di pinggir jalan.

Dulu ketika tengah mempersiapkan diri menjadi peneliti organik {non akademis} saya pernah diberi wejangan. Untuk mengenal sebuah daerah, lingkungan, kota atau desa, yang mesti ditemui adalah mereka-mereka yang berada dalam kasta terendah masyarakat. Tukang parkir, buruh tani, preman coro, anak-anak yang nongkrong di depan gang dan seterusnya.

Mulut mereka ini akan berkata apa adanya, mereka akan mengatakan apa yang dirasakan tanpa embel-embel menjaga citra. Mulut dengan hatinya dekat.

Dua malam di Bontang, setiap malam sampai saat menjelang tidur saya menghabiskan waktu di pinggir jalan, duduk-duduk di kios Sego Liwet Solo yang gerobaknya mangkal di seberang hotel. Kios itu berdampingan dengan toko oleh-oleh bernama Fara Snack.

Di kios Sego Liwet Solo, saya tak makan, hanya memesan kopi. Duduk lama sambil bertukar cerita dengan dua orang penjualnya. Entah diantara dua orang itu siapa yang punya. Mereka ramah meski saya tak berbelanja banyak.

Saat kehabisan rokok, saya melangkah ke toko oleh-oleh. Jenis rokok yang tak banyak menjadi pengantar untuk berbincang tentang oleh-oleh khas Bontang. Saya belum membeli tapi beroleh informasi tentang apa yang bisa saya beli kalau mau pulang nanti. Termasuk jam buka yang ternyata pagi-pagi sekali.

Suasana Puja Jati Alam, Bontang Permai di siang hari

Malam kedua sebelum keesokan harinya saya pulang ke Samarinda, menjelang tengah malam saya menyebrang untuk duduk-duduk mencari kantuk di bangku kios Sego Liwet Solo. Nampak seorang bapak tengah menyantap pesanannya. Saya duduk di belakangnya.

Selesai bersantap, bapak yang memperkenalkan diri sebagai Pak Amin mulai mengeser posisi duduknya hingga kami bersampingan. Mulai bertanya dari mana dan ada keperluan apa di Bontang, jawaban saya mengantar pada perbincangan yang asyik seputar kota Bontang.

Pak Amin bukanlah ‘orang biasa’, beliau pensiunan dari lembaga keuangan yang kemudian menekuni dunia usaha dengan membuka Nature Coffee Corner yang berada di area Puja Jati Alam {Sebelumnya adalah café Pondok Jati Alam} di Bontang Permai.

Mengenal banyak tokoh di Bontang tak membuat Pak Amin gemar bicara politik praktis yang mestinya mudah untuk dimasukinya. Beliau lebih memilih untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan kota melalui perubahan mind set dan membangun jejaring antar kelompok serta generasi.

Menurutnya Bontang adalah kota yang dibangun dalam aroma modern, aroma industri. Tentu saja infrastruktur menjadi menonjol. Namun dalam pandangannya sebuah kota yang hanya menekankan infrastruktur akan gagal menjadi hunian yang aman, nyaman dan bermartabat.

“Syukurlah Bontang tidak seperti itu,” ucapnya lirih.

Dicontohkan olehnya tentang mereka yang pensiun dari pekerjaan di Kota Bontang dan kemudian pulang ke kota/kampungnya kembali yang berada di luar pulau. Ternyata sebagian kembali lagi ke Bontang karena merasa tidak krasan lagi di kampung halamannya.

“Coba saja sampeyan ke Bontang Kuala, kalau terlambat tersenyum pasti orang yang berpapasan dengan sampeyan akan tersenyum duluan,” ujarnya tanpa bermaksud menyombongkan keramahan orang Bontang.

Mendengar penuturan Pak Amin, dalam hati saya mengamini. Sebab beberapa waktu sebelum bertemu dengannya, saya pergi ngopi ke Café Paradiso Garden. Café yang dari luar bisa bikin ngeper orang untuk masuk. Namun begitu di dalam sambutannya langsung membuat nyaman, terasa homy.

Dan bukan hanya itu, ketika memesan kopi dengan metode manual brewing ternyata tidak ada. Saya melihat ada alatnya namun memang tak ada dalam list menu. Yang berjaga memberi pilihan antara long black atau americano.

Dua jenis minuman kopi hitam yang sebenarnya sama saja, hanya berbeda langkah dalam mencampurkan antara air panas dan espresso. Longblack lebih dikenal di Australia, dimana gelas diisi air panas lebih dahulu baru dituangkan espresso, sementara americano yang dikenal di Amerika sebaliknya. Karena cara penuangan itu maka untuk membedakan antara longblack dan americano adalah krema yang tersisa di gelasnya.  Longblack masih menyisakan krema, sementara americano tidak karena espressonya pecah saat dituangi air panas.

Saya lupa memilih yang mana, namun setelah pesanan diantar, kemudian datang lagi satu gelas kopi yang menurut pengantarnya diseduh dengan metode V 60 dan gratis.

Membandingkan apa yang diceritakan oleh Pak Amin dan pengalaman di Café Paradiso Garden, saya menemukan Bontang mempunyai modal sosial untuk mentransformasi diri dari kota industri menjadi kota jasa.

***

Sehari sebelum bertemu Pak Amin, di ruang pertemuan Gedung Taman 3 Dimensi, saya mendengar motto Bontang Hebat dan Beradab yang disampaikan berulang-ulang oleh Walikota Bontang.

Dari obrolan yang tak terlalu lama dengan Pak Amin, contoh-contoh yang diberikan olehnya dan pengalaman ngopi di café Paradiso Garden, motto yang disampaikan oleh Walikota Bontang ternyata tidak berangkat dari ruang yang kosong.

Saya terbiasa untuk bersikap skeptis terhadap motto atau slogan yang diciptakan oleh pemimpin daerah. Motto atau slogan yang kerap kali hanya didasarkan atas imaji yang membuatnya. Namun di Bontang terasa berbeda karena motto Bontang Hebat dan Beradab sepertinya lahir dari pengenalan pemimpinnya yang dalam atas dinamika masyarakatnya.

Terimakasih Pak Amin atas pertemuan yang tidak disengaja dan perbincangan yang bermakna. Saya yakin Kota Bontang {masyarakat dan pemimpinnya} mempunyai modal sosial yang cukup untuk membangun Kota Bontang menjadi Kota Jasa dan Kota Kreatif. Kota yang menjadi contoh keadaban bagi kota-kota lainnya.

Suasana Puja Jati Alam, Bontang Permai di malam hari

sumber gambar : internet