Anak-anak sekarang memang pintar mengumpat dengan santuy. Umpatan anjing mereka sebut dengan anjay, anjir, njir, njer atau njay. Biar lebih tersamar lagi mereka malah menyebut dengan wanjay yang mungkin saja artinya dalah “Wah, anjing lu ye”
Sudahlah tidak usah ikut-ikutan mengumpat dan menyebut generasi sekarang tidak sopan karena kerap mengucap kata-kata yang kita anggap kotor itu. Toh, yang namanya umpatan sudah ada sejak dulu.
Sejarah memang mencatat bahwa kita memang penyayang binatang. Bahkan dulu nama orang kerap memakai sebutan binatang. Kita mengenal nama Lutung Kesarung, Gajah Mada, Lembu Suro, Kebo Iwa dan Hayam (Ayam) Wuruk.
Setelah masa kemerdekaan, kita memilih burung sebagai lambang negara kita, burung Garuda. Dan kemudian muncul juga partai yang mempunyai lambang binatang, salah satu yang terkenal adalah banteng. Kini trah Sukarno, keturunan presiden pertama RI dikenal terus menjaga banteng.
Sementara Presiden Suharto juga dikenal sebagai penyayang binatang. Di berita TVRI, satu-satunya televisi saat itu kerap menunjukkan Presiden Suharto memamerkan banyak binatang ternak unggulan di Tapos. Tapi kemudian Presiden Suharto lebih dikenal kedekatannya dengan tumbuhan, yaitu Cendana.
Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, pernah marah dan tersinggung karena diumpamakan sebagai kerbau. Tapi di jamannya kita mengenal adanya perseteruan antara cicak dan buaya. Dan pada akhirnya SBY yang tinggal di Cikeas pun tak luput dari sebutan gurita Cikeas.
Joko Widodo atau Jokowi penganti SBY ternyata lebih sering berurusan dengan binatang. Binatang-binatang yang sebelumnya tidak populer dalam jagad politik. Jokowi sendiri memang pecinta binatang. Di istana Bogor kalau tidak salah dipeliharanya kambing dan kodok yang ketika masih anakan disebut cebong.
Dan entah kenapa kemudian olok-olok cebong muncul untuk menyebut kelompok pembela atau fans Jokowi. Di olok-olok dengan sebutan cebong kemudian kelompok itu mengolok balik dengan menyebut lawannya sebagai kampret.
Dan perseteruan antara cebong serta kampret kemudian mewarnai politik Indonesia menjelang pemilu 2019. Residua tau sisa-sisa itu masih terasa sampai sekarang termasuk dengan munculnya sebutan kadal gurun alias kadrun.
Menyebut nama binatang untuk melabeli nama orang atau kelompok ternyata sama sekali tak ada hubungan dengan kecintaan dan penghormatan pada binatang. Terbukti berbagai jenis binatang ternyata semakin hari semakin terancam kepunahan.
Namun ada binatang yang nampaknya lestari, selalu disebut dalam berbagai gejolak atau dinamika politik. Binatang itu bernama kambing hitam. Yang selalu disebut sebagai kambing hitam itu ternyata PKI, Partai Komunis Indonesia yang jelas-jelas sudah dibubarkan, dilarang dan tak mungkin melakukan kaderisasi lagi.
Tapi yang namanya PKI selalu saja disebut-sebut setiap kali ada peristiwa politik bukan hanya pemilu melainkan peristiwa-peristiwa lainnya. Membuktikan keberadaan PKI saja sudah sulit kalau tak mau dikatakan mustahil, kini malah ada sebutan Neo PKI.
Disebut sebagai PKI atau Neo PKI akan jauh lebih tersudut ketimbang diteriaki sebagai cebong, gurita, kampret atau kadal gurun. PKI dimata sebagian besar dari kita adalah dosa yang maha besar, dosa sosial, dosa religi, dosa ideologi dan dosa politik. Disebut sebagai PKI sama artinya dikatakan sebagai pendosa dobel-dobel.
Dalam perang mereka yang berlawanan akan butuh senjata. Dan nampaknya sebutan PKI atau Neo PKI merupakan senjata pamungkas yang membuat lawan menjadi mati kutu jika peluru itu dilontarkan.
Tak peduli andai saja argumentasi yang dipakai dalam menerangkan seseorang atau sekelompok orang sebagai PKI atau Neo PKI sungguh lucu. Lugu alias lucu lucu dungu.
Sungguh kasihan para komik yang setiap kali melucu harus menulis cerita dengan sangat seksama agar menghasilkan ungkapan keresahan-keresahan yang menyentil tawa. Sebab selucu apapun kisah dan penampilan para komika mereka akan kalah dengan argumentasi-argumentasi soal keberadaan PKI atau Neo PKI yang terus saja masih dilontarkan sampai sekarang.








