KESAH.ID – Sebuah ingatan personal terkadang melompat tanpa permisi. Berangkat dari kegelisahan setelah menonton dokumenter Pesta Babi di kanal Jubi Media, memicu jahitan memoar masa kecil, penjelajahan rasa di berbagai daerah, hingga refleksi getir tentang ruang hidup masyarakat adat yang kian tergerus.
Saya masih gagal move on dari babi. Setiap kali ingin menulis sesuatu—termasuk mengedit tulisan yang mesti segera dipublikasikan untuk memenuhi kuota kegiatan Jurnalis Warga—yang menari-nari di kepala saya hanyalah babi.
Film Pesta Babi yang saya tonton sendiri setelah diunggah di kanal YouTube Jubi Media membuat imajinasi dan pemaknaan saya tentang babi menjadi jungkir balik. Perjalanan hidup saya memang banyak diwarnai oleh ingatan tentang babi.
Lahir di daerah Pantai Selatan Jawa, atau Jadul (Jawa Kidul), saya—walau diperbolehkan mengonsumsi babi—tetap tak akrab dengan binatang ini. Seingat saya, penjual daging babi hanya segelintir orang dan tidak ada setiap hari. Babi dijual saat subuh, di depan toko yang belum buka. Kalau tak salah ingat, lokasinya di Jalan Ahmad Yani, dari perempatan Pastok yang ada patung WR Supratman ke arah utara, jalur menuju Salaman dan Magelang.
Hanya hitungan jari ibu saya membeli dan memasak daging babi. Yang lebih sering justru oleh-oleh dari Bapak ketika bepergian ke beberapa kota lain, lalu pulang membawa dendeng celeng alias babi hutan. Di Purworejo, babi malah membuat saya terluka. Teman sepermainan yang kasar kadang melontarkan gurauan, “Kamu kalau mati jadi babi.”
Namun, babi kemudian tetap menarik hati. Salah satu alasan yang membuat saya ingin bersekolah di Kolese Petrus Kanisius adalah babi. Di kompleks Seminari Menengah Mertoyudan itu memang ada kandang babi; babi bule yang besar-besar, yang kerjaannya hanya tidur-tiduran. Babi hampir sebesar sapi itu saya lihat pertama kali ketika diajak berkunjung ke Seminari Mertoyudan, kebetulan salah satu guru di sana adalah tetangga sendiri. Ketika melihat babi di kandang yang bersih, mereka terlihat lucu.
Kelak, ketika saya akhirnya menempuh pendidikan di KPA (Kelas Persiapan Atas) Seminari Mertoyudan, babi yang dirawat dan dipelihara oleh Bruder Sutter itu sesekali disajikan di meja refter atau ruang makan. Sajian yang istimewa, tapi tidak luar biasa.
Babi baru menjadi makanan saya sehari-hari ketika merantau ke Sulawesi Utara, tepatnya di Minahasa dan Manado. Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebab, saat mentoring untuk persiapan studi ke sana, para senior yang ingin membantu agar saya tak mengalami culture shock lebih banyak mengingatkan soal Tinutuan atau Bubur Manado, cap tikus, dan tentu saja, para nonanya.
Tentang tinutuan, mereka menceritakan bahwa itu adalah makanan sehat dan enak, tapi tampilannya agak berkonnotasi jorok. “Kalau dilihat, seperti makanan kuda atau tahi bayi,” ujar mereka. Sedangkan soal cap tikus, mereka mengingatkan kalau kadar alkoholnya sangat tinggi. “Ukur-ukur kalau mau minum, jangan sampai nanti tertidur di got,” pesan mereka.
Dan yang paling seru adalah nonanya. Nona Minahasa dan Manado memang dikenal cantik-cantik. Soal ini, saya diingatkan agar tidak kegeeran dan salah sangka. Mereka berkata, “Nona Manado itu ramah-ramah, baik hati, dan mudah akrab. Tapi jangan kamu kira itu tanda mereka suka.”
Hampir dua belas tahun menetap di Minahasa dan Manado, referensi saya tentang kuliner berbahan babi menjadi cukup tebal. Salah satu keterampilan yang kemudian saya kuasai adalah memasak daging babi. Tentu saja, yang paling mudah adalah memasak babi rica.
BACA JUGA : Memang Babi
Pindah ke Samarinda, tak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan tempat membeli daging babi jika rindu mengunyah gurih dan lumernya lemak bagian perut (samcan). Pasar Subuh yang kemudian direlokasi. Gara-gara Pasar Subuh digusur dan dipindahkan, kini kalau ingin membeli daging babi tidak lagi pergi ke pasar yang ada di PM. Noor sana, melainkan lewat jejaring online.
Namun, memori paling spektakuler tentang babi adalah ketika saya berkunjung ke Mahakam Hulu, tepatnya ke Long Isun. Saat saya ke sana, momennya bertepatan dengan musim babi menyeberang atau babi berenang. Kawanan babi berpindah dari satu sisi sungai ke sisi lainnya.
Perpindahan ini telah ditunggu-tunggu oleh warga yang bersiap di atas perahu di balik kerimbunan riparian. Saat rombongan babi sampai di tengah sungai, warga akan bergerak cepat untuk menombaknya. Saya tidak sempat mendalami aturan main dalam tradisi menombak babi berenang ini. Namun yang jelas, malam harinya saya ikut menikmati hasilnya saat makan malam di Lamin Adat. Konon, babi berenang adalah pertanda alam; tak lama setelah musim babi berenang berakhir, banjir akan datang.
Pemandangan paling menakjubkan perihal babi justru saya temui di Merabu. Menjelang sore, ketika sedang bermain di tepi sungai yang jernih dan berbatu, sebuah perahu datang dari hulu dan menepi. Perahu yang dikayuh seorang diri itu ternyata membawa seekor babi hutan yang besar. Pria di atas perahu itu kemudian menggendong babi tersebut di punggungnya untuk dibawa pulang. Kebetulan saya membawa kamera dan segera memotret momen itu tanpa sempat meminta izin. Saya merasa itu adalah salah satu potret terbaik sepanjang saya akrab dengan kamera. Kelak di kemudian hari, ketika bertemu dengan Kepala Desa Merabu dan saya tunjukkan foto itu, dia tersenyum dan mengatakan, “Itu bapak mertua saya.”
Secara biologi dan sejarah, babi sebenarnya adalah binatang yang sangat akrab dengan kebudayaan Nusantara, baik babi liar maupun yang telah didomestikasi. Lukisan cadas babi hutan di Leang Tedongnge, Sulawesi Selatan, diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun dan diakui sebagai salah satu gambar figuratif tertua di dunia. Selain itu, kata “celengan” (wadah tabungan) berasal dari bahasa Jawa Kuno celeng (babi hutan), dan celengan terakota atau perunggu pernah ditemukan dari era Kerajaan Majapahit sebagai simbol kemakmuran.
Jejak kedekatan ini juga bisa dirunut dari ritual serta pesta adat. Suku-suku mulai dari Pulau Sumatra hingga Papua masih menempatkan babi sebagai elemen penting dalam upacara, ritual, dan kuliner adat. Pesta Babi tidak hanya ada di Papua lewat acara bakar batu. Di Minahasa, setiap ada acara besar, berbagai jenis kuliner babi wajib tersedia. Demikian juga di Toraja, Batak, Bali, dan daerah lainnya. Kekayaan kuliner babi Nusantara semakin diperkaya oleh warisan masyarakat Tionghoa yang bermigrasi dan kemudian beranak-pinak di wilayah lambat laun.
Tapi yang lebih penting lagi, babi merupakan bagian dari kekayaan biodiversitas Nusantara lewat spesies endemik di wilayah Wallacea. Di wilayah Sulawesi dan sekitarnya, hidup spesies babi purba yang khas yakni Babirusa dan Babi Kutil.
Lebih dari itu, yang dekat dengan babi bukan hanya budaya Nusantara, melainkan garis keturunan Homo sapiens sedunia. Menurut penelitian, babi termasuk salah satu binatang yang struktur DNA-nya paling mirip dengan manusia. Tingkat kemiripan DNA babi dan manusia mencapai 95 sampai 98 persen. Meski jika dilihat dari tingkat kekerabatan evolusi, manusia lebih dekat dengan kera besar seperti Simpanse, Gorila, Orangutan, dan Bonobo.Mengapa babi dan manusia yang sebenarnya bersaudara jauh bisa memiliki kemiripan yang tinggi? Konon, karakteristik genetik babi bermutasi mirip dengan manusia, seperti dalam hal sistem kekebalan tubuh dan struktur kulit. Yang membuat struktur DNA babi mirip manusia juga karena adanya sistem fisiologi yang hampir sama: babi dan manusia sama-sama pemakan segala alias omnivora. Maka jangan heran, jika keserbacocokan biologis itu membuat kelakuan sebagian manusia kemudian mirip-mirip babi.
BACA JUGA : Menjemput Hak Atas Transum – Mengapa Samarinda Mesti Belajar Pada Bacitra
Judul Pesta Babi memang mind-blowing, padahal film ini sebenarnya lebih banyak menyoroti soal gerakan Salib Merah. Tentu pembuatnya tidak bermaksud membuat clickbait, sebab babi tetap sangat relevan dengan isi film dokumenter ini. Papua terkenal dengan pesta babi, bentuknya bermacam-macam, dan salah satu yang paling ternama adalah bakar batu.
Dari video Behind The Scene (BTS) film ini, saya menyaksikan perjuangan berat sutradara dan para videografer untuk mengambil gambar pesta babi—sebuah peristiwa adat yang telah dipersiapkan lama oleh salah satu keluarga pemilik hak ulayat hutan di sana. Pembuatan film dokumenter ini tak semewah produksi layar lebar komersial, di mana sutradara dan kru diantar ke sana kemari dengan mobil mewah lalu beristirahat di ruang yang nyaman. Di sini, yang direkam dan yang merekam berdiri sama rendah, duduk sama tinggi. Mereka meminum air yang sama, memakan makanan yang sama, dan beristirahat di ruang yang sama.
Masalah perampasan lahan yang disorot oleh film ini sebenarnya pernah terjadi dari Sabang sampai Merauke. Namun, kejadian di Papua menjadi istimewa—sekaligus tragis—karena dilakukan justru ketika konsepsi pembangunan Indonesia telah dikritisi sekian lama. Apa yang terjadi di Papua adalah orkestrasi pembangunan yang brutal, di mana pemerintah tampaknya tidak pernah belajar bahwa tidak ada “ruang kosong” di negeri ini.
Pemerintah selalu mengambil jalan pintas dengan merampas ruang hidup masyarakat, terutama masyarakat adat. Atau, mencoba mengganti ruginya dengan uang—seolah-olah ruang kebudayaan bisa ditukar begitu saja dengan lembaran rupiah. Masyarakat adat adalah manusia yang telah lama berinteraksi dengan ruang hidupnya. Relasi mereka dengan hutan telah mengakar jauh sebelum Indonesia merdeka dan kemudian mengklaim secara sepihak bahwa hutan adalah tanah negara.
Ganti rugi selalu dianggap sebagai jalan cepat untuk melancarkan Proyek Strategis Nasional (PSN). Dengan logika ganti rugi berdasarkan hitungan atau appraisal yang dilakukan oleh para profesional perkotaan, parameter kerugian kultural dan eksistensial yang dialami masyarakat adat jelas tidak akan pernah dihitung. Nilai ganti rugi yang diterima masyarakat adat untuk setiap hektar hutan yang hilang akan sangat jauh di bawah nilai satu meter tanah yang digusur untuk jalan tol di perkotaan.
Masyarakat adat yang mempertahankan tanah warisan leluhurnya sering kali dicap rakus lahan. Sebaliknya, investor yang menerima konsesi berpuluh-puluh ribu hektar tidak pernah dianggap serakah; mereka bahkan diberi karpet merah. Rakyat kehilangan ruang hidup, sementara investor menikmati hujan uang dari ruang tersebut. Tragisnya, mereka yang merampas tanah rakyat itu kerap kali dicitrakan bagai malaikat yang melepaskan kebaikan lewat program CSR atau pemberdayaan, kepada masyarakat yang sebenarnya telah mereka buat kehilangan segala-galanya.
Selama “ruang” terus disempitkan maknanya menjadi sekadar “uang”, Pesta Babi akan terus terjadi. Namun, bukan babi hutan yang ditangkap dan disantap ramai-ramai oleh warga desa, melainkan tarian sekelompok “babi” berdasi yang senyam-senyum ke sana kemari karena mendapat konsesi lahan yang luas dalam jangka waktu yang lama. Para babi yang bahkan diberi gelar dan pujian sebagai patriot karena berani berinvestasi di tempat yang paling terpencil.
note : sumber gambar – ICW








