Seseorang memposting sebuah foto saat berkemah dengan latar belakang pepohonan yang hijau.

Foto itu tentu disukai dan dikomentari oleh teman-temannya. Ada yang bertanya kapan dan dimana. Dan disela-sela komentar yang datang bertubi-tubi itu yang empunya foto kemudian menuliskan balasan “Ternyata asyik berteman dengan alam,”.

Sebuah komentar yang terdengar amat bijaksana, mencerminkan bahwa alam mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan. 

Tapi apakah komentar itu akan terbawa sampai nanti setelah tak lagi berkemah. Kembali ke rumah dan membuat tak membuang limbah serta sampah sembarangan. Tidak kembali menyakiti alam setelah hidup kembali dalam ritme harian?.

Entahlah, tapi yang jelas kecenderungan atau sifat bawaan untuk tenteram berada dan berinteraksi dengan alam memang ada dalam diri manusia.

Hipotesis ini dikemukakan oleh Edward O. Wilson seorang ahli biologi pada tahun 1984.

Wilson menyebutnya sebagai biofilia. Yang adalah secara bawaan lahir manusia memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berhubungan dengan alam atau lingkungan alamiahnya.

Maka tak perlu heran jika kemudian manusia menjadi senang atau merasa rileks ketika berada dalam lingkungan yang alamiah, ada pepohonan, suara binatang atau kombinasi keduanya.

Hipotesis yang dikemukakan oleh Wilson menimbulkan pemikiran lain tentang Kecerdasan Alam. Kecerdasan dari manusia yang penting untuk menjaga agar bumi tetap lestari.

Perbincangan tentang kecerdasan alam memang masih langka. Bicara soal kecerdasan manusia selama ini kita lebih bicara soal IQ,EQ dan SQ. Atau ada juga yang bicara soal kecerdasan imaji,kecerdasan relasi,kecerdasan musik,kecerdasan aksara,kecerdasan tubuh,kecerdasan logika,kecerdasan diri. 

Namun jika jeli yang disebut kecerdasan alam justru sering kita temukan dalam kisah-kisah kearifan dan pengetahuan tradisional. Dalam khasanah dan budaya masyarakat tradisional kita kerap menemukan sosok-sosok yang punya kecerdasan alam yang tinggi, mereka yang pantas disebut sebagai genius lokal.

Kejeniusan ini (kecerdasan alam) kita bisa temukan dalam berbagai pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional pada berbagai hal mulai dari teknologi hunian (arsitek), teknologi budidaya tanaman, teknologi alat tangkap, tata lahan dan lain sebagainya.

Di tanah Kalimantan kita menemukan teknologi budidaya masyarakat sekitar hutan yang melahirkan model budidaya lahan kering dalam rupa pertanian rotasi (ulang alik). 

Sementara pada masyarakat yang tinggal di perlembahan, dikawasan ruang air atau lahan basah lahirlah model pertanian pasang surut, termasuk di dalamnya adalah model pertanian surjan.

Model pertanian baik lahan kering maupun lahan basah adalah cermin pemanfaatan lahan yang tidak mengurangi kemampuan alamiah lingkungan untuk memulihkan dirinya sendiri.

Seiring dengan pertumbuhan teknologi yang berbasis kecerdasan intelektual, masyarakat kemudian tumbuh menjadi masyarakat ekploitatif. Lahan kemudian direkayasa. Pertanian misalnya kemudian dikembangkan dengan kesuburan buatan. Hama atau tanaman penganggu kemudian dibunuh atau dimusnahkan dengan obat atau cairan buatan tertentu. Predasi tidak lagi berdasarkan rantai makanan melainkan semprotan berisi cairan pembasmi.

Apa yang dipraktekkan oleh masyarakat sebelumnya sebagai bentuk kecerdasan alam kemudian dipandang tidak produktif, kurang efektif dan efisien bahkan lebih konyol lagi disebut sebagai ‘perusak’. Praktek perladangan rotasi atau ulang alik misalnya dianggap sebagai pembakaran lahan, penyebab kebakaran hutan.

Atau kalaupun kemudian dihargai maka disebut sebagai kocak wisdom atau kocak knowledge. Sesuatu yang sangat lokal sehingga tidak bisa menjadi sesuatu yang menglobal.

Dan hasil dari praktek pengetahuan global adalah perubahan lingkungan yang drastis. Ketidakseimbangan ekologis karena segala sesuatu hal adalah material buatan atau hasil fabrikasi 

Kenapa pengetahuan global hasil kecerdasan intelektual justru menimbulkan bencana kemanusiaan?. 

Karena kecerdasan intelektual dan kecerdasan populer lainnya hanya bicara soal manusia pada dirinya sendiri dan dalam relasi dengan manusia lainnya. Kecerdasan yang bercorak antroposentrik. 

Padahal di bumi manusia bukanlah mahkluk atau material yang lebih mulia dari mahkluk dan material lainnya. Boleh saja manusia berpikir bahwa dirinya lebih dari mahkluk atau materi lain, karena lebih cerdas, lebih berkembang. Tapi tak boleh berpikir bahwa bumi dan seisinya diperuntukkan hanya untuknya.

Kerendahan hati bahwa manusia adalah bagian yang setara bukan penguasa atas mahkluk atau material lainnya adalah dasar dari kecerdasan alam. Kecerdasan ini diterapkan misalnya dengan pemanfaatan lahan tidak secara terus menerus. Ada yang disebut jeda pemanfaatan yang memberikan ruang bagi mahkluk dan material lain menjalankan fungsi alamiahnya.

Seseorang yang berkembang kecerdasan alamnya adalah seorang yang berlaku atau berparadigma antropomorfis. Sadar bahwa dirinya adalah bagian bumi yang setara dengan mahkluk dan material lainnya serta menghormati hak hidup mahkluk lain dan dinamika material lainnya.

Oleh karenanya manusia yang mempunyai kecerdasan alam dalam praktek ekonomi akan menerapkan yang disebut ekonomis itu adalah ekologis. Sebuah paradigma yang pasti akan ditertawakan atau dianggap primitif oleh kaum kapitalis, penguasa oligarki ekonomi saat ini.

Buat mereka adalah wajar untuk mengembangkan kawasan ekowisata dilakukan dengan membongkar lahan dengan traktor dan escavator untuk menata lahan sesuai dengan keinginan mereka sebagai pengembang. 

Yang penting untuk mereka kawasan yang dibongkar itu nanti akan ditanami dengan tanaman yang indah, mahal dan seterusnya tanpa peduli apa yang mereka lakukan berdampak buruk pada masyarakat sekitar atau tata air yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. 

Dan kita masyarakat lebih suka berpiknik di tempat-tempat seperti itu ketimbang menikmati keindahan alam yang terbentuk dari proses dan dinamika alami selama ratusan, ribuan atau bahkan jutaan tahun. 

Alam menyediakan keindahan dimana-mana, tapi kita lebih suka membangun gua-gua keindahan sendiri yang kita bangga-banggakan meski itu merupakan mencerminkan bahwa kita tak lagi mempunyai kecerdasan alam sama sekali.

Kredit foto : id.quora.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =