KESAH.ID – Filosofi banyak anak banyak rejeki terkikis oleh Program Keluarga Berencana yang berslogan dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja. Hanya saja secara politik kemudian berkembang fenomena banyak anak banyak partai. Satu keluarga anak-anaknya menyebar dalam berbagai partai yang berbeda. Hingga kemudian pemimpin keluarganya menjadi lebih dari sekedar partai.

Dari mana munculnya filosofi “Banyak Anak Banyak Rejeki”. Konon filosofi ini muncul di masyarakat Jawa pada masa cultuurstelsel, kebijakan tanam paksa yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1830 – 1870.

Kebijakan tanam paksa menurut beberapa data mengakibatkan pertumbuhan demografis. Jumlah kelahiran baru ternyata disengaja untuk memenuhi kebutuhan banyaknya tenaga kerja yang diperlukan oleh tanaman agroindustri seperti tebu, kopi dan lainnya yang diwajibkan untuk petani.

Dengan mempunyai banyak anak maka beban kerja kemudian bisa dibagi kepada anak-anak. Semakin banyak anak semakin banyak yang bisa membantu sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan.

Filofosi ini masih terus bertahan hingga masa kemerdekaan dan awal-awal orde baru. Masyarakat mempunyai keyakinan “Masing Masing Anak Membawa Rejekinya Sendiri”. Dengan semakin banyak anak dengan rejekinya masing-masing maka jika dikumpulkan dalam keluarga rejekinya menjadi lebih banyak.

Dalam konteks tertentu mungkin benar, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat ternyata memang menunjukkan hasil yang serupa itu. Sebuah studi yang dilakukan oleh The Graduate Center City of University New York menyebutkan pria dengan anak mempunyai penghasilan 40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan rekannya yang tidak mempunyai anak.

Penyebabnya pria dengan anak cenderung dewasa, lebih nyaman dengan pendapatannya dan berani meminta upah lebih tinggi. Pria dengan anak juga mempunyai kecenderungan untuk memilih pekerjaan fulltime, menekuni pekerjaan hingga pada usia tertentu akan menduduki jabatan manajerial karena jenjang karir. Sedangkan pria yang tidak punya anak punya kecenderungan berpindah atau bekerja freelance.

Beberapa waktu terakhir ini juga muncul istilah generasi sandwich, generasi yang bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sendiri sekaligus menyokong kebutuhan orang tuanya. Dalam konteks tertentu orang tua yang tidak lagi bisa bekerja dan mempunyai banyak anak yang sukses hidupnya akan lebih baik dibanding orang lain yang punya sedikit anak.

Sistem pensiun yang kurang bagus di Indonesia akan membuat orang tua yang tidak disokong oleh anaknya di masa tua akan hidup dibawah standar dibandingkan dengan saat aktif bekerja.

Seiring dengan pertumbuhan demografi dan perkembangan kebutuhan, filosofi
“Banyak Anak Banyak Rejeki” menjadi luntur. Program Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh Suharto di masa orde baru menjadi salah satu pemicu tak lagi diyakininya filosofi itu. Dengan slogan “Dua anak cukup, laki-laki atau perempuan sama saja”, perlahan masyarakat mulai merubah pandangannya tentang anak. Dan beban yang semakin besar untuk menumbuhkan anak menjadi sumber daya yang mumpuni juga turut menyadarkan masyarakat bahwa banyak anak tanpa kemampuan finansial yang cukup sama halnya memberi masa depan buruk bagi anak-anaknya.

Jika sampai tahun 90 an masih banyak keluarga yang mempunyai anak hingga 5 orang, kini mulai jarang satu pasangan mempunya anak lebih dari 3. Bahkan kini orang tua yang mempunyai anak tunggal semakin banyak.

Dulu ada keyakinan mempunyai anak tunggal akan membuat anaknya kasihan tak punya teman, sehingga akan tumbuh menjadi anak manja, anak yang mentalnya tak kuat dan sering ngambek jika permintaannya tak terpenuhi.

Anak tunggal bahkan bisa dianggap petaka sehingga perlu di’ruwat’ agar tak celaka. Bahkan dalam beberapa kasus jika anak tunggalnya perempuan, hal itu kerap menjadi alasan bagi bapak-bapak untuk menikah lagi.

BACA JUGA : Marc Marquez Master Flag To Flag

Jaman memang selalu berubah mana yang benar atau mana yang salah tak mudah untuk ditentukan. Perubahan memang tak selalu bisa dinilai sebagai benar atau salah.

Kini yang lebih cocok bukan filosofi “Banyak Anak Banyak Rejeki” melainkan “Banyak Anak Banyak Partai”.

Kita mulai saja dari anak-anak Presiden Sukarno. Megawati Sukarno Putri, sejak semula memang di PDI. Namun ketika mendapat kesempatan untuk menjadi Ketua Umum PDI ternyata tidak direstui Suharto. Megawati diganggu terus hingga kemudian mendirikan PDI Perjuangan.

Saudara yang lainnya yaitu Rahmawati Sukarno Putri, tercatat mendirikan Partai Pelopor, kemudian bergabung dengan Nasional Demokrat besutan Surya Paloh. Dan terakhir hingga meninggal, Rahmawati berada dalam Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra.

Lalu ada Sukmawati, putri Sukarno yang lahir di Istana Merdeka ini pada tahun 1998 mendirikan kembali PNI Soepeni menjadi PNI Marhenisme. Namun dalam pencalonannya untuk menjadi anggota legislatif dari Provinsi Bali, Sukmawati tersandung kasus ijazah palsu.

Putra Sukarno, Guruh Sukarnoputra tidak mendirikan partai. Guruh aktif di PDIP dan menjadi anggota legislatif periode 2019 – 2024 ini. Sedangkan putra sulung Sukarno, Guruh Sukarnoputra yang pada masa orde lama pernah menjadi juru kampanye PNI-Front Marhaenis kemudian tidak mau berpolitik lagi karena tidak setuju dengan fusi partai yang dilakukan oleh penguasa orde baru, Suharto.

Suharto juga mempunyai enam anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Tentu saja di masa Suharto berkuasa semuanya aktif di Golkar. Namun setelah reformasi, Mbak Tutut mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa yang ikut dalam pemilu 2004.

Sedangkan Mbak Titiek tetap berada di Golkar. Dan Tommy Suharto yang gagal merebut kedudukan sebagai Ketua Umum Golkar kemudian mendirikan Partai Berkarya, gabungan dari Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik.

Ari Sigit, cucu Suharto juga mendaftarkan Partai Karya Republik ke KPU sebagai partai ke 32 yang ingin mengikuti pemilu 2024, namun gagal lolos.

Bambang Trihatmojo, pernah aktif di Golkar dan menjadi anggota MPR. Namun setelah Suharto lengser karier politiknya tidak berlanjut. Bambang tercatat pernah bergabung dengan Partai Berkarya besutan Tommy Suharto, adiknya.

Mamiek, putri bungsu Suharto lebih dikenal dekat dengan dunia tanaman atau hortikultura. Meski begitu menjelang pemilu 2019, Mamiek bersama saudara-saudarinya yang lain kecuali Sigit ramai-ramai bergabung dalam Partai Berkarya.

Presiden Habibie mempunyai dua putra, namun tak satupun yang terjun dalam dunia politik. Keduanya menekuni kerja profesional dalam bidang teknologi. Bisa jadi ketika dalam rumah, Habibie tak pernah membahas politik praktis dengan putra-putranya. Mereka lebih asyik bicara teknologi angkasa.

Sedangkan Presiden Abdurahman Wahid mempunyai empat putri. Kesemuanya terjun dalam dunia aktifisme, hanya Yenny Wahid yang berpolitik. Yenny pernah ikut membidani Partai Indonesia Baru dan Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru. Yenny juga pernah aktif di Partai Kebangkitan Bangsa versi Gus Dur.

BACA JUGA : Bukan Puan, Yenny, AKY Atau Gibran Tapi Kaesang

Ketika regim pemilu berubah, dari pemilihan tak langsung menjadi pemilihan langsung. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mempunyai dua orang putra, awalnya aktif bersama putra bungsunya di Partai Demokrat. Namun kemudian putra sulungnya yang tentara kemudian ikut bergabung. Kakak adik putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berada dalam gerbong yang sama.

Presiden berikutnya, Joko Widodo bukan berasal dari keluarga dengan latar belakang politik yang panjang. Hanya Joko Widodo yang terjun ke politik. Putra-putrinya nampaknya ingin mengeluti dunia usaha, menjadi pengusaha sebagaimana halnya Joko Widodo dahulu.

Begitu melewati satu periode kepresidenannya, Gibran Rakabuming Raka putra Jokowi kemudian maju menjadi calon Walikota Solo. Gibran masuk ke PDI P, partai dimana bapaknya menjadi anggota. Demikian juga dengan kakak iparnya, Bobby Nasution pada saat bersamaan juga mencalonkan diri menjadi Walikota Medan, juga melalui PDIP.

Menjelang periode keduanya tuntas, putra Joko Widodo yang berikutnya yakni Kaesang Pangarep kemudian memberi kejutan. Kaesang yang terus diendorse oleh PSI kemudian bergabung menjadi anggota partai yang sering dicueki oleh PDI P itu.

Bahkan beberapa hari kemudian Kaesang secara aklamasi ditunjuk untuk menahkodai PSI.

Dua anak Jokowi yang berpolitik kemudian berada dalam partai yang berbeda. Gibran di PDI P bersama bapak dan iparnya, sementara Kaesang berada di PSI.

Dibandingkan dengan keluarga Susilo Bambang Yudhoyono, dimana ketika AHY masuk dan memimpin Partai Demokrat menimbulkan berbagai gejolak. Masuknya Kaesang ke PSI memberi suntikan dan harapan baru untuk lolos electoral threshold dalam pemilu kedua yang diikutinya pada 2024 nanti.

Jadi bagi yang masih punya banyak anak, jangan lagi berpikir banyak anak banyak rejeki. Sebab ada potensi yang lebih besar lagi yakni pengaruh politik. Jika banyak anak tersebar di berbagai partai politik, terlebih dalam posisi yang elit niscaya kekuasaan entah formal maupun informal bakal digenggam.

Dan kuasa bukan sekedar membuat rejeki lancar melainkan mengalir deras berlebih-lebih.

note : sumber ilustrasi gambar – KALTIMTODAY.CO