Ternyata tidak banyak orang yang senang tinggal di rumah seharian selama berhari-hari. Karena sebagian besar dari kita sudah kehilangan ketrampilan berada dalam rumah. Maka menjalani hari-hari work from home menjadi menyiksa karena tak tahu mau mengerjakan apa.
Menyapu, mengepel, membersihkan got dan halaman rumah, menata gudang, mencuci piring, memasak, mengecat dinding, memperbaiki perkakas rumah dan seterusnya tidak dianggap sebagai pekerjaan.
Tak ada yang dikerjakan maka mulai banyak yang uring-uringan, mengeluh kesana-kemari dan gemar membagi link tulisan atau berita yang berbau teori konspirasi.
Beruntung di tengah pandemi ini masih ada orang-orang yang jeli mengamati, sehingga muncul istilah new normal, kenormalan baru, sebuah perilaku yang diharapkan menetap setelah pandemi ini berlalu.
Apa yang selama ini dianggap sebagai normal ternyata tidak cukup kuat untuk menghadapi pandemi. Serangan yang melumpuhkan dari entitas yang tidak terlihat. Negara-negara selama ini menumpuk senjata pembunuh massal yang menghabiskan anggaran tapi ternyata tak berguna sama sekali. Karena globalisasi kita sama-sama menggilai istilah Big Data, tidak ada perbincangan tentang masa depan tanpa menyebut Big Data, One Map One Data dan seterusnya tapi ternyata itu semua masih mimpi. Untuk menetapkan siapa yang harus dapat bantuan saja rapatnya berkali-kali dan bikin emosi.
Ada yang dilupakan, apapun kemajuan teknologi dan pengetahuan, semua akan diuji pada kondisi yang tidak normal. Apapun kemudian akan menjadi lumpuh jika kita kemudian harus kembali menjadi manusia gua. Dalam kondisi seperti ini keadaban kita yang kemudian diuji. Pemimpin misalnya diuji untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat, bukan terus menerus rapat yang berlarat-larat.
Adab kita terbiasa memuji-muji pemimpin. Tidak sedikit pemimpin yang kita bangga-banggakan sebagai menginspirasi, berada selangkah di depan dan seterusnya ternyata tak bisa berbuat apa-apa. Begitu berbuat malah bikin kontroversi. Lama tidak muncul, sekali muncul malah bagi-bagi sembako yang bikin kerumunan padahal mereka sendiri yang menetapkan social/physical distancing.
Dalam urusan kebersihan diri, pandemi ini berhasil mengajarkan kebiasaan baru (kebiasaan yang lama diajarkan tapi tak berhasil) untuk rajin cuci tangan, pakai masker kalau berada di luar, tidak sembarang bersalaman apalagi cipika-cipiki dan jangan gemar berkerumun jika tak ada urusan. Namun masih ada kenormalan baru yang mesti didorong. Yaitu menetapkan standard yang lebih tinggi untuk pemimpin kita.
Selama ini kita begitu mudah menebar puja-puji untuk pemimpin. Masuk got dan bersih-bersih sudah bisa membuat kita menebar tagar #proudofyou. Membagi bantuan untuk korban kebakaran saja sudah membuat kita memberi pujian selangit. Kita lupa pada tupoksi mereka, tugas dan tanggungjawab utama mereka bukan masuk got tapi membuat kebijakan yang memastikan got memenuhi syarat sebagai sistem drainase, memastikan got tidak menjadi tempat buangan sampah dan limbah berbahaya. Soal tanggap pada korban memang baik, tapi yang seharusnya dilakukan adalah mencegah agar tidak ada kebakaran. Mendidik dan mengedukasi masyarakat agar terampil mencegah kebakaran.
Ada banyak perubahan kesadaran maupun perilaku yang memberikan harapan karena pandemi covid 19. Tapi dalam urusan kepemimpinan nampaknya adab belum berubah. Masih banyak pemimpin yang justru memanfaatkan kesempatan. Rajin memberi bantuan yang tentu bukan berasal dari uang mereka sendiri demi keuntungan pribadi, agar dianggap baik, sehingga meningkatkan elektabilitas saat mencalonkan diri kembali.
Atau malah membagi-mbagi anggaran kepada kroni mereka untuk mendatangkan atau menyelenggarakan ini dan itu. Upaya penanganan dan pencegahan bencana tetap dikemas sebagai proyek sebagaimana biasanya.
Tidak banyak contoh pemimpin bahkan di tingkat dunia yang punya standar tinggi untuk siap dan sigap menghadapi pandemi. Dan nampaknya kita mesti harus bersabar untuk mendapatkan pemimpin yang punya kompetensi dan kapabilitas memimpin dalam kondisi darurat.
Agar kelak bisa mendapat pemimpin seperti itu lebih cepat maka mulai hari ini buka mata kita lebar-lebar dan kunci mulut kita rapat-rapat agar tak cepat dan mudah memuji pemimpin yang hanya melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja, kenormalan lama.
Jadilah rakyat yang beradab bukan penjilat pantat.








