Pada tahun 2012, UNESCO mengeluarkan data yang menyebutkan bahwa indeks minat baca Indonesia adalah 0,001. Ini berarti dari 1000 orang Indonesia hanya 1 diantara yang suka membaca. Dampaknya sungguh besar, banyak keputusan, kebijakan, maupun perencanaan dalam berbagai hal menjadi miskin referensi.
Gejala minim referensi ini semakin diperparah dengan pola komunikasi terutama dari para pengambil dan penentu kebijakan yang sekarang ini banyak dibantu oleh “cyber troops’, pasukan di dunia maya yang entah itu berupa tentara bayaran maupun tentara sukarela yang juga ngarep untuk dapat bayaran kelak.
“Mumus kamu punya buku tentang Sungai Karang Mumus kah?” tanya Bondan
“Buku?, Kapan aku punya buku selain buku tulis dan pelajaran sekolah. Memangnya di sekolah kita ada pelajaran tentang Sungai Karang Mumus?”
“Ya siapa tahu kamu punya, bukankan kakekmu dulu suka membaca?”
“Iya kakek suka membaca tapi buku primbon,” ujar Mumus sambil tertawa.
Sudah lama Bondan mencari buku tentang Sungai Karang Mumus, tapi tak diketemukan olehnya. Kalaupun ada tulisan tentang Sungai Karang Mumus hampir semuanya adalah tulisan lepas.
“Kok bisa ya Mumus, gak ada orang tertarik untuk membuat buku tentang Sungai Karang Mumus, padahal ini kan sungai penting untuk Kota Samarinda,”
“Nggak ada untungnya nulis Sungai Karang Mumus,” ujar Mustofa seenaknya.
Bondan yang penasaran kemudian mengejar kembali dengan pertanyaan.
“Memangnya keuntungan apa yang dicari dari menulis buku?”
“Ya uang lah Mumus, kalau boleh jangan uang dari penjualan karena biasanya buku juga tak terlalu laku, apalagi ditulis oleh orang tak terkenal,”
“Kalau bukan uang dari penjualan, uang darimana?”
“Sponsor, atau honor karena menulis buku itu,”
“Lah, siapa pula yang mau mendanai penerbitan buku kalau kita nda punya uang,”
“Ya mereka-mereka itu, bisa instansi pemerintah bisa juga sektor swasta atau malah itu inisiatif desa,”
Mustofa kemudian ingat, kalau dulu Bapaknya pernah punya buku seputar Karang Mumus. Kalau nggak salah menurut bapaknya buku itu diperoleh tahun 2004 saat sebelum pemilu. Bapak Mustofa memang pernah aktif di sebuah partai politik.
Buku itu tidak menulis khusus tentang Sungai Karang Mumus, melainkan juga Sungai Mahakam. Fokusnya pada penataan sungai yang dilakukan oleh para Walikota Kota Samarinda. Buku yang tak telalu tebal ditulis oleh dua orang itu mengulas Sungai Karang Mumus mulai dari cerita awal, sekelumit cerita-cerita legendanya, relokasi penduduk di tepiannya dan Program Kali Bersih.
“Bondan, iya ingat aku dulu bapak pernah punya buku tentang Sungai Karang Mumus,”
“Asyik, masih adakah sekarang,”
“Harus dicari dulu, soalnya buku itu cuma dikasih dan bapak nggak pernah menganggap buku itu penting,”
“Tahun berapa buku itu ditulis?”
“Mungkin sekitar tahun 2004,”
“Wah sudah lama sekali ya dan setelah itu belum ada buku lagi tentang Sungai Karang Mumus,”
“Mungkin ada Bondan, tapi kita nggak tahu,”
Bondan dan Mustofa memang bukan termasuk golongan manusia yang rajin membaca. Mereka berdua bahkan hanya membaca buku pelajaran di sekolah kalau gurunya bilang mau ulangan. Ketimbang membaca buku mereka lebih senang nonton televisi atau bermain game online.
“Eh, Mumus, bagaimana kalau kita saja yang menulis buku tentang Sungai Karang Mumus,” ajak Bondan pada Mustofa.
“Ah, nda bisa aku. Pelajaran mengarang saja bikin pusing kepala, apalagi nulis buku,”
“Iya Mumus, kita nggak usah ngarang-ngarang. Tulis saja yang sudah ada, tinggal tambah-tambah sedikit dengan kondisi kekinian,”
“Nda paham aku Bondan, apa maksudmu itu,”
“Begini kita tulis saja buku cerita dari cerita-cerita yang sudah ada di seputaran Sungai Karang Mumus ini,”
“Kamu tahu kah ceritanya Bondan?”
“Ya nanti kita wawancara dengan orang-orang tua di pinggir Sungai Karang Mumus. Seingatku ada cerita hantu banyu dan kerajaan buaya,”
“Aih ..serem Bondan,”
“Wallah Mumus, yang serem-serem itu yang disukai dari dulu sampai sekarang,”
“Iya tapi ceritanya kan nggak masuk di akal,”
“Lho namanya cerita itu justru memang nggak masuk akal. Kalau masuk akal namanya kenyataan,”
“Iya ..tapi ….,” Mustofa tetap ragu.
“Mumus, berita soal menggandakan mata uang itu masuk akal nggak?”
“Ya enggak lah,”
“Nah, itu buktinya masih saja ada orang yang tertipu dengan modus menggandakan uang. Bukannya sembunyi-sembunyi tapi malah bikin padepokan. Dan nggak sedikit yang memberikan uang milyard-an untuk digandakan,”
“Iya ya, memang dunia ini bukan soal masuk akal apa nda,”
“Nah, itu dia kamu paham Mumus. Coba kamu lihat apa yang terjadi di Sungai Karang Mumus ini, masuk akal kah?”
“Menurut aku sih bukan nda masuk akal kalau Sungai Karang Mumus, lebih cocok sebetulnya memang nda ada akal,”
“Masuk sudah ini apa yang kamu bilang itu Mumus, jadi mari kita tulis buku yang nda masuk dan nda ada akal,”
Mustofa pun tertawa terbahak-bahak mendengar ajakan Bondan.
“Kalau begitu Bondan, buku itu nggak bakal jadi kalau kamu ternyata nda ada akal,”
“Maka itu Mumus, biar ada akal aku cari buku,”
“Kamu memang nda pernah hilang akal Bondan,”
“Maka itu Mumus, membacalah biar kamu punya akal, bukan akal-akalan,” pesan Bondan diakhir perbincangan mereka tentang buku Sungai Karang Mumus.








