Banyak orang ingin menjadi kaya dan memang tidak salahnya. Bukankah indah jika masa kecil kita hidup dimanja, remaja bersuka ria, pemuda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga.  Ada banyak cara menjadi kaya dan itu jadi tema penting dalam workshop atau pelatihan yang diselenggarakan oleh para speaker atau trainer ternama. Beberapa bahkan amat bombastis karena dijuduli “Kaya dengan modal dengkul” atau “Memulai usaha bukan dengan uang sendiri”.

Bersyukurlah mereka yang ingin jadi kaya dan mau berinvestasi sekurangnya dengan membayar biaya workshop atau pelatihan. Tapi ternyata tak sedikit yang ingin cari gampang, tak perlu susah-susah, hanya menyerahkan uang dan kemudian berharap uang berbiak sendiri dengan pembelahan sel yang jauh lebih cepat dari kanker ganas.

Gerombolan manusia ingin cepat kaya inilah yang kemudian menjadi sasaran para pengganda uang, baik yang memakai metode dan teknologi klenik sampai teknik hitungan matematis modern yang kerap dibalut dengan istilah money game atau investasi. Sudah tak terhitung orang yang gigit jari, pingin kaya malah kehilangan semua. Namun tetap saja dalam pusaran waktu, korban masih terus berjatuhan dan cerita, berita serta pengalaman orang sebelumnya tak juga menjadi pelajaran.

-000-

“Mumus, daun-daun ini bisa jadi uang lho,”

“Hedeh kamu ini namanya Bondan, bukan Taat Pribadi. Memangnya kamu punya jin berapa sampai bisa merubah daun jadi uang,” sahut Mustofa ketus.

“Betul ini, aku nggak main-main,”

“Sudahlah kamu itu ketua Padepokan Karang Mumus, bukan Padepokan Dimas Kanjeng,” lagi-lagi Mustofa mengelak untuk mengikuti pembicaraan Bondan.

“Mumus, kamu kita aku ini Dukun Tiban kah. Ini soal Karang Mumus, banyak yang bisa monitize dari sini,”

“Maksudmu apa?”

“Ini lho daun pohon sagu ini kan bisa jadi uang kalau dijadikan atap rumah,”

“Kamu ini Bondan, mbok ya bilang dari tadi begitu,”

Mustofa dan Bondan kemudian terlibat dalam pembicaraan yang asyik tentang aneka dedaunan yang berada di tepian Sungai Karang Mumus.  Setahu mereka di tepi Sungai Karang Mumus masih tumbuh tanaman-tanaman yang sejak lama menghuni lingkungan sungai. Kata guru mereka, jenis tanaman itu disebut sebagai local spesies. 

“Jadi yang disebut daun jadi uang itu begini Mumus,” ujar Bondan mulai menerangkan.

Bondan kemudian menceritakan pada Mustofa, bahwa daun yang jatuh dari ketinggian kemudian jatuh ke tanah atau sungai, akan membusuk dan kemudian menjadi penyubur atau bahan makanan.  Makanan bukan hanya bagi ikan tetapi juga jasad renik lainnya yang bukan hanya akan menyediakan kelimpahan makanan tetapi juga menjaga lingkaran kehidupan termasuk di dalamnya kesehatan air sebagai ruang hidup berbagai mahkluk.

“Kalau ikan-ikan itu bisa mendapat pangan baik langsung maupun tak langsung, ikan akan berkembang. Jadi kalau ikan banyak, pencari ikan dapat hasil tangkapan yang baik dan kalau dijual bisa mendatangkan pendapatan yang cukup,” terang Bondan.

“Jadi itu yang kamu maksud dengan merubah daun jadi uang?”

“Ya begitulah Mumus,”