KESAH.ID – Revolusi hijau yang diterapkan di masa orde baru lewat panca usaha tani berhasil membuat Indonesia mencapai swasembada beras. Namun politik ekonomi pertanian masa orde baru ini menimbulkan kerusakan kebudayaan, lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Salah satu yang membuat manusia berkembang jauh melampaui saudara-saudarinya dalam Kerajaan Binatang adalah revolusi pertanian.

Binatang selain manusia terhenti pada perilaku food gathering, hanya menjadi pemburu pengumpul.

Manusia melampaui peradaban pemburu pengumpul lewat revolusi pertanian pertama di jaman neolitikum. Revolusi Neolitikum adalah kemampuan manusia menjadikan batu sebagai alat bantu untuk menghasilkan dan membudidayakan pangan serta hal lainnya.

Dipadukan dengan kemampuan untuk menguasai api, pola makan kelompok manusia pada masa itu berubah drastis. Makanan dimasak {dibakar} sehingga lebih enak dan lebih mudah dicerna.

Pangan dihasilkan sendiri, makan tidak lagi membutuhkan banyak energi sehingga kelompok manusia pada masa itu punya banyak waktu luang.

Punya waktu senggang kemudian membuat manusia berkembang, mulai memikirkan hal-hal yang sebelum tidak pernah terpikirkan. Peradaban manusia kemudian bertambah laju meninggalkan peradaban binatang lain yang perkembangannya tergantung pada evolusi alamiah.

Sebagai kebutuhan terpenting untuk mempertahankan hidup atau kelangsungan spesiesnya, ketersediaan pangan manusia kemudian berlimpah ketika masuk dalam revolusi pertanian kedua.

Revolusi ini lahir di Belgia dan Inggris sehingga dinamakan Belgo-English Revolution. Masyarakat disana menemukan rotasi dalam penanaman tanaman pangan.

Pengetahuan tentang musim dan tanaman yang cocok ditanam pada musim tertentu membuat hasil pertanian berlimpah. Hanya saja kondisi geografis masing-masing bagian dunia tidak sama. Kemampuan untuk menghasilkan komoditas pangan kemudian menjadi berbeda, ada daerah yang berlimpah, namun ada daerah yang berkekurangan.

Kondisi ini melahirkan revolusi pertanian ketiga, hasil pertanian menjadi komoditas untuk diperdagangkan. Revolusi pertanian ketiga adalah pemasaran hasil pertanian, lahir di Amerika. Revolution of agricultural marketing ini terjadi di tahun 1920.

Kualitas komoditas ditentukan lewat grading dari situ ditentukan harga dan kemudian diumumkan lewat radio. Petani di desa-desa atau pelosok kemudian menjual pada para pengumpul/pembeli sesuai dengan harga itu.

Kualitas hidup dan ekonomi yang meningkat membuat terjadi ledakan jumlah penduduk, muncul kekhawatiran tentang kekurangan pangan. Dimulai dari pencarian bibit unggul dan pengembangan teknologi pertanian akhirnya muncul revolusi pertanian keempat yang dikenal sebagai Revolusi Hijau.

Revolusi ini tidak semata bertumpu pada bibit unggul melainkan penerapan inovasi pertanian dalam waktu yang singkat dan luas. Di Indonesia dikenal dengan ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian {sawah}.

Di masa pemerintahan Presiden Suharto, revolusi hijau dilakukan dengan pembangunan sistem irigasi teknis besar-besar, pembukaan lahan sawah dan penanaman bibit unggul yang masa tanamnya lebih pendek.

Petani terutama di Jawa dipaksa untuk menanam padi jenis IR dan pemakaian pupuk, insektisida dan pestisida.

Di Indonesia, revolusi hijau juga bermakna revolusi pangan, padi atau beras kemudian menjadi makanan pokok. Tidak makan padi artinya miskin, terbelakang atau tertinggal hingga kemudian yang disebut makan berarti makan nasi.

BACA JUGA : Penataan Kota Tak Selalu Enak Di Hati Dan Indah Di Mata

Revolusi hijau oleh Suharto dimanifestasikan dalam program Pancausaha Tani yang terdiri dari lima asas utama, yakni :

  1. Pemilihan dan penggunaan bibit unggul.
  2. Pemupukan secara teratur.
  3. Irigasi yang baik dan cukup.
  4. Pemberantasan hama yang intensif.
  5. Teknik penanaman yang teratur.

Tujuan yang hendak dicapai tentu saja adalah peningkatan kesejahteraan petani, penguatan ekonomi perdesaan, adaptasi teknologi pertanian dan yang paling utama adalah tercapainya swasembada pangan {beras}.

Swasembada beras kemudian dicapai pada dekade 80-an, walau kemudian tidak bisa terus dipertahankan.

Diluar semua capaian yang diklaim oleh pemerintahan orde baru, revolusi hijau merubah dengan sangat drastis kebudayaan masyarakat petani.

Masyarakat yang sebelumnya bertanam padi setahun sekali atau paling banyak dua kali kemudian dipacu untuk terus menerus berada di sawah. Umur padi IR lebih pendek sehingga dalam setahun bisa menanam 3 sampai 4 kali.

Gotong royong dan ritual-ritual terkait dengan budidaya padi menjadi hilang. Dulu ketika padi dipanen dengan ani-ani  ada kebiasaan yang disebut nderep. Masyarakat sekitar membantu memanen padi lalu mendapat bagian dari hasil yang dipanennya.

Ketika revolusi hijau, padi dipanen dengan dibabat dan bulirnya langsung dipisahkan dengan cara digebyok atau dirontokkan dengan mesin. Semua serba cepat sehingga memunculkan profesi baru yakni tukang tebas.

Gotong royong menanen padi menjadi hilang, tidak ada nderep lagi. Pemanen padi adalah buruh atau rombongan yang bekerja secara borongan.

Selain kebudayaan, masyarakat tani juga kehilangan kekayaan plasma nuftahnya. Bibit yang dipakai atau boleh ditanam adalah bibit hibrida, hasil pengembangan dari pabrik benih. Petani tidak punya bibit sendiri, bibit harus dibeli.

Bertani tidak lagi hanya butuh modal tenaga, melainkan juga uang untuk membeli bibit, pupuk dan obat-obatan pembasmi hama.

Karena jenis padi yang ditanam sama dalam hamparan yang luas, kemudian kerap terjadi serangan hama massal. Salah satu hama yang terkenal adalah wereng, ada wereng hijau dan coklat.

Lahan yang ditanami terus menerus tanpa jeda menjadi miskin hara. Pemakaian pupuk terus meningkat. Tanah pertanian menjadi kritis dan keras, sehingga butuh tenaga lebih untuk mengolahnya. Jika tidak lagi kuat, petani akan memakai mesin untuk mengolah tanah.

Penerapan teknologi pertanian kemudian membuat kesenjangan diantara petani. Mereka yang tidak punya cukup uang tidak bisa membeli alat, mereka harus menyewa. Jika mengandalkan tenaga saja maka akan ketinggalan musim tanam dengan yang lainnya.

Revolusi hijau pada dasarnya kapitalisasi dalam bidang pertanian, pertanian menjadi sebuah industri. Petani yang bukan pemodal kemudian tersingkir, menjadi buruh tani bahkan ditanahnya sendiri.

BACA JUGA : Rokok dan BBM Serta Para Juara Nyinyir di Negeri Lambe Turah

Lebih jauh politik ekonomi pertanian pada masa orde baru yang ironinya ditujukan untuk membangun ketahanan pangan lewat swasembada beras pada sisi lainnya ternyata justru membuat ketahanan dan kedaulatan pangan masyarakat Indonesia menjadi semakin lebih menurun.

Bertumpu pada beras dan dimanja oleh beras, masyarakat kemudian abai pada sumber-sumber pangan lainnya. Sumber pangan alamiah yang tumbuh secara liar kemudian dimusnahkan, lahanya tidak dijaga atau dipertahankan. Salah satu yang dengan cepat hilang adalah hutan sagu.

Makanan pokok selain beras dan kemudian disusul oleh terigu dianggap tidak layak.

Dulu yang disebut nasi bukan hanya  beras, tapi juga jagung, singkong dan umbi-umbian lainnya.

Akibatnya ketika terjadi bencana, masyarakat tidak akan makan sebelum mendapat bantuan beras dan mie. Padahal di sekitar lingkungannya masih ada banyak umbi-umbian yang bisa dimakan. Namun masyarakat kehilangan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengolahnya menjadi pangan.

Bertumpu pada semua yang serba unggul dan hibrida, politik pangan orde baru tidak hanya beroperasi di pertanian tanaman pangan, segala sesuatu yang lebih besar dari yang umumnya, lebih cepat bertumbuh atau berbuah yang kemudian dikembangkan.

Dalam bidang hortikultura, muncul berbagai jenis tanaman buah dan sayuran bahkan ayam yang kemudian dilabeli Bangkok. Bangkok artinya lebih besar, cepat tumbuh dan untuk tanaman buah tidak lagi bergantung pada musim, berbuah terus menerus.

Sedangkan apa-apa yang kemudian lebih kecil dari biasanya akan disebut kate atau jepang.

Gencarnya gerakan revolusi hijau kemudian dikritisi oleh banyak pihak. Salah satunya terkait dengan dampak lingkungan dan kesehatan.

Limpahan makanan yang dihasilkan melalui revolusi hijau dipandang mengandung racun. Selain karena pemupukan yang berlebihan, penggunaan racun atau obat-obatan untuk membasmi gulma dan hama membuat hasil panenannya mengandung zat-zat berbahaya untuk tubuh.

Selain terpolusi dalam proses penanaman, pengolahan paska panennya juga menambahkan bahan kimia agar tampilannya oke dan awet.

Kelak kesadaran ini menghasilkan dua jenis bahan makanan yakni makanan organik dan makanan anorganik.

Dari sisi harga, makanan organic yang ditanam dan dipelihara secara alamiah, tanpa asupan pupuk pabrikan dan obat-obatan pembasmi serangga atau hama harganya jauh lebih mahal.

Dalam skala lingkungan yang lebih luas, aplikasi pupuk di lahan pertanian dan pemakaian obat-obatan juga menyuburkan serta mencemari kawasan perairan. Sungai dan badan airnya kemudian meledak kesuburannya sehingga tanaman air tumbuh dengan cepat. Banyak sungai, danau dan rawa ditutupi oleh enceng gondok.

Kualitas airpun kemudian menurun, biota air menjadi semakin berkurang, langka bahkan punah. Seiring dengan masifnya revolusi hijau, ikan di sungai juga semakin susah didapat.

Revolusi hijau, model politik ekonomi pertanian yang bercorak kapitalistik pada akhirnya menjadi mesin penghancur kebudayaan, keanekaragaman hayati, lingkungan hidup dan juga kesehatan masyarakat.

Hilangnya pengetahuan atas sumber-sumber pangan lokal, juga kerap memancing booming komoditas tertentu. Komoditas yang sesungguhnya berasal dari tanaman yang biasa, mudah dikembangkan namun digembar-gemborkan sebagai tanaman baru, potensi baru sehingga harga bibitnya mahal.

Masyarakatpun tergiur untuk membudidayakan. Berinvestasi namun akhirnya ketika panen tiba, panenannya tidak ada yang membeli atau harganya murah.

Salah satu yang terakhir mengalami booming adalah porang.

Bibitnya dijual dengan harga sampai dengan 300 ribu per kilo. Namun kini harga panenannya hanya dihargai kurang lebih 3 ribu per kilo.

Ah, memang porang ajar sekali.