Secara tradisional literasi dipahami sebagai melek huruf. Namun kemudian pengertiannya berkembang menjadi semakin luas. Masih terkait dengan kemelekan tetapi bukan hanya huruf melainkan juga hal-hal lainnya seperti teknologi, hukum, keuangan, kebudayaan, seni, asuransi dan lain sebagainya. Jadi jangan heran jika kemudian ada sebuah gerakan bernama literasi pajak.
Hanya saja semua kemelekan ini disambungkan oleh sebuah benang merah yang terkait dengan tulisan atau kegiatan tulis menulis. Memproduksi dan mengkonsumsi karya-karya tulis atau karya dalam bentuk lain yang berdasar tulisan.
Kenapa literasi kemudian kerap disebut sebagai gerakan literasi. Sebutan ini berakar dari sebuah gerakan yang muncul sekitar abad 17, yang dinamai sebagai republik literasi.
Gerakan ini dipicu oleh penemuan mesin cetak yang dikembangkan dari mesin press untuk anggur. Dengan mesin ini pencetakan buku menjadi lebih cepat sehingga buku bisa diproduksi secara massal dan harganya lebih murah.
Perlu diketahui sebelum ditemukan mesin cetak, cara untuk memperbanyak buku adalah dengan disalin. Jadi sebutan coppy writers saat itu memang sebutan untuk seseorang yang senyatanya menyalin sebuah buku.
Semakin mudah dan banyaknya buku yang diterbitkan membuat diskusi tentang buku menjadi semarak. Para penikmat buku saling berkorespodensi untuk membahas sebuah buku. Kesalingterhubungan ini kemudian memunculkan sebuah gerakan, gairah untuk menghasilkan dan membahas buku.
Gerakan ini kemudian semakin bergairah dalam konteks lokal ketika para pencinta buku kemudian bertemu dan berdiskusi tentang buku di kedai-kedai kopi. Kedai kopi menjadi penting karena upaya intelektual di institusi pendidikan saat itu masih sangat dogmatis. Di kedai kopi kebebasan untuk membahas hal-hal baru lebih memungkinkan.
Iklim seperti ini juga mendorong tumbuhnya publikasi-publikasi ringkas dan popular yang lebih ramah untuk setiap orang. Muncul banyak pamflet, bulletin dan jurnal-jurnal yang bisa diakses oleh lebih banyak orang.
Kegairahan ini kemudian memunculkan komunitas-komunitas atau bahkan institusi yang disebut sebagai masyarakat ilmuwan, kelompok para pecinta kebudayaan. Dan pemahaman tentang literasi juga semakin diperdalam bukan hanya untuk sekedar bisa membaca, suka membaca melainkan juga untuk membangun budi pekerti, terbuka pada kebudayaan lain dan karya budaya lain. Manusia yang literer adalah yang punya kepribadian dan budi pekerti yang halus. Dan itu dibangun dengan mencintai dan membaca karya sastera, menyaksikan pertunjukan teater, pagelaran musik dan lain sebagainya.
Kecintaan dan pemahaman yang kemudian menumbuhkan sikap kritis. Hingga kemudian gerakan literasi kemudian memunculkan para kritikus, mulai dari kritik sastra, kritik musik sampai dengan kritikus anggur.
Berkaca dari hal itu maka bisa dimengerti jika kemudian Eropa tumbuh dan berkembang memimpin peradaban modern.
Bagaimana wajah gerakan literasi kita?. Sepuluh tahun terakhir ini banyak bermunculan gerakan literasi dalam berbagai rupa. Dan kita sudah jauh melampaui keadaan pada masa gerakan literasi tumbuh di Eropa. Tanpa apa-apa sebenarnya kita sudah sangat literer karena akses informasi dan pengetahuan sudah sangat mudah.
Bicara buku, ada banyak sekali buku yang bisa diakses secara gratis, bicara filmpun juga demikian, termasuk juga musik serta hal-hal lain. Informasi tentang hal itu melimpah ruah. Pun juga dengan ruang korespodensi, semua aplikasi media sosial dilengkapi fasilitas berkirim pesan. Ada juga banyak aplikasi yang secara khusus ditujukan untuk berkirim pesan dan berdiskusi lewat group-group.
Oh, iya yang disebut kedai kopi juga bertumbuh sangat eksponensial. Kecepatan tumbuhnya hampir sama dengan daya tular Covid 19. Jumlah universitas dan sekolah tinggi juga sudah sedemikian banyak. Jadi ruang untuk mengembangkan diskursus intelektual baik formal maupun informal tersedia banyak.
Sayangnya bukan republik literasi yang kita capai melainkan justru republik hoax. Pencapaian kita adalah mempercayai apa yang kita suka. Sikap yang kemudian menumpulkan kritisme, yang adalah puncak dari literasi.
Sekali lagi literasi bukanlah selebrasi, event atau moment, namun proses dan praksis dialogis untuk menumbuhkan kepribadian sehingga seseorang bukan hanya berani melainkan juga jujur dalam berpikir. Berakal dan berbudi.
sumber gambar : Annie Spratt – unsplash.com








