Tunjukkan kepada mereka yang kini berumur 30-an keatas serta lahir dan besar di Kalimantan maka akan segera meluncur kalimat “Oh, dulu banyak di kampungku,”
Ada banyak hal yang kerap disambut dengan “dulu banyak”, salah satunya adalah kantong semar atau nephentes.
Kalimantan memang merupakan pulau yang mempunyai kantong semar terbanyak selain Sumatera. Di Kalimantan ditemukan kurang lebih 40-an jenis kantong semar dan sebagian diantaranya bersifat endemik atau hanya bisa ditemukan di Kalimantan.
Jenis kantong semar yang bersifat endemik antara lain N. bicalcarata, N. boschiana, N. campanulate, N. clipeata, N. ephippiata, N. fusca, N. hirsute, N. hispida dan N. mapuluensis.
Sedangkan jenis yang juga bisa ditemui di pulau atau daerah lain diantaranya adalah N. albomarginata, N. ampullaria, N. gracilis, N. mirabilis, N. rafflesiana, N. reinwardtiana dan N. tentaculate.
Masyarakat lokal mengenal kantong semar dengan berbagai sebutan seperti ketupat napu, selo bengongngong, telep ujung, periuk monyet, kantong beruk, terompet gunung, tetakur dan lain sebagainya.
Konversi lahan hidup kantong semar untuk berbagai keperluan membuat beberapa jenis kantong semar menjadi langka dan terancam punah. Oleh karenanya beberapa jenis terutama yang bersifat endemik kemudian dimasukkan sebagai jenis tumbuhan yang dilindungi.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2014 kemudian menetapkan daftar jenis kantong semar yang dilindungi dengan status sangat beresiko punah.
Selain konversi lahan, eksistensi kantong semar juga makin terancam karena rendahnya kepedulian masyarakat atas tumbuhan ini.
Karena nilai guna yang dianggap rendah maka kerap kali di berbagai tempat tanaman ini dianggap hama, akibatnya masyarakat dengan enteng dan tanpa rasa bersalah memusnahkannya jika tumbuhan ini hidup di lahan miliknya.
Kantong Semar di Ibukota Baru
Kabupaten Penajam Paser Utara yang sebagian wilayahnya ditetapkan sebagai lokasi pemindahan ibukota RI mempunyai banyak habitat tempat tumbuh kembangnya berbagai jenis kantong semar.
Adalah M. Ghofar, jurnalis kantor berita Antara yang juga bekerja pada program pendampingan kelurahan dan desa di Penajam Paser Utara tersentak oleh keberadaan kantong semar yang terancam.
Saat mulai melakukan pengenalan pada daerah tempatnya kini bekerja, Ghofar kerap berjalan-jalan menyusuri kawasan Penajam, Waru dan Sepaku. Dilihatnya banyak sekali kantong semar yang mengering entah karena ditebas, disemprot atau dibakar.
Tak jauh dari jalan poros PPU-Paser, area tempat tumbuh kantong semar juga telah dipatok-patok, ada yang dibuat kaplingan, ada pula yang ditambang untuk diambil pasirnya. Bagian yang diambil pasirnya akan menjadi kubangan yang digenangi air di saat musim hujan.
Akibatnya selain sulit tumbuh, kantong semar yang bertahan juga akan sulit untuk berbiak, karena biji yang jatuh akan membusuk terendam air.
“Masyarakat disini pasti mengenal kantong semar tapi tak paham manfaat atau tak mencoba untuk memanfaatkannya,” ucapnya.
Maka tak mengherankan jika kemudian masyarakat kerap memusnahkannya karena dianggap sebagai tanaman penganggu, terutama saat mereka mau memanfaatkan lahan untuk berkebun.
“Beberapa bulan lalu disini dipenuhi kantong semar, tapi lihat sekarang, hampir sebagian besar hilang atau dimatikan,” lanjut Ghofar saat mengajak mengunjungi habitat alam kantong semar yang disana-sini mulai terlihat sebagai kubangan karena ditambang pasirnya.
Melihat keberadaan kantong semar yang menurut Ghofar mempunyai nilai ekologis dan ekonomis, setahun terakhir ini dia mulai melakukan penyelamatan dengan memindahkan anakan dari alam ke dalam polybag atau pot dan kemudian dipelihara di halaman belakang kantor sekretariat tempat dia bekerja.
Selain memindahkan anakan, Ghofar juga melakukan perbanyakan dengan cara vegetatif atau stek meski tingkat keberhasilannya tidak tinggi.
“Kantong semar bisa dibiakkan dengan cara stek, namun tingkat keberhasilannya kurang lebih hanya 30%,” terangnya.
Selain memindahkan anakan dan stek, Ghofar juga telah berhasil melakukan perbanyakan secara generatif dengan menyemai biji yang dihasilkan oleh bunga kantong semar.
Ada ratusan individu kantong semar jenis gracilis, mirabilis dan reinwartiana di nurseri belakang kantornya. Meski punya nilai ekonomis jika dijual, namun Ghofar tidak melakukannya.
Kantong semar yang dikembangkan dan dipelihara olehnya kerap dibagikan kepada teman-teman atau siapapun yang datang serta berminat untuk memeliharanya sebagai tanaman hias.
Beberapa bulan lalu nurserynya penuh dengan kantong semar dalam polybag dan pot, namun kini sebagian sudah berpindah, menyebar ke berbagai penjuru, bukan hanya di Penajam Paser Utara, melainkan hingga Balikpapan, Samarinda dan Kutai Kartanegara.
“Pemberian kepada teman dan kerabat serta anggota masyarakat lain adalah cara saya untuk mengedukasi masyarakat agar peduli pada masa depan kantong semar,” ujar Ghofar.
Meski begitu Ghofar menuturkan bahwa cara terbaik untuk melindungi atau melestarikan kantong semar adalah membiarkannya tetap hidup di alam.
“JIka kita ingin segala sesuatu tetap baik maka cara terbaik adalah dengan membiarkannya, jangan diapa-apakan,” tegasnya.
Untuk mewujudkan hal itu Ghofar terus berkomunikasi dengan berbagai pihak sehingga kelak akan ada lokasi konservasi kantong semar, dimana tumbuhan ini akan dapat hidup dan berkembang pada habitat aslinya.








