Temuan vaksin memberi harapan baru dalam menghadapi pandemi covid 19.

Namun jangan senang dulu selain urusan pengadaan dan distribusi, masalah baru terkait vaksin juga kembali timbul.

Ada banyak orang menjadi ‘duta’ penolak vaksinasi. Alasannya macam-macam, mulai dari yang bercorak ilmiah sampai dengan religius.

Perlu usaha dan upaya ekstra untuk memberi keterangan dan pemahaman agar apa yang mendasari penolakan itu bisa dikikis.

Dari semua alasan yang disampaikan salah satu yang paling sulit diatasi adalah alasan yang berdasar pada suka tidak suka.

Ya ada yang menolak vaksin karena barang itu dikembangkan dan diproduksi oleh negara lain, orang asing.

Ketakutan berlebihan pada sesuatu yang asing dan kadang bisa berkembang menjadi kebencian dikenal dengan istilah xenophobia.

Berasal dari kata Yunani, xenos yang berarti asing dan phobia yang berarti takut, jika akut maka xenophobia menjadi sebuah ketakutan irrasional atas hal-hal yang berbeda dengan dirinya.

Penyakit atau bukan?.

Apakah xenophobia merupakan penyakit atau gangguan sebagaimana fobia-fobia lainnya?. 

Kebanyakan ahli kesehatan mental menyatakan tidak, karena akar ketakutan atau kebenciannya tidak sama dengan fobia pada binatang, ketinggian dan lain sebagainya.

Xenophobia adalah sikap yang didasari atas persepsi tertentu sehingga melahirkan perilaku yang tidak bisa dipertanggungjawabkan

Dasar dari xenophobia adalah ketidakmampuan menerima perbedaan. Atau perbedaan selalu dipandang dari sisi negatif.

Xenophobia kemudian lebih muncul sebagai gangguan sosial sebab dalam kenyataan sehari-hari yang disebut beragam atau keperbedaan ada dimana-mana. Dan yang dikenali sebagai ‘yang asing’ oleh pengidap xenophobia bukan hanya karena beda negara melainkan juga beda agama, suku,warna kulit, ras dan lain sebagainya.

Apapun atau siapapun yang dianggap berbeda dengan dirinya akan dianggap sebagai yang asing.

Dengan demikian xenophobia bisa dikatakan sebagai sikap menolak perbedaan, rasa tidak aman dan nyaman dalam perbedaan.

Sikap seperti ini bisa berbahaya karena akan melahirkan dampak berupa ketakutan dari pihak lain. Ketakutan yang kemudian membuat mereka enggan berhubungan. Keenganan yang kemudian akan menghapus berbagai macam peluang.

Dalam ekosistem pertukaran informasi, kemudahan transportasi dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi seperti saat ini maka xenophobia menjadi sesuatu yang aneh, jadul banget.

Ibarat kata mereka yang mengidap xeophobia bisa disebut sebagai orang kurang gaul. Perginya kurang jauh, nongkrong dan ngopinya kurang malam.

Namun yang paling berbahaya adalah jika kebencian pada orang lain, sesuatu yang berbeda ternyata ekspresi dari rasa rendah diri yang disembunyikan.

Merasa diri tidak punya kelebihan dibanding yang lain, kurang bakat, kurang kreatif dan seterusnya serta tak mau berupaya untuk meningkatkan diri. 

Dan agar merasa aman dan nyaman karena takut move on maka membenci yang lain, yang berbeda dan yang asing menjadi pilihan agar tetap.bisa berguling-guling di menara gading.

Andai kemudian xenophobia dikatakan sebagai penyakit atau gangguan, maka sebenarnya yang sakit atau terganggu adalah pikiran. Pikiran yang memaksa memandang dunia yang warna-warni ini dengan hanya memakai kacamata hitam putih.

Sumber gambar : mg.co.za