KESAH.IDDi balik rindangnya hutan Meranti, masyarakat Balikpapan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penjaga alam, tetapi juga pewarta kehidupan. Pelatihan jurnalisme warga yang digelar di sana menjadi ruang belajar untuk menuliskan kisah-kisah yang selama ini tenggelam di tapak. Dengan pena dan kata, warga berusaha menunjukkan bahwa mereka bukan perusak hutan seperti stigma yang sering dilekatkan, melainkan penjaga pertama yang merasakan dan melawan ancaman kerusakan.

Tersembunyi di balik jalan poros Samarinda–Balikpapan, Wisata Meranti hadir sebagai oase bagi warga Balikpapan. Lanskap hutan yang sejuk dan rindang menyambut dengan semilir angin serta nyanyian burung yang bersahutan. Tak banyak yang menyangka, di daerah yang akrab disebut Banyumas, km 15, terdapat destinasi wisata berupa sepenggal hutan di tepian Waduk Manggar. Dari sisi ini, mata bisa menyaksikan jembatan tol Balikpapan–Samarinda membentang gagah di atas ujung waduk.

Selain Wisata Meranti, kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Hutan Lindung Sungai Manggar juga memiliki dua destinasi lain: Bamboe Wanadesa dan Wisata Tanjung Gading. Di Balikpapan, HKm Sungai Wain dan HKm Sungai Manggar menjadikan hutan bukan sekadar bentangan hijau di peta. Ada 12 Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) yang menjadikan hutan sebagai ruang hidup, area tangkapan air, sekaligus penopang ekonomi.

Dengan segala keterbatasan, anggota KPS berupaya menjaga tegakan pohon, mengembangkan agroforestri, dan melawan ancaman perambahan. Namun di balik kerja keras itu, ada kesunyian. Kisah tentang petani menanam karet di tanah gersang, perempuan desa menjaga sumber air, atau warga yang mengolah hasil hutan non-kayu jarang terdengar. Narasi berhenti di tapak, tertelan oleh bunyi angin yang menggoyang ranting, tidak sampai ke publik luas.

Keterbatasan kapasitas mendokumentasikan membuat kisah-kisah itu hilang. Padahal, di masa kini, narasi adalah kekuatan. Tanpa cerita, perjuangan warga mudah diabaikan. Tanpa suara dari tapak, kebijakan sering melupakan mereka. Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) melihat celah itu: warga harus menjadi pewarta bagi diri dan lingkungannya. Demokratisasi lewat teknologi informasi memungkinkan hutan dijaga bukan hanya dengan parang dan cangkul, tetapi juga dengan pena dan kata.

BACA JUGA : Kemerdekaan Apa Yang Sedang Kita Rayakan

Tanggal 23–24 Agustus 2026, pendopo dan kawasan Wisata Meranti menjadi wadah semai lahirnya jurnalis warga. Sebanyak 28 peserta dari 12 KPS berkumpul mengikuti pelatihan jurnalisme warga. Tujuannya: membekali mereka dengan keterampilan menulis, mendokumentasikan peristiwa, dan menyebarkan cerita hutan kehidupan mereka.

Hari pertama dimulai dengan pertanyaan pemantik: “Siapa yang akan tahu masalah hutan kita jika kita tidak menuliskannya?” Pertanyaan itu menggugah kesadaran bahwa menjaga hutan bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal menyampaikan cerita.

Semua orang menyukai cerita, baik mendengar maupun bercerita. Walau tak banyak yang berpengalaman menulis, sesi demi sesi berjalan intens. Peserta belajar rumus 5W+1H, praktik wawancara empatik, hingga observasi lapangan tanpa kamera. Ada yang awalnya canggung, tetapi kemudian bersemangat ketika menyadari bahwa detail sederhana—bunyi burung, aroma tanah basah, cahaya matahari menembus celah daun—bisa menjadi bahan cerita.

Hari kedua lebih menantang. Peserta diajak mengubah data teknis menjadi narasi yang menyentuh. Fakta “hutan itu sepi” diolah menjadi deskripsi yang melibatkan panca indera: suara jangkrik, cahaya menari di sela daun, rasa lengket tanah di telapak kaki, hingga bunyi serasah daun yang dihembus angin. Mereka juga belajar kerangka Before–After–Bridge, menulis draf cerita 300–500 kata, lalu menyusun story blueprint untuk kampanye media sosial.

Suasana pelatihan penuh energi. Ada tawa saat roleplay wawancara, ada haru ketika membaca narasi perjuangan menjaga lahan. Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi ruang refleksi: bahwa mereka bukan hanya petani, melainkan juga penulis sejarah hutan. Dua peserta mewakili yang lain mengucapkan terima kasih dan berjanji mewujudkan tujuan pelatihan. Mereka sadar, masing-masing mampu menjadi corong, suara, dan pewarta bagi kehidupan serta lingkungan yang mereka kelola.

BACA JUGA : Gandul Mandul

Pelatihan ini menjadi jembatan: dari tapak yang sunyi menuju ruang publik yang ramai, dari cerita yang tertahan menuju narasi yang mengalir. Kini, setiap KPS memiliki bekal untuk menulis dan mempublikasikan kisahnya. Mereka akan menggunakan media sosial pribadi, bahkan membangun platform bersama untuk 12 KPS. Dengan begitu, cerita tentang HKm Balikpapan tidak lagi berhenti di tapak, tidak lagi menjadi bisik-bisik, tetapi sampai ke pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat luas.

Lebih dari itu, pelatihan ini menegaskan bahwa demokrasi informasi harus dimulai dari warga. Jurnalisme bukan hanya milik media besar, tetapi juga milik orang-orang yang hidup di tapak. Menjaga hutan berarti juga menjaga narasi.

Cerita tentang perjuangan warga menjaga hutan, perempuan yang mengelola sumber air, atau kelompok tani yang menanam agroforestri di tanah kering—semua itu kini bisa ditulis dan dibagikan. Dari sana lahir kesadaran baru: hutan tidak hanya hidup dari akar dan daun, tetapi juga dari cerita.

Pelatihan jurnalisme warga di Wisata Meranti bukan sekadar agenda dua hari. Ia adalah investasi jangka panjang: investasi pada suara warga, pada narasi hutan, pada demokrasi informasi. Karena pada akhirnya, hutan akan tetap sunyi jika tidak ada yang menuliskannya, lalu mengubahnya menjadi konten di berbagai kanal informasi. Kini, warga Hutan Kemasyarakatan Balikpapan telah belajar menjadi suara bagi hutan mereka sendiri.

Pada akhirnya, Pelatihan jurnalisme warga di Wisata Meranti memberi pesan penting: masyarakat bukan sekadar objek yang sering dituduh sebagai perusak hutan. Narasi yang kerap beredar di ruang publik sering menyederhanakan persoalan, seolah-olah api yang membakar ribuan hektare di Kalimantan hanya berasal dari tangan warga kecil. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks: ada kepentingan besar, ada praktik pembukaan lahan skala industri, ada kelalaian pengawasan, dan ada kebijakan yang sering kali abai terhadap ekologi.

Dengan kemampuan menulis dan mendokumentasikan, warga kini bisa menunjukkan bahwa mereka justru bagian dari solusi. Mereka menjaga tegakan pohon, mengelola agroforestri, melindungi sumber air, dan berjuang mempertahankan ruang hidup. Cerita-cerita ini penting untuk menyeimbangkan narasi, agar publik melihat bahwa masyarakat lokal bukan musuh hutan, melainkan penjaga pertama yang merasakan dampak langsung dari kerusakan.

Merdeka bagi warga tapak berarti merdeka untuk bersuara, merdeka untuk menuliskan kisah mereka sendiri, dan merdeka dari stigma yang tidak adil. Karena hutan tidak hanya hidup dari akar dan daun, tetapi juga dari cerita yang jujur tentang siapa yang merawatnya. Kini, lewat jurnalisme warga, masyarakat Balikpapan dan Kalimantan bisa menegaskan: mereka bukan perusak, mereka adalah penjaga.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM