Suatu masa saya gandrung pada video dokumenter. Dan dengan modal nekat tanpa pengetahuan videografi mulailah saya membuat video dokumenter dengan modal kamera pinjaman.
Kesukaan itu kemudian mengantar saya berkenalan dan belajar membuat video dokumenter secara benar pada master video documenter yaitu Dandhy D Laksono salah satu pendiri Wacthdoc Documentary.
Bersama dengannya dan kawan-kawan dari NTT,Jateng,Aceh dan Sulteng lahirlah film dokumenter Linimassa III. Sebuah serial dokumenter tentang media sosial dan masyarakat yang diproduksi oleh ICT Wacth.
Sekitar 5 tahun lalu Dandhy bersama dengan Ucok (Suparta) melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan sepeda motor. Perjalanan itu dinamai Ekpedisi Indonesia Biru. Kepada Dandhy saya menawarkan kalau ke Samarinda untuk mampir dan tinggal di kediaman saya dalam kesederhanaan.
Dan di jalan antara Kantor Gubernur dan Bank Indonesia, saya bertemu dengan Dandhy dan Ucok yang tiba dari Balikpapan setelah menyeberang dari Sulawesi.
3 hari 2 malam, Dandhy dan Ucok di Samarinda. Selama di Samarinda selain bertemu dengan beberapa kawan, juga mengambil gambar di Makroman dan Sungai Mahakam. Selain itu Dandhy dan Ucok juga pergi ke Kertabuana di Tenggarong Seberang.
Dari Samarinda, Dandhy dan Ucok kemudian kembali ke Balikpapan untuk melanjutkan perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru ke Kalimantan Selatan.
Serial perjalanan Ekpedisi Indonesia Biru kemudian dikemas dalam serial video dokumenter. Beberapa dikerjakan selama dalam perjalanan. Beberapa diantaranya sangat terkenal seperti Samin vs Semen, Kala Benoa, The Mahuze’s dan lain-lain.
Setelah ekpedisi selesai, serial video dokumenter Ekpedisi Indonesia Biru terus diproduksi. Dan ketika sebuah video dokumenter Memunggungi Laut diupload saya memberikan komentar di Facebook. Saya menulis bahwa sebentar lagi giliran Kalimantan. Karena setahu saya setelah dari Sulawesi, Dandhy dan Ucok menyeberang ke Kalimantan.
Dan beberapa hari kemudian ada sebuah pesan masuk di WA, Dandhy mengatakan sedang melakukan editing video dokumenter perjalanan Indonesia Biru di Kalimantan Timur. Dalam pesan itu dikirimnya foto Pak Komari. Dandhy menulis RIP Pak Komari, karena Pak Komari sudah meninggal.
Akhirnya video yang ditunggu selesai dan diupload dengan judul Timur Borneo. Timur Borneo menjadi video dokumenter ke 47 dari Ekpedisi Indonesia Biru. Dan dirilis kurang lebih 5 tahun setelah ekpedisi disudahi.
Diupload pada tanggal 22 Agustus, sampai hari ini Video Dokumenter Timur Borneo sudah ditonton sebanyak 116 ribu kali.
Ada yang bertanya kenaoa Timur Borneo tidak mengulik dalam soal tambang di Samarinda dan Kukar?.
Bukan tidak dalam melainkan soal tambang di Samarinda dan Kukar sudah dikupas habis dalam Sexy Killer yang juga diproduksi oleh Wacthdoc.
Dan Sexy Killer, video dokumenter sepanjang hampir satu setengah jam itu, telah ditonton sebanyak 33 juta kali sejak diupload setahun yang lalu.
33 juta viewer sebuah angka yang hampir tak masuk akal untuk sebuah video dokumenter dengan tema yang tak ramah pada algoritma dan pemirsa YouTube.
Sexy Killer menjadi penyumbang viewer terbesar di channel Wacthdoc Image yang punya subscriber 543 ribu dan sejak dibuat dari tahun 2015, channel ini telah meraup viewer 56 jutaan.
Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk channel yang berisi video dokumenter yang tidak berisi gambar ‘Indonesia Beauty’.
Saya sendiri tidak bisa teguh dan kukuh berdiri sebagai seorang video documentary maker. Tapi saya tetap menyakini bahwa video documentary amatlah penting dan perlu didorong agar ‘youtuber’ yang bercorak seperti ini tetap ada.
Semoga jalan sunyi yang dilalui oleh Wacthdoc tidak lagi menjadi jalan sepi karena kemunculan channel sejenis di YouTube. Youtuber yang percaya bahwa karyanya bukan sekedar film melainkan juga sebuah pergerakan.
Kredit foto : Dandhy D Laksono








