KESAH.IDBagi sebagian orang, sepak bola mungkin hanya urusan statistik dan angka di atas kertas, namun bagi saya, ia selalu berkelindan dengan momentum personal dan riak kecil kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehangatan sederhana perayaan ulang tahun di sudut Samarinda yang mati listrik, hingga ketegangan yang menguras emosi saat layar ponsel menampilkan ketertinggalan Argentina dari Mesir sebelum subuh. Ini bukan sekadar ulasan taktik di lapangan hijau, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana sebuah pertandingan mampu mengaduk-aduk rasa gelisah, memicu badai polemik di jagat digital, dan sekali lagi membuktikan bahwa Albiceleste selalu punya cara tersendiri untuk lolos dari lubang jarum.

Ketika di Manado saya tak bisa membuat ‘sunyi’ setiap kali tiba pada hari saya dilahirkan. Ulang tahun saya selalu dirayakan, karena bertepatan dengan ulang tahun seorang bocah yang rumah orang tuanya berada di samping tembok asrama.

Almarhum Om Obi dan Tante Nita kemudian secara sosiologis dianggap sebagai orang tua angkat saya. Kelak ketika saya meninggalkan asrama, di rumah mereka saya tinggal dan belajar menjadi warga masyarakat biasa.

Setelah berpindah ke Samarinda, saya cenderung membuat sunyi hari lahir saya. Memang selalu ada tiup lilin dan makan malam bersama tetapi hanya bertiga, saya, istri dan anak semata wayang kami.

Hanya saja istri saya selalu memposting foto atau video di media sosialnya. Biasanya di posting di facebook hingga kemudian ada satu dua orang akan memberi ucapan selamat, biasanya teman-teman lama saya yang ada di kejauhan.

Selain di facebook, biasanya istri saya juga akan posting di story IG-nya dan ini yang kemungkinan akan dilihat oleh teman yang berada di Samarinda.

Sejak siang kemarin, dua orang teman yang tidak seumuran bahkan bapak atau ibunya barangkali seumuran saya mulai mengirim pesan. Mulanya bertanya ikut susur gang apa enggak. Saya jawab tidak tapi nanti sesudahnya bisa ngopi-ngopi saja.

Dan menjelang malam ternyata sebagian Samarinda mati listrik.

Mereka kemudian menyampaikan tidak apa-apa agak malaman saja, padahal biasanya kalau sudah agak malam rencana hebat dari sore akan batal,

Sekitar jam 9 nan, lewat tukaran perbicangan di aplikasi pertukaran pesan akhirnya diputuskan untuk ngopi di salah satu kedai baru di bilangan Jalan Pahlawan.

Saya pergi duluan, dan kemudian mereka datang dengan bawaan yang lebih banyak dari biasanya.

Dan sambil senyam-senyum mereka mengulurkan tas sambil mengatakan kalau saya akan menjadi semakin skena jika mengenakannya.

Walau tak termasuk orang yang romantis, hadiah dari mereka itu mesti membuat diri saya riang, malam yang menyenangkan.

Menjelang tengah malam nongkrong di pinggir jalan itu bubar. Saya mesti melakukan ritual tengah malam, posting tulisan.

Setelah berpindah dari laptop ke smartphone, di layar muncul notifikasi “Argentina – Mesir, 0-1 dan petunjuk waktunya mendekati babak pertama akan berakhir”.

Rasa senang malam itu mulai menguap, ada gelisah menyelusup, rasanya saya tak siap mendapat berita bahwa Argentina mesti pulang. Messi akan menyusul Ronaldo dan Neymar.

Kembali saya mengetikkan SE Google, dan kembali muncul tulisan babak pertama berakhir, kedudukan masih 0-1 untuk keunggulan Mesir.

Ah, sepertinya ada rasa sedih mulai menjalar dari kepala ke perut.

Saya kemudian memaksa untuk memejamkan mata, tidur saja.

Entah ada angin apa yang membuat saya terlelap. Menjelang subuh saya terbangun ada alarm tubuh yang menyala untuk pergi ke kamar kecil. Usai itu saya meraih smartphone dan kembali saya mengetik di SE Google “Argentina – Mesir” hasilnya “3-2”.

Dini hari kembali menyenangkan, sayapun tidur nyenyak sampai menjelang jam 10.00 baru terbangun.

BACA JUGA : Cabo Verde

Tidur yang nyenyak sampai menjelang jam 10.00 tetap saja masih menyisakan rasa penasaran yang besar. Setelah ritual pagi, termasuk menyeruput kopi saya menelusuri berita, lagi-lagi dengan bantuan SE Google.

Rasanya kurang puas membaca berita yang mengabarkan kemenangan Argentina melawan Mesir yang semula dianggap akan menjadi pertarungan Messi dan Mo Salah. Jemaripun berpindah ke youtube untuk melihat hightlight bagaimana Mesir dan Argentuna mencetak gol.

Dinamika di lapangan hijau Stadion MetLife malam itu ternyata sekilas penuh drama dari yang yang saya bayangkan. Mesir, yang datang dengan organisasi pertahanan serapat piramida, benar-benar membuat frustrasi anak asuh Lionel Scaloni sejak peluit pertama dibunyikan. Gol pertama Mesir di babak pertama bukan sekadar kebetulan; itu adalah hasil serangan balik kilat yang mengeksploitasi lambatnya transisi bertahan Argentina.

Dan seperti biasa, mendapat hadiah pinalti ternyata Messi lagi-lagi gagal.

Memasuki babak kedua, jalannya pertandingan berubah menjadi perang saraf yang menguras emosi. Argentina menolak mati muda. Skenario kepulangan dini yang memalukan memaksa mereka menaikkan intensitas serangan ke level tertinggi.

Drama dimulai ketika Argentina berhasil menyamakan kedudukan lewat kemelut di depan gawang. Namun, Mesir bukan tim semenjana yang mudah rapuh oleh nama besar. Hanya berselang beberapa menit, lewat skema bola mati yang apik, Mesir kembali mengejutkan dunia dengan mencetak gol kedua.

Kedudukan 1-2 untuk Mesir, dan waktu terus merayap naik melewati menit ke-75. Di pinggir lapangan, wajah Scaloni tampak tegang, sementara di tribun, para pendukung Albiceleste mulai menangis. Di sisa waktu yang kritis itulah kematangan mental berbicara.

Tekanan konstan Argentina akhirnya membuahkan hasil lewat gol penyama kedudukan 2-2 di menit-menit akhir waktu normal melalui sebuah sepakan keras dari luar kotak penalti. Ketika laga tampaknya akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu, drama mencapai puncaknya di masa injury time. Sebuah skema serangan yang frontal memaksa lini belakang Mesir melakukan pelanggaran fatal di dalam kotak terlarang.

BACA JUGA : Konspirasi Kontroversi

Sebelum usai pertandingan banyak meme beredar, Ronaldo dan Neymar digambarkan hendak pulang kemudian sama-sama mengatakan “Tunggu Messi dulu,”

Namun semua keriangan dan olok-olok itu tak bertahan lama. Wasit meniup peluit akhir untuk kemenangan 3-2 bagi Argentina. Kemenangan ini langsung dihujani berbagai gugatan dan sinisme. Media sosial riuh oleh tuduhan bahwa FIFA dan korps baju hitam sengaja “mengatur” jalannya pertandingan agar sang juara bertahan tidak pulang lebih awal.

Tayangan ulang pelanggaran tersebut diputar berulang-ulang dari berbagai sudut, diperdebatkan oleh para pengamat dadakan hingga analis sepak bola senior. Banyak yang menilai kontak fisik di kotak penalti Mesir terlalu minim untuk diganjar sebuah hukuman mati, sementara intervensi VAR dianggap tebang pilih dan menguntungkan tim besar. Bagi para pengkritik, lolosnya Argentina ke babak 16 besar dianggap sebagai karpet merah yang sengaja digelar demi menjaga rating televisi dan perputaran uang sponsor tetap tinggi di Piala Dunia ini—sebuah kecurigaan yang lumrah di era industri sepak bola yang serba komersial.

Gugatan-gugatan itu mungkin ada benarnya bagi mereka yang melihat sepak bola melulu dari angka, statistik, dan aturan kaku di atas kertas.

Namun bagi saya, sepak bola selalu menyisakan ruang bagi hal-hal yang tak kasat mata.

Sejarah mencatat bahwa Argentina memang selalu punya kedekatan emosional dengan drama-drama teatrikal yang berada di luar jangkauan logika hukum formal.

Dari era keemasan Diego Maradona hingga era magis Lionel Messi saat ini, tim ini berkali-kali selamat dari lubang jarum melalui cara-cara yang sulit dinalar.

Jika publik dunia hari ini merutuki keputusan wasit yang dianggap berat sebelah, mereka mungkin lupa pada satu fakta fundamental spiritual dalam sepak bola: dalam urusan bertahan hidup di turnamen besar, Argentina memang tim yang ditakdirkan untuk sering ditolong oleh tangan Tuhan.

note : sumber gambar – KOMPAS