Setiap sungai mempunyai legenda atau cerita masing-masing terkait dengan bagaimana sungai itu terbentuk. Ada yang dikaitkan dengan hewan mitologis ada pula yang dikaitkan dengan dunia pewayangan. Seperti kisah sebuah sungai yang konon munculnya karena bumi digaris oleh Kuku Werkudara alias Bima.

Cerita mitologis tentu bukanlah kebenaran ilmiah, namun merupakan sebuah pemaknaan. Sungai adalah sumberdaya yang penting, maka pelu dikaitkan dengan kehidupan sosial, budaya dan spiritual, narasi tentang asal-usul sungai adalah sebuah deskripsi masyarakat saat itu atas sungainya.

“Jadi Mumus, cerita mitologis atau legenda tentang sungai itu tetap penting, ini bukan soal kebenaran tetapi soal bagaimana masyarakat memandang sungainya. Masyarakat yang kehilangan narasi akan sulit
merumuskan sikapnya terhadap sungai yang ada di hadapannya,” ujar Bondan.

“Iya Bondan tapi pertanyaanku adalah soal bagaimana sungai itu terbentuk?”

“Ya sungai pasti terbentuk karena ada aliran air dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, kan begitu watak air,”

“Nah airnya air apa?”

“Ya air hujan, air permukaan dan mata air, kalau di daerah kutub mulainya dari es yang mencair,”

“Kok bisa jadi sungai?” lagi-lagi Mustofa terus mengejar.

“Bisalah, awalnya dari alur kecil, lama-lama aliran itu mengikis daerah yang dilewatinya, membentuk alur yang makin lebar dan makin dalam. Ada yang lurus dan ada yang berkelok-kelok, semua tergantung
dari kekuatan dan kecepatan air yang lewat di alur sungai itu,” terang Bondan.

“Oh, jadi airlah yang akan membentuk bagaimana sungai itu akan berbentuk?”

“Iya Mumus. Sungai itu kemudian membentuk Meander, Lembah dan Delta,”

“Apa itu Bondan?”

“Meander itu kelokan-kelokan yang dibentuk oleh sungai, biasanya dilembah sungai. Kelokan ini terbentuk dari reaksi aliran air dengan bebatuan atau daerah yang rawan atau tahan erosi. Ketika aliran menabrak daerah yang kuat, aliran air akan belok,” terang Mustofa.

“Tahu aku, kalau lembah terbentuk karena kecepatan aliran air dan pengikisan, lama-lama daerahnya akan semakin dalam, juga semakin lebar dan panjang,” ujar Mumus.

“Betul kamu Mumus dan air yang mengikis tanah itu akan membawa serta kikisan tanah itu. Itu disebut sebagai sedimentasi ketika menumpuk di sebuah tempat. Area sedimentasi ini disebut sebagai delta dan biasanya ada di hilir sungai, di muara. Besar kecilnya delta tergantung dari besar kecilnya air, aliran aiir, erosi dan musim,”

“Paham aku kalau begitu sekarang, tapi sepertinya sungai lebih kompleks dari semua itu,”

“Oh, iya Mumus, sungai itu realitas yang kompleks. Tidak ada sungai yang berdiri sendiri dari lingkungan kesekitaran dan lingkungan yang jauh namun masih terhubung. Maka ada sebutan Daerah Aliran Sungai,

wilayah yang berhubungan dan akan mempengaruhi keberadaan sungai, wilayahnya bisa sangat luas,”terang Bondan.

“Kalau sungai berdiri sendiri jadinya sungai mati ya Bondan,”

“Begitulah, sungai selalu mempunyai daerah tangkapan air, daerah perlindungan, kawasan penyangga, sempadan, bantaran. Yang didalamnya ada sebuah ekosistem, habitat, serta aspek lain seperti hidrologi dan morfologi. Sungai juga punya kaitan dengan kesejarahan masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun budaya,”

“Ah rumit memang ya,”

“Rumit tapi bukan berarti tak beraturan,”

“Maksudmu?”

“Realitas sungai begitu jadi sungai itu artinya sudah mencapai keteraturan. Dimana daerah pasang surutnya, dimana tampungan airnya dan seterusnya. Nah sungai kemudian terganggu karena keteraturan ini diganggu oleh berbagai kepentingan. Entah itu bernama pembangunan, investasi atau pendudukan. Sungai jadi buruk karena alih fungsi dari berbagai daerah atau wilayah yang terhubung
dengannya,”

“Contohnya?”

“Sungai jadi dangkal karena perbukitan dibongkar, sungai dianggap sebagai penyebab banjir karena area hijau di kanan kiri sungai dibabat, maka air hujan langsung masuk ke sungai dan membuat sungai
meluap,”

“Oh, iya baru ingat, kalau rawa-rawa itu area penyimpan atau penampung air, jadi banyaknya rawa yang ditimbun pun berpengaruh pada aliran air di sungai ya Bondan?”

“Pastinya begitu, sekali lagi sungai akan dituduh menjadi penyebab banjir kalau semua kanal atau fasilitas saluran air ditujukan untuk mengalirkan air hujan secepat-cepatnya ke sungai,”

Bondan kemudian memaparkan bahwa sistem drainase di daerah mereka didesain tidak ramah air hujan. Drainasenya tidak ekologis, karena disemen kanan kiri dan dasarnya, bahkan banyak diantaranya ditutup mati pada bagian atasnya.

“Seolah-olah ada yang disembunyikan di bawah drainase itu,” ujar Bondan.

“Apa coba yang disembunyikan?”

“Kebusukan,” ujar Bondan sambil tertawa.

“Lalu mestinya gimana?”

“Ya drainase itu sebetulnya bisa jadi sistem retensi untuk air hujan, penampung dan penahan sementara juga sebagai area untuk menangkap dan meresapkan air ke tanah,”

“Tapi kan drainase kita dangkal-dangkal,”

“Tadinya dalam, tapi mengalami pendangkalan karena tansport lumpur dan pasirnya luar biasa,”

“Pantasan, air meluap dimana-mana kalau hujan. Beberapa jadi air tergenang, tapi banyak juga yang jadi banjir,”

“Makanya kita perlu drainase yang ramah lingkungan, drainase yang masuk dalam sistem pengelolaan air hujan. Jangan sampai air hujan terbuang percuma,”

“Wah keren kamu Bondan, darimana kamu belajar semua itu?”

“Ya yang jelas bukan dari mereka yang bertanggungjawab untuk urus air dan sungai,”

“Lah kok bisa?”

“Apa sih yang nggak bisa di kota kita ini, semua pasti bisa selama semua orang makan nasi. Nanti kota ini jadi baik kalau banyak orang bisa makan terima kasih,”