Setelah semua pencapaian dalam bidang transportasi, ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata perilaku jorok dan bobrok dalam bersikap atau memandang orang lain tidak banyak berubah.
Demi dan dilatari kepentingan tertentu utamanya politik, perilaku merendahkan serta menghina martabat orang lain yang berlatar tertentu terus dipertontonkan dengan telanjang.
Adalah sungguh menyedihkan bahwa masih banyak orang menyimpan kepercayaan dan konsep bahwa perbedaan biologis karena ras (etnis) akan menentukan pencapaian dan budaya kelompok atau individu tertentu.
Konsep atau kepercayaan yang kemudian menciptakan sikap superior, bahwa latar belakang ras (etnis) tertentu lebih unggul dari ras (etnis) lainnya. Merasa lebih berhak mengatur ras (etnis) lainnya.
Sikap yang kemudian melahirkan rasisme, etnosentrisme, kekhawatiran atau ketakutan pada yang lain (yang asing), diskriminasi dan stereotyping.
Dalam konteks Indonesian perilaku semacam itu membuat slogan atau pernyataan NKRI harga mati, Pancasila dan Keindonesiaan sudah final menjadi meragukan.
Bhineka Tunggal Ika, bukanlah semboyan melainkan sebuah kesadaran dan komitmen untuk menghargai perbedaan, keberagaman dan memandang setara yang lainnya, mereka yang berbeda latar belakang apapun dengan kita (SARA dan lainnya).
Namun nyatanya komitmen politik bersama ini kemudian terus diciderai oleh mereka yang punya kepentingan politik tertentu.
Kuper, Kudet atau Sengaja
Manusia menjadi manusia karena atribut kemanusiaan yang terberi kepadanya.
Bahwa dulu karena keterbatasan pengetahuan dan pengenalan pada yang lain (liyan) sehingga muncul sikap yang meminggirkan, menganggap keberadaan yang lain tidak setara dan lain sebagainya masih bisa dimaafkan.
Namun kini dengan kemajuan dalam segala bidang, informasi dan pengetahuan yang berlimpah jika cara pandang pada yang lain, yang berbeda atribut dengan kita masih dipenuhi prasangka dan stereotype maka pantaslah kita disebut kurang gaul dan kurang update.
Masalahnya ternyata kita menemukan mereka yang pergaulannya luas, banyak follower dan rajin update di media sosial ternyata masih jatuh dalam perilaku jorok dan bobrok seperti itu.
Jadi apa yang sedang terjadi?. Artinya orang itu dengan pengetahuan, informasi dan data yang cukup ternyata sengaja bersikap atau berlalu tidak hormat, merendahkan martabat orang atau kelompok lain demi kepentingan tertentu.
Orang tahu dan sadar apa yang dilakukannya tidak tepat tapi tetap dilakukan untuk memelihara kepentingan.
Keburukan yang dilakukan dengan sadar atau diambil sebagai pilihan maka pantas untuk disebut sebagai kejahatan.
Memelihara Kejahatan
Semenjak memproklamirkan kemerdekaan, Indonesia terus berjuang untuk membangun harmoni.
Dinamika politik yang akhirnya membawa Indonesia menjadi negara demokratis.
Semenjak reformasi, sudah 5 kali wakil rakyat dipilih secara langsung. Sedangkan presiden sudah 4 kali.
Kepada seluruh rakyat yang mempunyai hak pilih diberi nilai sama. Satu orang satu suara.
Namun nyatanya penghargaan puncak, mengakui kesetaraan semua orang belum mampu menghasilkan pemimpin dan situasi politik yang memuaskan.
Kenapa demokrasi seperti tidak bekerja?.
Satu orang satu suara sejatinya memang berbahaya andai di dalam benak mereka yang diberi hak masih diselimuti oleh kabut sektarianisme, primordialisme, etnisisme, rasisme dan lain sebagainya.
Dengan latar belakang seperti seseorang dipilih bukan karena track recordsnya, melainkan karena siapa dia, karena latar belakang yang sama sekali tak berkaitan dengan kepemimpinan.
Gagal menjadikan pemilih sebagai pemilih rasional dan cerdas, maka siapapun yang terpilih terutama pada posisi puncak selalu mencerminkan mayoritas tertentu.
Sebagai misal adalah sulit bagi suku lain, selain Jawa untuk terpilih menjadi presiden Indonesia.
Sebagian besar dari kita sejatinya tak mau seperti itu. Kita pasti ingin orang yang tepat duduk dalam posisi yang pas.
Namun sayangnya dibalik pemilihan apapun, persaingan sehat hanya terjadi di depan. Namun dibelakang isu primordial, sektarian dan lainnya selalu menjadi senjata pamungkas untuk memenangkan kontestasi.
Dan demokrasi yang sejauh ini masih menjadi pilihan terbaik kemudian kerap kali terlihat menjijikkan.








